Match Analysis
Liga Inggris: Tottenham 1-1 Leicester
Duel Sayap-Sayap Spurs dan Leicester Berakhir Imbang
Foto: Action Images via Reuters / Paul Childs
Jakarta - Sama-sama mengandalkan serangan dari sisi sayap, Tottenham Hotspur dan Leicester City harus puas dengan hasil imbang 1-1 di White Hart Lane, Sabtu (29/10) malam WIB kemarin.
Meski berhasil memperpanjang rekor tidak kalahnya menjadi 10 pertandingan, Spurs harus puas bermain imbang 1-1. Tapi di sisi lain, hasil imbang ini memutus rentetan hasil buruk yang acap diraih Leicester ketika bertanding ke kandang lawan yang sebelumnya selalu menelan kekalahan.
Gol-gol dalam pertandingan ini dicetak oleh Vincent Janssen pada menit ke-44 lewat titik penalti bagi Spurs, sedangkan gol balasan dari Leicester dicetak oleh Ahmed Musa pada menit ke-48 setelah memanfaatkan umpan dari Jamie Vardy.
Meski hasil ini memuaskan bagi Leicester, hasil ini merupakan sebuah pekerjaan rumah bagi Spurs yang, dalam pertandingan kali ini begitu sulit menciptakan peluang.
Dua Tim Mengandalkan Serangan Dari Sayap
Dalam pertandingan ini, kedua tim mengandalkan serangan dari sayap untuk membongkar pertahanan lawan. Whoscored mencatat bahwa serangan sayap Spurs dan Leicester begitu dominan. Total 48% serangan Spurs berasal dari sayap kiri, sedangkan total 36% serangan Leicester berasal dari sayap kiri dan kanan (kiri dan kanan memiliki persentase yang sama).
Sepanjang pertandingan, terlihat fullback dan winger kedua tim begitu aktif bergerak di sayap. Di Spurs, ada nama Danny Rose yang begitu aktif menyisir sayap kiri, berbagi tugas dengan Eriksen ataupun Heung-min Son yang juga acap menyisir sisi kiri.
Sementara itu dari kubu Leicester ada nama Christian Fuchs dan Ahmed Musa (sebelum digantikan Jeffrey Schlupp pada babak kedua) di sisi kiri, serta Danny Simpson dan Riyad Mahrez (sebelum digantikan Marc Albrighton pada babak kedua) di sisi kanan. Tapi alasan kedua tim menggunakan sayap dalam serangan berbeda.
Spurs Sulit Menembus Pertahanan, Dipaksa Mengarahkan Bola ke Sayap
Tujuan kedua tim dalam pertandingan ini menggunakan sayap sebagai salah satu tumpuan serangan berbeda. Bagi Spurs, mereka lebih banyak mengerahkan serangan ke sayap karena pertahanan Leicester, terutama ketika memasuki area sepertiga akhir, begitu rapat.
Spurs biasa menggunakan strategi counterpressing, yaitu menekan pemain lawan ketika pemain sendiri mulai kehilangan bola. Kecepatan peralihan fase dari bertahan ke menyerang dan sebaliknya begitu penting dalam strategi ini. Tapi dengan apa yang ditunjukkan oleh Leicester, segalanya menjadi berbeda.
Menumpuknya pemain-pemain di area sepertiga akhir pertahanan Leicester (ditambah dengan King dan Drinkwater kerap turun melapis empat bek Leicester) membuat The Lilywhites tidak memiliki banyak opsi dalam menyerang. Meski banyak memainkan bola, mereka kebanyakan mengalihkan serangan ke sayap.
Dari sayap, serangan kerap berakhir menjadi crossing yang ditujukan kepada Vincent Janssen sebagai penyerang tunggal, ataupun diarahkan kepada Dele Alli bahkan sampai Jan Vertonghen yang muncul dari second line untuk diolah menjadi tembakan jarak jauh. Total 25 kali umpan silang tercipta dalam pertandingan ini untuk Spurs.
Hal ini terjadi berkali-kali dalam pertandingan. Pola serangan yang sama ini pulalah yang mengakibatkan banyaknya peluang-peluang off target yang terjadi bagi Spurs. Total ada 22 peluang yang tercatat, dengan lima peluang on target, enam peluang blocked, dan 11 peluang off target.
Spurs pernah melakukan hal yang sama ketika melawan Manchester City dengan lebih banyak mengarahkan serangan ke sayap untuk menghindari pertarungan dengan double pivot City ketika itu. Jika ketika itu hasilnya memuaskan, lain halnya dengan saat ini, karena Spurs seperti dipaksa oleh Leicester untuk menyerang lewat sayap.
Leicester Memang Mengandalkan Serangan Sayap
Berbeda dengan Spurs yang memang dipaksa oleh The Foxes untuk menyerang dari sayap, Leicester justru memang mengandalkan sayapnya untuk menyerang lini pertahanan The Lilywhites. Belum lagi adanya ruang kosong yang tercipta ketika Danny Rose ataupun Kyle Walker maju membantu serangan, Leicester semakin sering mengeksploitasi sayap.
Hal ini terlihat dari umpan-umpan yang dilepaskan pemain yang memiliki sentuhan terbanyak dengan bola, Danny Drinkwater (45 kali sentuhan dengan bola, terbanyak dari pemain Leicester lain), yang kebanyakan diarahkan ke sayap. Kebanyakan umpan diarahkan kepada Simpson, Fuchs, ataupun Mahrez.
Kenapa Leicester banyak mengarahkan bola ke sayap? Selain karena ruang kosong yang tercipta akibat Rose dan Walker yang acap kali maju, dengan formasi dasar 4-4-2 The Foxes memang lebih memungkinkan untuk menyerang lewat sayap. Lini tengah yang dihuni oleh King dan Drinkwater lebih difungsikan membantu pertahanan dan membagi bola ke lini depan.
Serangan Leicester lewat sayap pun terbukti lebih ampuh. Awalnya serangan Leicester lewat sayap pun tidak terlalu berbahaya karena Rose dan Walker acap melakukan trackback ke belakang pada babak pertama. Namun pada awal babak kedua, mereka sedikit abai karena kerap maju ke depan membantu serangan. Hal inilah yang dimanfaatkan Leicester.
Gol penyama kedudukan oleh Leicester berasal dari pergerakan Ahmed Musa yang merangsek ke tengah dari sisi kiri, setelah bek-bek Spurs terlalu terfokus kepada pergerakan Okazaki dan Vardy yang membawa bola, dan juga adanya ruang yang dapat dieksploitasi oleh Musa.
Kesimpulan
Menyerang lewat sayap adalah hal yang lazim. Jika anda memiliki pemain dengan kemampuan cut inside yang baik, maka ia akan menjadi senjata mematikan. Namun lain halnya jika sebuah tim dipaksa menyerang lewat sayap. Itu berarti serangan anda sudah mati karena serangan lewat sayap akan lebih mudah untuk dihentikan daripada serangan dari tengah.
Spurs mengalaminya dalam pertandingan kali ini. Leicester sukses memaksa mereka untuk menyerang dari sayap, yang membuat serangan-serangan dari mereka mudah untuk dipatahkan.
Dan untuk Leicester, meski mereka kesulitan untuk menyerang, mereka sudah melakukan hal yang bisa mereka lakukan dengan menahan imbang Spurs. Setidaknya ini menjadi awal yang baik bagi mereka untuk mencatatkan hasil positif dalam laga tandang seperti halnya pada musim 2015/2016.
(mrp/mrp)
Meski berhasil memperpanjang rekor tidak kalahnya menjadi 10 pertandingan, Spurs harus puas bermain imbang 1-1. Tapi di sisi lain, hasil imbang ini memutus rentetan hasil buruk yang acap diraih Leicester ketika bertanding ke kandang lawan yang sebelumnya selalu menelan kekalahan.
Foto: Pandit Football Indonesia |
Meski hasil ini memuaskan bagi Leicester, hasil ini merupakan sebuah pekerjaan rumah bagi Spurs yang, dalam pertandingan kali ini begitu sulit menciptakan peluang.
Dua Tim Mengandalkan Serangan Dari Sayap
Dalam pertandingan ini, kedua tim mengandalkan serangan dari sayap untuk membongkar pertahanan lawan. Whoscored mencatat bahwa serangan sayap Spurs dan Leicester begitu dominan. Total 48% serangan Spurs berasal dari sayap kiri, sedangkan total 36% serangan Leicester berasal dari sayap kiri dan kanan (kiri dan kanan memiliki persentase yang sama).
Foto: Pandit Football Indonesia |
Foto: Pandit Football Indonesia |
Gambar 1 β Grafis umpan kedua tim (Tottenham Bawah, Leicester Atas). Tampak kebanyakan umpan diarahkan ke sayap. Sumber: Stats Zone FourFourTwo
Sepanjang pertandingan, terlihat fullback dan winger kedua tim begitu aktif bergerak di sayap. Di Spurs, ada nama Danny Rose yang begitu aktif menyisir sayap kiri, berbagi tugas dengan Eriksen ataupun Heung-min Son yang juga acap menyisir sisi kiri.
Sementara itu dari kubu Leicester ada nama Christian Fuchs dan Ahmed Musa (sebelum digantikan Jeffrey Schlupp pada babak kedua) di sisi kiri, serta Danny Simpson dan Riyad Mahrez (sebelum digantikan Marc Albrighton pada babak kedua) di sisi kanan. Tapi alasan kedua tim menggunakan sayap dalam serangan berbeda.
Spurs Sulit Menembus Pertahanan, Dipaksa Mengarahkan Bola ke Sayap
Tujuan kedua tim dalam pertandingan ini menggunakan sayap sebagai salah satu tumpuan serangan berbeda. Bagi Spurs, mereka lebih banyak mengerahkan serangan ke sayap karena pertahanan Leicester, terutama ketika memasuki area sepertiga akhir, begitu rapat.
Spurs biasa menggunakan strategi counterpressing, yaitu menekan pemain lawan ketika pemain sendiri mulai kehilangan bola. Kecepatan peralihan fase dari bertahan ke menyerang dan sebaliknya begitu penting dalam strategi ini. Tapi dengan apa yang ditunjukkan oleh Leicester, segalanya menjadi berbeda.
Menumpuknya pemain-pemain di area sepertiga akhir pertahanan Leicester (ditambah dengan King dan Drinkwater kerap turun melapis empat bek Leicester) membuat The Lilywhites tidak memiliki banyak opsi dalam menyerang. Meski banyak memainkan bola, mereka kebanyakan mengalihkan serangan ke sayap.
Dari sayap, serangan kerap berakhir menjadi crossing yang ditujukan kepada Vincent Janssen sebagai penyerang tunggal, ataupun diarahkan kepada Dele Alli bahkan sampai Jan Vertonghen yang muncul dari second line untuk diolah menjadi tembakan jarak jauh. Total 25 kali umpan silang tercipta dalam pertandingan ini untuk Spurs.
Foto: Pandit Football Indonesia |
Gambar 2 β Betapa menumpuknya pemain Leicester di area sepertiga akhir lapangan. Bahkan sampai ada sembilan pemain di sana. Ini memaksa Danny Rose melakukan tembakan
Hal ini terjadi berkali-kali dalam pertandingan. Pola serangan yang sama ini pulalah yang mengakibatkan banyaknya peluang-peluang off target yang terjadi bagi Spurs. Total ada 22 peluang yang tercatat, dengan lima peluang on target, enam peluang blocked, dan 11 peluang off target.
Spurs pernah melakukan hal yang sama ketika melawan Manchester City dengan lebih banyak mengarahkan serangan ke sayap untuk menghindari pertarungan dengan double pivot City ketika itu. Jika ketika itu hasilnya memuaskan, lain halnya dengan saat ini, karena Spurs seperti dipaksa oleh Leicester untuk menyerang lewat sayap.
Leicester Memang Mengandalkan Serangan Sayap
Berbeda dengan Spurs yang memang dipaksa oleh The Foxes untuk menyerang dari sayap, Leicester justru memang mengandalkan sayapnya untuk menyerang lini pertahanan The Lilywhites. Belum lagi adanya ruang kosong yang tercipta ketika Danny Rose ataupun Kyle Walker maju membantu serangan, Leicester semakin sering mengeksploitasi sayap.
Hal ini terlihat dari umpan-umpan yang dilepaskan pemain yang memiliki sentuhan terbanyak dengan bola, Danny Drinkwater (45 kali sentuhan dengan bola, terbanyak dari pemain Leicester lain), yang kebanyakan diarahkan ke sayap. Kebanyakan umpan diarahkan kepada Simpson, Fuchs, ataupun Mahrez.
Foto: Pandit Football Indonesia |
Gambar 3 β Rute umpan Danny Drinkwater. Kebanyakan mengarah ke samping. Sumber: @11tegen11
Kenapa Leicester banyak mengarahkan bola ke sayap? Selain karena ruang kosong yang tercipta akibat Rose dan Walker yang acap kali maju, dengan formasi dasar 4-4-2 The Foxes memang lebih memungkinkan untuk menyerang lewat sayap. Lini tengah yang dihuni oleh King dan Drinkwater lebih difungsikan membantu pertahanan dan membagi bola ke lini depan.
Serangan Leicester lewat sayap pun terbukti lebih ampuh. Awalnya serangan Leicester lewat sayap pun tidak terlalu berbahaya karena Rose dan Walker acap melakukan trackback ke belakang pada babak pertama. Namun pada awal babak kedua, mereka sedikit abai karena kerap maju ke depan membantu serangan. Hal inilah yang dimanfaatkan Leicester.
Gol penyama kedudukan oleh Leicester berasal dari pergerakan Ahmed Musa yang merangsek ke tengah dari sisi kiri, setelah bek-bek Spurs terlalu terfokus kepada pergerakan Okazaki dan Vardy yang membawa bola, dan juga adanya ruang yang dapat dieksploitasi oleh Musa.
Foto: Pandit Football Indonesia |
Gambar 4 β Proses gol Musa. Bek-bek Spurs tidak melihat gerakan dari pemain ini (mereka fokus pada gerakan Vardy dan Okazaki) sehingga ia bisa leluasa mencetak gol
Kesimpulan
Menyerang lewat sayap adalah hal yang lazim. Jika anda memiliki pemain dengan kemampuan cut inside yang baik, maka ia akan menjadi senjata mematikan. Namun lain halnya jika sebuah tim dipaksa menyerang lewat sayap. Itu berarti serangan anda sudah mati karena serangan lewat sayap akan lebih mudah untuk dihentikan daripada serangan dari tengah.
Spurs mengalaminya dalam pertandingan kali ini. Leicester sukses memaksa mereka untuk menyerang dari sayap, yang membuat serangan-serangan dari mereka mudah untuk dipatahkan.
Dan untuk Leicester, meski mereka kesulitan untuk menyerang, mereka sudah melakukan hal yang bisa mereka lakukan dengan menahan imbang Spurs. Setidaknya ini menjadi awal yang baik bagi mereka untuk mencatatkan hasil positif dalam laga tandang seperti halnya pada musim 2015/2016.
(mrp/mrp)



Foto: Pandit Football Indonesia
Foto: Pandit Football Indonesia
Foto: Pandit Football Indonesia
Foto: Pandit Football Indonesia
Foto: Pandit Football Indonesia
Foto: Pandit Football Indonesia




