Masukkan kata pencarian minimal 3 karakter
Searching.. Please Wait
    Pandit

    Apakah Wajar Jika Bek Tengah Harganya Mahal?

    Dex Glenniza - detikSport
    Jakarta -

    Mana yang membuat Anda terheran-heran: kepindahan Edinson Cavani dari Napoli ke Paris Saint-Germain seharga 55 juta poundsterling, ataukah pembelian David Luiz oleh PSG dari Chelsea ke PSG senilai 50 juta pounds?

    Kebanyakan dari kita mungkin masih heran, seorang bek tengah (seperti Luiz) dihargai begitu tinggi. Dan sejujurnya, sepakbola modern sudah memiliki perspektif yang negatif untuk seorang bek tengah (dan juga penjaga gawang). Media, suporter, dan bahkan para pengamat sepakbola --seperti kami yang merupakan penulis sepakbola-- sudah tercuci otaknya untuk percaya bahwa gol adalah segalanya.

    Ambil contoh di musim lalu, bagaimana Chelsea begitu diejek habis-habisan karena "bermain membosankan", "gemar memarkir bus di depan gawang", dan "memperagakan anti-sepakbola". Padahal mereka adalah tim juara Liga Primer Inggris dengan berhasil mencetak 73 gol (terbanyak kedua di liga).

    Jika mau berkata jujur, rekor kebobolan mereka yang hanya 32 gol (paling sedikit di liga) menunjukkan bahwa bertahan merupakan bagian paling penting dari taktik sepakbola. Tapi jika dilihat secara seksama lagi, tidak ada taktik yang mudah berjalan tanpa pemain-pemain yang mumpuni.

    Mentalitas di atas akan membuat kita semua bertanya-tanya, kenapa ada sebuah kesebelasan yang mau-maunya mengeluarkan banyak uang untuk pemain yang tidak (atau tugas utamanya bukan) mencetak gol?

    Ambil contoh lain dari linimasa yang lebih panjang, ketika Rio Ferdinand pindah dari Leeds United ke Manchester United dengan harga 30 juta poundsterling pada usia 23 tahun. Atau Lilian Thuram yang pindah dari Parma ke Juventus pada 2001 dengan harga 22 juta pounds ketika usianya 29 tahun. Atau Alessandro Nesta yang pindah dari Lazio ke AC Milan dengan harga 21 juta pounds saat usianya 26 tahun. Atau juga Fabio Cannavaro yang pindah dari Parma ke Inter Milan dengan harga 16 juta pounds saat usianya 28 tahun.



    Selain nama-nama di atas, kita juga masih bisa melihat beberapa nama mengejutkan seperti Thiago Silva (30 juta pounds ke PSG), Eliaquim Mangala (28 juta ke Manchester City), Marquinhos (22 juta ke PSG), Ricardo Carvalho (21 juta ke Chelsea), Pepe (21 juta ke Real Madrid), Mehdi Benatia (20 juta ke FC Bayern Munich), dan nama-nama lainnya.

    Apakah kesebelasan-kesebelasan di atas menyesal sudah mengeluarkan banyak uang untuk membeli "pemain yang tidak mencetak gol"? Kita akan menjawabnya di akhir tulisan ini. Tapi sebelumnya, mari kita lihat dulu dari perspektif lain.

    Studi kasus pertahanan Chelsea

    Menghadapi musim ini Jose Mourinho sempat bersikeras bahwa Chelsea tidak membutuhkan banyak pemain baru. Yang terbaru, The Blues berhasil mendatangkan bek kiri Abdul Baba Rahman dari FC Augsburg untuk menggantikan Filipe Luis yang sudah terlebih dahulu dijual kembali ke Atletico Madrid.

    Sang juara bertahan saat ini (pekan ketiga) bertengger di posisi ke-10 di liga, mereka sudah kebobolan 7 kali. "Secara defensif, kami cukup rentan," adalah pernyataan yang langka dari seorang Mourinho, sang ahlinya sepakbola bertahan.

    Sebelumnya, kami pernah menulis pratinjau bahwa musim ini adalah ujian konsistensi untuk Chelsea -- selengkapnya baca di sini. Mourinho yang sudah merasa menemukan "formula kemenangannya" seolah dibuat untuk menjilat ludahnya sendiri di dua pekan awal Liga Primer ini.

    Jika kita melihat penampilan Chelsea sejauh ini, skuat mereka sepertinya kurang dalam di lini belakang. Kapten John Terry dan Gary Cahill sudah mulai menua, begitu pun Branislav Ivanovic yang bisa dipasang sebagai bek tengah meskipun ia sering dimainkan sebagai bek kanan. Praktis, Chelsea hanya memiliki Kurt Zouma sebagai pelapis.

    Untuk itulah rumor Chelsea untuk membeli John Stones dari Everton kembali santer terdengar, efektif sejak Chelsea kalah 3-0 dari City di pekan kedua, sampai jendela transfer ditutup 2 September nanti.

    Stones adalah bek tengah yang juga bisa bermain sebagai bek kanan. Mourinho yang mengincar Stones ini dianggap sebagai “kebutuhan” alih-alih “keinginan”. Alasannya, lini belakang Chelsea memang butuh peremajaan yang mapan.

    Ia masih berusia 21 tahun tapi sudah bermain lebih dari 40 pertandingan di Liga Primer untuk The Toffees. Sebelumnya Everton juga sudah menolak mahar sebesar 25 juta pounds dari Chelsea, yang saat ini menimbulkan dua opini yang berbeda.

    Jika Anda adalah orang jenis pertama, yaitu yang menganggap bahwa harga bek tengah tidak perlu terlalu tinggi, maka uang 25 juta pounds sudah seperti "uang konyol" yang seharusnya sudah membuat Everton melepas pemainnya tersebut. Tapi, jika Anda percaya bahwa bek tengah memang berharga tinggi (tapi tidak semua bek tengah tentunya), Everton bisa saja membuat Chelsea menaikkan harga untuk Stones.

    Menilai harga John Stones


    [Perbandingan beberapa statistik John Stones, John Terry, Gary Cahill, Kurt Zouma, dan Nathan Ake di musim 2014/15. Sumber: Squawka]

    Untuk menambah perspektif ke dalam dua opini tersebut, maka kita harus melihat data dan statistik di atas. Pertama, Stones adalah pemain asal Inggris, dan seperti yang kita tahu, harga pemain Inggris saat ini tidak ada yang murah, mereka adalah "barang langka" di bursa transfer. Selanjutnya, Stones masih muda dan juga berbadan tinggi (1,88 meter). Bermain sebagai bek tengah maupun bek kanan akan menimbulkan keunggulan tersendiri bagi pemain yang memiliki fisik seperti Stones.

    Kemudian, kemampuan ball-playing-nya pun terbilang sangat baik, dengan 90% operan sukses. Ball-playing defender ini adalah "barang langka" lainnya di sepakbola modern saat ini, untuk itu juga kabarnya Louis van Gaal, manajer Manchester United, mengincar Stones karena ia ingin bek tengahnya bisa membantu membangun serangan dari belakang.

    Intelejensinya juga terbilang cukup tinggi dengan kemampuan positioning dan membaca permaianannya, di antaranya dengan rata-rata 1,54 intersep setiap 90 menit. Ditambah ia cukup bijak dalam meluncurkan tekel (1,19 tekel setiap 90 menit) sehingga ia jarang melanggar pemain lawan (0,26 fouls commited per 90 menit) dan hanya menerima dua kartu kuning sepanjang karirnya di Everton.

    Jika Chelsea bisa mendatangkan mantan pemain Barnsley ini, ia dinilai akan belajar banyak dari Terry dan Cahill untuk menjadi bek papan atas di Inggris (dan juga mungkin dunia) dalam setidaknya satu dekade ke depan. Menilai data, statistik, dan potensi di atas, maka harga berapapun di bawah 30 juta poundsterling bisa dibilang merupakan harga investasi yang cukup murah alias bargain price.

    Dengan harga pasar yang semakin gila untuk pemain sepakbola saat ini, akan sangat sulit mencari pemain muda potensial yang sudah bermain reguler di Liga Primer dengan harga di bawah 30 juta pounds, bahkan untuk bertahun-tahun ke depan.

    Kembali mengingatkan, Stones adalah pemain Inggris yang masih muda, memiliki fisik yang prima, sudah bermain reguler di Everton, dan seorang pemain home grown. Harganya pasti akan terus naik.

    Namun, kita harus melihat perspektif utamanya, yaitu dalam kasus ini dari Chelsea sendiri. Mereka masih memiliki Zouma serta Nathan Ake (dipinjamkan ke Watford), Kenneth Omeruo (Kasımpaşa Spor Kulubu), Andreas Christensen (Borussia Monchengladbach), Tomas Kalas (Middlesbrough), dan Alex Davey (Peterborough United). Mereka semua memang masih muda, tapi sejujurnya tidak terlalu berpengalaman. Jadi, memang Stones adalah pemain yang dibutuhkan -- bukan sekadar diingini-- oleh Chelsea.



    Cara menghargai sepakbola bertahan

    Ketika ingin menentukan harga seorang bek tengah, apa saja faktor yang dapat kita masukkan dan juga kita abaikan? Pertama-tama, kita jelas harus memasukkan permintaan pasar (market demand) sebagai faktor utama.

    Pasar sangat gila jika sudah membicarakan bek tengah muda yang sudah bermain reguler di liga top Eropa, terutama di Inggris. Di musim ini saja kita bisa mendapatkan banyak contoh.

    James Chester (26 tahun) dinilai dengan harga 8 juta pounds ketika ia pindah dari Hull City ke West Bromwich Albion, Alessio Romagnoli (20) berharga 18 juta pounds ketika ia pindah dari Roma ke Milan, dan Toby Alderweireld (26) berharga 11 juta pounds ketika ia pindah ke Tottenham Hotspur.

    Cerita ini tidak akan sampai di sini saja, masih ada waktu beberapa hari lagi sampai jendela transfer ditutup. Paling tidak, Manchester City telah berhasil "memaksa" Valencia untuk melepas salah satu pemain terbaiknya di musim lalu, Nicolas Otamendi. Uang 28,5 juta pounds bagaimanapun terlalu sayang untuk ditampik, terlebih karena bek Argentina itu memang ingin pindah.

    "Sebagai seorang bek, mencetak gol bukanlah yang paling saya banggakan. Tapi saya sangat senang karena kami bisa mencetak clean sheet. Ini yang membuat tidur saya menjadi nyenyak," demikian ucap Vincent Kompany (16/8).

    Pernyataan kapten City itu tentunya akan langsung menggugurkan opini bahwa "tidak seharusnya sebuah tim mengeluarkan banyak uang untuk membeli pemain yang tidak mencetak gol."

    Faktanya, jika tidak kebobolan terlalu banyak, maka mereka tidak butuh banyak gol untuk memenangi pertandingan. Jika kesebelasan tak perlu terlalu banyak mencetak gol, maka para penyerang pun tidak memiliki tekanan yang terlalu tinggi untuk mencetak gol. Tekanan yang rendah ini untuk para penyerang, berarti akan semakin baik, bukan?

    Di musim lalu Chelsea hanya kebobolan dua gol atau lebih dalam 4 pertandingan. Ini artinya mereka hanya butuh mencetak dua gol dalam setiap 34 pertandingan lainnya agar mereka bisa menang. Inilah dampak utama dari pertahanan yang kuat bagi sebuah kesebelasan, sedangkan kita sebagai penonton, dengan seenaknya saja berkata bahwa "Chelsea membosankan."

    Bandingkan dengan Liverpool pada musim 2013/14 misalnya, ketika mereka pernah mencetak 13 gol untuk mendapatkan 6 poin dalam 6 pertandingan. Sungguh luar biasa mubazirnya 13 gol yang mereka cetak. Dengan standar Chelsea musim lalu, 13 gol ini sebenarnya sudah cukup untuk mendapatkan 15 sampai 18 poin.

    Di akhir tulisan ini kita bisa menjawab pertanyaan: Apakah kesebelasan-kesebelasan menyesal sudah mengeluarkan banyak uang untuk membeli "pemain yang tidak mencetak gol"?



    Pada tahun 2002 Rio Ferdinand (30 juta pounds) bermain di MU selama 12 tahun ke depan untuk mengantarkan timnya meraih banyak gelar. Pada tahun 2001, Thuram (22 juta pounds) bersama dengan Gianluigi Buffon (38 juta pounds) merupakan dua pemain yang menciptakan pertahanan terbaik di dunia. Nesta (21 juta pounds) menjadi pemain kunci di lini pertahanan Milan untuk mencapai tiga final Liga Champions. Ricardo Carvalho (31 juta pounds) berhasil membuat Chelsea menjadi tim yang kebobolan paling sedikit sepanjang sejarah Liga Primer. Pepe (21 juta pounds) juga berhasil membantu Real Madrid meraih banyak gelar, termasuk La decima.

    Kita tahu kita semua ingin melihat banyak gol dalam sebuah pertandingan sepakbola, tapi ada harga yang tinggi juga yang harus ditebus agar sebuah kesebelasan tidak kebobolan. Inilah kenapa bek tengah dan pemain bertahan lainnya memiliki harga yang tinggi, karena mereka sama pentingnya dengan para pencetak gol.

    ====

    * Akun twitter penulis: @dexglenniza dari @panditfootball
    ** Foto-foto: Getty Images

    (a2s/roz)
    Kontak Informasi Detikcom
    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Media Partner: promosi[at]detik.com
    Iklan: sales[at]detik.com
    More About the Game