Masukkan kata pencarian minimal 3 karakter
Searching.. Please Wait
    Tactics

    Pratinjau 2015/2016

    Spurs Menuju Liga Champions Lewat Jalan yang Lain

    BM Zakky - detikSport
    Jakarta -

    Tak ada salahnya jika seseorang atau siapapun ingin bermimpi besar. Tapi, alangkah lebih baik jika mereka meraih mimpi tersebut dengan cara yang lebih realistis dan masuk akal.

    Begitupun dengan Tottenham Hotspur. Boleh saja berharap banyak setiap musim baru tiba, tapi jangan lupa, mereka berada di dalam persaingan dan kerumunan kesebelasan-kesebelasan yang relatif sama kuatnya --jika tidak dibilang lebih kuat-- di liga Primer Inggris.

    Cita-cita mereka sangat jelas, menembus Liga Champions. Itulah target yang dibebankan oleh sang pemilik, Daniel Levy, kepada manajernya, Mauricio Pochettino. Itu artinya mereka harus bersaing dengan Manchester United dan Manchester City, Chelsea dan Arsenal, juga Liverpool dan beberapa kesebelasan lain yang tidak bisa dianggap remeh, misalnya Everton atau Southampton yang mengejutkan di musim lalu.

    Butuh materi yang solid dan komposisi skuat yang dalam untuk bisa menembus zona Liga Champions. Bahkan itu saja tidak cukup. Mereka harus bermain konsisten, tidak kehilangan angka melawan tim papan bawah. Kadang juga dibutuhkan sedikit keberuntungan, misalnya dalam urusan cedera pemain-pemain pilar.

    Ada jalan lain bagi Spurs untuk bisa masuk ke Liga Champions. Salah satu jalannya adalah menjadi juara Liga Europa. Kendati gagal masuk empat besar di liga domestik, jika mereka berhasil menjuarai Liga Eropa, maka jatah tiket ke Liga Champions pun akan datang seketika.

    Kans melalui rute berbeda ini bolah jadi lebih masuk akal ketimbang besaing di Liga Primer Inggris. Kesebelasan-kesebelasan elit lainnya, seperti MU dan Liverpool, telah merombak sebagian besar skuat mereka di bursa transfer kali ini. Chelsea, Arsenal dan City pun sangat patut diperhitungkan meski tak belanja jor-joran.

    Menambal Bocornya Pertahanan

    Rekor kebobolan 53 gol dalam satu musim tentu menjadi catatan buruk bagi The Lilywhites tersebut. Pasalnya, dari sepuluh tim teratas di klasemen akhir Liga Primer Inggris musim lalu, Spurs menjadi yang paling banyak kebobolan. Mereka hanya surplus lima gol: 53 gol kemasukan, 58 gol memasukkan.

    Bahkan, dengan West Bromwich Albion yang bertengger di peringkat ke-13 saja, catatan kebobolan mereka masih lebih buruk. Jjika saja Spurs tak banyak terbantu oleh lini serang yang tajam, terutama berkat ketajaman Harry Kane, bukan tak mungkin Spurs akan lebih banyak kebobolannya daripada memasukannya.

    Hal ini tentu menjadi fokus utama yang mutlak dibenahi Pochettino. Memang ada adagium “tak mengapa kebobolan, yang penting kita lebih banyak memasukkan dan menang”. Ungkapan tersebut tentu saja benar. Namun tak baik juga jika catatan yang buruk itu terus dipelihara.

    Pochettino yang peka dengan hal tersebut langsung bergerak di bursa transfer musim panas ini dengan mendatangkan tiga pemain bertahan sekaligus. Bahkan, sampai saat ini, hanya tiga pemain belakang itu sajalah yang baru direkrut Spurs.

    Toby Alderweireld yang dibeli sebesar 11,5 juta poundsterling mungkin adalah perekrutan lini belakang yang paling menyita perhatian. Rekrutmen Toby menyita perhatian, bukan karena harganya, namun sengketa segitiga dengan Atletico Madrid (pemilik Toby) dan Southampton (yang meminjam Toby dari Atletico).

    Ketimbang Soton, wajar memang jika Toby memilih hengkang ke kota London. Selain gaji yang lebih besar, setidaknya Toby memiliki orang yang berasal dari negara yang sama dengan dirinya (Belgia) yaitu Jan Vertonghen. Kedatangan Toby yang berposisi sebagi pemain bertahan yang multi fungsi membuat Pochettino bisa bernafas lega.

    Belum lagi Kevin Wimmer yang didatangkan dari FC Koln juga fasih bermain sebagai bek tengah dan bek kiri. Hal ini memperkaya pilihan Pochettino untuk meramu komposisi barisan pertahanan yang bolong-bolong di musim lalu.



    Namun, celakanya, meski Spurs sudah melakoni tur pramusim dari benua Asia, Amerika hingga ke Jerman, ternyata hasilnya masih jauh dari memuaskan. Spurs hanya memetik tiga kali kemenangan dari enam kali bertanding. Atau jika dipersentasekan, kemenangan mereka hanya sebesar 50%. Memang hasil pramusim tak bisa menjadi acuan bagaimana kesebelasan tersebut mengarungi panjangnya liga primer Inggris.

    Kebiasaan memainkan bola dari lini belakang untuk membangun serangan, dan pilihan memakai high-line defense, yang di musim lalu membuat lini belakang Spurs sering gampang dieksploitasi oleh lawan masih terlihat sepanjang pramusim. Kegemaran-kegemaran Pochettino ini sudah seyogyanya mulai diminimalisir. Ia perlu mencari formula baru, seperti memaksa lawan untuk bermain terbuka, dan merancang serangan balik untuk menggedor pertahanan lawan.

    Dengan tambahan pemain sejauh ini, yang semuanya pemain bertahan, Spurs memang benar-benar harus memaksimalkan waktu yang tersisa untuk membenahi pertahanan mereka. Jika kinerja lini belakang ini tetap keropos, sementara lini depan Spurs sedang seret gol, siap-siap saja Pochettino akan didepak posisinya oleh Levy.

    Mengharapkan Soldado dan Kane-Kane yang Lain Bermunculan

    Sebanyak 24 dari 64 empat poin yang dikumpulkan musim lalu adalah andil besar seorang Harry Kane, pemain muda yang menjadi buah bibir semua pundit dan penonton sepakbola. Keran golnya yang mengalir deras bahkan membuat FA langsung berniat mengubah peraturan dalam penetapan kuota pemain homegrown yang harus dimiliki oleh setiap kesebelasan di Liga Primer Inggris. Meski baru wacana, dampak dari bersinarnya Kane musim lalu bisa jadi mengubah persepakbolaan dan Liga Primer Inggris untuk waktu-waktu mendatang.

    Sementara bagi Spurs, mempertahankanKane agaknya menjadi keniscayaan jika memang mereka sangat serius mengejar tiket Liga Champions. Tanpa Kane, Spurs hampir bisa dipastikan akan sangat kedodoran di musim lalu. Mereka bahkan bisa minus atau defisit gol jika saja Kane tidak tajam.

    Ini bukan persoalan gampang bagi Spurs. Mereka harus bisa meyakinkan Kane untuk tetap bertahan di White Hart Lane. Godaan hijrah dengan gaji yang berlipat lebih besar bukan tidak mungkin bisa menyilaukan mata pemuda Kane. Spurs agaknya mustahil bersaing dengan giuran uang yang dikipas-kipasi tim lain. Yang bisa dilakukan Levy adalah meyakinkan Kane bahwa Spurs sangat serius dan ambisius.



    Jika Kane bisa bertahan, maka giliran Kane yang membuktikan bahwa kesuksesan dan ketajamannya di musim lalu bukanlah sebuah kebetulan. Catatan 21 golnya di musim lalu dengan sendirinya akan menjadi standar tersendiri bagi publik untuk menilai mutu yang sesungguhnya dari pemuda berusia 22 tahun ini.

    Ini bukan hal muda baginya. Tidak bisa tidak, beban dan harapan besar memang ada di pundaknya. Banyak sekali yang menaruh harapan besar di pundaknya pasca bermain gemilang musim lalu. Pasalnya, Spurs tinggal menyisakan Roberto Soldado dan Emanuel Adebayor saja di lini depan. Bahkan, jika Adebayor memutuskan hengkang, maka stok penyerang Spurs praktis hanya menyisakan Soldado dan Kane saja.


    [Formasi ideal Tottenham Hotspur]

    Lalu, bagaimana jika Kane melempem atau ia tertimpa cedera panjang? Jawabannya adalah memaksimalkan Soldado sebagai ujung tombak Spurs. Ini pilihan yang tidak bisa tidak harus dimaksimalkan Pochettino.

    Musim lalu Soldado memang tidak bisa berkontribusi banyak untuk Spurs. Bahkan bagi beberapa orang, Soldado mungkin layak disebut sebagai salah satu pembelian terburuk Spurs.

    Maka, demi memperpanjang nafasnya untuk terus berada di sepakbola Inggris, Pochettino yang fasih dengan sepakbola Spanyol (Ia pernah bermain dan melatih klub Spanyol), harus menemukan formula dan cara untuk menghidupkan kembali ketajaman Soldado. Sejauh ini, Soldado adalah plan B untuk Pochettino ketika Spurs mandek atau Spurs kehilangan Kane dalam waktu yang lama.

    Toh, Soldado bukanlah pemain yang baru datang dan beradaptasi lagi di sepakbola Inggris. Secara teori, ia seharusnya sudah dengan baik mengenal gaya dan atmosfir pertandingan di Inggris. Juga mengenal cara bek-bek di Inggris menjaga para penyerang.

    Selain memaksimalkan Soldado, tampaknya Pochettino mesti jeli untuk berburu talenta-talenta muda Spurs. Meski beresiko, langkah ini mesti diambil Pochettino demi menyalamatkan karirnya di Spurs. Sebab, sekali lagi dan sejauh ini, Spurs sejauh ini baru merekrut tiga pemain yang semuanya adalah para pemain bertahan.

    Penutup

    Spurs dan Pocehttino akan langsung menghadapi tes yang berat di pekan perdana. Mereka harus anak asuh Louis van Gaal di markasnya, Old Trafford. Ini ujian yang sulit. Selain United menyiapkan skuat dengan membeli pemain-pemain penting, mereka juga sedang dalam atmosfer yang sangat antusias menyambut musim baru.

    Mengejar satu angka barangkali menjadi target yang paling masuk akal bagi Spurs. Pochettino harus bisa memanfaatkan situasi United yang masih mencari-cari bentuk dan skema serta komposisi pemain paling ideal pasca melakukan perombakan skuat di awal musim ini. Dengan catatan: mereka sudah berhasil menemukan formula yang tepat untuk menambal lubang-lubang di lini pertahanan.

    Hasil seri, apalagi jika menang, akan menjadi mood bosster yang luar biasa dan niscaya menjadi katalis yang sempurna bagi Spurs untuk optimis menyongsong musim 2015/2016.


    ====

    * Akun twitter penulis: @bmzakky dari @panditfootball
    ** Sumber tulisan: Fooufourtwo, Guardian, Daily Mail, Transition Tottenham, Whoscored, Squawka.
    *** Foto-foto: AFP

    (a2s/din)
    Kontak Informasi Detikcom
    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Media Partner: promosi[at]detik.com
    Iklan: sales[at]detik.com
    More About the Game