Masukkan kata pencarian minimal 3 karakter
Searching.. Please Wait
    Pandit

    Twenty's Plenty: Sikap Penolakan terhadap Mahalnya Tiket

    Frasetya Vady Aditya - detikSport
    Foto-foto: Getty Images Foto-foto: Getty Images
    Jakarta -

    Konon sepakbola Inggris yang betulan justru hadir di saat jeda internasional. Bukan oleh tim nasional Inggris, tapi oleh mereka yang berada di bawah garis; sebuah batas yang membedakan kompetisi yang dihuni pemain profesional dan mereka yang asal, yang nama-namanya tidak dikenal.

    Sejak 2010 terdapat gerakan yang mengajak masyarakat Inggris untuk menyaksikan kompetisi amatir di luar naungan Premier League dan The Football League. Sederhananya gerakan "Non-league Day" ingin memperlihatkan kalau sepakbola Inggris yang sebenarnya --kick and rush yang melegenda itu-- bersemayam di sana; di stadion yang jaraknya cuma 10 menit melangkah; di lapangan yang para pemainnya adalah tetangga sebelah rumah. [Baca: Belajar dari Non League Football di Inggris]

    Bukan cuma gaya main, "Non-League Day" pun menghadirkan kerinduan yang mendalam bagi suporter Premier League: makan kue pai dan minum bir di stadion serta—tentu saja—harga tiket yang murah.

    Dalam momen "Non-League Day" kelompok yang mengatasnamakan dirinya The Football Supporters Federation, FSF, meneriakkan keluhan mereka soal mahalnya harga tiket. Kampanye tersebut diberi nama "Twenty's Plenty".

    Menghargai Suporter

    Ide awal dari "Twenty's Plenty" adalah meminta kesebelasan lawan untuk mematok harga tiket bagi fans tandang maksimal 20 poundsterling (sekitar Rp 426 ribu).

    Sebanyak sembilan kesebelasan, yaitu Barnsley, Cardiff City, Derby County, Hull City, Liverpool, Newcastle United, Norwich City, Swansea City, dan West Bromwich Albion, pada musim 2013/2014 telah menjalankan ide tersebut. Hasilnya cukup fantastis, bisa menghemat hingga 342 ribu pounds dari biaya yang harus dikeluarkan suporter tandang dari 16 laga yang mempertandingkan klub-klub tersebut.

    Kerja sama ini berlangsung bukan antarsuporter dengan klub, melainkan klub dengan klub. Misalnya, pada musim lalu, Newcastle United menjalin kesepakatan dengan Everton, Southampton, Stoke City, Swansea City, dan WBA.

    Kampanye "Twenty's Plenty" kian didengungkan agar semua kesebelasan menerapkan hal yang sama. Sebagai inisiator, FSF, meminta suporter tuan rumah mengajukan pembatasan harga tiket untuk suporter tandang agar terciptanya kerja sama yang semakin luas dan saling menguntungkan. Soalnya, suporter tandang kerap ditempatkan di bukan tribun yang termurah dan mereka pun harus memesan makanan karena menjalani perjalanan panjang menuju kandang lawan.

    "Selama lebih dari 25 tahun, uang yang mengalir ke sepakbola memperkaya pemain, pemilik, manajemen, dan agen. Kami pikir ini adalah waktunya penggemar merasakan manfaatnya juga," ucap CEO FSF, Kevin Miles.

    Kevin mengklaim kalau sembilan dari 10 penggemar merasa sepakbola terlalu mahal. Tapi mereka tetap datang ke stadion atas nama loyalitas dan komitmen terhadap klub.

    Premier League sendiri berencana memperkenalkan program Away Supporters Initiative dengan menyiapkan 12 juta pounds selama tiga musim. Dana tersebut digunakan klub untuk beragam hal yang bisa mengakomodasi suporter lawan: menyubsidi biaya perjalanan, mengorting harga tiket, hingga memberi bus gratis.

    Diingatkan Bayern Muenchen

    Tribun untuk suporter FC Bayern Muenchen di Stadion Emirates hanya diisi seperempatnya saja. Sisanya hanyalah deretan bangku kosong dengan spanduk yang menempel di atasnya. Dalam pertandingan Liga Champions yang digelar Rabu (21/10) dinihari WIB tersebut terbentang spanduk bertuliskan "64 pounds a ticket. But without fans, football is not worth a penny!".



    Lima menit setelah kick-off, para suporter Bayern pun mulai bermunculan. Kehadiran mereka diiringi oleh riuhnya tepuk tangan dari seisi stadion. Suporter Arsenal mengapresiasi kritik soal mahalnya harga tiket yang dilakukan suporter Die Roten.

    Apa yang dilakukan fans Bayern sebenarnya sudah dikondisikan sejak pekan lalu. Kala itu klub top Jerman tersebut mengkritik soal struktur harga tiket di Inggris. Menurut mereka, dengan mahalnya harga tiket yang membuat tidak semua orang bisa menjangkaunya hanya akan menghancurkan budaya fans itu sendiri. "Di Inggris, perkembangan ini (penghancuran budaya fans) telah terjadi," tulis pernyataan resmi Bayern.

    Dikutip dari The Guardian pada 2013, Arsenal adalah kesebelasan Inggris dengan rataan harga tiket termahal. Harga tiket musiman Arsenal dipatok 985 pounds atau jauh lebih tinggi ketimbang Manchester City yang hanya 299 pounds atau yang terendah setelah Stoke City di Premier League.



    Hal serupa juga berlaku di Liga Champions di mana Arsenal, dikutip dari ESPN, adalah kesebelasan termahal untuk ditonton di Eropa. Bukan cuma Arsenal tentunya karena tim Inggris rata-rata menerapkan harga yang tinggi untuk tiket pertandingan.

    Kritik Bayern memang mendasar karena mereka dan tim Bundesliga lainnya tidak menerapkan harga tiket yang kelewat tinggi.

    Di Eropa pun Bundesliga hanya menempati peringkat ke-10 untuk rata-rata harga tiket termahal. Namun, Bayern meyakini kalau mereka masih bisa hidup tanpa harus memerah dan mengeksploitasi loyalitas dan komitmen suporter sebagai penunjang tim. Lagi pula suporter tidak mendapatkan banyak manfaat langsung dari segala keuntungan yang diraih klub.

    Peran Suporter Tandang

    Sepanjang musim 2014/2015 area untuk suporter tandang rata-rata terisi 81% setiap pertandingan. Dengan kondisi geografis yang berada dalam satu daratan serta ditunjang oleh akses transportasi yang baik, menjadi satu hal yang wajar saat suporter dari utara tandang ke selatan.

    Kompetisi tingkat kedua, Football League Championship, mencatatkan jumlah 1,4 juta fans yang tandang pada musim 2014/2015 dengan rataan suporter tandang pertandingan mencapai 847 orang. Di Premier League rataan suporter tandang mencapai 3.000-an orang.

    Media Inggris marak menuliskan bahwa peran suporter tandang penting bukan cuma untuk menyemarakkan suasana stadion, tetapi sebagai simbol betapa loyalnya seorang suporter. "Semestinya dipertimbangkan untuk menurunkan harga tiket agar bisa digapai oleh suporter yang lebih muda," tulis The Independent.

    Di sisi lain, Manajer West Ham, Slaven BiliC, punya pandangan menarik. "Sepakbola bukanlah golf atau polo yang dikhususkan untuk VIP, untuk orang-orang elit. Sepakbola adalah olahraga masyarakat; olahraga untuk orang banyak," tutur mantan bintang timnas Kroasia itu.

    Peran suporter menjadi penting karena bisa menjadi tolok ukur seberapa menariknya sebuah liga. Anda mungkin bisa memulainya dengan Liga Italia yang sudah tidak semarak dan ditinggalkan suporter.

    Memang benar kata FSF, "Sepakbola tanpa suporter tidaklah berarti". Lagi pula mulai musim 2016/2017 sampai 2018/2019, nilai kerja sama hak siar televisi di Liga Inggris mencapai 8 miliar pounds.

    Bukan hal yang sulit tentu membagi 12 juta pounds dari total 8 miliar untuk mengakomodasi suporter lawan, bukan? Jika hal tersebut tak kunjung dilakukan, wajar rasanya kalau kita menyebut Liga Primer Inggris sebagai liga yang serakah, yang menghancurkan kultur di dalam suporter yang telah dibangun dan berdiri selama puluhan tahun.



    ====

    * Akun twitter penulis: @Aditz92 dari @panditfootball

    (a2s/krs)
    Kontak Informasi Detikcom
    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Media Partner: promosi[at]detik.com
    Iklan: sales[at]detik.com
    More About the Game