Masukkan kata pencarian minimal 3 karakter
Searching.. Please Wait
    Tactics

    Intip Taktik Italia: Linglung Tanpa Bola dan Persiapan Menghadapi Spanyol

    Pandit Football Indonesia - detikSport
    FIFA via Getty Images FIFA via Getty Images
    Jakarta -

    Pada pertandingan terakhir Grup A, dua negara dengan koleksi gelar juara dunia terbanyak dipertemukan. Brasil yang telah mengantongi 5 titel kembali bertemu dengan salah satu rival terbesarnya, Italia, yang sudah 4 kali jadi juara dunia. Dalam pertemuan yang ditandai dengan gol cantik dari Neymar ini Selecao menghempaskan Azzurri 4-2.

    Raihan Brazil ini juga seakan mengulang hasil empat tahun silam, yaitu tepatnya pada 21 Juni 2009. Saat itu, berkat dua gol dari Luis Fabiano dan satu gol bunuh diri Andrea Dossena, Selecao sukses menumbangkan Italia 3-0. Dari pertandingan tersebut, hanya ada satu anggota tim utama Selecao yang tersisa, yaitu Julio Cesar. Sementara di kubu Italia, masih ada Gianluigi Buffon, Giorgio Chiellini, Riccardo Montolivo, Andrea Pirlo dan Daniele De Rossi.
     
    Hilang Arah Tanpa Bola

    Pada pertandingan ini, Cesare Prandelli harus lebih memutar otaknya lagi. Pasalnya duet andalan Italia, Pirlo dan De Rossi, tak mungkin bermain. Pirlo harus absen karena cedera paha kanan, sementara De Rossi mendapat dua kali kartu kuning. Padahal, Italia dan Brasil sama-sama sedang berusaha menghindari Spanyol di semifinal.

    Untuk mengakali hal tersebut, Prandelli kemudian menggunakan formasi 4-2-3-1 dengan Montolivo dan Aquilani berada di jantung lini tengah Italia, sementara Claudio Marchisio, Alessandro Diamanti, serta Antonio Candreva membantu Mario Balotelli dalam penyerangan.

    Dalam menggunakan formasi ini, Prandelli mengambil keputusan yang cukup berani. Ini dikarenakan Italia tidak menggunakan satu pun gelandang bertahan murni. Marchisio, yang memiliki kemampuan paling menyerupai seorang gelandang bertahan, pun malah ditempatkan di sisi kiri lapangan.

    Dengan formasi dan susunan pemain ini, Prandelli menyiapkan tim Italia sebagaimana Azzurri telah bermain dalam dua tahun ke belakang: mengandalkan penguasaan bola. Dua orang jenderal lapangan tengah yang dipilih, Montolivo dan Alberto Aquilani, pun merupakan tipe pemain yang sama, yaitu seorang playmaker.

    Namun, dalam pertandingan tadi terlihat bahwa tanpa adanya seorang gelandang bertahan, dan saat menghadapi tim yang fasih menguasai bola dalam tempo cepat, seperti halnya Jepang, Italia akan kesulitan. Sederhananya, Italia terlihat sebagai tim yang tidak nyaman bermain secara bertahan. Tim yang kehilangan strukturnya tanpa bola di kaki.

    Apalagi Brail juga kerap menyulitkan Azzurri dengan cara melakukan pressing agresif, terutama pada pemain yang membawa bola. Tak heran, pada 22 menit pertama saja Italia telah 9 kali kehilangan bola karena salah umpan. Anak-anak asuhan Prandelli kemudian dipaksa bermain dalam dan bertahan di sepertiga lapangan akhir.

    *Pertahanan berlapis Italia


    Uniknya dalam bertahan ini, Italia kemudian terlihat seperti Inggris, yaitu dengan menggunakan dua lapis pertahanan yang sejajar. Lini pertahanan Azzurri seolah mengundang Brazil untuk menyerang tanpa melakukan pressing, atau menutup gerak pemain yang membawa bola.

    Bermain Sempit dan Maksimalkan Balotelli

    Boleh dikatakan dalam Piala Konfederasi ini Prandelli sedang mencari cara untuk bisa mengalahkan Spanyol. Bukan berarti Italia mampu mengalahkan tim lainnya dengan mudah. Namun, memiliki target tinggi dalam piala dunia berarti harus menyiapkan antitesis bagi sepak bola yang dimainkan tim matador.

    Salah satu ide yang dimiliki Prandelli adalah dengan memainkan formasi cemara 4-3-2-1 dan memaksimalkan pengaruh Balotelli. Hal ini dipilih untuk melawan lini tengah Spanyol yang memang juga jarang memaksimalkan sayap lapangan.

    Saat melawan Jepang, Prandelli sempat mengujicoba formasi ini, namun dengan hasil tidak maksimal. Ini dikarenakan Jepang masih menggunakan sisi lapangan untuk menyerang, sehingga dengan bermain sempit berarti Italia menyerahkan sisi lateral untuk dikuasai Jepang.

    Di babak kedua saat melawan Brasil, Prandelli kemudian mengujicoba kembali formasi cemara tersebut. Duet Giaccherini-Diamanti ditempatkan dibelakang Balotelli, sementara Marchisio yang semula bermain di sayap ditarik ke tengah untuk bermain dengan Candreva dan Aquilani.
     
    Dengan menggunakan formasi ini, Italia sendiri coba meminimalisir dua permasalahan. Pertama adalah Christian Maggio --masuk menggantikan Abate yang cedera-- yang kewalahan saat berhadapan dengan Neymar. Problematika ini dipecahkan dengan Candreva yang bermain di tengah dan memberikan proteksi pada Maggio.

    Sementara itu, permasalahan kedua adalah Balotelli yang sepanjang babak pertama kerap terisolasi di lini pertahanan Brazil. Memang, Balotelli tetap mendapatkan penjagaan ketat, terutama dari Dante. Namun, dengan menggunakan Giaccherini dan Diamanti, Italia memiliki dua pemain yang bisa jadi outlet bagi umpan-umpan Balotelli. Giaccherini dan Diamanti juga memiliki tugas untuk memanfaatkan ruang yang ditinggalkan bek Brazil saat menjaga Balotelli.

    Apalagi Balotelli dengan kemampuan hold-up play-nya mampu menciptakan peluang-peluang, yang terkadang sulit dilakukan, bagi rekan setimnya.
    Ini lah yang terjadi di gol pertama dan kedua Italia. Di gol pertama, Dante yang menjaga Balotelli di luar kotak penalti meninggalkan ruang yang harus ditutup oleh Silva. Kondisi ini lalu dimanfaatkan oleh Giaccherini dan Diamanti yang bersamaan berlari ke kotak penalti, dan siap menerima umpan Balotelli.
     
    Sementara di gol kedua, Balotelli dijatuhkan di kotak penalti, dan wasit kemudian menunjuk titik putih. Namun, wasit lalu membatalkan keputusan tersebut karena Chiellini telah mencetak gol.

    Dengan fisik yang kuat yang mampu menyulitkan bek lawan dan kemampuan menahan bola yang sempurna, Balotelli akan jadi senjata pamungkas Azzurri di tahun-tahun mendatang. Inilah yang coba dimaksimalkan oleh Prandelli dengan mencari beberapa formulasi baru. Di Piala Eropa, Prandelli menduetkan Balotelli dengan second striker semacan Antonio Di Natale atau Cassano. Sementara di Piala Konfederasi, Balotelli dipasangkan dengan dua gelandang.

    Faktor Buffon

    Tak ada yang menyangsikan bahwa Buffon adalah salah satu kiper terhebat Italia sepanjang masa. Namun, dalam piala Konfederasi ini mesti diakui bahwa Buffon sering melakukan keputusan yang salah, terutama saat menghadapi tendangan jarak jauh. Alih-alih menangkap bola, atau membuangnya jauh-jauh ke samping, Buffon acap kali membiarkan bola buangannya jatuh di depan gawang.
     
    Terhitung tiga kali dalam pertandingan melawan Brazil malam tadi saat bola buangan Buffon jatuh dekat gawang sehingga rentan untuk disambar lawan. Dari ketiga kejadian tersebut, dua-nya mampu dimanfaatkan Brazil melalui gol Dante dan gol kedua Fred.

    Memang, lini pertahanan pun bertanggung jawab karena dengan mudah dapat ditembus oleh pemain Brasil. Tapi untuk kiper sekelas Buffon, seharusnya penyelamatan bisa dilakukan dengan lebih apik lagi.

    Memasukkan Bola Pada Lubang Berbentuk Kotak

    Terlepas dari formasi atau strategi yang sedang disiapkan oleh Prandelli, dari pertandingan semalam terlihat bahwa sebenarnya permasalahan terbesar Italia terletak justru pada kualitas pemain dan kedalaman skuat. Begitu ada permasalahan cedera, Italia tidak memiliki jawaban. Prandelli pun terpaksa memainkan pemain yang tidak sesuai pada tempatnya.

    Maggio, seorang wing-back yang kurang fasih bertahan, dipaksakan bermain sebagai full-back saat Abate cedera. Demikian pula dengan menduetkan Aquilani-Montolivo karena tidak adanya DM murni. Atau, memainkan Marchisio sebagai sayap karena Cerci dan El Shaarawy sedang menurun performanya. Ini seperti memasukkan bola pada lubang berbentuk kotak.

    Pertandingan melawan Spanyol di semi final nanti tentu akan jadi pertaruhan bagi Prandelli. Jika dengan skuat seadanya ini ia tidak mampu menemukan strategi jitu untuk melawan Spanyol, maka keputusan untuk mempercepat naiknya anak-anak muda semacam Marco Veratti, Lorenzo Insigne, Giulio Donati, atau Alessandro Florenzi ke tim utama tentu jadi wajib untuk dipertimbangkan.

    =====

    *akun Twitter penulis: @panditfootball

    (roz/roz)
    Kontak Informasi Detikcom
    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Media Partner: promosi[at]detik.com
    Iklan: sales[at]detik.com
    More About the Game