Masukkan kata pencarian minimal 3 karakter
Searching.. Please Wait
    Movie

    Multiverse (2014) & Break Time (1972)

    Dunia yang Paralel dalam Dua Film Pendek Sepakbola

    Marini Saragih - detikSport
    Jakarta - Konsep multiverse adalah omong kosong bagi sebagian besar orang. Bagi yang percaya dan mengiyakan keberadaan dunia paralel, alam semesta yang kita saksikan dan tinggali ini bukanlah satu-satunya alam semesta. Ada miliaran semesta lain di luar sana.

    Jamal Rahmati, kartunis dan sineas asal Iran, mencoba mengutarakan teori multiverse lewat sepakbola anak-anak Iran. Pada 2014 ia membuat film pendek berdurasi 6 menit 17 detik yang berjudul Multiverse. Sama seperti judulnya, film ini berkisah tentang bagaimana membuktikan kebenaran teori multiverse tersebut. Hanya saja, pada akhirnya, tentu kebenaran teori multiverse tidak dibenarkan secara harfiah lewat film ini.

    Film ini menceritakan penulis tua yang agaknya dikenal sebagai orang yang tak bersahabat. Ia, dalam film ini, digambarkan sedang berupaya menyelesaikan tulisannya yang membahas teori multiverse. Di tengah-tengah pekerjaannya, ia mendengar suara bel rumahnya dibunyikan. Begitu pintu dibuka, di hadapannya berdiri seorang anak laki-laki dengan wajah takut. Rupanya ia bermaksud meminta bola yang melambung sampai ke teras atas rumah si penulis.

    Bocah tersebut adalah satu dari lima anak yang bermain sepakbola di gang kecil di dekat rumah si penulis. Dalam permainannya mereka menggunakan dua gawang mungil yang sepertinya  merupakan hasil pekerjaan tangan mereka sendiri. Kedua gawang tersebut dipisahkan oleh jarak yang tak seberapa, paling jauh hanya sekitar tiga meter. Sepertinya memang menyesuaikan dengan sempitnya lahan yang digunakan.

    Si penulis tua, walaupun menunjukkan raut muka yang tak senang, akhirnya mengembalikan bola tersebut. Buat mereka, bola itu sedemikian pentingnya. Tanpa bola tak ada permainan, tanpa permainan keriaan beberapa puluh menit itu juga tak bakalan ada.

    Sialnya, keberadaan bocah-bocah tersebut tak hanya sekali mengganggu si penulis tua. Kali ini justru lebih parah, bola yang mereka gunakan menghantam dan memecahkan kaca jendela si penulis tua yang terlihat selalu gelisah itu.

    Geram karena ulah anak-anak tersebut, si empunya rumah langsung merobek bola dengan menggunakan pisau. Ia tahu bola tersebut merupakan benda penting buat anak-anak. Tanpa bola tidak ada permainan dan tanpa permainan. Tapi buat si penulis, jika tak ada bola, maka tak akan ada juga yang mengganggu pekerjaannya.

    Dan benar saja, bola yang rusak itu membuat anak-anak tadi tak bisa melanjutkan permainannya. Lucunya, walau tak bisa lagi bemain, tak satu anak pun yang meninggalkan “lapangan” mininya. Mereka terduduk lesu sambil memandangi bola yang bentuknya pun sudah tak menyerupai bola lagi.

    Sementara itu, si penulis tua juga tak serta-merta bisa melanjutkan pekerjaannya walaupun permainan sudah berhenti. Ia, tetap saja kehilangan konsentrasi walau tak ada suara berisik anak-anak yang bermain. Berkali-kali ia mengintip ke arah kelima bocah tersebut, berkali-kali pula ia menyaksikan bagaimana murungnya wajah mereka.

    Singkat cerita, si penulis tersebut memutuskan memberikan bola baru buat anak-anak tadi. Bukan benar-benar bola untuk sepakbola, ia memberikan globe yang selama ini diletakkan di meja kerjanya. Apapun bolanya, yang jelas anak-anak tersebut bisa melanjutkan kembali permainannya. Dan ajaibnya, si penulis seolah mendapat ide tentang apa yang harus ditulisnya. Ia pun bisa melanjutkan pekerjaannya menyusun sebuah tulisan tentang konsep multi-verse.

    Nama Jamal Rahmati lebih dulu terkenal sebagai kartunis. Ia, lewat karya-karyanya, sering menyinggung isu-isu sensitif di Iran, tentu dengan cara yang menyenangkan: lewat kartun dan film. Multiverse bukan satu-satunya film pendek karya Jamal Rahmati. Ia juga pernah membuat film pendek berjudul We All are Well yang tujuannya menegaskan kalau harapan untuk hidup yang lebih baik itu selalu ada, termasuk untuk warga Iran, termasuk untuk seorang tua yang hidup di Iran.

    Lewat Multiverse, Jamal Rahmati ingin menunjukkan betapa istimewanya sepakbola buat anak-anak Iran. Ia seajaib apa-apa yang dipercayai teori multiverse itu sendiri. Sepakbola, bagi anak-anak, adalah pintu gerbang yang bisa membawa mereka ke dunia yang baru. Dunia yang tampaknya tak diperuntukkan bagi kita yang tak lagi memainkan sepakbola khas anak-anak tersebut.

    Lihatlah adegan di mana si penulis tua tersebut mengganti bola yang dirusaknya dengan globe yang selama ini menjadi pajangan di ruangan kerjanya. Rasanya adegan ini secara simbolik menjelaskan kalau selain dunia yang mereka tempati secara harfiah, dunia yang penuh dengan orang dewasa dan segala urusannya, anak-anak tersebut selalu memiliki dunia baru yang jauh lebih mengasyikkan saat bola ada di atas kaki mereka.



    Yang berbicara menyoal bagaimana sepakbola bisa membawa anak-anak kepada "dunia paralelnya" sendiri bukan hanya Jamal Rahmati. Abbas Kiarostami pun pernah membikin film dengan kisah serupa.

    42 tahun sebelum Multiverse dirilis, Kiarostami membuat film berjudul Break Time. Film ini dikemas dalam bentuk yang sangat sederhana, yang bisa membuat para penonton membatin; “Kalau cuma begini, saya juga bisa.” Entah karena film ini dirilis tahun 1972 atau memang disengaja, ia tidak menggunakan teknik pengambilan gambar yang rumit, dialognya minim, narasi yang digunakan pun sesederhana kalimat pada tugas-tugas mengarang sewaktu zaman sekolah dasar.

    Namun, segala kesederhanaan film pendek hitam-putih ini terasa pas dengan kesederhanaan pesan yang juga ingin disampaikan. Film berdurasi kurang-lebih 14 menit ini diawali dengan adegan tokoh utama, Dara, yang dihukum gurunya karena tidak sengaja memecahkan kaca jendela sekolah saat bermain sepakbola.

    Menarik saat menyadari kalau film pendek Jamal Rahmati dan Abbas Kiarastomi sama-sama memiliki adegan kaca jendela pecah akibat terjangan bola saat bermain.

    Saya tidak tahu pasti apa maksud Rahmati dan Kiarastomi tentang adegan kaca yang pecah. Yang jelas, kaca pecah perkara main sepakbola itu persoalan biasa. Kita pun entah berapa kali tidak sengaja memecahkan kaca saat bermain sepakbola ala bocah dulu.

    Namun terkadang kaca juga berarti pembatas. Ia memisahkan kita dan dunia luar. Misalnya jendela di kantor tempat kita bekerja. Jendela tersebut tidak pernah dibuka dengan alasan ruangan tempat kita bekerja memiliki pendingin udara. Begitu pun saat berkendara. Jika kita menggunakan mobil, rasanya jarang di antara kita yang bersedia membuka kaca jendela walaupun cuaca sedang bagus-bagusnya. Seringnya, kita enggan merasakan angin yang tidak berasal dari mesin pendingin. Kita menolak untuk bersentuhan dengan dunia luar,

    Kaca jendela yang dipecahkan oleh anak-anak dalam film Rahmati adalah jendela rumah, sedangkan dalam film Kiarostami adalah kaca jendela sekolah. Mereka yang marah akibat kaca pecah tersebut adalah seorang penulis tua dan ibu guru, sama-sama orang dewasa.

    Rumah, di mata anak-anak seharusnya jadi tempat yang menyenangkan dan membikin betah. Ada kamar yang nyaman, ada makanan kesukaan walaupun tak mewah, ada pula orang tua yang menemani bermain ataupun membacakan cerita. Namun di mata orang dewasa, sering kali rumah tidak lagi berarti demikian. Rumah adalah tempat mereka lari dari hiruk-pikuk dan orang-orang di sekitarnya untuk pulang dan menyelesaikan tumpukan pekerjaan. Sama seperti yang dilakukan oleh penulis tua tersebut.

    Begitu pula dengan sekolah. Buat anak-anak, sekolah itu tempat bermain. Di sekolah mereka bisa bertemu dan berkenalan dengan teman dan hal baru. Sekolah seharusnya menjadi hal yang seru buat anak-anak. Namun bagi orang dewasa, sekolah itu tidak demikian. Seringnya, sekolah jadi tempat mendulang prestise dan merawat gengsi. Sekolah tak lagi jadi tempat untuk memahami mengapa 4x4 = 16, tetapi untuk mengharuskan 4x4 = 16.

    Bola yang menghantam dan memecahkan kaca tersebut adalah bola yang membuat dunia anak-anak dan orang dewasa bersentuhan, walaupun tetap ada pemisah bagi keduanya. Karena, toh, sepakan bola tersebut tidak meruntuhkan seluruh kaca dan lagi pula akan ada kaca pengganti di hari berikutnya yang akan segera dipasang. Sepakan bola tersebut hanya menimbulkan lubang yang tak seberapa tetapi bisa sedikit membiarkan kedua dunia yang selama ini terpisah jadi bersentuhan.

    Dalam fragmen film Break Time selanjutnya, Dara digambarkan berjalan melewati gang-gang sempit khas kota Teheran sepulang sekolah. Di tengah perjalanan, ia menemukan sekelompok anak yang bermain sepakbola. Merasa penasaran dengan permainan mereka, Dara berlari ke arah tempat permainan berlangsung.

    Pada awalnya Dara hanya menyaksikan. Namun lama-kelamaan ia tak tahan untuk ikut bermain. Apalagi saat bola lambung mengarah padanya. Dengan sigap ia menyundul bola tersebut, beberapa saat kemudian ia juga menerima bola dengan kakinya dan tanpa sengaja, bola yang disepaknya tersebut melambung ke luar melewati dinding-dinding yang membatasi lapangan.

    Di sinilah Kiarostami ingin menunjukkan kalau buat sejumlah anak, sepakbola adalah awal dari petualangan baru. Lihatlah apa yang dialami oleh Dara. Akibat menyaksikan permainan sepakbola bocah dalam perjalanan pulang sekolah, ia diperhadapkan dengan hal-hal baru. Tidak selamanya menyenangkan memang. Karena toh, Dara harus dikejar-kejar oleh anak yang tak terima bolanya yang melambung ke luar lapangan. Belum lama berhasil meloloskan diri dari kejaran anak tersebut, Dara sudah harus berlari menghindari kejaran anjing liar.

     

    Berhasil meloloskan diri dari kejaran anak yang marah dan anjing galak, Dara berjalan menyusuri jalan yang kalau memperhatikan gelagatnya, tidak dikenalnya. Ia berjalan melewati kawanan domba dan menghindari kawat duri. Ia membatalkan niatnya untuk menyeberang jalan karena mobil-mobil lalu-lalang tak mau mengalah dan memberinya jalan. Dara yang rasanya tak tahu waktu itu ia ada di mana, akhirnya menepi, lantas berjalan lurus entah ke mana sambil tetap membawa bola yang pastinya menjadi benda kesayangannya.

    Dara terlihat bingung, ia tidak kenal tempat yang jalannya ia susuri sekarang. Entah hal aneh apa lagi yang akan dihadapinya, mengejutkannya di ujung jalan sana. Tapi di tengah segala ketidakmengertian dan kebingungannya, tetap ada keriaan khas anak-anak. Dara tetap melambaikan tangan sambil tertawa pada beberapa kendaraan yang melewatinya.

    Permainan sepakbola anak-anak bukanlah sepakbola yang jenius. Ia tak diperlengkapi dengan teknik dan taktik menawan. Ia tak pula diganjar uang hadiah dengan jumlah yang membuat pusing bagaimana cara menghabiskannya. Sepakbola mereka memang sepakbola seadanya. Namun tak jarang, permainan mereka yang sering membikin orang dewasa pusing karena begitu berisik dan memaksa mereka untuk mengganti kaca yang pecah.

    Sepakbola akhirnya menjadi permainan yang membawa anak-anak ke dunia yang baru dan tak terjamah lagi oleh kita yang sudah dewasa. Mengamini pesan yang diangkat oleh Jamal Rahmati dan Abbas Kiarostami, sepakbola itu mirip dengan kisah dunia paralel, yang melompat dari halaman-halaman fiksi ke jurnal-jurnal ilmiah.

    Dari sebuah dunia yang konkrit, yang penuh dengan aturan, ketegangan dan berbagai keharusan, menuju dunia yang anarki: bebas, merdeka, dan yang hanya memuat kesenangan serta keriaan.

    Judul Film : Multiverse
    Sutradara : Jamal Rahmati
    Penulis : Rozita Hendijanian
    Pemeran : Mahmoud Nazaralian, Mohammad Mehdi Asiaie, Amirhosein Asiaie, Hamid Khaleghi, Soheil Farhan, Mostafa Ramazani
    Musik : Hosein Dehlavi
    Rilis : 2014
    Negara : Iran
    Durasi : 6 menit 17 detik

    Judul Film : Break Time
    Sutradara : Abbas Kiarostami
    Penulis : Abbas Kiarostami
    Rilis : 1972
    Negara : Iran
    Durasi : 13 menit 51 detik

    ===

    * ditulis dan diulas oleh @marinisaragih dari @panditfootball

    * Sumber foto: http://www.magnumphotos.com/ dan http://www.dohafilminstitute.com/

    (mrp/fem)
    Kontak Informasi Detikcom
    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Media Partner: promosi[at]detik.com
    Iklan: sales[at]detik.com
    More About the Game