Masukkan kata pencarian minimal 3 karakter
Searching.. Please Wait
    Match Analysis

    Liga Inggris: Liverpool 0-0 Man Utd

    Manchester United Bermain untuk Tidak Kalah, Bukan untuk Menang

    Pandit Football Indonesia - detikSport
    Foto: Clive Brunskill/Getty Images Foto: Clive Brunskill/Getty Images
    Jakarta - Laga antara Liverpool menghadapi Manchester United yang berlangsung di Stadion Anfield, Rabu, 18 Oktober 2016, berakhir antiklimaks. Meski bermain dengan tempo tinggi, kedua kesebelasan harus puas dengan skor akhir tanpa gol.

    Liverpool dan Manchester United tak bisa mencetak gol dalam tempo 90 menit. Padahal laga ini digadang-gadang akan menyajikan jual beli serangan di mana kedua kesebelasan memiliki sejarah rivalitas yang panas bertajuk North-West derby.

    Meskipun begitu, hasil imbang tanpa gol ini merupakan keberhasilan bagi Manchester United. Ya, pendekatan strategi yang diterapkan manajer United, Jose Mourinho, menghadapi taktik manajer Liverpool, Juergen Klopp, disiapkan hanya agar United tidak kalah.

    Foto: Pandit Football


    Gambar 1 – Susunan pemain Liverpool dan Manchester United

    Cara Manchester United Mengacaukan Build-up Serangan Liverpool

    Terdapat beberapa kejutan dalam susunan pemain United saat bertandang ke markas Liverpool semalam. Tak ada Anthony Martial, Henrikh Mkhitaryan, Morgan Schneiderlin, dan Juan Mata. Wayne Rooney pun baru masuk sebagai pemain pengganti di babak kedua.

    Dari empat pemain yang tak bermain di atas, hanya Juan Mata yang tak diturunkan meski masuk dalam daftar pemain cadangan. Martial dan Schneiderlin dikabarkan mengalami cedera jelang pertandingan. Sementara Mkhitaryan mengalami masalah kebugaran.

    Sebagai gantinya, Ashley Young mengisi sisi kiri serangan United, mengimbangi Marcus Rashford di sisi kanan. Sementara untuk pos gelandang serang yang biasanya ditempati Rooney, Mourinho memercayakannya pada Paul Pogba.

    Susunan pemain ini mendukung permainan bertahan yang diusung oleh Mourinho. Ketika Liverpool membangun serangan dari kiper atau pemain belakang, Zlatan Ibrahimovic dan Paul Pogba akan membayangi pemain yang menguasai bola tanpa melakukan tekel agresif. Sementara itu Ander Hererra dan Marouane Fellaini bersiap mengantisipasi andai bola dikirimkan ke tengah.

    Sementara itu Young dan Rashford tak menemani Ibra dan Pogba untuk menekan pemain belakang Liverpool. Keduanya cenderung mundur hingga area middle third untuk merapatkan jarak dengan full-back atau double pivot Manchester United.

    Skema ini untuk meminimalisasi para pemain sayap Liverpool seperti Roberto Firmino dan Sadio Mane menginisiasi serangan. Keberadaan Young dan Rashford di area middle third membuat keduanya harus lebih sering mencari ruang ke tengah. Sementara di tengah, terdapat Herrera dan Fellaini yang siap menjegal.

    Foto: Pandit Football


    Gambar 2 – Salah satu contoh situasi yang menggambarkan pertahanan Man United

    Skema pertahanan Manchester United yang seperti ini tampaknya tak diperkirakan Klopp. Karena jika merujuk pada laga Manchester derby, Manchester United coba melakukan pressing dengan blok tinggi untuk mengganggu pemain belakang Manchester City yang menguasai bola.

    Manchester United sendiri tampak lebih sabar dalam menunggu bola datang. Tekel agresif baru dilancarkan ketika Liverpool berhasil menggulirkan bola ke tengah. Liverpool sendiri cukup kepayahan dalam membangun serangan, setidaknya pada babak pertama.

    Herrera menjadi bintang lapangan tengah Manchester United pada laga ini. Gelandang asal Spanyol ini mencatatkan 11 intersep, tiga sapuan, 80% keberhasilan duel udara, dan sembilan kali menghentikan serangan lawan dari 16 kali percobaan sepanjang 90 menit bermain.

    Indikasi kerepotannya Liverpool dalam membangun serangan lainnya adalah terisolasinya Daniel Sturridge. Sturridge yang ditempatkan sebagai ujung tombak memang sangat jarang mendapatkan bola. Hal ini dikarenakan ia difokuskan menunggu bola di depan karena peran untuk menjemput bola dilakukan oleh Firmino dan Mane yang sejatinya bermain sebagai winger.

    Foto: Pandit Football


    Gambar 3 – Grafis operan Sturridge pada babak pertama – sumber: Squawka

    Sturridge sendiri pada hanya bermain hingga menit ke-60. Sejam berada di lapangan, tak ada satupun peluang yang diciptakan penyerang timnas Inggris ini. Skema bertahan Manchester United benar-benar membuat Sturridge tanpa peluang.

    Manchester United Menghindari 'Gegenpressing' Liverpool

    Saat menyerang, United tampak tak memiliki pola serangan khusus. Pada laga ini, strategi Mourinho lebih mengindikasikan untuk menghindari para pemainnya mendapatkan tekanan berlebih saat menguasai bola.

    Karenanya lini pertahanan United sangat jarang terlihat menguasai bola pada laga ini. WhoScored sendiri menyatatkan, dari 334 operan yang dilakukan United pada laga ini, hanya 27 operan yang dilakukan di area pertahanan sendiri. Bahkan jumlah operan di sepertiga akhir lebih banyak dibanding operan di area pertahanan sendiri.

    Foto: Pandit Football


    Gambar 4 –Grafis operan Manchester United – sumber: Squawka

    Satu hal positif dari tak banyak memainkan bola di lini pertahanan melawan Liverpool adalah mengurangi risiko kesalahan yang bisa dilakukan para pemain belakang United dalam menginisiasi serangan. Liverpool sendiri terkenal dengan gegenpressing-nya kala bertahan dengan menekan dan melakukan tekel agresif pada lini pertahanan lawan yang menguasai bola.

    Tak mengherankan pada akhirnya Manchester United lebih sering mengirimkan umpan-umpan panjang, baik itu ke kedua sayap maupun yang mengarah pada Ibrahimovic. Namun satu hal yang pasti, nyaris tak ada serangan berbahaya yang dihasilkan Manchester United pada laga ini. United sendiri, yang memiliki rataan 16 tembakan per pertandingan (tertinggi keenam di Liga Primer), hanya mencatatkan tujuh tembakan saja pada laga ini, di mana hanya satu yang on target.

    Para pemain United tanpa kompromi ketika berhasil merebut bola dari kaki pemain Liverpool. Tercatat para pemain Setan Merah melakukan 44 sapuan pada laga ini. Padahal United hanya memiliki rataan 28,4 sapuan per laga.

    Penempatan Pogba sebagai gelandang serang sendiri memang memberikan dampak negatif pada skema penyerangan Manchester United. Pogba yang memiliki rataan 1,7 umpan kunci per pertandingan (tertinggi kedua) dan 2,6 dribel berhasil (tertinggi pertama) tak banyak mendapatkan bola. Selain karena bola lebih sering mengarah ke sayap, Pogba kerap kali harus menghadapi double pivot Liverpool, Emre Can dan Henderson.

    Pogba yang memiliki rataan 66 operan per laga hanya mencatatkan 39 operan pada laga ini. Pogba memang tampak lebih difungsikan sebagai pengganggu build up serangan Liverpool ketimbang sebagai inisiator serangan. Serangan United justru lebih banyak dimulai oleh Herrera.

    Foto: Pandit Football


    Gambar 5 –Aksi Pogba yang tidak terlalu banyak terlibat dalam serangan maupun bertahan Manchester United – sumber: FourFourTwo Stats Zone

    Mourinho sendiri tak terlalu melakukan banyak perubahan ketika serangan anak asuhnya buntu. Pergantian pertama dilakukan dengan memasukkan Wayne Rooney untuk menggantikan Rashford. Sementara Luke Shaw dimasukkan untuk menggantikan Ashley Young.

    Hal ini cukup menunjukkan jika Mourinho, meski United tak terlalu merepotkan pertahanan Liverpool, cukup puas dengan performa anak asuhnya dengan tanpa mengubah pola bertahan maupun menyerang.

    Kesimpulan

    Pendekatan strategi Mourinho pada laga ini tampaknya cukup jelas, yakni berusaha sebisa mungkin anak asuhnya tak menderita kekalahan. Kalimat ini tidak berarti Mourinho mengincar kemenangan. Karena banyak faktor yang menunjukkan bahwa Mourinho tak meningkatkan intensitas serangan mereka meski menemui kebuntuan, hal ini terlihat dengan tak adanya perubahan signifikan (malah memasukkan Shaw yang merupakan pemain bertahan).

    Sementara itu bagi Klopp, ia tampaknya tak mengira Manchester United akan bermain sedefensif seperti laga semalam. Awalnya ia mencoba menguatkan lini tengah dengan memasang double pivot untuk menandingi kreativitas lini tengah Manchester United. Ketika skema ini tak terwujud, Adam Lallana pun kemudian dimasukkan untuk mengembalikan skema menyerang andalan Liverpool.

    Masuknya Lallana cukup meningkatkan serangan Liverpool. Hal ini terlihat dengan lebih seringnya Emre Can, Coutinho, dan Lallana yang sering berada di kotak penalti untuk membahayakan gawang Manchester United. Bahkan terdapat setidaknya dua peluang yang nyaris membuat Liverpool unggul, di mana Manchester United tertolong oleh penampilan gemilang David de Gea di bawah mistar.

    Laga ini memang mempertontonkan kepiawaian Mourinho dalam membangun tembok pertahanan yang kokoh, di mana manajer asal Portugal tersebut memfokuskan strategi pertahanan ketimbang menyerang. Dan jika hasil imbang atau hasil tidak kalah memang sedari awal sudah diincar Mourinho, maka ia berhasil mewujudkan keinginannya. Karena skema pertahanan Manchester United tanpa cela.

    Foto: Pandit Football


    Gambar 6 - Grafis pertahanan Manchester United - sumber: FourFourTwo StatsZone.

    ====

    *dianalisis oleh @panditfootball, profil lihat di sini.

    (roz/roz)

    Kontak Informasi Detikcom
    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Media Partner: promosi[at]detik.com
    Iklan: sales[at]detik.com
    More About the Game
    match-analysis