Match Analysis
Liga Italia: Juventus 2-1 Napoli
Perubahan Taktik Berbuah Tiga Poin untuk Juventus
Foto: REUTERS/Giorgio Perottino
Jakarta - Juventus berhasil memenangi duelnya kontra Napoli dengan skor 2-1. Perubahan taktik di babak kedua jadi kunci kemenangan 'Si Nyonya Tua' di laga tersebut.
Dalam laga antara kedua kesebelasan, Minggu (30/10) dinihari WIB tadi, dua gol Juventus dicetak oleh Leonardo Bonucci dan Gonzalo Higuain, sementara gol balasan Napoli dibuat oleh Jose Callejon.
Meski Juventus mampu meraih angka penuh, namun kemenangan mereka di laga ini tak mereka dapatkan dengan cara yang spesial. Perubahan gaya bermain karena absennya Paulo Dybala akibat cedera membuat 'Si Nyonya Tua' tak mampu bermain se-superior biasanya.
Di sisi lain, Napoli juga mengalami masalah serupa dengan Juventus. Absennya dua penyerang tengah mereka, Arkadiusz Milik dan Manolo Gabbiadini, memaksa Dries Mertens tampil sebagai penyerang tengah.
Napoli Kesulitan Menembus Lini Pertahanan Juventus
Kedua kesebelasan memainkan formasi andalannya di laga ini. Juventus, meski tanpa Dybala, memainkan formasi 3-5-2, sementara Napoli yang ditinggal penyerang tengahnya tetap bermain dengan formasi 4-3-3 dengan mengandalkan Dries Mertens di depan.
Sadar akan kuatnya lawan di lini depan, Juventus melakukan hal yang sama seperti ketika AS Roma mengalahkan Napoli dua pekan lalu: mengacaukan permainan Napoli dengan mengunci pergerakan penyerang sayap mereka.
Berbeda dengan Roma yang memfokuskan untuk menjaga pergerakan penyerang sayap Napoli menggunakan penjagaan per individu, Juventus di laga ini menggunakan penjagaan berdasarkan penempatan posisinya.
Stephan Lichtsteiner yang bermain di sebelah kanan bertugas mematikan pergerakan Lorenzo Insigne, sementara Alex Sandro fokus untuk menjaga Callejon. Keduanya juga kadang dibantu oleh trio gelandang Juventus, Sami Khedira, Hernanes, dan Miralem Pjanic.
Gambar di atas adalah contoh bagaimana mereka berusaha menutup pergerakan. Callejon yang berusaha untuk masuk ke pertahanan Juventus melalui sisi kanan. Tidak hanya satu pemain yang ditugaskan untuk menutup, tapi juga dua atau bahkan lebih.
Permainan Napoli yang didominasi oleh permainan sayap pada akhirnya benar-benar buruk. Upaya Juventus menutup pergerakan penyerang sayap Napoli dengan memaksimalkan penjagaan per posisi membuat Callejon maupun Lorenzo Insigne kesulitan untuk melakukan cut inside.
Dikuncinya pergerakan kedua pemain ini otomatis membuat pasokan bola kepada Dries Mertens yang dijadikan penyerang tunggal tidak maksimal. Umpan tarik dari sayap yang menjadi salah satu cara utama mencetak gol Napoli minim dilakukan karena jarangnya penyerang sayap Napoli mendapatkan bola.
Minimnya umpan ke penyerang sayap Napoli pada akhirnya membuat mereka benar-benar kesulitan menciptakan peluang mencetak gol. Setelah gagal memasuki pertahanan Juventus lewat sayap, umpan lambung pun mereka coba.
Namun lagi-lagi kegagalan menemui mereka. Faktor postur tubuh trio bek tengah Juventus yang lebih tinggi ketimbang Mertens membuat penyerang asal Belgia ini kesulitan memenangi duel udara.
Kegagalan Napoli untuk masuk ke kotak penalti Juventus pada akhirnya Napoli memilih untuk melepaskan tembakan dari luar kotak penalti. Delapan dari 12 tembakan yang dilepaskan oleh Napoli di laga ini bahkan diciptakan dari luar kotak penalti.
Variasi Gaya Menyerang Juventus yang Membawa Perubahan
Absennya Dybala memang memengaruhi gaya bermain Juventus secara keseluruhan. Alih-alih memainkan Juan Cuadrado, Allegri memasang dua penyerang tengah, Gonzalo Higuain dan Mario Mandzukic, di lini depan.
Meski keduanya memiliki tipikal yang sama, namun tugas berbeda diberikan oleh Allegri pada keduanya. Mandzukic bertugas sebagai ujung tombak tim di lini depan, sementara Higuain difokuskan untuk masuk dari lini kedua.
Umpan jauh ke dua penyerang tersebut menjadi pilihan Juventus di awal-awal pertandingan. Namun kuatnya duet bek tengah Napoli dalam duel udara, Vlad Chiriches dan Kalidou Koulibaly, ditambah keberadaan Amadou Diawara di antara keduanya membuat upaya Juventus selalu gagal.
Selain itu, minimnya bantuan yang diberikan oleh pemain tengah Juventus kepada keduanya membuat upaya Juventus untuk menembus lini pertahanan Napoli juga mentok sebelum memasuki kotak penalti Napoli.
Kegagalan untuk masuk ke kotak penalti Napoli menggunakan umpan panjang membuat Juventus melakukan variasi ketika menyerang. Pergantian Giorgio Chiellini oleh Juan Cuadrado di menit ke-39, membuat cara menyerang Juventus berubah dari yang sebelumnya hanya fokus ke umpan jauh membuat mereka juga memanfaatkan lebar lapangan.
Pergantian tersebut tidak hanya menambah cara menyerang Juventus, tapi juga mengubah gaya bermain Juventus secara keseluruhan. Masuknya Cuadrado membuat Juventus bermain dengan empat pemain belakang. Jika dilihat, Juventus bahkan bermain dengan formasi 4-3-1-2, di mana satu orang gelandang serang diisi oleh Cuadrado yang ditempatkan di sayap.
Formasi ini juga membuat gaya bermain Juventus semakin cepat. Pemain Juventus yang menunggu di kedalaman ketika masih memainkan formasi 3-5-2 berupaya secepat mungkin merebut bola dalam formasi ini.
Pergantian formasi Juventus membuahkan hasil di menit ke-50. Berawal dari sepak pojok yang dilepaskan oleh Pjanic, bola gagal dibuang dengan baik oleh Ghoulam dan mengarah ke Bonucci yang berada di posisi paling depan. Dengan sebuah tembakan keras, Bonucci mampu menjebol gawang Napoli yang dijaga oleh Pepe Reina.
Masuknya Cuadrado memang benar-benar mengubah permainan Juventus menjadi lebih cair. Sejak ia berada di lapangan, Juventus mampu membuat tujuh tembakan ke gawang. Bandingkan sebelum ia masuk, di mana Juventus hanya mampu menciptakan tiga peluang untuk mencetak gol.
Kesalahan Pemain Kedua Kesebelasan yang Berujung Gol Tambahan
Tempo cepat yang dimainkan oleh kedua kesebelasan di babak kedua membuat pemain Juventus maupun Napoli rentan melakukan kesalahan elementer. Dan hasilnya, dua gol tambahan di laga ini tercipta akibat kesalahan mendasar pemain kedua kesebelasan.
Gol Napoli yang diciptakan oleh Callejon menjadi kesalahan elementer perdana yang membuahkan hasil di laga ini. Berawal dari kesalahan komunikasi antara Lichtsteiner yang mendadak berada di sebelah kiri kotak penalti Juventus dengan Alex Sandro, Callejon mampu lepas dari jebakan offside dan mencetak gol ke gawang Buffon.
Kesalahan Juventus rupanya ditiru oleh Napoli. Berawal dari umpan tinggi yang dilepaskan oleh Higuain, Koulibaly dan Ghoulam malah berebut bola. Tidak hanya itu, Diawara yang seharusnya berada di sisi kotak penalti untuk menjaga Higuain malah berada jauh dari pemain tim nasional Argentina tersebut dan membuatnya bebas melepaskan tembakan ke gawang Reina.
Kesimpulan
Di awal pertandingan, Juventus maupun Napoli memang sama-sama kesulitan menembus lini pertahanan masing-masing. Meski demikian, kepintaran Allegri memanfaatkan sisi kiri Napoli yang lemah ketika bertahan mampu mengubah hasil akhir pertandingan.
Upaya Allegri dengan memasukkan Juan Cuadrado memang patut diakui adalah sebuah keputusan cerdas. Juventus bahkan mampu tampil berbeda sejak masuknya eks pemain Fiorentina. Yang menarik, apakah Allegri akan kembali menduetkan Higuain dengan Mandzukic di lini depan dalam formasi 3-5-2, atau memberikan satu pos di lini depan kepada Cuadrado.
(mrp/mrp)
Dalam laga antara kedua kesebelasan, Minggu (30/10) dinihari WIB tadi, dua gol Juventus dicetak oleh Leonardo Bonucci dan Gonzalo Higuain, sementara gol balasan Napoli dibuat oleh Jose Callejon.
Meski Juventus mampu meraih angka penuh, namun kemenangan mereka di laga ini tak mereka dapatkan dengan cara yang spesial. Perubahan gaya bermain karena absennya Paulo Dybala akibat cedera membuat 'Si Nyonya Tua' tak mampu bermain se-superior biasanya.
Di sisi lain, Napoli juga mengalami masalah serupa dengan Juventus. Absennya dua penyerang tengah mereka, Arkadiusz Milik dan Manolo Gabbiadini, memaksa Dries Mertens tampil sebagai penyerang tengah.
Foto: Pandit Football Indonesia |
Napoli Kesulitan Menembus Lini Pertahanan Juventus
Kedua kesebelasan memainkan formasi andalannya di laga ini. Juventus, meski tanpa Dybala, memainkan formasi 3-5-2, sementara Napoli yang ditinggal penyerang tengahnya tetap bermain dengan formasi 4-3-3 dengan mengandalkan Dries Mertens di depan.
Sadar akan kuatnya lawan di lini depan, Juventus melakukan hal yang sama seperti ketika AS Roma mengalahkan Napoli dua pekan lalu: mengacaukan permainan Napoli dengan mengunci pergerakan penyerang sayap mereka.
Berbeda dengan Roma yang memfokuskan untuk menjaga pergerakan penyerang sayap Napoli menggunakan penjagaan per individu, Juventus di laga ini menggunakan penjagaan berdasarkan penempatan posisinya.
Stephan Lichtsteiner yang bermain di sebelah kanan bertugas mematikan pergerakan Lorenzo Insigne, sementara Alex Sandro fokus untuk menjaga Callejon. Keduanya juga kadang dibantu oleh trio gelandang Juventus, Sami Khedira, Hernanes, dan Miralem Pjanic.
Foto: Pandit Football Indonesia |
Penjagaan berlapis yang dilakukan oleh pemain Juventus di daerah permainan mereka.
Gambar di atas adalah contoh bagaimana mereka berusaha menutup pergerakan. Callejon yang berusaha untuk masuk ke pertahanan Juventus melalui sisi kanan. Tidak hanya satu pemain yang ditugaskan untuk menutup, tapi juga dua atau bahkan lebih.
Permainan Napoli yang didominasi oleh permainan sayap pada akhirnya benar-benar buruk. Upaya Juventus menutup pergerakan penyerang sayap Napoli dengan memaksimalkan penjagaan per posisi membuat Callejon maupun Lorenzo Insigne kesulitan untuk melakukan cut inside.
Dikuncinya pergerakan kedua pemain ini otomatis membuat pasokan bola kepada Dries Mertens yang dijadikan penyerang tunggal tidak maksimal. Umpan tarik dari sayap yang menjadi salah satu cara utama mencetak gol Napoli minim dilakukan karena jarangnya penyerang sayap Napoli mendapatkan bola.
Minimnya umpan ke penyerang sayap Napoli pada akhirnya membuat mereka benar-benar kesulitan menciptakan peluang mencetak gol. Setelah gagal memasuki pertahanan Juventus lewat sayap, umpan lambung pun mereka coba.
Namun lagi-lagi kegagalan menemui mereka. Faktor postur tubuh trio bek tengah Juventus yang lebih tinggi ketimbang Mertens membuat penyerang asal Belgia ini kesulitan memenangi duel udara.
Kegagalan Napoli untuk masuk ke kotak penalti Juventus pada akhirnya Napoli memilih untuk melepaskan tembakan dari luar kotak penalti. Delapan dari 12 tembakan yang dilepaskan oleh Napoli di laga ini bahkan diciptakan dari luar kotak penalti.
Variasi Gaya Menyerang Juventus yang Membawa Perubahan
Absennya Dybala memang memengaruhi gaya bermain Juventus secara keseluruhan. Alih-alih memainkan Juan Cuadrado, Allegri memasang dua penyerang tengah, Gonzalo Higuain dan Mario Mandzukic, di lini depan.
Meski keduanya memiliki tipikal yang sama, namun tugas berbeda diberikan oleh Allegri pada keduanya. Mandzukic bertugas sebagai ujung tombak tim di lini depan, sementara Higuain difokuskan untuk masuk dari lini kedua.
Umpan jauh ke dua penyerang tersebut menjadi pilihan Juventus di awal-awal pertandingan. Namun kuatnya duet bek tengah Napoli dalam duel udara, Vlad Chiriches dan Kalidou Koulibaly, ditambah keberadaan Amadou Diawara di antara keduanya membuat upaya Juventus selalu gagal.
Selain itu, minimnya bantuan yang diberikan oleh pemain tengah Juventus kepada keduanya membuat upaya Juventus untuk menembus lini pertahanan Napoli juga mentok sebelum memasuki kotak penalti Napoli.
Kegagalan untuk masuk ke kotak penalti Napoli menggunakan umpan panjang membuat Juventus melakukan variasi ketika menyerang. Pergantian Giorgio Chiellini oleh Juan Cuadrado di menit ke-39, membuat cara menyerang Juventus berubah dari yang sebelumnya hanya fokus ke umpan jauh membuat mereka juga memanfaatkan lebar lapangan.
Pergantian tersebut tidak hanya menambah cara menyerang Juventus, tapi juga mengubah gaya bermain Juventus secara keseluruhan. Masuknya Cuadrado membuat Juventus bermain dengan empat pemain belakang. Jika dilihat, Juventus bahkan bermain dengan formasi 4-3-1-2, di mana satu orang gelandang serang diisi oleh Cuadrado yang ditempatkan di sayap.
Formasi ini juga membuat gaya bermain Juventus semakin cepat. Pemain Juventus yang menunggu di kedalaman ketika masih memainkan formasi 3-5-2 berupaya secepat mungkin merebut bola dalam formasi ini.
Pergantian formasi Juventus membuahkan hasil di menit ke-50. Berawal dari sepak pojok yang dilepaskan oleh Pjanic, bola gagal dibuang dengan baik oleh Ghoulam dan mengarah ke Bonucci yang berada di posisi paling depan. Dengan sebuah tembakan keras, Bonucci mampu menjebol gawang Napoli yang dijaga oleh Pepe Reina.
Masuknya Cuadrado memang benar-benar mengubah permainan Juventus menjadi lebih cair. Sejak ia berada di lapangan, Juventus mampu membuat tujuh tembakan ke gawang. Bandingkan sebelum ia masuk, di mana Juventus hanya mampu menciptakan tiga peluang untuk mencetak gol.
Foto: Pandit Football Indonesia |
Pola serangan Juventus sebelum Cuadrado masuk (kiri) dan sesudah Cuadrado (kanan). Sumber: Squawka
Kesalahan Pemain Kedua Kesebelasan yang Berujung Gol Tambahan
Tempo cepat yang dimainkan oleh kedua kesebelasan di babak kedua membuat pemain Juventus maupun Napoli rentan melakukan kesalahan elementer. Dan hasilnya, dua gol tambahan di laga ini tercipta akibat kesalahan mendasar pemain kedua kesebelasan.
Gol Napoli yang diciptakan oleh Callejon menjadi kesalahan elementer perdana yang membuahkan hasil di laga ini. Berawal dari kesalahan komunikasi antara Lichtsteiner yang mendadak berada di sebelah kiri kotak penalti Juventus dengan Alex Sandro, Callejon mampu lepas dari jebakan offside dan mencetak gol ke gawang Buffon.
Kesalahan Juventus rupanya ditiru oleh Napoli. Berawal dari umpan tinggi yang dilepaskan oleh Higuain, Koulibaly dan Ghoulam malah berebut bola. Tidak hanya itu, Diawara yang seharusnya berada di sisi kotak penalti untuk menjaga Higuain malah berada jauh dari pemain tim nasional Argentina tersebut dan membuatnya bebas melepaskan tembakan ke gawang Reina.
Foto: Pandit Football Indonesia |
Kesalahan pemain Napoli yang tidak mengantisipasi masuknya Higuain, berbuah gol untuk Napoli.
Kesimpulan
Di awal pertandingan, Juventus maupun Napoli memang sama-sama kesulitan menembus lini pertahanan masing-masing. Meski demikian, kepintaran Allegri memanfaatkan sisi kiri Napoli yang lemah ketika bertahan mampu mengubah hasil akhir pertandingan.
Upaya Allegri dengan memasukkan Juan Cuadrado memang patut diakui adalah sebuah keputusan cerdas. Juventus bahkan mampu tampil berbeda sejak masuknya eks pemain Fiorentina. Yang menarik, apakah Allegri akan kembali menduetkan Higuain dengan Mandzukic di lini depan dalam formasi 3-5-2, atau memberikan satu pos di lini depan kepada Cuadrado.
(mrp/mrp)



Foto: Pandit Football Indonesia
Foto: Pandit Football Indonesia
Foto: Pandit Football Indonesia
Foto: Pandit Football Indonesia




