Pratinjau Milan 2015/2016
Upaya Mengembalikan Kejayaan Milan
Serupa dengan musim-musim sebelumnya, musim 2015/2016 seharusnya juga menjadi musim pembuktian Milan. Jika beberapa musim lalu Milan gagal membuktikan kalau mereka tetap bisa tampil meyakinkan walau dilanda krisis dan tanpa skuat mentereng, musim ini, mau tak mau Milan harus membuktikan kalau kucuran dana dari pemilik baru tidak akan berakhir sia-sia.
Musim 2014/2015 dilalui Milan dengan begitu buruk. Mereka berkali-kali kedapatan tak berkutik, bahkan saat melawan kesebelasan-kesebelasan yang seharusnya tak ada apa-apanya dibandingkan mereka. Setelah terseok-seok sepanjang musim, Milan hanya bisa menduduki peringkat 10. Hasil ini yang terburuk sejak tahun 1998.
Lucunya, perihal hasil buruk yang didapat musim lalu, ada banyak penggemar Milan yang berlagak tegar dan melahirkan mitos konyol. Katanya, karena musim lalu Milan menyelesaikan musim di peringkat 10, musim ini mereka bakal merebut scudetto. Jika melihat ke belakang, tentu mitos semacam ini lahir karena berkaca pada yang terjadi dengan Milan di musim 1998-1999. Di bawah asuhan Alberto Zaccheroni kala itu, Milan berhasil merebut scudetto, dengan menyingkirkan beberapa pesaing berat mereka seperti Lazio, Fiorentina dan Parma.
Nama AC Milan identik dengan kejayaan Serie A. Sebagai presiden, Silvio Berlusconi pun sukses membawa Milan sebagai klub yang memopulerkan model pengelolaan dan pengembangan klub lewat pembelian pemain bintang. Bahasa sederhananya, Milan selalu berprinsip ;jika ingin menang, belilah pemain bintang sebanyak-banyaknya'.
Berlusconi menciptakan rezim baru di Milan dengan cara yang seperti ini. Tahun 1986, Berlusconi datang dan menyelamatkan Milan dari kebangkrutan. Beberapa saat setelah kedatangannya ke Milan, Berlusconi langsung merekrut pelatih yang sebenarnya saat itu belum memiliki prestasi menakjubkan, Arrigo Sacchi. Tak cuma pelatih, Milan juga langsung membeli tiga orang pesepakbola Belanda yang termasyhur: Marco van Basten, Ruud Gullit dan Frank Rijkaard. Belum lagi pesepakbola-pesepakbola seperti Roberto Donadoni, Carlo Ancelotti, dan Giovanni Galli, yang tak luput dari perekrutannya.
Milan memang berjaya dengan metode seperti ini. Namun satu hal yang agaknya luput dari pemahaman Berlusconi, tuntutan industrialisasi sepakbola selalu berubah-ubah. Ranah sepakbola modern mengenal aturan Financial Fair Play yang mengatur kerugian minimum klub. Atas perubahan ini, Milan tak berkutik. Apalagi Milan tak punya stadion sendiri yang bisa dimanfaatkan buat peningkatan pendapatan klub sehingga bisa mengurangi kerugian atau bahkan menciptakan profit.
Perombakan Skuat
Pengusaha Thailand, Bee Taechubol, tidak hanya datang di saat yang tepat, tetapi juga datang dengan tindakan yang tepat. Mr. Bee, mengakuisisi 48% kepemilikan Milan. Setelahnya, Milan tampil habis-habisan di bursa transfer. Milan yang tadinya begitu gigih mempertahankan sejumlah nama yang tak produktif-produktif amat; seperti Daniel Bonera, Sulley Muntari, Giampaolo Pazzini dan Michael Essien, kini mulai berani melepaskan pemain-pemain tersebut dan memberikan tempat kepada sejumlah pesepakbola yang diyakini sanggup memenuhi kebutuhan Milan.
Belakangan, pendukung Milan mulai larut dalam euforia khas musim baru. Salah satu kebiasaan yang dilakukan oleh sekelompok (kecil) penggemar Milan di media sosial adalah saling mengirimkan kartu ucapan “Happy Galliani’s Day” di menit-menit penutupan bursa transfer. Kartu yang dikirimkan secara daring ini terkadang juga menjadi ungkapan kekecewaan para Milanisti akibat performa buruk Milan di bursa transfer. Biasanya pengiriman kartu ini semakin gencar jika Milan berhasil mendatangkan pemain secara gratis menjelang penutupan bursa transfer.
Namun agaknya, tradisi kecil seperti ini tidak akan begitu gencar terlihat menjelang penutupan bursa transfer musim panas 2015. Kali ini, Milan memberikan tempat yang luas buat nama-nama baru dengan talenta menjanjikan: bek tengah yang diyakini sebagai Nesta baru, Alessio Romagnoli; penggawa lini tengah, Andrea Bertolacci, serta dua penyerang produktif, Carlos Bacca dan Luiz Adriano.
Di satu sisi, masuknya penyerang-penyerang baru ini juga menyingkirkan salah satu talenta muda mereka, Stephan El Shaarawy. Namun demikian, Milan juga bukannya tak memberikan tempat bagi pengembangan pemain muda. Buktinya, penjaga gawang berusia 16 tahun, Gianluigi Donnaruma, sudah diberi panggung untuk mulai mencicipi kompetisi level senior. Selain Donnaruma, Sinisa Mihajlovoc yang kini menjabat sebagai pelatih Milan, juga memberikan kesempatan buat bek tengah Rodrigo Ely dan full-back Davide Calabria.
Romagnoli sebagai Kunci Pertahanan Skema 4-3-1-2
Sama seperti yang dilakukannya di musim sebelumnya bersama Sampdoria, musim ini, dapat dipastikan kalau Sinisa Mihajlovic akan menggunakan formasi 4-3-1-2. Skema dua penyerang yang kemungkinan besar bakal ditempati oleh Luiz Adriano dan Carlos Bacca ini terlihat menarik. Mereka yang diplot di posisi ini bakal mendapat suplai bola dari keempat gelandang yang membentuk posisi berlian. Namun demikian, keduanya tak hanya bertugas sebagai penerima suplai bola, tetapi juga mengendurkan pertahanan lawan dan menciptakan ruang.
Posisi gelandang Milan adalah posisi yang paling banyak ditempati oleh pemain baru. Simone Verdi, Jose Mauri, dan Andrea Bertolacci adalah tiga gelandang yang telah resmi bergabung dengan Milan. Verdi nantinya akan bersaing untuk memperebutkan posisi gelandang serang di belakang dua penyerang bersama Suso, Keisuke Honda dan Giacomo Bonaventura. Penggunaan skema 4-3-1-2 menjadikan Nigel de Jong atau Antonio Nocerino diplot sebagai gelandang perebut bola. Agresivitas yang dimiliki keduanya tentu akan menyeimbangkan lini tengah Milan. 
Lini pertahanan Milan adalah hal yang paling menarik untuk dibicarakan musim ini. Full-back Ignazio Abate (yang juga bisa bergantian dengan De Sciglio) dan Luca Antonelli rasanya tidak akan kesulitan untuk bermain lebih melebar akibat sempitnya ruang yang disediakan oleh lini tengah.
Sementara untuk bek tengah, kali ini Milan mendapatkan dua talenta muda yang akan mengawal lini belakang Milan; Rodrigo Ely dan Alessio Romagnoli. Kekhawatiran terbesar atas keduanya adalah minimnya pengalaman dan kedewasaan dalam bermain.
Milan sebenarnya masih menyisakan bek-bek uzur macam Alex, Philippe Mexes, dan Cristian Zaccardo, serta tiga bek lainnya yang belum teruji benar kualitasnya; Cristian Zapata, Gabriel Paletta, dan Michaelangelo Albertazzi. Namun sayang, bek-bek inilah yang membuat lini pertahanan Milan rapuh pada musim lalu. Makanya, mau tak mau Milan harus mengesampingkan masalah usia dan memberikan kesempatan lebih buat rekrutan anyar yang kariernya masih seumur jagung ini.
Nama Alessio Romagnoli memang begitu dinanti. Bukan hanya karena bek-bek tengah yang dimiliki Milan saat ini tak bisa terlalu diharapkan, namun juga karena ranah sepakbola sedang dilanda kelangkaan bek tengah dengan kemampuan yang tak biasa.
Bakat Romagnoli pertama kali disadari oleh eks gelandang Roma, Bruno Conti, yang juga merekomendasikannya untuk masuk akademi AS Roma. Awalnya, Romagnoli bukan seorang bek tengah. Waktu itu, ia terbiasa bermain sebagai gelandang. Namun demikian, atas inisiatif sang pelatih, Romagnoli “dipaksa” untuk ditempatkan di jantung pertahanan.
Sebagai pemain bertahan muda, Romagnoli menunjukkan kualitasnya. Sampai akhirnya, Romagnoli dipinjamkan dari AS Roma ke Sampdoria dan bertemu dengan Sinisa Mihajlovic yang waktu itu belum hijrah ke Milan. Romagnoli selalu menjadi pilihan utama Sampdoria a la Mihajlovic. Makanya, tak heran jika kepindahan pelatih asal Serbia ini ke Milan juga diikuti dengan keinginannya untuk turut membawa Romagnoli.
Negosiasi alot antara Galliani dengan Walter Sabatini, Direktur Olahraga Roma, pada akhirnya menghasilkan kesepakatan: Romagnoli resmi menjadi bek Milan. Kedatangan Romagnoli harus dibayar mahal oleh Milan. Harga transfer sebesar 25 juta euro menjadikannya sebagai bek termahal kedua setelah Nesta. Bagi Sabatini dan Galliani, transaksi ini adalah sebuah simbiosis mutualisme. Dengan uang yang didapat dari Milan, Roma dapat mendatangkan Edin Dzeko dan Mohamed Salah, sementara Milan mendapatkan sosok pemain yang akan menambal lini belakang.
Kesimpulan
Berkaca dari segala kondisi buruk yang dialami Milan di beberapa musim terakhir, musim 2015/2016 seharusnya menjadi awal dari kebangkitan Milan. Krisis finansial dan bobroknya manajemen memang menjadi alasan yang masuk akal bagi keterpurukan Milan. Walau tak ada jaminan kalau Milan bisa langsung meraih scudetto dan gelar juara lainnya setelah perekrutan pemain-pemain baru, setidaknya, musim ini Milan punya alasan yang kuat untuk membikin target yang lebih tinggi.
Mihajlovic sebagai pelatih baru jelas punya tanggung jawab lebih untuk memperbaiki Milan. Melihat pergerakan Milan di bursa transfer dan cara Miha melatih, seharusnya Milan bisa tampil lebih agresif. Di bawah metode kepelatihan Miha yang spartan, Milan yang di musim-musim sebelumnya gemar berlamban-lamban bahkan dalam pertandingan paling penting sekali pun, seharusnya tampil menjadi kesebelasan yang lebih gahar dan stabil.








