Liga Champions: Real Madrid 4-2 Bayern Munich
Jangan Bahas Wasit, Madrid-Bayern Memang Seru Kok!
Foto: REUTERS/Susana Vera
Terlepas dari keputusan-keputusan yang keliru dari wasit Viktor Kassai dan para asistennya, pertandingan perempat-final leg kedua Liga Champions UEFA antara Madrid melawan Bayern di Estadio Santiago Bernabeu berlangsung sangat sengit dini hari tadi (19/04).
Total ada enam gol tercipta di mana Madrid mengalahkan Bayern dengan skor 4-2 lewat babak perpanjangan waktu.
Cristiano Ronaldo mencetak hat-trick, Marco Asensio mencetak satu gol lainnya untuk Madrid, sementara Bayern mencetak gol lewat sepakan penalti Robert Lewandowski dan gol bunuh diri Sergio Ramos.
Selain hujan gol, prediksi mengenai banyaknya umpan silang juga benar-benar terealisasi dinihari tadi meskipun Bayern ternyata sudah bisa menurunkan Mats Hummels. Pada pertandingan itu terjadi total sebanyak 63 umpan silang, yang terbagi menjadi 32 untuk Madrid dan 31 untuk Bayern, serta keduanya sama-sama berhasil mencatatkan 10 umpan silang sukses dari total seluruhnya.
Foto: Pandit Football Indonesia |
Pertandingan ini benar-benar merefleksikan jual-beli serangan yang sesungguhnya dari dua raksasa Eropa.
Real Madrid bermain lebih menyempit
Manajer Bayern, Carlo Ancelotti, menyadari jika kesebelasannya membutuhkan (dua) gol cepat. Merekapun memulai pertandingan dengan cepat. Menurunkan formasi dasar 4-1-4-1, ia mengandalkan kombinasi David Alaba- Franck Ribéry dan Philipp Lahm-Arjen Robben di sayap untuk mendominasi.
Foto: Pandit Football Indonesia |
Selain Isco dan Ronaldo, mantan asisten Ancelotti tersebut mencoba menyetel pemain-pemain lainnya untuk bertahan dengan rapat dan sempit. Mereka terlihat tidak mau terpancing terlalu keluar melebar, terutama di sisi kiri pertahanan mereka atau sisi di mana mereka harus menghadapi Robben.
Kerapatan dan kesempitan pertahanan Madrid ini yang membuat Bayern terpaksa hanya bisa menembus pertahanan Madrid dengan umpan-umpan silang. Sepanjang babak pertama bahkan Bayern tidak mampu mencatatkan satupun tembakan tepat ke arah gawang (shot on target).
Di sisi lain, sebenarnya Zidane juga sama dengan Ancelotti soal umpan silang. Pola dasar permainan Madrid dinihari tadi adalah bertahan tidak melebar, pressing, counter attack, yang dikombinasikan dengan umpan silang. Banyaknya angka umpan silang pada pertandingan ini (63) tidak menunjukkan efisiensi, tapi menunjukkan intensitas yang tinggi.
Kemudian di babak kedua, ketika Bayern bisa bermain lebih baik dan mencetak gol, Zidane merespon permainan intensitas tinggi dari Bayern tersebut dengan mengubah bentuk formasi Los Blancos menjadi 4-5-1.
Dengan formasi lima gelandang ini membuat lapangan tengah semakin padat dan sempit untuk Bayern. Sejak perubahan formasi itu juga, Madrid menjadi lebih bisa menjinakkan serangan-serangan sayap Bayern.
Bayern Memanfaatkan Second Ball
Meskipun bermain baik, pertandingan dinihari tadi menjadi pertandingan yang sangat berat bagi Ancelotti. Ia banyak tertolong dengan bermainnya Lewandowski. Penyerang asal Polandia tersebut terbukti bisa lebih merepotkan pertahanan Madrid yang seperti sengaja menggiring Bayern untuk terus melakukan umpan silang.
Salah satu hal krusial dari umpan silang ini kadang bukan terletak pada bola yang disambut, melainkan bola muntah yang jatuh kemudian, atau bisa disebut sebagai second ball.
Foto: Pandit Football Indonesia |
Pada gambar di atas misalnya, Bayern banyak meluncurkan operan yang gagal ke kotak penalti (kiri) tapi bisa menyentuh bola cukup sering di kotak penalti Madrid (kanan). Hal ini terjadi karena pemanfaatan second ball mereka yang baik.
Kemudian pada proses penalti Bayern, Robben lebih tepat disebut sebagai cerdik alih-alih curang karena berhasil "mencocokkan" kontak kepada Casemiro selama sepersekian detik saat ia melayang di udara. Penalti tersebut sudah tepat diberikan oleh Kassai, dan berhasil dieksekusi oleh Lewandowski.
Perubahan bagi Bayern datang karena mereka harus bermain dengan 10 pemain setelah Vidal mendapatkan kartu kuning kedua.
Setelah ditelaah, Vidal sudah dapat peringatan di menit 48. Riwayat tekel & foul-nya jg sudah banyak di laga ini. [Stats Zone] pic.twitter.com/lvHkbtHxzz
— PanditFootball.com (@panditfootball) April 18, 2017
Perdebatan bermunculan karena Vidal sebenarnya terlihat tidak melakukan pelanggaran. Bahkan, ini langsung dihubungkan dengan Casemiro yang beruntung tidak mendapatkan kartu kuning kedua juga karena terlihat melakukan pelanggaran-pelanggaran yang lebih parah daripada Vidal.
Ini untuk Casemiro-nya. [Stats Zone] pic.twitter.com/6xHDrLRg4M
— PanditFootball.com (@panditfootball) April 18, 2017
Setelah Vidal keluar, Bayern hanya bisa mencatatkan tiga peluang tanpa satupun menghasilkan shot on target.
Kontroversi Wasit Cuma "Bumbu"
Dari tadi mungkin ini yang ditunggu-tunggu oleh pembaca, yaitu soal banyaknya keputusan-keputusan keliru yang dihasilkan oleh wasit pada pertandingan dinihari tadi. Sejujurnya dua dari tiga gol Ronaldo adalah offside.
Silakan yg mau menelaah. Itu sengaja garisnya diperpanjang untuk mengetahui titik temu perspektifnya. Dilampirkan juga Laws of the Game-nya. pic.twitter.com/k61BIDRtjt
— PanditFootball.com (@panditfootball) April 18, 2017
Tapi, pada proses gol bunuh diri Ramos juga terlihat jika Lewandowski kedapatan berada pada posisi offside. Sementara tiga gol lainnya tergolong sah-sah saja.
Proses gol kedua Bayern juga berbau offside. Gambar ini jelas.
— PanditFootball.com (@panditfootball) April 18, 2017
Info: bola ada di dada Müller (#25) menuju Lewandowski (di depan Müller). pic.twitter.com/q81VMFkObf
Bahkan Bayern sempat mendapatkan situasi satu lawan satu antara Lewandowski melawan Keylor Navas, andaikan bola yang diterima Lewandowski yang seharusnya onside, tidak dianggap offside oleh Kassai.
Ada lagi nih. Harusnya Lewandowski gak offside (habis itu dia 1vs1 dgn kiper). Tapi ingat ya, protesmu tdk ngefek. Ini hanya pembahasan. pic.twitter.com/nmjBDMZ77w
— PanditFootball.com (@panditfootball) April 18, 2017
Kontroversi ini terjadi bukan akibat kesalahan Kassai seorang. Dalam menentukan offside atau onside, wasit asal Hongaria tersebut tentunya mengandalkan asisten wasitnya, dalam hal ini adalah hakim garis.
Kemudian sebenarnya kalau tidak bisa menerima skor 4-2 karena keputusan keliru dari wasitpun, kita bisa mengurangi skor 4-2 tersebut dengan banyaknya kontroversi di balik gol-gol di atas.
Madrid dikurangi dua, Bayern dikurangi satu, dan boleh lah Bayern tambah satu lagi dengan pengandaian jika peluang Lewandowski dianggap onside dan ia berhasil mencetak gol; maka kita akan mendapatkan skor akhir adalah 2-2, artinya Real Madrid tetap lolos juga, kan?
Tapi sepakbola tidak sesederhana itu. Pada kenyatannya, wasit dan asisten-asisten wasitnya memang telah melakukan banyak kesalahan. Namun, kita sebagai penonton jangan sampai membuat kesalahan-kesalahan wasit ini kemudian menutupi kejeniusan taktik Zidane dan Ancelotti yang sudah menampilkan sepakbola menyerang dan menghibur dinihari tadi.
Perdebatan ini tidak akan pernah berakhir dan kemungkinan bisa mengubah hasil akhir juga hampir nol. Namun, kalau kamu merasa taktik kedua pelatih tidak ada artinya dibandingkan dengan kesalahan wasit, kamu bisa simak tulisan di bawah ini.
[ Baca juga: Banyak yang Lebih Penting Daripada Menyoroti Kesalahan Wasit ]
Jika masih belum puas juga, silakan lanjutkan perdebatan soal wasit, kontroversi, konspirasi, pengaturan skor, dan lain sebagainya, di kolom komentar di bawah ini. Tapi kalau saya, sih, sebagai analis, berasa sayang saja jika kejeniusan Zidane dan Ancelotti itu harus terabaikan karena kita lebih sibuk membicarakan, membahas, dan mendebatkan keputusan wasit yang sifatnya sudah final dan tidak dapat diganggu gugat tersebut.
Baca juga:
Kontroversi Iringi Kemenangan Madrid, Vidal Murka
Robben Merasa Bayern Dirampok di Bernabeu
Ancelotti Kecewa dengan Kepemimpinan Wasit, Desak Penggunaan Teknologi Video
Cetak Enam Gol di Dua Leg, Zidane Sebut Madrid Pantas Lolos
(mrp/din)



Foto: Pandit Football Indonesia
Foto: Pandit Football Indonesia
Foto: Pandit Football Indonesia





