Masukkan kata pencarian minimal 3 karakter
Searching.. Please Wait
    Pandit

    Hamburg (Mungkin) Berhenti di Lima Puluh Dua

    Taufiq Nurshiddiq - detikSport
    Getty Images Getty Images
    Jakarta - <p>Sembilan tahun bersama Hamburger SV, tak pernah sekalipun Rouwen Hennings menembus dan mendapat kesempatan bermain di kesebelasan utama. Selama menghabiskan waktunya bersama Hamburg, sang penyerang hanya mampu bermain di Hamburg II. Hennings berkali-kali dipinjamkan sebelum akhirnya dilepas secara permanen. <br /><br />Siapa sangka di kesempatan ketiganya berhadapan dengan Hamburg, Hennings mampu mencetak gol yang bisa saja mengirim kesebelasan lamanya turun divisi? Siapa sangka gol Hennings mampu menyudahi catatan sempurna Hamburg yang selalu ambil bagian dalam setiap musim Bundesliga? <br /><br />Untuk kali kedua dalam dua musim terakhir, Hamburg mengakhiri musim di peringkat yang sama: enam belas. Koleksi tiga puluh lima angka menempatkan Hamburg tepat satu angka di atas SC Freiburg yang &ndash; bersama juru kunci, SC Paderborn, yang hanya mampu mengoleksi tiga puluh satu poin &ndash; harus rela langsung terdegradasi ke divisi kedua Bundesliga.<br /><br />Raihan poin Hamburg sebenarnya sama banyak dengan Hertha Berlin yang menempati peringkat ke-15. Namun selisih gol Berlin yang lebih baik (-16) dari Hamburg (-25) membuat Hertha menduduki peringkat yang lebih tinggi. Dan karenanya Hertha tidak perlu menjalani pertandingan play-off melawan penghuni peringkat ketiga di divisi kedua Bundesliga musim 2014/15: Karlsruher SC. <br /><br />Hingga pekan ke-33, Karlsruher dan FC Kaiserslautern masih memiliki peluang yang sama untuk menyusul FC Ingolstadt 04 dan SV Darmstadt 98 ke divisi pertama Bundesliga musim 2015/16. Sementara Ingolstadt dan Darmstadt lolos otomatis sebagai juara dan runner-up, Karlsruher atau Kaiserslautern masih harus menjalani pertandingan <em>play-off</em> dua leg melawan Hamburg.<br /><br />Di pekan terakhir, Karlsruher menang dua gol tanpa balas atas TSV 1860 Munchen sementara Kaiserslautern hanya mampu bermain imbang 1-1 dengan sang juara. Karlsruher pun berhak menjalani pertandingan play-off pertama sepanjang sejarah mereka. <br /><br />Imtech Arena, Hamburg, 28 Mei 2015. Sebanyak 56.615 pasang mata hadir menyaksikan pertandingan secara langsung. Baru lima menit pertandingan berjalan, mereka sudah melihat gol tercipta. Rouwen Hennings, pencetak gol terbanyak divisi kedua Bundesliga, menunjukkan kelasnya. Menerima umpan terobosan, Hennings tidak mengontrol bola. Ia hanya menyesuaikan posisinya untuk menendang sebaik mungkin. Dari luar kotak penalti ia melepas tembakan kaki kiri &ndash; kaki andalannya &ndash; ke tiang jauh.<br /><br />Rene Adler, penjaga gawang Hamburg, tak mampu menjangkau bola. Bola membentur tiang sebelum melewati garis gawang. Hingga babak pertama berakhir Hamburg tidak mampu membalas. Peluang terbaik Hamburg sendiri hanya tendangan jarak jauh Pierre-Michel Lasogga; yang melenceng di sebelah kiri gawang kawalan kapten Karlsruher, Dirk Orlishausen. <br /><br />Tidak salah rasanya jika keberuntungan disebut-sebut menaungi Hamburg. Di babak kedua, dua kali usaha Karlsruher untuk memperbesar keunggulan menemui kegagalan. Tendangan kaki kiri Manuel Torres Jimenez dari dalam kotak penalti dan tendangan jarak jauh kaki kanan Dimitrij Nazarov sama-sama membuat Adler tidak mampu berbuat apa-apa.<br /><br />Namun kedua tendangan tersebut tidak menjadi gol karena bola hasil tendangan Torres dan Nazarov sama-sama membentur mistar gawang. Dan sama seperti di babak pertama, usaha Hamburg untuk mencetak gol dari jarak jauh berulang kali menemui kegagalan. Pertahanan rapat Karlsruher berhasil membuat para pemain Hamburg kesulitan hingga akhirnya, pada sebuah kesempatan di menit ke-74, Nazarov melakukan kesalahan. <br /><br />Pemain asal Azerbaijan tersebut membiarkan lawannya, Ivo Ilicevic, berlari bebas memasuki kotak penalti tanpa kawalan. Menyambut umpan Dennis Diekmeier, Ilicevic tidak membuang kesempatan. Dengan tendangan mendatar kaki kanan, ia mencetak gol pertamanya &ndash; dan mungkin terpenting &ndash; musim ini. Bruno Labbadia, pelatih kepala Hamburg, girang bukan kepalang walau gol Ilicevic belum cukup untuk menyelamatkan Hamburg dari ancaman degradasi. Karlsruher cukup menahan imbang Hamburg tanpa gol saja di leg kedua karena mereka sudah mengantungi keuntungan gol tandang. <br /><br />Hamburg berada di posisi yang tidak aman. Setidaknya, mereka tidak kalah di pertandingan ini. Sedikit catatan: tidak ada kesebelasan yang berhasil memenangi <em>play-off</em> Bundesliga jika di pertandingan leg pertama kesebelasan tersebut bertindak sebagai tuan rumah dan kalah. Setiap gol sangat berarti di pertandingan hidup-mati yang dijalani dua kali ini. <br /><br /><img src="https://akcdn.detik.net.id/albums/postmatch-bayern-dortmund/1AHamburg.jpg" alt="" width="450" height="299" /><br /><br /><strong>Kreativitas Serangan Kuncinya</strong><br /><br />FC Bayern Munchen boleh menyombongkan diri sebagai kesebelasan paling sukses di Jerman. Namun Bayern bukan Hamburg: satu-satunya kesebelasan yang selalu ambil bagian dalam setiap musim di divisi pertama Bundesliga. Hamburg sudah menjadi bagian dadi divisi pertama Bundesliga sejak liga ini pertama kali bergulir pada 1963. Lima puluh satu musim berlalu dan tidak sekali pun Hamburg turun ke divisi kedua. Catatan sempurna tersebut mungkin berakhir musim ini; di musim ke lima puluh dua. <br /><br />Bukan karena Karlsruher memiliki dukungan nonteknis (sejak pertandingan <em>play-off </em>kembali diberlakukan pada 2009, kesebelasan asal divisi kedua selalu memenangi pertandingan<em> play-off </em>setiap tiga tahun: 2009, 2012, dan bisa jadi 2015), namun karena Hamburg memang berada dalam posisi yang tidak cukup baik untuk keluar sebagai pemenang. <br /><br />Catatan <em>play-off</em> yang menempatkan kesebelasan-kesebelasan divisi utama dalam posisi unggul &ndash; sebelas dari enam belas pertandingan play-off dimenangi oleh kesebelasan dari divisi pertama &ndash; tidak berarti apa-apa. Begitu juga dua kemenangan Bundesliga terbesar Hamburg, 8-0 dan 7-0, yang keduanya ditorehkan ketika berhadapan dengan Karlsruher pada 12 Februari 1966 dan 17 Mei 2008.<br /><br />Hamburg, dengan posisi saat ini, terancam kalah karena gol tandang. Ironis jika memang benar demikian. Musim lalu mereka bertahan di divisi pertama lewat keunggulan gol tandang (agregat 1-1) atas SpVgg Greuther Furth. <br /><br />Absennya Heiko Westermann di leg kedua bukan masalah. Bukan karena Labbadia memiliki pengganti untuk pemain belakang berusia 31 tahun tersebut. Namun karena hal yang perlu diperbaiki oleh Hamburg adalah kualitas serangan. Dalam posisi mereka sekarang ini, mencetak gol adalah sebuah keharusan. Labbadia harus segera menemukan cara untuk membongkar pertahanan rapat pasukan Markus Kauczinski. Bermain di kandang sendiri dan mengantungi keunggulan gol tandang, Karlsruher pasti kembali bermain dengan taktik yang sama seperti pada leg pertama di hari Senin (1/6) nanti.<br /><br />Hamburg tidak bisa mengandalkan kesalahan lawan seperti di leg pertama. Apa lagi mengandalkan tendangan-tendangan jarak jauh tidak terarah yang lebih terlihat seperti pengungkapan rasa frustrasi ketimbang pemecahan masalah. Jika Hamburg tidak bermain kreatif dan tidak mampu membongkar pertahanan Karlsruher, mereka harus mengucap selamat tinggal kepada divisi pertama. <br /><br /><strong>Pantaskah Menukar Hamburg dengan Karlsruher?</strong><br /><br />Bersama Branko Zebec dan Ernst Happel Hamburg pernah merasakan kejayaan (domestik, selain keberhasilan menjadi juara European Cup). Pada 1979 hingga 1983, dua peringkat teratas Bundesliga adalah habitat mereka. Hamburg hanya pernah tiga kali menjadi juara Bundesliga, dan ketiga gelar juara tersebut mereka raih pada rentang waktu yang sama. Namun bukan hal tersebut yang akan diratapi jika Hamburg terdegradasi kali ini, melainkan kebanggaan kesebelasan. Dan kebanggaan kesebelasan adalah, dan akan selalu, keikutsertaan mereka di setiap musim sejak Bundesliga bergulir. <br /><br />Sayang rasanya jika catatan sempurna tersebut harus berakhir. Dan jika memang harus berakhir, alangkah baiknya catatan tersebut berakhir karena posisi Hamburg digantikan oleh kesebelasan yang sangat pantas. Kesebelasan yang, katakanlah, sama-sama memiliki catatan yang pantas dibanggakan. Karlsruher kah kesebelasan tersebut? Rasanya bukan. <br /><br />Tidak ada yang istimewa dalam diri Karlsruher. Mereka hanya pernah satu kali menjadi juara liga Jerman pada 1909. Di era Bundesliga, Karlsruher hanya pernah dua kali menjadi juara divisi kedua dan dua kali pula meraih promosi ke divisi pertama. Di luar catatan prestasi liga, keberhasilan-keberhasilan lain Karlsruher yang cukup pantas dibanggakan adalah dua gelar DFB-Pokal tahun 1955 dan 1956. <br /><br />Tidak ada yang istimewa dengan Karlsruher SC. Mereka tidak cukup pantas menggantikan posisi kesebelasan istimewa sepanjang sejarah Bundesliga. Namun kita semua tahu bukan seperti itu sepakbola bekerja. Istimewa atau tidak, pantas atau tidak, Karlsruher akan menggantikan posisi Hamburg jika di pertandingan leg kedua nanti mereka mampu menahan imbang Hamburg 0-0 atau memenangi pertandingan.<br /><br />Jika hal tersebut terjadi, anggaplah tiket promosi untuk Karlsruher sebagai hadiah bagi kerja keras mereka selama ini; terumata musim ini. Jika Hamburg memang harus terdegradasi, terimalah hal tersebut sebagai hukuman untuk kelalaian mereka; yang terlalu nyaman di divisi pertama dan tampak tidak mengusahakan apa-apa untuk mengembalikan kejayaan lama. <br /><br /><img src="https://akcdn.detik.net.id/albums/postmatch-bayern-dortmund/2AHamburg.jpg" alt="" width="450" height="299" /><br /><br />====<br /><br />*penulis biasa menulis untuk situs @panditfootball, beredar di dunia maya dengan akun @nurshiddiq<br /><br /><br /><br /></p> (roz/a2s)
    Kontak Informasi Detikcom
    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Media Partner: promosi[at]detik.com
    Iklan: sales[at]detik.com
    More About the Game