Looking For Eric (2009)
Pencarian Eric, Pencerahan Cantona
Eric Cantona adalah enigma. Dia bukan hanya pesepakbola yang jadi salah satu kunci kebangkitan kembali Manchester United di Inggris, tapi juga sosok yang kharismanya tak pernah habis bahkan kendati sudah lama pensiun dari lapangan hijau. Dia bukan hanya ikon Manchester United --para fans United menyebutnya "King Eric"--, tapi juga salah satu ikon sepakbola Inggris tepat ketika Liga Inggris sedang getol-getolnya menggalakkan industrialisasi sepakbola.
Di luar urusan menggocek bola, Cantona juga dikenal sosok yang mahir berkata-kata. Ada banyak sekali ucapan Cantona yang layak kutip, beberapa di antaranya banyak direproduksi dalam bentuk poster sampai t-shirt. Ucapannya setelah dihukum akibat menendang suporter Crystal Palace -- "Saat burung-burung camar mengikuti kapal pukat, itu karena mereka pikir ikan sarden akan dibuang ke laut" -- menjadi 1 dari 5 kutipan terbaik dalam perayaan 20 Tahun Premier League.
Kemampuan Cantona dalam mengartikulasikan gagasan itulah yang sering membuatnya dianggap sebagai salah seorang "filsuf sepakbola". Dan itulah yang dieksplorasi oleh sineas kawakan Inggris, Ken Loach, dalam film Looking for Eric.
Film ini bukanlah tentang Eric Cantona melainkan tentang Eric Bishop -- diperankan dengan baik oleh Steve Evets --, seorang fans Manchester United setengah tua yang bekerja di kantor pos. Eric Bishop [selanjutnya disebut "Eric" saja] punya kehidupan yang pahit. Dua kali dia menikah, dan semuanya gagal. Dia tinggal bersama dengan 2 anak tirinya dari istri kedua, Ryan dan Jess. Sebagai suporter United, dia marah dan kecewa dengan pengelolaan klub yang membuat dirinya dan para kelas pekerja lainnya tersingkir dari Old Trafford.
Kegelisahan Eric dimulai saat Sam, putri dari istri pertamanya, telah memberinya seorang cucu. Sam meminta ayahnya agar mengasuh cucunya karena dirinya harus menyelesaikan tugas akhirnya di kampus. Inilah yang memaksanya kembali berinteraksi dengan Lily, istri pertamanya yang dulu dia tinggalkan tak lama setelah Sam lahir.
Eric sebenarnya mulai isa merasakan kehangatan perasaannya lagi terhadap Lily. Masalahnya: Eric punya kesulitan berkomunikasi dengan Lily. Perasaan bersalahnya, ditambah beban pekerjaan dan kehidupan dengan 2 anak tirinya, membuat Eric terlihat inferior. Dia nyaris selalu bisu saat berhadapan dengan Lily.
Di sisi lain, Eric juga punya kehidupan di rumahnya yang ruwet, terutama karena harus berbagi tempat tinggal dengan dua anak tirinya. Anak tirinya, Ryan, sangat susah diatur dan sama sekali tak mempunyai rasa hormat pada Eric. Masalah Ryan bukan hanya kecanduan narkoba, tapi juga terlibat hubungan dengan bandar narkoba di Manchester.
Puncak keruwetan terjadi saat Eric mendapati sepucuk pistol yang disembunyikan Ryan. Pistol itu ternyata sudah digunakan bos narkoba, Zac, dalam sebuah aksi pembunuhan. Setelah menginterogasi Ryan, naluri kebapakan Eric muncul. Dia mengambil risiko dengan pergi mengembalikan pistol itu pada Zac. Naas menimpanya. Gangster itu merekam gerak-gerik Eric dengan pistol itu dan mengunggahnya di Youtube. Akibatnya, polisi pun menggeledah rumah Eric. Beruntung polisi gagal menemukan pistol itu.
Semua upaya Eric untuk menjadi ayah yang baik, dengan mencoba memenuhi permohonan Sam dan mencoba menyelamatkan Ryan dari cengkeraman gangster narkoba, terancam berantakan. Ini membuat Eric frustasi dan depresi. Saking frustasinya, Eric bahkan sampai mencuri ganja milik anaknya dan menghisapnya sendirian di dalam kamar.
Eric mendapatkan kekuatan dari rekan-rekannya, sesama pekerja pos yang juga suporter fanatik Manchester United. Merekalah yang jadi penyemangat Eric, di sesela pekerjaan di kantor pos atau saat berada di pub guna menonton pertandingan United. Ya, Eric dan rekan-rekannya adalah kelas pekerja yang semakin terasing dari sepakbola Inggris yang makin berorientasi bisnis. Harga tiket kian tak terjangkau.
Selain dari rekan-rekannya, Eric juga mendapat dukungan dari Eric yang lain yaitu Cantona. Atas usul salah satu rekannya, Eric disarankan agar berdialog dengan dirinya sendiri melalui sosok pahlawan pribadinya. Di dalam kamar, di depan poster Cantona, Eric berbicara seorang diri dan Cantona pun muncul dalam imajinasi Eric.
Dari situlah sosok Cantona -- yang diperankan langsung oleh Eric Cantona -- secara rutin muncul dalam film ini. Eric dan Cantona berdialog dalam banyak kesempatan. Kadang di dalam kamar, kadang saat Eric sedang bekerja di kantor pos. Cantona bukan hanya menjadi kawan bicara, tapi sekaligus juga mentor atau bahkan terapis bagi Eric.
Kutipan-kutipan pernyataan Cantona bermunculan secara wajar dalam dialog-dialog cerdas dan kadang bernuansa satir. Saat Eric merasa terlalu berharap pada nasehat-nasehat Cantona, dia berkata bahwa kadang dirinya lupa Cantona tak lebih dari hanya seorang manusia. Mendengar perkataan itu, Cantona dengan cepat menyergah lewat ucapan: "I am not a man, I am Cantona" [Aku bukan manusia, aku adalah Cantona].
Saat Eric sedang menyusun rencana untuk membalas perlakuan Zac, Cantona harus mengingatkan Eric tentang pentingnya nilai-nilai persahabatan dan kerja sama. Kepada Eric, tak lupa Cantona mengingatkan bahwa momen-momen terbaiknya di lapangan hijau justru bukan saat mencetak gol, melainkan saat memberi umpan atau assist. "Kamu harus selalu percaya pada rekan-rekanmu, jika tidak kau akan kalah," begitu nasehat Cantona pada Eric.
Dari situlah Eric mengajak rekan-rekannya. Ditopang oleh solidaritas kelas pekerja yang diperkuat oleh identitas sebagai sesama fans United yang terasing dari Old Trafford karena harga tiket yang tak terjangkau, Eric pun merancang sebuah aksi pembalasan pada gangster yang dipimpin Zac. Aksi pembalasan itu dinamai "Cantona Operation". Penyerbuan ke markas gangster itu dilakukan oleh Eric dan rekan-rekannya sambil semuanya memakai topeng Cantona -- yang terasa seperti parodi pada film V for Vendetta.
Film Looking for Eric ini akhirnya tidak semata menjadi tribute pada Cantona. Film ini, dengan caranya sendiri, juga menjadi tribute bagi sepakbola ala kelas pekerja yang semakin kehilangan tempat pada sepakbola modern yang sibuk mengeploitasi fans demi mengeruk laba.
Sepakbola dalam Looking for Eric muncul bukan hanya melalui sosok Cantona, tapi juga lewat dialog, dan cuplikan-cuplikan pertandingan United [dari mulai cuplikan aksi-aksi United dan Cantona, juga cuplikan asli pernyataan Cantona tentang burung camar]. Di film ini, sepakbola seperti sebuah karakter [atau alter-ego] yang kasat mata, mungkin seperti peran puisi dalam film Dead Poet Society.
Kehadiran sepakbola secara halus ini bukan hanya dimungkinkan karena sineasnya, Ken Loach, adalah seorang suporter. Penulis skenario film ini, Paul Laverty, adalah seorang suporter Glasgow Celtic. Laverty sendiri mengaku dirinya berharap bisa membuat film tentang Jommy Johnstone, legenda pemilik nomor 7 di Celtic, yang bermain di klub itu pada periode 1960-1970an. Pendeknya, film ini memang dikerjakan oleh orang-orang yang sangat mencintai sepakbola sekaligus juga memahami dunia batin para suporter.
Di sini, sineas Ken Loach muncul dengan aspirasinya sebagai seorang suporter. Perlu diketahui, Ken adalah suporter Bath City FC, sebuah klub amatir yang bermain di level setingkat dengan divisi 6. Melalui sosok Eric dan rekan-rekan pekerja posnya yang tersingkir dari tribun di Old Trafford, Ken dengan gamblang melontarkan kritik yang tajam kepada sepakbola modern yang makin menjauhi akarnya yaitu kelas pekerja.
Sebagai suporter fanatik Batch City FC, klub amatir yang masih sangat jauh dari industrialisasi sepakbola, Ken menjadi satu dari sekian fans yang mendonasikan uang pada Bath City FC dalam formula kepemilikan klub yang memaksimalkan share-holder. Makian tokoh Eric dan rekan-rekannya pada pengelolaan Manchester United yang membuat mereka tak bisa lagi berdiri di tribun Old Trafford, tidak lain adalah simpati Ken pada aksi menentang Malcolm Glazer yang mengakuisisi kepemilikan United.
Untuk diketahui, tak lama setelah Ken dan Laverty bertemu dengan Cantona guna membuat kesepakatan membuat film tentang akar kelas pekerja di kalangan suporter United, mereka segera menghubungi para suporter FC United of Manchester (FCUM). Klub itu dibentuk oleh para suporter fanatik United, umumnya adalah para pemilik tiket terusan Old Trafford sejak era 1970-an, yang marah karena klub kesayangannya dibeli Glazer dengan uang hasil pinjaman. Selama tidak bentrok dengan jadwal pertandingan FCUM, mereka masih menonton United, tapi hanya di bar-bar dan pub-pub di penjuru kota Manchester. Mereka tak sudi memberi uang pada Glazer.
Ken dan Cantona terkesan dengan semangat para suporter FCUM yang berupaya mengembalikan sepakbola Inggris kembali ke akarnya sebagai tontotan kelas pekerja. Cantona sendiri sering mengeluarkan kata-kata keras pada keluarga Glazer. Tak lama setelah Glazer mengambil alih United, Cantona sampai berkata: "Walau Glazer menggajiku 100 juta euro sekali pun, saya tidak akan pernah mau."
Karakter Eric Bishop yang seperti inilah gambaran dari prototipe para suporter FC United of Manchester. Bukan kebetulan jika nama bar yang sering jadi tempat kumpul-kumpul para suporter ini bernama Bishop Blaize. Di hari peresmian patung Sir Alex Ferguson, Cantona juga berkunjung ke Bishop Blaize ini secara spontan.
Film ini mungkin akan sedikit mengecewakan para fans Cantona yang berharap pahlawannya itu akan selalu muncul di setiap scene. Kendati demikian, kekecewaan itu bisa sedikit terhapuskan berkat akting Cantona. Kendati kadang terlihat kaku, tapi Cantona bermain cukup apik. Sampai batas tertentu, Ken Loach berhasil menghadirkan kharisma Cantona yang selama ini dikenal publik.
"Saat Eric Cantona memasuki ruangan, anda akan benar-benar merasakan kehadirannya di sana," kata Ken.
Dan begitulah akting Cantona di film ini. Saat dia muncul, para fans (mungkin juga para pembencinya) akan berkata dalam hati: "Ya, dia memang Cantona!"
===
* Penulis: Zen Rachmat Sugito. Akun twitter: @zenrs
Film lain:
Will: A Journey to Istanbul 2005







