Masukkan kata pencarian minimal 3 karakter
Searching.. Please Wait
    Tactics

    Dortmund Bersama Tuchel: Berubah Tanpa Berteriak

    Taufik Nur Shiddiq - detikSport
    Reuters/Ina Fassbender Reuters/Ina Fassbender
    Jakarta - Baru lima bulan berlalu sejak hari terakhir Bundesliga musim lalu; satu musim penuh kekecewaan bagi para pendukung Borussia Dortmund. Baru lima bulan berlalu dan putaran pertama musim ini belum mencapai ujungnya, namun Dortmund yang sekarang sudah sama sekali berbeda dengan mereka musim lalu. Lima belas pertandingan sudah mereka jalani dan hanya sekali Dortmund kalah; melawan Bayern Munich yang kualitas permainannya musim ini sulit dipercaya.

    Dortmund menduduki peringkat kedua di tabel klasemen Bundesliga setelah menjalani sepuluh pertandingan. Mereka unggul empat angka dari Schalke 04 di peringkat ketiga dan satu-satunya alasan Dortmund tidak berada di peringkat pertama adalah Bayern. Di Grup C Liga Europa, Dortmund menduduki peringkat tertinggi. Die Schwarzgelben menjalani pertandingan terbarunya di ajang DFB-Pokal dengan pemain-pemain lapis kedua dan menang besar 7-1. Thomas Tuchel, pelatih kepala Dortmund, pantas mendapat pujian karena telah mengembalikan Dortmund ke dalam perburuan gelar juara.

    Tuchel adalah seorang juru taktik cerdas yang memperkaya diri dengan segala cara termasuk mengamati permainan FC Barcelona era Josep Guardiola serta berbincang dan berdiskusi langsung dengan pria yang akrab disapa Pep tersebut di sebuah café di kota Munich. Namun banyak yang hingga kini masih bertanya-tanya bagaimana Tuchel, dalam waktu relatif singkat, telah mengubah peruntungan Dortmund yang sangat berantakan di musim terakhir Juergen Klopp. Apa yang berbeda antara dirinya dan Klopp?

    Perbedaan paling mendasar antara Klopp dan Tuchel adalah bagaimana dan dengan apa mereka membangun serangan Dortmund. Klopp memanfaatkan kesalahan lawan dengan bermain menekan sementara Tuchel membangun peluangnya sendiri dengan penguasaan bola. Klopp dengan perpaduan antara lari dan umpan langsung sementara Tuchel dengan umpan-umpan pendek dan positioning.

    Satu hal yang perlu digarisbawahi mengenai Dortmund era Klopp adalah mereka menciptakan peluang ketika sedang tidak menguasai bola. Ketika kehilangan bola para pemain Dortmund menempatkan diri untuk membatasi pilihan umpan dari pemain yang menguasai bola. Ketidakmampuan lawan melepaskan diri dari tekanan menciptakan peluang untuk Dortmund. Klopp menyebutnya Gegenpressing, dan menurutnya itu adalah playmaker terbaik di dunia karena menciptakan peluang lebih banyak dari individu mana pun. Begitu Gegenpressing melahirkan peluang untuk Dortmund, para pemain di sekitar bola bereaksi cepat untuk mencetak gol.

    Soal menyerang, Klopp tidak memberi instruksi khusus seperti "ketika bola berada di titik ini, Reus harus berada di titik ini dan bergerak ke titik ini sementara Lewandowski harus melakukan ini dan Kehl harus melakukan ini". Karena kapan dan di mana peluang tercipta tidak dapat diprediksi, maka menyerang dan mencetak gol sangat bergantung kepada kreativitas dan spontanitas pemain di sekitar bola. Yang jelas, serangan harus diselesaikan secepat mungkin.



    Ilustrasi Gegenpressing Dortmund era Klopp dari Spielverlagerung

    Para pemain Dortmund era Klopp hanya tahu satu jenis serangan: yang cepat dan melibatkan umpan ke daerah dan lari pemain. Ketika serangan seperti ini gagal atau tidak mungkin dilakukan karena lawan bertahan di kedalaman, para pemain Dortmund kebingungan. Mereka tidak memiliki arah dan karenanya tidak mengherankan jika persentase umpan berhasil musim lalu kurang dari 80%.

    Mimpi buruk musim lalu tidak datang begitu saja, melainkah puncak dari permasalahan yang terus menumpuk sejak Mario Goetze bergabung dengan Bayern Munich pada 2013. Kondisi memburuk ketika Robert Lewandowski menyusul semusim berselang. Lini serang Dortmund adalah sekumpulan pemain tak tergantikan karena mereka mencetak gol dengan mengandalkan kesepahaman yang telah terjalin. Hilang satu saja menjadi masalah. Apalagi para pengganti (Henrikh Mkhitaryan untuk Goetze, Ciro Immobile dan Adrián Ramos untuk Lewandowski) tidak mampu bermain mengenakan sepatu Goetze dan Lewandowski. Kondisi bertambah buruk ketika di awal musim lalu para pemain kunci lain, yang juga banyak terlibat dalam "serangan kesepahaman" – Ilkay Guendoğan, Jakub Blaszczykowski, Marco Reus, Lukasz Piszczek – menderita cedera, baik bersamaan atau bergantian.

    Hal yang sama tidak terjadi musim ini karena Tuchel bukan Klopp. Playmaker-nya bukan sistem, dan ia memiliki lebih banyak cara mencetak gol selain memanfaatkan kesalahan lawan ketika ditekan. Tuchel memahami penguasaan bola di tingkat yang cukup tinggi hingga ia berbeda dari kebanyakan orang yang gemar betul membicarakan dan mengagung-agungkan penguasaan bola. Seperti Pep Guardiola, Tuchel tahu bahwa penguasaan bola adalah alat, bukan filosofi permainan. Dengannya Tuchel melakukan banyak hal, termasuk menciptakan peluang (dengan membongkar pertahanan) dan menerapkan kebijakan rotasi tanpa menurunkan kualitas kesebelasan serta, tentu saja, membawa Dortmund keluar dari krisis dan kembali terlibat dalam perburuan gelar juara.

    Tuchel bukan seorang orator yang berapi-api. Ia tenang dan tidak berteriak-teriak dalam bicaranya. Perubahan yang ia terapkan di Dortmund, karenanya, tenang dan tidak berteriak-teriak. Tuchel tidak menghapus permainan menekan yang dibangun Klopp. Ia juga tidak menjauhkan para pemainnya, yang kebanyakan adalah para pemain Klopp di zamannya, dari cara menyerang yang mereka tahu: cepat, langsung, tidak banyak basa-basi. Tuchel, malah, membekali mereka dengan ilmu baru mengenai penguasaan bola dan positioning ketika menyerang. Hasilnya adalah peningkatan akurasi umpan dan rataan jumlah peluang yang diciptakan di tiap pertandingan (musim lalu 11, musim ini 13).

    Soal positioning, kedua bek sayap Dortmund paling mencolok karena mereka memainkan peran penting. Mereka tidak boleh berdiri sejajar dengan para pemain belakang ketika kesebelasan menguasai bola. Mereka harus berada setidaknya sejajar dengan para gelandang. Lebih dekat ke gawang lawan lebih baik, dan terlalu jauh dari bek tengah bukan masalah. Dan ini yang tidak boleh dilanggar: harus sedekat mungkin dengan garis tepi. Alasannya banyak.

    Pertama: mereka tidak dibutuhkan untuk membantu bek tengah keluar dari tekanan lawan jika mereka menguasai bola; bek tengah tidak membebaskan diri dari tekanan lawan dengan mengumpan kepada bek sayap yang berada dekat mereka karena itu tidak berguna. Kedua: berada sedekat mungkin dengan garis tepi membuat area permainan Dortmund menjadi luas. Ketiga: berada sedekat mungkin dengan garis tepi membuat para bek sayap menjadi buah simalakama bagi lawan dan memiliki keleluasaan untuk membangun serangan; Mengawal para pemain yang bermain melebar hanya akan membuat area tengah terlalu terbuka dan Dortmund bisa langsung menuju gawang karenanya. Bermain rapat di tengah berbarti membebaskan para pemain sayap Dortmund dan membiarkan Dortmund menyerang dari sana. Pada banyak kasus, kesebelasan-kesebelasan lawan bermain rapat di tengah.



    Positioning para pemain Dortmund ketika Hummels atau Sokratis menguasai bola dan lawan menekan

    Mengenai cara menyerang: jika bek tengah Dortmund memiliki bola dan lawan menekannya, mereka membebaskan diri dengan bantuan gelandang bertahan dan gelandang penjelajah. Keempat pemain ini membentuk pola segitiga atau berlian untuk memastikan aliran bola tetap berjalan. Siapa pun yang menemukan celah untuk melepas umpan kepada bek sayap atau penyerang sayap harus melepas umpan secepat mungkin. Jika bola sudah diarahkan kepada pemain sayap terbebaslah Dortmund dari tekanan dan dimulailah serangan. Untuk lawan yang tidak bermain menekan, Dortmund memiliki pendekatan yang berbeda, walau tetap melibatkan para pemain sayap.



    Positioning pemain Dortmund ketika menyerang lewat sayap kiri (gambar kiri) dan kanan (gambar kanan)

    Dortmund menyerang dengan bek sayap lewat satu sisi yang ditentukan. Namun jika serangan dari satu sayap tidak berhasil, maka Dortmund akan langsung menyerang dari sayap yang satunya. Caranya adalah dengan membawa bola menjauh dari gawang dan dari garis tepi (mengarahkan bola ke area tengah namun masih di sepertiga akhir) untuk kemudian dipindahkan ke sisi yang tidak mendapat perhatian lawan. Dortmund melakukannya dengan umpan-umpan pendek yang cepat. Para bek sayap memainkan peran penting karena merekalah pemain terluar dan karenanya menjadi aktor utama dalam serangan sayap, sementara para penyerang sayap bergerak ke dalam memadati kotak penalti dan area sekitarnya untuk menciptakan situasi menang jumlah.

    Dari serangan-serangan sayap yang mengandalkan para bek sayapnya ini Dortmund meraih kemenangan demi kemenangan. Walau demikian gaya bermain seperti ini menyimpan kekurangan. Bek sayap yang bermain begitu tinggi membuat lini pertahanan rentan diserang lewat sayap, melalui celah-celah yang terbuka di kedua sisi pertahanan. Kebanyakan gol yang bersarang di gawang Dortmund tercipta dengan cara itu.

    Walau demikian, fakta bahwa Dortmund baru kalah satu kali dalam 18 pertandingan berarti mereka baik-baik saja. Walau kebobolan banyak (16 kali) Dortmund mencetak gol dalam jumlah yang lebih banyak (44). Dengan banyak variasi, serangan Dortmund begitu ampuh hingga kebobolan bukan masalah. Begitu ampuh serangan Dortmund hingga tanpa pemain tersuburnya pun (Pierre-Emerick Aubameyang yang sudah mencetak 20 gol dalam 17 pertandingan; termasuk 13 gol dalam 10 pertandingan Bundesliga) Dortmund tetap mampu menang besar dengan selisih enam gol.

    ====

    *dianalisis oleh @nurshiddiq dari @panditfootball, profil lihat di sini.



    (roz/a2s)
    Kontak Informasi Detikcom
    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Media Partner: promosi[at]detik.com
    Iklan: sales[at]detik.com
    More About the Game