Masukkan kata pencarian minimal 3 karakter
Searching.. Please Wait
    Match Analysis

    Liga Champions: Bayern 5 - 1 Arsenal

    Kalah 1-5 adalah Cerminan Wenger yang Tidak Memiliki Alternatif Taktik

    Foto: Reuters Foto: Reuters
    Jakarta - Kekalahan Arsenal dari tuan rumah Bayern Munich sejujurnya bukan merupakan hal yang mengejutkan. Tapi kalau sampai kalahnya dengan skor 5-1, apa itu tidak mengejutkan? Jika Anda hanya melihat skor akhir di pagi hari, Anda boleh terkejut. Namun, jika Anda menonton pertandingan secara penuh, sebenarnya skor 5-1 tidak terlalu mengejutkan.

    Sebelum melanjutkan ke analisis, saya meminta maaf karena memprediksi Arsenal akan berhasil mengimbangi Bayern, dengan skor 0-0 lebih tepatnya. Tapi pada tulisan prediksi tersebut, saya menyebut pengecualian pada judulnya: "berharap tidak ditekan".

    Ternyata pengecualian tersebut terjadi dini hari tadi dan menjadi salah satu poin paling krusial. Arsenal tidak berkutik menghadapi Bayern yang superior, meskipun sejujurnya Bayern kali ini memang tidak seagresif dan semenekan saat masih dilatih oleh Pep Guardiola pada saat mengalahkan The Gunners, juga dengan skor 5-1 di Allianz Arena, musim lalu di fase grup Liga Champions UEFA 2015/2016.

    Kenyataan bahwa skor 5-1 berulang di saat Bayern sedang tidak dalam penampilan terbaik mereka sejak winter break 2017, ini menunjukkan jika Arsène Wenger masih belum bisa belajar dan tidak memiliki adaptasi taktik yang baik.

    Pada konferensi pers sebelum pertandingan, Wenger menyatakan bahwa ia berniat memainkan taktik yang lebih defensif. Tapi melihat susunan pemain yang diturunkan oleh Wenger, kita bahkan bisa tahu jika Wenger tidak benar-benar sepenuh hati untuk bermain bertahan.

    Kalah 1-5 adalah Cerminan Wenger yang Tidak Memiliki Alternatif TaktikSusunan sebelas pemain utama Bayern München dan Arsenal

    Manajer asal Prancis tersebut menurunkan Alex Iwobi alih-alih Danny Welbeck. Padahal soal kerajinannya untuk naik dan turun (poin penting bagi kesebelasan yang berniat bertahan dan mengandalkan serangan balik), mantan pemain Manchester United ini adalah pemain yang dinilai lebih tepat.

    Sedangkan Carlo Ancelotti, manajer Bayern, memainkan formasi 4-2-3-1 untuk pertama kalinya dari awal pertandingan selama di Liga Champions musim ini. Sebelumnya, ia selalu memainkan formasi 4-3-3 di sepanjang fase grup Liga Champions.

    Tokoh sentral pada susunan pemain Bayern adalah Thiago Alcântara yang bermain di belakang penyerang utama mereka, Robert Lewandowski. Pada akhir pertandingan, Thiago juga menjadi pemain yang penampilannya paling cemerlang dinihari tadi.

    Arsenal Berhasil Mengimbangi Bayern Selama Babak Pertama

    Skor pada saat turun minum adalah 1-1. Arsenal mendapatkan satu gol tandang penting. Dari menit ke-46 seolah para pendukung mereka diberikan harapan kalau mereka bisa mengimbangi atau syukur-syukur menang dari Bayern, atau kalah tipis dengan modal satu gol tandang yang berharga ini.

    Fakta statistik selama babak pertama menunjukkan Arsenal yang mencerminkan konferensi pers pra-pertandingan dari Wenger. Meskipun hanya memiliki 22% penguasaan bola, Arsenal sempat melakukan empat serangan balik dan mencatatkan empat (dari enam) tembakan tepat sasaran.

    Kalah 1-5 adalah Cerminan Wenger yang Tidak Memiliki Alternatif TaktikPerbandingan grafis menyerang Bayern München dan Arsenal di babak pertama saja, keduanya ditunjukkan dengan menyerang ke arah kanan – Sumber: FourFourTwo Stats Zone

    Sempat tertinggal melalui gol Arjen Robben di menit ke-10, Arsenal kemudian berhasil mendapatkan gol dari kemelut di depan gawang Manuel Neuer: kemelut yang menghasilkan penalti (proses yang patut diperdebatkan) dan dua kemelut pasca penyelamatan penalti Neuer yang berhasil dimanfaatkan oleh Alexis Sánchez.

    Sebenarnya dengan mempertahankan permainan seperti ini, Arsenal bisa saja menahan Bayern sampai akhir pertandingan. Namun, semuanya berubah di babak kedua.

    Pertahanan Arsenal Berantakan Tanpa Koscielny

    Melihat rata-rata posisi pemain Arsenal, garis pertahanan Arsenal tergolong masih terlalu tinggi. Kalaupun ingin menyebut Arsenal bermain defensif semalam, ini tidak tercermin dari bagaimana pemain-pemain mereka mengambil posisi.

    Kalah 1-5 adalah Cerminan Wenger yang Tidak Memiliki Alternatif TaktikRata-rata posisi pemain Bayern München (oranye) dan Arsenal (biru) – Sumber: WhoScored

    Kemudian jika bukan dari rata-rata pengambilan posisi, mungkin kita bisa melihatnya dari peran para pemainnya. Ternyata, permainan defensif juga tidak terlihat dari situ.

    Misalnya saja Francis Coquelin. Sebagai gelandang bertahan, ia tidak banyak melakukan aksi defensif dengan hanya mencatatkan dua tekel dan satu intersep. Begitu juga dengan aksi ofensifnya dengan hanya mencatatkan enam dari sembilan operan sukses sepanjang 77 menit sebelum akhirnya ia digantikan oleh Olivier Giroud.



    [Video yang menunjukkan buruknya cara bertahan Arsenal dan Coquelin]

    Pada gol pertama Bayern yang dicetak oleh Robben, Coquelin bahkan tidak mampu bereaksi dengan tepat saat Robben melakukan gerakan "hapalannya". Ia membiarkan Robben mendapatkan ruang yang leluasa untuk melakukan cut inside dari sayap kanan ke arah dalam untuk menembak bola dengan kaki kirinya.

    Tapi selain dari momen tersebut, pertahanan Arsenal (meskipun tidak bisa sepenuhnya dibilang permainan bertahan) sudah lumayan bagus dengan berhasil menahan Bayern untuk hanya bisa mencatatkan satu gol dari tiga shot on target, mengingat pada gambar 2 di atas kita bisa lihat jika Bayern sangat dominan dalam menyerang.

    Semuanya berubah pada babak kedua, tepatnya pada menit ke-49 ketika Laurent Koscielny menderita cedera dan harus digantikan oleh Gabriel. Setelah empat menit Gabriel menginjakkan kakinya di atas rumput Allianz Arena, Arsenal langsung mendapatkan hasil buruk.

    Hanya dalam 10 menit, The Gunners berhasil dibobol sampai tiga kali. Pada tiga gol ini kita bisa melihat jika Wenger tidak memiliki rencana perubahan taktik.

    Cara Bayern Mengeksploitasi Kelengahan Arsenal dalam 10 menit

    Selama 10 menit itu, atau empat menit setelah Koscielny keluar, Bayern berhasil mengeksploitasi Arsenal dengan permainan menekan. Ketika ditekan, Wenger selalu percaya jika pemainnya akan cukup pintar untuk keluar dari tekanannya ini. Namun dini hari tadi, para pemainnya tidak menunjukkan tanda-tanda dari hal tersebut.

    Tapi tidak etis jika kita menyalahkan Mesut Özil, Sánchez, Iwobi, atau yang lainnya. Ketidakmampuan Arsenal merespon permainan menekan Bayern (yang sudah mereka peragakan dari awal pertandingan, kalau dari tengah pertandingan, mah, wajar, deh) adalah cerminan dari miskinnya kemampuan adaptasi taktikal Wenger.

    Pada saat Gabriel masuk, ia dan Arsenal butuh adaptasi untuk nyetel seperti babak pertama saat Koscielny masih bermain. Bayern terlihat pintar memanfaatkan hal ini dengan menekan lebih ekstra di saat Gabriel dan lini pertahanan Arsenal belum sepenuhnya selesai beradaptasi, padahal sudah 14 menit sejak Gabriel masuk; ternyata 14 menit belum cukup.

    Hal ini menunjukkan jika Wenger tidak menginstruksikan Gabriel dan pemain-pemain lainnya saat melakukan perubahan. Wenger hanya mengandalkan kemampuan para pemainnya. Tanpa arahan yang jelas, wajar saja 14 menit yang sebentar tersebut terasa begitu menyiksa bagi The Gunners.

    Kalah 1-5 adalah Cerminan Wenger yang Tidak Memiliki Alternatif TaktikMembandingkan grafis operan Thiago Alcântara (kiri) dengan kombinasi operan Granit Xhaka, Francis Coquelin, Alex Oxlade-Chamberlain, Mesut Özil, dan Alex Iwobi (kanan) – Sumber: Squawka

    Salah satu pemain yang berhasil mengacaukan Arsenal dalam rentang waktu 10 menit tersebut adalah Thiago. Pada akhir pertandingan, gelandang asal Spanyol ini berhasil mencetak dua gol, satu asis, dua peluang, menyelesaikan 36 operan di wilayah pertahanan Arsenal dengan total akurasi operan mencapai 93%.

    Tidak ada satu pemain Arsenal pun yang berhasil menutup pergerakan Thiago. Pada akhir pertandingan, Ancelotti juga memuji Thiago, "Itu adalah penampilan yang sempurna."

    Kesimpulan (baca lagi judul tulisan ini)

    Setelah pertandingan, seperti yang dikutip dari BTSport, Wenger berkata, "Ini sulit dijelaskan. Aku rasa kami memiliki dua kesempatan bagus untuk mencetak gol sebelum turun minum. Aku rasa kami tidak beruntung pada gol kedua saat wasit memberikan sepakan pojok. Kemudian kami kebobolan gol kedua dan yang paling penting adalah kami kehilangan Koscielny. Kami kolaps."

    "Secara keseluruhan, aku harus berkata jika mereka lebih baik daripada kami, mereka bermain sangat baik di babak kedua dan kami menurunkan level permainan kami. Aku tidak sedang mencari alasan. Sangat mengejutkan tentunya karena kalah pada level itu. Kami membuat segalanya salah, gol kelima menunjukkan hal tersebut. Pertandingan seperti ini kamu butuh fokus selama 90 menit. Aku merasa gol ketiga adalah gol yang membunuh kami setelah kami tidak bisa merespons."

    Kalah 1-5 adalah Cerminan Wenger yang Tidak Memiliki Alternatif TaktikPerbandingan grafis operan sepertiga lapangan terakhir Bayern München dan Arsenal, keduanya ditunjukkan dengan menyerang ke arah kanan – Sumber: FourFourTwo Stats Zone

    Melihat perbandingan grafis operan di sepertiga akhir lapangan di atas, sebenarnya hasil pertandingan ini tidak terlalu sulit untuk dijelaskan. Arsenal bukannya tidak mampu merespon, tapi mereka memang seperti tidak punya rencana cadangan sama sekali selain dari berusaha memainkan permainan yang cepat, cair, dan sangat bergantung pada pergerakan yang konstan; tiga hal yang tidak berlaku saat menghadapi Bayern di Allianz Arena dini hari tadi.

    Padahal babak pertama Arsenal tergolong sudah cukup lumayan dengan berhasil mencatatkan empat serangan balik dan empat (dari enam) tembakan tepat sasaran. Tapi pada babak kedua, mereka hanya mampu menambah satu buah serangan balik dan satu buah tembakan, yang off target pula.

    Kemudian begitu kita melihat konteks secara keseluruhan, kita jadi tahu jika Arsenal kalah telak dari Bayern yang mencatatkan 12 (dari 24) tembakan tepat sasaran, 74% penguasaan bola, 215 operan final third, dan tentunya, lima buah gol.

    Memang masih ada "putaran kedua" (leg kedua) di Stadion Emirates. Tapi apalah arti leg kedua. Arsenal sedang menyambut nasib tahunan mereka yang lain: kandas di babak 16 besar Liga Champions, sejauh ini mereka sudah melakukannya selama enam musim berturut-turut.

    Namun kita tetap harus percaya, mungkin saja akan ada skor 4-0 di leg kedua nanti -- walaupun bisa jadi juga empat gol tanpa balas yang bukan seperti harapan Arsenal. Semua tergantung Arsène.



    =====

    * Penulis biasa menulis soal sport science untuk situs @panditfootball, beredar di dunia maya dengan akun @dexglenniza




    (krs/din)
    Load Komentar ...
    Redaksi: redaksi[at]staff.detik.com
    Informasi pemasangan iklan
    Hubungi Elin Ultantina di iklan[at]detikSport.com,
    Telepon 021-7941177 (ext.524).