Masukkan kata pencarian minimal 3 karakter
Searching.. Please Wait
    Match Analysis

    Liga Inggris: Spurs 2-0 Arsenal

    Arsenal Sudah Kalah dari Spurs Sejak Sebelum Pertandingan Dimulai

    Ammar Mildandaru Pratama - detikSport
    Foto: Reuters Foto: Reuters
    Jakarta - Untuk pertama kalinya sejak 22 tahun terakhir, Tottenham Hotspur dipastikan finis di atas Arsenal dalam tabel klasemen. Hasil tersebut menyusul kemenangan 2-0 yang diraih Spurs atas rival sekotanya tersebut.

    Sempat imbang tanpa gol pada babak pertama, tuan rumah kemudian mampu unggul lewat gol Dele Alli dan Harry Kane. Meski kompetisi belum usai, namun secara hitungan matematis, tidak akan ada St. Totteringham's Day musim ini, yakni hari yang dirayakan oleh pendukung Arsenal jika mereka bisa berada di atas Arsenal dalam tabel klasemen.

    Arsenal Sudah Kalah dari Spurs Sejak Sebelum Pertandingan DimulaiFoto: Pandit Football Indonesia
    Tiga Bek Arsene Wenger yang Gagal

    Pada tiga laga sebelum ini, Arsene Wenger memakai formasi barunya dengan komposisi tiga bek di belakang. Taktik ini bahkan baru pertama ia lakukan sepanjang kariernya menangani Arsenal. Penyebabnya adalah kekalahan memalukan yang didapat saat menghadapi Crystal Palace.

    Hasilnya pun positif. The Gunners berhasil menyapu bersih semua pertandingan tersebut. Termasuk laga krusial di semi-final Piala FA melawan Manchester City.

    Maka tak heran ketika melakoni laga penting lain melawan Spurs, formasi dasar 3-4-2-1 kembali ia terapkan. Namun sayangnya kali ini racikannya tak berjalan semulus seperti sebelumnya. Lini tengah kalah berduel, pertahanan rapuh, dan serangan mereka kerap buntu di tengah jalan.

    Apresiasi tinggi patut diberikan kepada manajer Spurs, Mauricio Pochettino, yang bisa membaca kelemahan taktik lawannya tersebut. Alih-alih melakukan mirroring (meniru formasi dasar lawan) yang sedang tren sekarang ini, ia justru percaya dengan taktiknya sendiri.

    Hasilnya bisa kita lihat sendiri dalam pertandingan semalam. Spurs mampu mendominasi jalannya pertandingan, unggul 2 gol, dan tidak kebobolan.

    Perpaduan antara Pressing dan Memanfaatkan Garis Pertahanan

    Status panas yang menempel pada laga derby serta betapa pentingnya laga ini bagi kedua kesebelasan di kompetisi, membuat pertandingan berlangsung menarik sejak awal. Permainan cepat dan saling menekan ditunjukkan oleh keduanya yang kemudian menghasilkan beberapa peluang berbahaya.

    Kedua manajer sama-sama memerintahkan anak asuhnya untuk menekan. Hal ini bahkan dilakukan sejak bola berada di pertahanan lawan. Tujuannya tentu jelas, yakni merebut bola secepat mungkin agar bisa melakukan serangan dan mencari gol cepat.

    Pada situasi seperti itu, Spurs berhasil menjalankan taktiknya lebih baik ketimbang Arsenal. Kuncinya ada di kecerdikan Pochettino dalam mengatur garis pertahanan. Kuartet bek Spurs bergerak lebih dinamis dalam membaca pola permainan.

    Mereka tahu kapan harus naik tinggi atau turun bahkan hingga memenuhi kotak penalti sendiri. Situasi garis tinggi terjadi apabila permainan membutuhkan duel individu di tengah, sehingga Spurs tak kekurangan jumlah pemain di lini kedua tersebut. Sedangkan pada saat mendapat serangan balik maka semua bek akan memilih mundur jauh hingga ke kotak penalti.

    Tugas para bek Spurs dipermudah dengan kemampuan penjaga gawang mereka, Hugo Lloris. Ia bisa ikut aktif dalam membangun serangan dari belakang. Sehingga tekanan yang dilakukan oleh Arsenal bisa dengan cepat diredam. Tak perlu untuk membuang ke depan sehingga mencegah kehilangan penguasaan bola.

    Cara ini bukannya tanpa alasan. Karena seperti yang kita tahu, Arsenal identik dengan permainan cepat, memanfaatkan kemampuan yang dimiliki Alexis Sanchez yang unggul dalam berlari. Tapi ini bisa juga menjadi kelemahan ketika sebenarnya mereka butuh situasi di mana harus memperlambat permainan.

    Padahal ketika ada banyak pemain lawan di kotak penalti, Arsenal seharusnya bisa sedikit bersabar. Memainkan bola-bola pendek di tengah sembari mencari celah kosong untuk mengirimkan umpan terobosan atau umpan silang. Mengingat di lini depan mereka ada nama Olivier Giroud yang siap menyambutnya.

    Berdasarkan data statistik, penyerang asal Prancis tersebut sepanjang berada di lapangan tak pernah menerima umpan di kotak penalti Spurs. Lebih ironisnya lagi, hampir seluruhnya ia terima di sisi sayap. Giroud tak pernah punya waktu untuk mencari ruang di kotak penalti karena harus ikut aktif dalam membangun serangan.

    Arsenal Sudah Kalah dari Spurs Sejak Sebelum Pertandingan Dimulai(Grafis umpan yang diterima oleh Giroud. FourfourTwo/StatsZone)
    Son Memang Hebat, tapi Kerjasama Tim Spurs Lebih Hebat

    Son Heung-min mendapatkan banyak pujian berkat aksinya pada pertandingan kali ini. Menempati posisi winger kiri ia mampu menjadi pengatur serangan Spurs. Ya, meski berada di sisi lapangan ia memang jadi pemain paling berperan penting di permainan.

    Hal ini karena Tottenham memang berfokus hanya lewat sisi kiri ketika melakukan serangan. Hampir sepanjang 90 menit, sisi ini selalu jadi jalan masuk ke area sepertiga akhir. Son tentu tak sendirian dalam mengeksplorasi sisi ini. Selain dibantu full-back kiri Ben Davies, ia juga selalu dikelilingi rekannya yang siap membantu.

    Formasi 4-2-3-1 yang diterapkan Spurs sebenarnya juga tak imbang di antara kedua sayapnya. Praktiknya di lapangan, tiga gelandang di belakang penyerang tidak berdiri sejajar. Alli lebih banyak berdiri dekat Kane dan berpedan sebagai second striker. Sementara Eriksen mengisi posisi kosongnya di tengah dan sengaja meninggalkan area sayap kanan.

    Cara yang mirip sebenarnya diterapkan oleh Arsenal, yakni sama-sama fokus menyerang pada sisi kiri. Namun bedanya The Gunners hanya mengandalkan Sanchez sendirian. Tidak ada pemain di sekelilingnya yang siap membantu.

    Tugas yang mudah kemudian bagi Kieran Trippier yang sepanjang laga selalu menjadi pengawal Sanchez. Karena seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, Spurs tak menyerang dari sisi kanan. Sehingga ia bisa fokus hanya membantu lini pertahanan tanpa perlu naik-turun.

    Mesut Oezil yang seharusnya bisa berduet dengannya dengan mengirimpan umpan-umpan justru berdiri berseberangan. Gelandang asal Jerman tersebut ikut menyisir sayap tapi ada di area kanan. Hasilnya bisa ditebak, Arsenal selalu kesulitan masuk ke area sepertiga akhir.

    Arsenal Sudah Kalah dari Spurs Sejak Sebelum Pertandingan Dimulai(Grafis rataan posisi Spurs vs Arsenal. BBC)
    Kesimpulan

    Arsene Wenger sudah kalah sejak pemilihan formasi dan pemain di awal. Pochettino mampu membaca kelemahan formasi tiga bek "kemarin sore" milik lawannya tersebut.

    Selain ditunjukkan dengan hasil akhir pertandingan berupa kemenangan untuk Spurs, juga bisa dilihat dari permainan yang ditunjukkan. Spurs jelas mendominasi dari segi apapun, mulai dari penguasaan bola hingga peluang yang diciptakan. Untuk hal ini tentu kita tak bisa membantahnya.

    Namun hal lain yang menjadi bukti adalah pergantian taktik yang dilakukan Wenger hanya merespons apa yang dilakukan oleh lawannya. Dengan kata lain, taktik yang dijalankan oleh manajer yang kontraknya belum diperpanjang tersebut selalu kalah langkah.

    Ia memainkan taktik yang sama seperti laga-laga sebelumnya tanpa melihat keunggulan lawan. Bahkan pada pertengahan babak kedua Arsenal mengembalikan formasinya ke 4-3-3 atau menggunakan "cara lama".

    Pertandingan derby London Utara ini bisa menjadi kesimpulan banyak hal. Pertama, tentu fakta bahwa pada akhirnya Spurs bisa mengakhiri musim di atas Arsenal. Lalu selanjutnya bisa jadi ini adalah akhir dari kejayaan seorang Arsene Wenger.

    Jangan lupa juga bahwa sekarang Arsenal masih berada di posisi enam klasemen sementara. Mereka terancam tak bisa berlaga di Liga Champions musim depan jika tak melakukan langkah drastis sembari berharap pesaing di atasnya terjegal.

    ===

    Penulis adalah social media manager di Pandit Football, internet ninja, dan bisa dihubungi melalui @mildandaru

    (nds/mfi)
    Kontak Informasi Detikcom
    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Media Partner: promosi[at]detik.com
    Iklan: sales[at]detik.com
    More About the Game