Masukkan kata pencarian minimal 3 karakter
Searching.. Please Wait
    Match Analysis

    Blunder Taktik Sampaoli Menghancurkan Argentina (dan Messi)

    Doni Wahyudi - detikSport
    Jorge Sampaoli melalukan blunder saat Argentina tumbang di tangan Kroasia (Lucy Nicholson/Reuters) Jorge Sampaoli melalukan blunder saat Argentina tumbang di tangan Kroasia (Lucy Nicholson/Reuters)
    Jakarta - Jorge Sampaoli kembali menggunakan skema yang berbeda saat Argentina bertemu Kroasia di Piala Dunia 2018. Langkah itu justru menjadi blunder dan menyebabkan Albiceleste dihajar tiga gol.

    Sejak ditunjuk sebagai pelatih Argentina tahun lalu, Sampaoli telah menjalani 13 pertandingan dengan 13 skema permainan berbeda. Meski Argentina diberkahi banyak pemain mumpuni yang membuat mereka punya barisan lini depan paling maut, Sampaoli terbukti belum bisa memaksimalkannya.

    Itu pula yang terjadi dinihari tadi, saat Argentina kalah 0-3 dari Kroasia. Sampaoli sudah membuat kesalahan sejak memilih starting xi untuk dimainkan. Kesalahan tersebut bukan saja menyebabkan Kroasia menjadi dominan, tapi juga mematikan Messi dan segala upaya membangun serangan.



    Sampaoli beralih dari 4-2-3-1 (vs Islandia) ke 3-4-3/3-4-2-1. Susunan pemain juga dia rombak. Marcos Rojo, Angel Di Maria, dan Lucas Biglia, yang menjadi starter di laga melawan Islandia tak dimainkan sama sekali melawan Kroasia. Sebagai gantinya ada Gabriel Mercado, Enzo Perez, dan Marcos Acuna.





    Sayap-sayap Patah Argentina

    Argentina turun dengan formasi 3-4-3, namun berkembang menjadi 3-2-4-1 di atas lapangan. Nicolas Otamendi, Tagliafico dan Mercado menjadi trio lini belakang. Di depan mereka ada dua poros Javier Mascherano dan Perez.

    Setelah bermain imbang 1-1 dengan Islandia di laga pertama, Sampaoli berupaya menampilkan Argentina yang lebih agresif di pertandingan ini. Maka pada posisi wing back dipasang Salvio (kanan) dan Acuna (kiri). Berposisi natural sebagai winger, Sampaoli berharap banyak dua pemain ini bisa menekan pertahanan Kroasia dari kedua sisi lapangan.

    Di depan, Messi dan Mezza mengisi tengah lapangan untuk mendukung Sergio Aguero yang dipasang sebagai tumpuan serangan. Dengan komposisi seperti ini, Argentina punya lima pemain yang menggedor pertahanan Kroasia.

    Tapi inilah yang kemudian menjadi sumber masalah Argentina di sepanjang 90 menit. Salvio dan Acuna memang sangat intens membantu serangan, namun mereka kerap telat membantu pertahanan saat Kroasia balas menyerang. Keduanya bagus sebagai winger, tapi jelas bukan wingback yang baik.

    Perisic dapat ruang sangat lebar di sisi kana pertahanan ArgentinaPerisic dapat ruang sangat lebar di sisi kana pertahanan Argentina Foto: ist.

    Kembali Perisic dalam posisi terbuka, dia meminta bola pada rekannyaKembali Perisic dalam posisi terbuka, dia meminta bola pada rekannya Foto: ist.
    Saat pertandingan baru berjalan empat menit lubang di skema permainan Argentina sudah terlihat. Perisic bisa mendapat ruang sangat kosong di sisi kanan pertahanan Argentina sementara Salvio tertinggal jauh di belakang.

    Dari momen itu Perisic mampu melewati Mercado dan melepaskan tembakan ke gawang. Hanya penyelamatan Caballero yang menghindarkan Argentina kebobolan dalam waktu cepat.


    Simak Highlight Full Time Argentina Vs Kroasia di 20detik:

    [Gambas:Video 20detik]


    Kondisi ini terjadi berulang-ulang dan juga terjadi pada sisi kiri pertahanan Argentina. Sampaoli tidak bereaksi cepat untuk mengantisipasinya. Garis pertahanan tinggi Argentina juga membuat pemain Kroasia bisa dengan mudah mengandalkan kecepatan untuk langsung menusuk ke jantung pertahanan Argentina.

    Bagaimana Kroasia Mematikan Messi?

    Keberadaan Lionel Messi seakan sia-sia di skuat Argentina malam tadi. Jorge Sampaoli dalam pernyataannya usai pertandingan menyebut Messi tidak dapat dukungan yang cukup dari rekan-rekannya untuk dia bisa bersinar sebagaimana kerap dilakukan di Barcelona.

    Heat map Messi vs Kroasia. Messi lebih banyak berada di tengah lapangan mencoba menjadi jembatan lini belakang dan depan (whoscored.com)Heat map Messi vs Kroasia. Messi lebih banyak berada di tengah lapangan mencoba menjadi jembatan lini belakang dan depan (whoscored.com) Foto: Whoscored.com


    Tapi bukan sekadar ketidakmampuan Argentina memberi dukungan Messi yang membuat Messi tak berkutik. Kroasia punya strategi brilian mengisolir Messi.

    Bukannya melakukan penjagaan satu lawan satu, Kroasia memainkan zonal marking pada Messi. Messi sebenarnya berulang kali turun jauh ke bawah untuk bisa menjadi jembatan antara pemain bertahan dan lini depan Argentina, tapi Messi tak pernah benar-benar leluasa.

    Pemain-pemain tengah Kroasia yang umumnya berbadan besar bergantian mengawal Messi. Luka Modric, Brozovic tak akan berada jauh dari Messi saat pemain Argentina menguasai bola. Di babak pertama, Messi dan Aguero jadi pemain Argentina dengan jumlah sentuhan bola paling sedikit. Dari sini strategi Kroasia sudah menunjukkan hasil.
    Luca Modric menempel Messi, bergantian dengan gelandang Kroasia lainnyaLuca Modric menempel Messi, bergantian dengan gelandang Kroasia lainnya Foto: ist.

    Kalau ada peluang Argentina bikin gol, itu datang dari kesalahan yang dilakukan pemain Kroasia. Di menit 30 Argentina punya kans mencetak gol, tapi Enzo Perez memaksimalkan kesempatan itu.

    Messi sejauh ini tidak menunjukkan performa terbaiknya di Piala Dunia 2018, termasuk penalti gagal kontra Islandia. Kondisi itu diperburuk karena Argentina tak punya struktur pemainan yang kuat untuk memberikan dukungan pada pemain terbaiknya itu.

    Respons Buruk Sampaoli

    Argentina pada akhirnya kebobolan di awal babak kedua. Gol ini layak disesali karena terjadi akibat kesalahan kiper Caballero. Caballero sebenarnya bukan pilihan utama Sampaoli, tapi itu harus terjadi lantara Sergio Romero cedera jelang Piala Dunia dimulai.

    Caballero dikenal sebagai kiper yang mumpuni untuk menghalau penalti (setidaknya di Premier League), tapi dia tak pernah jadi pilihan utama dan tak benar-benar memberi rasa aman.

    Memasukkan Gonzlo Higuain untuk menggantikan Aguero menunjukkan seakan Sampaoli yakin kalau masalah di timnya bukan perkara taktik, tapi persoalan individu. Setelah juga memasukkan Pavon untuk menggantikan Salvio serta Paolo Dybala untuk Enzo Perez, itu tak banyak membantu Argentina. Dybala sebenarnya bisa membantu Messi menjadi jembatan antara lini belakang dan lini depan karena pergerakannya yang fluid. Tapi itu tidak terjadi malam tadi.

    Di pinggir lapangan Sampaoli terlihat kalut, dia tak bisa berhenti berputar di area teknisnya. Satu-satunya yang bisa dia lakukan melihat timnya tak berkutik hanya melepas jas dan berganti dengan kaus ketat hitam.

    Di atas lapangan Kroasia berhasil mencetak gol kedua dan ketiganya dalam selang 10 menit (80 dan 90). Rasa frustrasi sudah terlanjur menyelimuti Argentina ketika itu. Mental mereka sudah anjlok.

    Masalah lain Argentina di laga tersebut adalah soal intensitas para pemain. Beberapa pemain Argentina tidak mencoba melakukan track back. Ini terjadi pada gol kedua Kroasia yang dibuat Modric.

    Meski pergerakannya ditutupi Otamendi, tapi Modric berhasil melepaskan tendangan jarak jauh akurat. Gol tersebut diawali Meza kehilangan bola di tengah lapangan dan dia hanya berjalan dan tak mencoba merebut atau membayangi pemain Kroasia.
    Ini terulang pada proses gol ketiga. Tidak ada yang membantu tiga pemain bertahan Argentina dalam serangan balik yang dilakukan Kroasia. Pemain Argentina lain tidak menutup dengan cepat ruang-ruang kosong di lini belakang.


    Saksikan juga video 'Tonton di Sini, Blunder Kiper Argentina':

    [Gambas:Video 20detik]

    (din/krs)

    Kontak Informasi Detikcom
    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Media Partner: promosi[at]detik.com
    Iklan: sales[at]detik.com
    More About the Game