Masukkan kata pencarian minimal 3 karakter
Searching.. Please Wait
    Match Analysis

    Perubahan Taktik yang Menjadi Penentu Kemenangan Southampton atas Inter

    Pandit Football Indonesia - detikSport
    Foto: Reuters / Eddie Keogh Foto: Reuters / Eddie Keogh
    Jakarta - Southampton berhasil membalas dendam atas Internazionale Milan di Liga Europa 2016/2017 di Stadion Saint Mary, Jumat (4/11) dinihiari WIB. Setelah kalah di pertemuan pertama, Southampton mengalahkan Inter dengan skor 2-1 atas gol yang dicetak Virgil van Dijk pada menit 64 dan bunuh diri Yuto Nagatomo pada menit 69.

    Padahal Inter sempat unggul terlebih dahulu melalui gol Mauro Icardi pada menit 33. Kedudukan bisa berbalik karena adanya perubahan taktik pada pertengahan babak kedua.

    Kedua kesebelasan mengubah pola permainannya sejak kedudukan menjadi 1-1. Situasi itu membuat Inter bermain lebih terbuka. Sebelumnya mereka cenderung bermain bertahan dan mengandalkan serangan balik. Formasi yang digunakan adalah 4-4-1-1 tanpa Marcelo Brozovic di lini tengah karena hukuman kartu. Sementara Southampton bermain dengan formasi 4-3-3 tanpa bisa diperkuat Matt Targett dan Shane Long karena cedera.

    Perubahan Taktik yang Menjadi Penentu Kemenangan Southampton atas InterFoto: @PanditFootball

    Inter Terlalu Buru-buru Mengganti Taktik

    Menutup babak pertama dengan keunggulan 1-0, Inter tak rela mengakhiri laga dengan hasil seri. Begitu kebobolan di menit 64, mereka langsung mengubah permainannya. Kesebelasan berjuluk I Nerrazuri itu langsung tampil lebih menyerang. Kedua full-back mereka mulai naik membantu serangan. Sebelumnya, Danilo DiAmbrosio di sisi kanan dan Nagatomo di sisi kiri cenderung lebih bertahan. Membantu serangan hampir tidak terlihat. Aksi bertahan mereka dibantu kedua winger. Antonio Candreva di sisi kanan membantu Ambrosio bertahan. Begitu juga dengan Ivan Perisic yang meringankan tugas Nagatomo dalam bertahan.

    Tapi kedua pemain tersebut meninggalkan tugas bertahannya usai kebobolan. Candreva dan Perisic pun naik sampai sepertiga akhir pertahanan Southampton. Sebelumnya, hanya Icardi yang berada di area luar kotak penalti. Bahkan kadang-kadang berada di wilayahnya sendiri untuk melakukan aksi bertahan di lingkaran tengah lapangan. Setelah mengubah pola permainannya, Inter justru kebobolan dan kedudukan berbalik untuk keunggulan Southampton dengan skor 2-1.

     Heatmap full-back Internazionale Milan sepanjang babak pertama (kiri) dan babak kedua (kanan). Sumber: Squawka.Heatmap full-back Internazionale Milan sepanjang babak pertama (kiri) dan babak kedua (kanan). Sumber: Squawka.

    Pemain Tidak Bersinergi dengan Perubahan Taktik

    Sayap yang terlibat dalam perubahan taktik menyerang Inter itu membuat lupa kepada pola serangan Southampton. Sejak awal pertandingan, dominasi permainan sayap Southampton terlihat jelas. Hal itu diperhatikan melalui agresivitas full-back Southampton membantu serangan. Baik Sam McQueen di sisi kiri dan Cuco Martina di sebelah kanan, sama-sama sering naik ke sisi pertahanan Inter.

    Di sepertiga akhir pertahanan Inter jugalah mereka kerap melepaskan umpan-umpan silang datar. McQueen dan Martina menjadi pembuka ruang di lini sayap agar Jay Rodriguez dan Dusan Tadic pada posisi winger, bisa mendapatkan ruang di area kotak penalti. Inter menyadari itu sehingga kedua full-back mereka bertahan lebih rapat dengan bek tengah.

    Pergerakan mereka karena biasanya kekosongan posisi mereka ditutupi oleh winger yang turun bertahan. Tapi ketika sesudah perubahan taktik, mereka seperti lupa kalau Candreva dan Perisic sudah mengurangi tugas bertahannya. Alhasil, gol kedua Southampton terjadi karena Ambrosio yang sudah turun bertahan, namun area pertahanan sisi kanannya tidak ada yang meng-cover.

    Saat itu Candreva terlambat turun membantu pertahanan di sisi kanan. Keterlambatan itu membuat Tadic menguasai bola dengan bebas dan melepaskan umpan silang ke kotak penalti. Di sana, berada Nagatomo yang bertahan lebih rapat kepada bek tengah. Dan ia salah mengantispasi umpan silang yang justru menjadi gol bunuh diri.

    Pressing Agresif Southampton yang Akhirnya Berhasil

    Southampton yang bermain terbuka pada awal pertandingan, dihiasi dengan pressing agresif kepada Inter. Pola itu diterapkan The Saints sejak lini depan. Mereka tidak membiarkan bola terlalu lama di kaki para pemain lawan. Ketika pemain Inter menguasai bola, maka tekanan dengan percobaan tekal langsung dilakukannya. Sadar akan hal itu, Inter mengakalinya dengan tidak banyak melakukan dribel pada laga ini. Total, mereka cuma melakukan dribel empat kali selama pertandingan tersebut.

    Inter lebih memilih untuk menguasai bola melalui umpan-umpan pendek. Bahkan di area pertahanannya sendiri. Ketika membangun serangan, Inter lebih memilih memberikan umpan pendek ke Gnokouri yang turun dari lini tengah. Cukup berbeda dengan kesebelasan lain yang bermain bertahan. Biasanya, mereka lebih memilih melancarkan umpan jauh untuk serangan balik.

     Grafis operan Internazionale Milan. Sumber: Squawka.com.Foto: Sumber: Squawka.com
    Grafis operan Internazionale Milan. Sumber: Squawka.com.

    Tapi intensitas pressing agresif Southampton berkurang setelah tertinggal terlebih dahulu. Mereka lebih sabar untuk merebut bola dari kaki para pemain Inter. Setelah berhasil menyamakan kedudukan, Southampton kembali mengaktifkan pressing agresifnya. Apalagi jika mengingat Inter terlihat panik dengan langsung bermain terbuka setelah pertama kebobolan.

    Hal itulah yang membuat Southampton lebih mudah mendapatkan bola ketika kedudukan sudah berimbang. Kedudukan yang membuat Inter menjadi tampil menyerang justru menjadi keuntungan sendiri bagi pressing agresif Southampton. Kesalahan-kesalahan individu pemain Inter dalam mengoper atau menerima bola, berhasil dikuasai Southampton hingga menjadi gol bunuh diri Nagatomo.

    Kepanikan Inter dalam Pergantian Pemain

    Gol bunuh diri Nagatomo membuat Inter semakin kesulitan untuk meraih kemenangan. Stefano Vecchi yang menjadi pelatih interim saat itu menyiasatinya dengan memasukan Citadin Eder untuk menggantikan Gary Medel pada menit 74. Hal itu diperuntukkan agar Inter bisa lebih agresif menyerang dengan masuknya Eder di lini depan. Tapi keluarnya Medel justru membuat kekosongan di depan kotak penaltinya sendiri.

    Sebelumnya, area itu selalu dilindungi oleh Medel. Ia membuat lini belakang Inter semakin padat dan sulit ditembus sebelum terjadi gol pertama Southampton dan pergantian taktik kesebelasannya. Alhasil kekosongan di area depan kotak penalti itu menjadi ajang eksploitasi pemain depan Southampton.

    Inter kembali panik dan konsentrasi menyerangnya terganggu. Alhasil area depan kotak penalti itu diisi kembali dengan memasukan Felipe Melo menggantikan Gnokouri pada menit 82. Agar tetap bisa menyerang, Inter memasukan Jonathan Biabiany pada menit 89. Tapi pergantian itu terbilang terlambat sehingga Biabiany tidak bisa berbuat banyak. Alhasil, Inter justru gagal mengejar ketertinggalan.

    Foto: Reuters / Eddie KeoghFoto: Reuters / Eddie Keogh

    Kesimpulan

    Perubahan taktik Vecchi tidak sejalan dengan para pemain Inter pada waktu itu. Buktinya pertahanan Inter mengalami kesalahpahaman yang menyebabkan Southampton bisa mencetak gol kemenangan. Inter pun semakin kesulitan mengejar ketertinggalan karena Southampton baik ketika melakukan transisi bertahan. Ditambah dengan penampilan Virgil yang gemilang pada laga itu. Selain mencetak gol, ia bertahan dengan baik atas 100 persen tekel bersih dan dua intersepsinya.


    (nds/a2s)
    Kontak Informasi Detikcom
    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Media Partner: promosi[at]detik.com
    Iklan: sales[at]detik.com
    More About the Game