Masukkan kata pencarian minimal 3 karakter
Searching.. Please Wait
    Tactics

    Pratinjau Madrid 2015/2016

    Menumpuknya Pemain Berkualitas sebagai Senjata dan Dilema Benitez

    Zakky BM - detikSport
    Reuters / Jason O'Brien Reuters / Jason O'Brien
    Jakarta - Menjadi kesebelasan paling produktif musim lalu di gelaran liga Spanyol namun tak menghasilkan gelar apapun jelas menggambarkan persoalan Real Madrid. Total 118 gol yang diciptakan dan kebobolan hanya 38 gol tak mendatangkan trofi apa pun. Mungkin satu-satunya kabar baik adalah Cristiano Ronaldo menjadi penyerang paling subur di liga Spanyol dengan 48 gol, lima gol lebih banyak dari Lionel Messi.

    Gelontoran banyak gol di musim lalu itu, sayangnya lebih banyak terjadi ketika mereka menghajar tim-tim semenjana saja. Namun ketika bersua tim-tim kuat seperti Barcelona,  Atletico Madrid, Valencia, Athletic Bilbao bahkan Villareal, mereka harus menanggung malu akibat menelan hasil imbang atau bahkan kekalahan.

    Hasil buruk mereka (apalagi setelah masuk bulan Januari) mengindikasikan ada yang tidak beres dengan permainan Real Madrid ketika ditinggal Luca Modric yang cedera. Poros ganda Toni Kroos dan Luca Modric, yang dirancang sebagai motor utama oleh Carlo Ancelotti-pelatih saat itu, tak bisa diemban oleh pemain lain yang bertatus pemain pelapis. Pemain pelapis itu seperti Asier Illaramendi dan Sami Khedira yang kembali ke penampilan terbaiknya usai menderita cedera kambuhan. Isco yang kerap diturunkan sebagai pemain tengah ternyata tak sebaik penampilannya ketika menjadi gelandang serang.

    Musim lalu Don Carlo gagal merotasi skuat. Imbasnya, sistem permainan yang diharapkan pun gagal dipraktikkan oleh para pemain pelapis. Tak heran jika ia akhirnya harus didepak oleh sang presiden, Florentino Perez, dan digantikan mantan jebolan akademi Real Madrid, Rafael Benitez.

    Kedatangan Benitez dan Kebijakan-kebijakan Transfernya Musim Ini

    Meski disambut dengan keraguan berbagai pihak, Rafael Benitez sebenarnya tidak bisa juga dianggap sebagai pelatih kacangan. Prestasi di liga Spanyol pun tidak perlu diragukan. Sudah dua kali ia membawa Valencia ke takhta tertinggi Liga Spanyol pada 2002 dan 2004 lalu. Prestasi di level Eropa-nya pun cukup mentereng, baik bersama Liverpool dan Chelsea yang secara beruntun dibawanya menjuarai Liga Champions 2005 dan Liga Europa 2013 lalu.

    CV tersebut, bagaimanapun, seharusnya sudah mampu meyakinkan para Madriditas untuk mempercayakan kemudi Los Merengues musim depan. Setidaknya bisa menahan publik untuk tidak tergesa-gesa menilai.

    PR terbesarnya musim ini sangat jelas. Ia mesti mencari formula baru dalama menerapkan kebijakan yang tidak diterapkan Ancelotti lalu: rotasi pemain.

    Guna mengaplikasikan kebijakan tersebut, pemain yang dipinjamkan seperti Denis Cherysev (gelandang serang) dan Casemiro (gelandang tengah) yang bersinar bersama Villareal dan Porto di musim lalu, ditarik pulang oleh Benitez untuk memperkuat lini tengah mereka. Rafa Benitez juga menarik kembali dua cantera Real Madrid yang bersinar di tanah Katalunya besama Espanyol, Kiko Casilla (kiper) dan Lucas Vazquez (gelandang serang). Keduanya dipanggil pulang untuk memperkuat posisi kiper sepeninggal Iker Casillas dan guna menambah opsi penyerangan jika Madrid mengalami kebuntuan.

    Dengan pulangnya pemain-pemain di atas, plus tambahan amunisi di posisi gelandang serang lewat Mateo Kovacic, Real Madrid praktis kebanjiran stok pemain di lini tengah. Dan kualitas mereka pun cukup mumpuni, atau di atas rata-rata kebanyakan. Melimpahnya stok gelandang itu sangat bisa untuk mengakomodir keinginan dan kebiasaan Rafa Benitez dalam mengaplikasikan 4-2-3-1 atau 4-4-2.

    Nama Casemiro pun, yang relatif tidak sepopuler Kovacic, punya kemampuan yang tidak bisa dianggap remeh. Performanya di musim lalu bersama Porto sangat bagus. Itulah yang membuat Benitez memanggilnya pulang.



    Pada grafis di atas terlihat penampilan Casemiro bersama Porto di kancah liga Champions (catatan detail statistik di liga Portugal sangat langka) sangat menonjol dibandingkan gelandang tengah (jangkar) Real Madrid di ajang yang sama musim lalu. Sebagai catatan, Lucas Silva yang juga berposisi gelandang bertahan tidak dimasukkan dalam komparasi di infografis karena baru bergabung di bulan Januari lalu dan hanya bermain  menjadi pemain pengganti saja.

    Casemiro adalah gelandang jangkar bertipe petarung yang banyak mengandalkan kekuatan fisik sebagai senjatan utamanya. Catatan gemerlapnya dalam tekel, duel udara dan intersep sangat jauh dengan Toni Kroos, Luca Modric dan Illaramendi.

    Hal ini menguntungkan bagi Real Madrid apabila bermain dengan poros ganda. Pilihan untuk menempatkan Casemiro sebagai salah satu poros ganda, jika memang diperlukan, tidak akan menjadi opsi perjudian. Ia bisa bertandem dengan, misalnya, Luka Modric yang bertipe sebagai box-to-box midfielder dan punya keunggulan dalam distribusi bola. Casemiro yang akan memastikan pertahanan Madrid dilindungi oleh benteng yang kokoh.

    Lalu, jika Luka Modric ditempatkan berdampingan dengan Casemiro, misalnya, mau di kemanakan Toni Kroos? Jawabannya ada di posisi no.10 seperti yang dilakoninya di tim nasional Jerman.

    Meski berat dalam persaingannya, nampaknya opsi ini patut dipertimbangkan oleh Benitez untuk musim depan. Kemapuannya mengalirkan bola menuju sepertiga akhir sangat baik. Meski tak seagresif James Rodriguez atau Isco sekalipun, pilihan ini tentu tak buruk-buruk amat agi Real Madrid.

    Namun, tampaknya Rafa Benitez mempunyai opsi lain dengan menempatkan Gareth Bale di posisi free role no.10 di musim depan. Dan itu sudah dilakukan Rafa di beberapa pertandingan uji coba pra-musim 2015-16. Posisi itu pun bukan hal aneh baginya karena sudah ia kenali semenjak di Tottenham Hotspurs dulu.

    Gareth Bale memang tidak ideal ideal dalam mengalirkan umpan untuk disantap para juru gedor Madrid. Ia hanya unggul dalam total tendangan dengan rataan 3,32 tendangan per laga. Justru itu kelebihannya. Gaya main Gareth Bale di Tottenham Hotspurs yang menjelajah segala sisi dan berakhir dengan tendangan-tendangan jarak jauh menawarkan opsi lain bagi Real Madrid jika ingin bermain dengan cepat dan efektif. Permasalahannya, jika ditempatkan di tengah, Bale yang kidal besar kemungkinan akan sering bertumbukan dengan Ronaldo sering bergerak dari kiri lalu melakukan cutting inside ke kotak penalti.

    Rafa di sini punya tiga pilihan terkait posisi no.10: masih mengakomodir James seperti apa yang ia lakukan musim lalu, atau menempatkan Bale sebagai free role atau bahkan memakai jasa Toni Kroos sebagai pengatur serangan di belakang penyerang tunggal Real Madrid.

    Bermain dengan tempo atau bermain dengan agrefitas dan kecepatan tinggi akan sangat menentukan siapa yang akan dipilih Rafa. Di sinilah kecerdikan dan kejelian Benitez saat menentukan pilihan akan diuji saat menghadapi lawan-lawan yang berbedadi musim depan.

    "Kerumitan" itu belum menghitung melimpahnya stok pemain di lini tengah lain yang belum dibahas, seperti Kovacic, Isco, Vazquez, Cherysev, Jese dkk., yang disinyalir akan menghangatkan bangku cadangan Real Madrid. Semua nama-nama itu, sekali lagi, jelas memungkinkan Rafa Benitez merotasi serta berksperimen  dengan banyak variasi serangan.


    (Skuat Real Madrid jika dijadikan dua line up yang sama kuatnya)

    Menambal Pertahanan dan Menyoal tentang Persaingan Kiper

    Kepergian Iker Casillas sendiri langsung coba ditambal dengan mendatangkan Kiko Casilla, salah satu kiper jebolan akademi La Fabrica milik Real Madrid. Kedatangan Kiko Casilla berarti memaksa Keylor Navas untuk bekerja lebih keras lagi guna menunjukkan dirinya lebih pantas dari rivalnya.

    Secara teknis, Keylor Navas memang unggul dalam segi penyelamatan namun lemah dalam urusan duel udara dibandingkan dengan Kiko Casilla. Masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangannya. Namun, jika menganut senioritas, maka Keylor Navas mungkin akan menjadi kiper utama Real Madrid di Liga Spanyol musim depan.

    Namun, lain cerita jika David de Gea resmi didatangkan Real Madrid. Persaingan tiga kiper yang hampir mempunyai kemampuan setara ini kan memaksa salah satu dari mereka untuk hengkang dan itu mungkin akan terjadi pada Keylor Navas.

    Persaingan ketat juga akan tersaji di bek kanan yang dihuni oleh Carvajal, Arbeloa dan Danilo. Rekrutan terbaru dari Porto tersebut sama-sama memiliki kemampuan yang baik dibandingkan Carvajal. Harganya yang mahal, setara dengan kualtas yang ia miliki. Bahkan, seorang Carlos Dunga (pelatih timnas Brazil) menyebut bahwa Danilo akan menyamai kualitas seorang Maicon, bek senior Brazil.

    Kesimpulan

    Rafa Benitez memang datang dengan sejumlah permasalahan. Kondisi nirgelar musim lalu adalah tantangan tersendiri bagi Benitez. Ia pasti ditargetkan untuk meraih trofi major musim 2015-16, setidaknya untuk kancah Liga Spanyol yang terakhir mereka menangi pada musim 2011-2012 lalu bersama Jose Mourinho.

    Kedalaman skuat yang mumpuni sudah seharusnya dibarengi penerapan taktik yang tepat. Merotasi skuat secara kontinyu sepertinya akan menolong Real Madrid agar tetap bugar ketika memasuki paruh kedua di awal 2016 nanti.

    Selain itu, hal tersebut akan mengurangi ketergantungan mereka terhadap seorang Cristiano Ronaldo yang terus bermain bagaikan mesin di musim lalu. Sekaligus untuk mencoba mengalihkan tumpuan mencetak gol kepada pemain lain yang opsinya cukup banyak.

    Tapi di situ pula persoalan Benitez. Menerapkan kebijakan rotasi selalu tidak mudah dilakukan di tim bertabur bintang seperti Real Madrid. Tidak banyak pemain bintang yang bersedia dicadangkan. Gejolak di kamar ganti menjadi ancaman tersendiri bagi Benitez. Apalagi, dari musim ke musim, Madrid memang selalu diterpa isu keharmonisan.

    Inilah dilema yang dihadapi Benitez.


    -----

    Penulis adalah analis dari @panditfootball, beredar di dunia maya dengan akun @bmzakky

    (krs/krs)
    Kontak Informasi Detikcom
    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Media Partner: promosi[at]detik.com
    Iklan: sales[at]detik.com
    More About the Game