Masukkan kata pencarian minimal 3 karakter
Searching.. Please Wait
    Match Analysis

    Liga Inggris: Arsenal 1-1 Tottenham

    Cara Sistem Tiga Bek Spurs Meredam Arsenal

    Pandit Football Indonesia - detikSport
    Foto: Clive Rose/Getty Images Foto: Clive Rose/Getty Images
    Jakarta - Pertandingan North London derby di Stadion Emirates, London, kandang Arsenal, harus berakhir imbang 1-1, semalam. Sebuah gol bunuh diri dari Kevin Wimmer di babak pertama bisa dibalas oleh Harry Kane melalui sepakan penalti pada babak kedua.

    Meskipun sempat dikabarkan tidak fit, Arsène Wenger, manajer Arsenal, sudah bisa menurunkan Héctor Bellerín dan Theo Walcott di susunan sebelas pemain utamanya. Tapi ia masih menyimpan Olivier Giroud di bangku cadangan dan lebih memilih memainkan Alexis Sánchez sebagai ujung tombak.

    Sementara itu, Tottenham Hotspur yang sudah menerima tiga hasil imbang dan dua kekalahan dalam lima pertandingan terakhir mereka, mencoba sistem yang baru pada pertandingan semalam. Mauricio Pochettino, manajer Spurs, mengubah sistem pada pertandingan semalam dengan formasi 3 bek.

    Ia menurunkan Wimmer sebagai bek tengah sebelah kanan, Eric Dier sebagai bek tengah sentral, dan Jan Vertonghen sebagai bek tengah sebelah kiri, dengan didukung oleh kedua wing-back di masing-masing sisi lapangan.

    Cara Sistem Tiga Bek Spurs Meredam ArsenalFoto: Pandit Football Indonesia

    Gambar 1 – Susunan dan rata-rata posisi pemain Arsenal dan Tottenham Hotspur


    Meskipun sempat belum terbiasa di awal pertandingan, hasilnya bisa sangat baik bagi Spurs dan terlihat simetris (seimbang) antara kanan, kiri, dan tengah. Christian Eriksen menjadi tokoh sentral dalam sistem 3 bek Spurs ini.

    Sistem Tiga Bek Spurs Memaksa Arsenal Menyerang Lewat Sayap

    Banyak yang berkata jika sistem tiga bek Spurs semalam adalah buah dari berhasilnya sistem ini mengantarkan Antonio Conte dan Chelsea meraih rentetan kemenangan dengan clean sheet, termasuk yang terbaru adalah saat Chelsea menghajar Everton 5-0 di Hari Sabtu (5/11).

    Tapi Pochettino langsung menyanggahnya. "Hanya karena Chelsea menang 5-0 kemarin, bukan berarti mereka menemukan sistem [3 bek] ini. Kami tidak bermain seperti Chelsea, kami bermain dengan dua penyerang [Harry Kane dan Son Heung-min] dan Christian [Eriksen] di belakang mereka. Tidak ada kesebelasan yang memiliki sistem seperti yang kami mainkan hari ini," tutup manajer asal Argentina tersebut.

    Cara Sistem Tiga Bek Spurs Meredam ArsenalFoto: Pandit Football Indonesia

    Gambar 2 – Grafis hubungan operan dan posisi para pemain Tottenham Hotspur – sumber: 11tegen11


    Itulah kenapa "sistem barunya ini" membuat kedua bek sayap Spurs yang seperti belum terbiasa di sistem baru ini. Ini terlihat dari seringnya Arsenal bisa memanfaatkan sisi lapangan saat menyerang, terutama melalui sisi kiri, sisi di mana Kyle Walker bermain.

    Cara Sistem Tiga Bek Spurs Meredam ArsenalFoto: Pandit Football Indonesia

    Gambar 3 – Grafis operan sepertiga lapangan akhir Arsenal – sumber: FourFourTwo Stats Zone


    Jika kita melihat gambar di atas, hal yang terlihat memang seperti menunjukkan kelemahan Spurs di daerah sayap pertahanan. Tapi kalau kita lebih jeli lagi, ternyata ini malah menunjukkan sebaliknya, yaitu Spurs yang "menyetir" Arsenal untuk bisa membangun serangan di daerah sayap saja.

    Pada gambar di atas, kita juga bisa melihat jika hanya sedikit operan yang Arsenal bangun melalui operan di daerah tengah. Hal ini terjadi lantaran daerah tengah Spurs yang padat.

    Arsenal Gagal Keluar dari Counterpressing Spurs

    Bermain dengan 3 bek juga membuat Spurs menaikkan garis pertahanan mereka. Ditambah dengan taktik counterpressing Pochettino yang terus menekan The Gunners, Arsenal yang kesulitan menembus jika tidak lewat sisi beberapa kali harus melepaskan bola panjang yang gagal.

    Cara Sistem Tiga Bek Spurs Meredam ArsenalFoto: Pandit Football Indonesia

    Gambar 4 – Grafis bola panjang Arsenal – sumber: FourFourTwo Stats Zone


    Arsenal tidak bisa mencari jalan keluar dari "kurungan" Spurs ini. Meskipun bermain di kandang mereka sendiri, The Gunners hanya berhasil menguasai 46,3% penguasaan bola (berbanding 53,7% milik Spurs).

    Namun, hal yang menarik hadir dari Mesut Özil, di mana ia menjadi pemain yang paling sering menyentuh bola bagi Arsenal, bersama dengan Nacho Monreal. Bedanya ia dengan Monreal adalah posisinya yang lebih di depan.

    Ia berhasil menyebarkan bola menuju sayap, serta juga beberapa kali mengirimkan operan berbahaya di wilayah half-space (wilayah antara sayap dan tengah) pertahanan Spurs.

    Cara Sistem Tiga Bek Spurs Meredam ArsenalFoto: Pandit Football Indonesia

    Gambar 5 – Grafis hubungan operan dan posisi para pemain Arsenal – sumber: 11tegen11


    Tapi karena Spurs menerapkan garis pertahanan yang tinggi, operan berbahaya dari Özil tersebut hanya berhasil menghasilkan 5 peluang (dari total 12 chances created yang Arsenal catatkan) dengan mayoritas operannya berhasil diamankan Hugo Lloris atau menghasilkan offside.

    Sama-sama Gagal Memancing Lawan untuk Mengubah Bentuk Ketika Bertahan

    Kembali melihat pada gambar 2 dan 5, kita bisa tahu jika dua pemain yang menjadi ujung tombak utama dari kedua kesebelasan, yaitu Alexis Sánchez di Arsenal dan Kane di Spurs, lebih sering turun dan bergerak melebar.

    Peran mereka tidak sebagai pemain yang menjadi target di kotak penalti. Sedangkan jika kita melihat pembangunan serangan Arsenal dan Spurs, keduanya seperti kekurangan operan ke dalam kotak penalti.

    Cara Sistem Tiga Bek Spurs Meredam ArsenalFoto: Pandit Football Indonesia

    Gambar 6 – Operan yang diterima oleh Alexis Sánchez (kiri) dan Harry Kane (kanan) – sumber: FourFourTwo Stats Zone


    Kedua pemain ini melakukannya dengan maksud agar mereka bisa memancing satu atau dua bek lawan untuk keluar dari wilayahnya. Tapi, baik para bek Arsenal dan Spurs, tetap mampu menjaga bentuk pertahanan mereka saat diserang, yang juga didukung dengan gelandang yang turun membantu.

    Untuk itulah memasuki 20 menit terakhir pertandingan, kedua manajer yang sadar akan hal ini, memasukkan dua ujung tombaknya yang bisa berperan sebagai target forward, yaitu Oliver Giroud di Arsenal dan Vincent Janssen di Tottenham.

    Tidak heran sampai akhir pertandingan kita bisa melihat kedua kesebelasan semakin banyak melepaskan umpan silang, meskipun masing-masing hanya mampu menghasilkan satu buah peluang.

    Cara Sistem Tiga Bek Spurs Meredam ArsenalFoto: Pandit Football Indonesia

    Gambar 7 – Perbandingan grafis umpan silang Tottenham Hotspur (kiri lapangan) dan Arsenal (kanan lapangan), sebelum (gambar kanan) dan setelah (gambar kiri) keduanya memasukkan Vincent Janssen dan Olivier Giroud – sumber: Squawka


    Hasil Imbang, Tapi Spurs Sedikit Unggul karena Lebih Fleksibel

    Apakah sistem 3 bek Spurs ini membuat Arsenal kesulitan menembusnya? Theo Walcott langsung menjawabnya setelah pertandingan: "Iya. Sangat [menimbulkan masalah] sejujurnya. [Taktik 3 bek Spurs] sulit ditembus."

    Setiap Arsenal bisa melewati satu pemain Spurs, hampir pasti ada satu pemain Spurs lagi yang melakukan cover untuk menutup pemain Arsenal tersebut. Semalam Arsenal memang berhasil mencatatkan 16 tembakan, tapi hanya 3 saja yang menemui sasaran. Gol merekapun hadir dari hasil gol bunuh diri Wimmer.

    Cara Sistem Tiga Bek Spurs Meredam ArsenalFoto: Pandit Football Indonesia

    Gambar 8 – Grafis tembakan yang dicatatkan Tottenham Hotspur (kiri) dan Arsenal (kanan) – sumber: Squawka


    Tottenham memang sempat kebingungan dengan sistem 3 bek ini. Mereka baru lancar memainkannya di babak kedua. Sebagai perbandingan, Arsenal berhasil menyelesaikan 76% operannya di babak pertama; tapi di babak kedua, ketika permainan Spurs sudah lebih nyetel dan lebih menekan, Arsenal hanya bisa menyelesaikan 67% operannya.

    Pada akhirnya Arsenal hanya menyelesaikan 71% operannya, yang merupakan angka operan terendah mereka sejak Februari 2016.

    Kelancaran Spurs memainkan sistem barunya ini juga didukung dengan kedua bek sayapnya, Kyle Walker di kanan dan Danny Rose di kiri, untuk mendukung 3 bek ketika bertahan dan 2 gelandang (Mousa Dembélé dan Victor Wanyama) ketika menyerang.

    Namun kedua gol yang berasal dari sepakan set piece, gol bunuh diri Wimmer dari tendangan bebas Özil dan gol Kane lewat titik putih, menunjukkan bahwa kedua kesebelasan sebenarnya sama-sama tidak bisa menembus pertahanan masing-masing lawannya.

    Hasil pertandingan memang imbang 1-1, tapi jika kita mau melihat siapa yang lebih unggul secara statistik dan taktik, Pochettino pastinya bisa lebih tersenyum karena ia menunjukkan kesebelasannya mampu melakukan adaptasi taktik dan lebih menguasai statistik permainan.

    "Aku tidak bilang bahwa [sistem 3 bek] ini adalah cara bermain yang lebih baik di masa depan, tapi penting bagi kami untuk bisa fleksibel dan merupakan langkah maju untuk tim karena bisa menggunakan sistem yang berbeda," kata Pochettino setelah pertandingan berakhir.

    Lagipula dua pemain Spurs, kan, berhasil mencetak gol semalam, meskipun salah satunya memang gol bunuh diri. (din/krs)
    Kontak Informasi Detikcom
    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Media Partner: promosi[at]detik.com
    Iklan: sales[at]detik.com
    More About the Game