Masukkan kata pencarian minimal 3 karakter
Searching.. Please Wait
    Tactics

    Efisiensi Serangan ala Ranieri

    Abimanyu Bimantoro - detikSport
    Jakarta -

    Leicester City memberi kejutan pada pekan-pekan awal Liga inggris 2015/2016. Mereka berhasil melalui empat pertandingan pertama dengan dua kemenangan dan dua kali imbang. Dua kemenangan mereka raih dari Sunderland dan West Ham United, sedangkan dua hasil imbang diraih melawan Tottenham Hotspur dan AFC Bournemouth.

    Hasil ini menempatkan Leicester City di peringkat ketiga klasemen sementara di atas Manchester United, Arsenal, dan Liverpool.

    Satu nama yang menjadi pusat perhatian akibat hal ini tentu saja sang manajer, Claudio Ranieri. Pelatih asal Italia ini membuat kesebelasan yang musim lalu hampir mengalami degradasi itu kini menjalani awal yang baik di musim yang baru. Dengan beberapa tambahan dalam skuat yang sebenarnya tidak terlalu mewah, pelatih dengan julukan The Thinkerman ini berhasil membawa Leicester memberikan kejutan di awal musim.

    Awalnya banyak yang meragukan bahwa Ranieri adalah pilihan yang tepat bagi Leicester. Sebabnya, pelatih berusia 63 tahun ini seperti telah kehilangan kemampuannya saat menangani beberapa tim terakhir. Dari mulai Juventus, Inter Milan, AS Roma, dan AS Monaco, Ranieri dianggap tidak terlalu berhasil. Ditambah lagi dengan kegagalan menangani tim nasional Yunani di tahun 2014. Ranieri bahkan hanya bertahan 5 bulan sebelum akhirnya dipecat dari tim nasional Yunani.

    Baca juga: Sayonara untuk Reputasi Claudio Ranieri

    Di sisi lain, Leicester sebenarnya memiliki beberapa opsi lain untuk menggantikan Nigel Pearson. Beberapa nama besar lain seperti Guus Hiddink dan Martin O'Neill sempat disebut-sebut akan mengisi posisi ini. Namun akhirnya pilihan jatuh kepada Ranieri.

    Setelah resmi ditunjuk, pria Italia itu kemudian mendatangkan beberapa pemain ke dalam skuatnya. Striker asal Jepang yang lama berkarier di Bundesliga, Shinji Okazaki, menjadi rekrutan paling mahal Ranieri sejauh ini. Selain itu Ranieri juga mendatangkan dua pemain senior, Robert Huth dan Gokan Inler, plus N'Golo Kante dan Yohan Benalouane.

    Secara umum tidak banyak perubahan yang dilakukan Ranieri dalam timnya. Dalam 3 pertandingan pertamanya, hanya Okazaki dan Huth pemain baru yang selalu dimainkan oleh Ranieri. Sisanya, starting XI Ranieri diisi oleh pemain-pemain yang sudah ada di musim sebelumnya.

    Lalu apa sebenarnya yang istimewa dari permainan Leicester awal musim ini?

    Di awal kedatangannya Ranieri mengatakan dirinya akan memasukkan unsur Italian Tactical yang dimilikinya dengan kemampuan para pemain Leicester. Namun ia juga tidak akan melakukan banyak perubahan karena itu tidak akan baik bagi tim.

    Ranieri memainkan formasi 4-4-2 datar pada 3 laga awal. Okazaki berduet dengan James Vardy di depan, sedangkan top skorer mereka musim lalu, Leonardo Ulloa, didudukkan di bangku cadangan. Permainan Leicester lebih memainkan sepakbola direct dengan bola-bola panjang ke depan. Ranieri menekankan pada kedisiplinan para pemainnya saat bertahan dan melakukan serangan cepat.



    Karena itulah Leicester selalu memiliki penguasaan bola yang sedikit dalam setiap pertandingannya. Dalam tiga pertandingan, rata-rata penguasaan bola mereka hanya 40,7%. Hanya West Bromwich Albion yang memiliki rata-rata penguasaan bola lebih kecil dari mereka.

    Bola-bola direct pun membuat mereka memiliki akurasi operan yang tidak tinggi. Rata-rata akurasi operan mereka dalam 3 pertandingan merupakan yang terkecil di Liga Inggris. Rata-rata keberhasilan operan mereka hanya mencapai 69,1%.

    Uniknya, Leicester justru memiliki catatan jumlah gol terbanyak kedua setelah Manchester City. Dalam tiga pertandingan mereka berhasil mencetak 7 gol. Meski juga harus dicatat, bahwa lawan yang mereka hadapi mungkin tidak kuat-kuat amat. Hanya Tottenham yang bisa dikatakan sebagai klub papan atas Liga Inggris. Namun tetap saja, hal ini menunjukan permainan efisien yang diperagakan oleh Leicester.

    Salah satu cara Ranieri untuk membuat permainan yang efisien dalam penyerangan adalah dengan memanfaatkan kedua pemain sayapnya. Bola panjang Leicester akan selalu diarahkan kepada salah satu pemain sayapnya. Ryad Mahrez dan Marc Albrighton menjadi pemain yang dipercaya mengisi posisi sayap kanan dan kiri.

    Hal ini terlihat dari persentase serangan Leicester yang dilakukan dari sisi sayap. Tercatat, hanya 22 % serangan Leicester yang dilakukan dari sisi sayap. Angka ini juga merupakan yang terendah di Liga Primer Inggris hingga pekan ketiga. Dan jika kita lihat pada chalkboard operan panjang Leicester, semakin terlihat bahwa mereka memang mengarahkan bola ke sisi sayap. Operan panjang mereka saat melawan Tottenham sebagian besar diarahkan ke sisi kanan atau kiri.


    [Operan panjang Leicester saat melawan Tottenham. Sumber: fourfourtwo.com]

    Ranieri menempatkan kedua pemain sayapnya sedikit lebih ke depan dan berada di belakang pemain sayap lawan. Hal ini akan menempatkan Mahrez ataupun Albrighton di celah kosong antara pemain sayap dan bek sayap lawan. Dan pada celah ini pulalah operan-operan panjang diarahkan.

    Tidak hanya itu, Vardy juga diberikan peran dalam penyerangan. Ditempatkan sebagai penyerang berduet dengan Shinji Okazaki, ia ditugaskan untuk bergerak lebih aktif saat serangan akan dimulai. Vardy akan bergerak ke salah satu sisi lapangan yang menjadi arah serangan Leicester.

    Lawan yang hanya memiliki seorang bek sayap akan menjadi kalah jumlah ketika Leicester memiliki Vardy dan Mahrez/Albrighton di sisi sayap. Hal ini tentu saja akan sangat menguntungkan bagi serangan Leicester untuk masuk ke area pertahanan lawan melalui sisi sayap.

    Dalam kondisi ini Vardy bertugas untuk melakukan duel dengan bek sayap lawan. Sedangkan Mahrez atau Albrighton akan bergerak menuju ruang kosong yang ditinggalkan bek sayap lawan saat berduel dengan Vardy. Vardy yang cukup membelokkan bola menuju Mahrez atau Albrighton tentu tidak sulit untuk melakukannya. Hal ini tercatat dalam catatan kesuksesan duel udara Vardy dalam 3 pertandingan pertama. Tercatat ia melakukan 4 duel udara berhasil per pertandingan, angka yang paling tinggi dibandingkan pemain Leicester lainnya.

    Chalkboard arah operan yang diterima Vardy pun menunjukan bahwa pemain ini lebih sering menerima bola di sisi sayap melalui operan panjang. Hal ini menunjukkan perannya yang memang bertugas untuk menerima bola-bola panjang Leicester di sisi sayap.


    [Operan yang diterima Jamie Vardy. Sumber: Fourfourtwo.com]

    Hal serupa terlihat saat proses terjadinya gol Leicester saat melawan Tottenham. Vardy yang bergerak ke sisi kanan membuat Ben Davies harus berduel udara dengan Vardy dan meninggalkan areanya. Mahrez kemudian berlari ke ruang kosong yang ditinggalkan Davies untuk menerima bola hasil duel udara yang dimenangkan oleh Vardy. Dari situ Mahrez mampu masuk ke area pertahanan Tottenham dan mencetak gol.

    Cara ini juga tidak akan bisa terwujud tanpa bantuan dari kedua gelandang, Drinkwater dan Andy King. Kedua pemain ini berdiri rapat dengan barisan pertahanan Leicester. Hal ini selain bertujuan untuk mengamankan pertahanan, juga berfungsi untuk membuat gelandang lawan berdiri lebih ke depan saat bertahan. Sehingga tercipta celah antara barisan pertahanan dengan gelandang lawan yang bisa dijadikan sasaran empuk bagi operan panjang Leicester.

    Namun tentu saja pola ini bukan tidak mungkin untuk dihentikan. Tidak sulit bagi klub-klub lawan untuk mengantisipasi cara serangan Ranieri ini. Karena itu Ranieri harus menyiapkan variasi serangan lain.



    Apalagi Ranieri juga terkenal dengan kemampuannya membangun pondasi sebuah tim. Ia selalu berhasil membuat tim yang sedang berkembang berprestasi, meski kemudian gagal saat tim tersebut sudah mulai berada di puncak.

    Karena itu, dalam kasus Leicester saat ini, seharusnya merupakan momen yang menjadi spesialisasi Ranieri. Leicester yang baru kembali ke Liga Primer satu tahun lalu, membutuhkan pondasi yang kuat pada timnya. Dan Ranieri mungkin orang yang tepat untuk mengemban tugas tersebut.


    ====

    * Akun twitter penulis: @aabimanyuu dari @panditfootball
    ** Foto-foto: Getty Images

    (a2s/krs)
    Kontak Informasi Detikcom
    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Media Partner: promosi[at]detik.com
    Iklan: sales[at]detik.com
    More About the Game