Cedera dan Faktor Taktik di Balik Menurunnya Lazio
Lazio bermain bagus di Serie A musim lalu (2014/2015). Mereka sempat menorehkan delapan kemenangan beruntun, dan di akhir musim bertengger di peringkat ketiga.
Di musim itu, bersama Juventus, Le Aquile (Si Elang) menjadi kesebelasan paling paling produktif dengan 71 gol. Lazio juga merupakan tim nomor tiga yang paling sedikit kebobolan yaitu 38 gol, di bawah Juventus (24) dan AS Roma (31).
Pencapaian cukup sukses Lazio musim lalu memang tidak lepas dari Stefano Pioli yang melatih mereka sejak awal musim itu. Kontribusi besar pun diberikan oleh para pemain barunya seperti Stefan de Vrij (Feyenoord Rotterdam), Marco Parolo (Parma), Dusan Basta (Udinese), dan Filip Djordjevic (Nantes).
Penampilan para pemain dan strategi yang diterapkan Pioli seolah melupakan kesedihan suporter yang ditinggalkan Hernanes, yang hengkang ke Internazionale Milan pada Januari 2014, sebelum pindah ke Juventus di awal musim 2015/2016.
Sayangnya, penampilan musim lalu itu menurun signifikan pada musim ini. Lazio seolah mesti berjuang keras untuk mengulangi performa bagusnya itu. Sudah sampai pekan ke-13 Serie-A musim ini, mereka sudah menelan enam kekalahan, termasuk saat berturut-turut ditekuk Atalanta, AC Milan dan AS Roma.
Cara bermain Stefano Mauri dkk. seolah mulai terbaca lawan. Bisa dibilang, kegagalan mendapatkan pemain incaran di bursa transfer membuat Lazio terpaksa lebih sering mengandalkan pilar-pilar musim lalu.
Kegagalan mendapatkan Oguzhan Ozyakup (Besiktas), Graziano Pelle (Southampton) dan lainnya agaknya berdampak signifikan. Sejauh ini baru Ricardo Kishna (Ajax Amsterdam) yang bisa dibilang paling berkontribusi dari perekrutan bursa transfer musim panas. Sedangkan Sergej Milinkovic-Savic (KRC Genk) belum memperlihatkan penampilan meyakinkan.
Masih Kehilangan Sosok Hernanes dan Mauri Sudah Mulai Habis
Sebetulnya kegagalan merekrut Ozyakup, gelandang serang tengah Besiktas, merupakan salah satu penyebab tidak berkembangnya permainan 4-2-3-1 atau 4-3-3 Lazio musim ini. Pioli mengalihkan alternatif lainnya kepada Milinkovic untuk menempati gelandang serang tengah. Bahkan, kegagalan merekrut Ozyakup membuat Lazio kembali memanggil Mauri yang sedang menganggur yang kontraknya habis pada Juli lalu. 
Tidak bisa dimungkiri memang sejauh ini Lazio masih belum mendapatkan pengganti sepadan untuk Hernanes. Ketika dia meninggalkan Lazio, perannya di pos gelandang serang tengah digantikan Mauri. Pioli pun hanya memaksimalkan peran Mauri yang sudah tidak bisa dibilang muda (tahun ini 35 tahun).
Musim lalu Lazio tidak memberi beban sangat berat kepada Mauri. Pioli lebih suka memforsir kedua sayapnya, ketimbang mengandalkan mobilitas tinggi gelandang serangnya untuk menjemput bola sampai ke setengah lapangan.
Sadar akan faktor usia Mauri, Pioli tidak memaksakannya untuk bermain seperti Hernanes yang punya daya jelajah tinggi. Mauri sebagai pengganti Hernanes sejak musim lalu hanya bergantian dengan Marco Parolo masuk ke area kotak penalti lawan. Kedatangan dari lini kedua itu bertujuan untuk menyelesaikan peluang hasil umpan dari sayap atau keterbukaan ruang yang diciptakan Djordjevic di lini depan.
Musim ini Pioli menginginkan serangan dari lini tengah yang lebih agresif. Hal ini yang membuat setiap pertandingan Lazio selalu memadatkan pemain di lini tengah, baik itu dalam bertahan atau menyerang.
Walau begitu, Lazio tidak mengabaikan cara bermain musim lalu dengan melancarkan serangan lewat kedua sayapnya. Felipe Anderson (kiri) dan Antonio Candreva (kanan) tetap mendapatkan porsi besar dalam skema serangan Lazio.
Sayangnya, untuk mengalirkan bola kepada kedua pemain sayap tersebut Lazio terlihat tidak maksimal. Mauri tampak sudah habis untuk bergerak lebih luas, sementara Milinkovic masih belum padu dengan para pemain tengah lainnya. Akibatnya, lawan lebih mudah membaca alur serangan Lazio. Jalur kepada dua sayap, terutama kepada Candreva, ditutup dengan melancarkan pressing kepada gelandang serang yang diperankan Mauri atau Milonkovic.
Sulitnya Candreva dan Anderson mendapatkan bola memaksa dua full-back, Dusan Basta (kanan) dan Senad Lulic atau Stefan Radu, harus lebih aktif naik ke depan. Sehingga tersedia banyak celah antara lebar lapangan dengan bek tengah.
Begitu juga lini tengah Le Aquile yang menjadi padat karena strategi pressing Pioli membuat pemain gelandang bertahan -- Lucas Biglia atau Ogenyi Onazi --, sering bekerja sendirian di sekitar area luar kotak penalti. Rekan-rekannya yang lain, ketika bermain dalam pakem 4-2-3-1, sering terlambat turun.
Celakanya, kepadatan di lini tengah kadang juga menjadi bumerang ketika gelandang serang kehilangan bola yang membuat lawan melancarkan serangan balik. Lalu lawan memanfaatkan celah antara bek tengah dengan full-back atau gelandang bertahan.
[Grafis (kiri) kecenderungan serangan Lazio lebih mengandalkan sisi kanan yang biasa ditampati Antonio Candreva. Sementara grafis (kanan) menunjukan sering terjadinya duel di lini tengah karena Stefano Pioli gemar menumpuk pemain di sektor tersebut. Sumber : Who Scored]
Cederanya Pemain-pemain Penting Musim Lalu
Selain belum menemukan pengganti Hernanes yang sesuai dan back-up sepadan untuk Mauri, cederanya beberapa pemain penting juga menjadi faktor utama menurunnya permainan Lazio musim ini. Saat ini Pioli paling dipusingkan dengan cedera ligamen lutut De Vrij yang harus absen setidaknya enam bulan.
Sebetulnya pemain berposisi bek tengah tersebut sudah mendapatkan gangguan di lututnya ketika menghadapi Empoli pada 12 April lalu. Tapi saat itu Stefano Lovati, dokter tim Lazio, menyatakan jika ligamennya baik-baik saja sehingga tidak perlu dioperasi. Vrij dirasa cukup menjalani terapi saja.
Akan tetapi, ketika Serie-A 2015/2016 mulai digulirkan, ia hanya mencicipi pertandingan sampai pekan kedua saja. Kekalahan dari Chievo dengan skor 4-0 menjadi penampilan terakhir De Vrij pada 2015 ini. Lututnya semakin memburuk dan terpaksa harus naik meja operasi.
Ini kerugian sangat besar karena bek asal Belanda itu merupakan pemain paling berpengaruh atas solidnya lini belakang Lazio musim lalu. Dia adalah pemain yang paling sering melakukan intersep dengan rataan 3,4 per laga.
De Vrij pun belum dapat digantikan oleh pemain lain, termasuk Santiago Gentiletti. Bek tengah 30 tahun tersebut tidak padu berduet Mauricio ketika menggalang jantung pertahanan. Keduanya bertipikal sama yaitu sering terpancing dan terburu-buru merebut bola dari penyerang lawan.
Tidak heran jika Gentiletti sudah mengoleksi empat kartu kuning dan Mauricio lima kartu kuning plus satu kartu merah. Tentu saja pelanggaran-pelanggaran tersebut semakin memberikan peluang bagi lawan lewat situasi bola mati.
Selain De Vrij, Pioli juga dibuat pusing dengan kondisi Parolo. Gelandang ini sempat absen empat pertandingan, dari pekan ke-8 sampai 11, akibat cedera paha. Absennya Parolo membuat Pioli mempercayakan Onazi sebagai penggantinya dengan dengan perbedaan gaya bermain. Sementara Biglia diposisikan agak lebih ke depan guna mengisi tugas yang biasa diemban Parolo.
Kendati belum fit, Parolo tetap diturunkan kala menghadapi Roma pada pekan ke-12. Akibatnya, dikabarkan kalau cedera pahanya kambuh kembali. Sama seperti De Vrij, Parolo juga merupakan andalan Lazio musim lalu. Ia sangat diandalkan untuk ikut menjadi pencetak gol dari lini tengah. Pada musim lalu, ia mencetak 10 gol dan menyumbangkan dua assist.
Sialnya, bukan hanya dua pemain itu saja yang cedera. Pemain seperti Federico Marchetti, Mauricio, Biglia, Candreva, Djordjevic dan lainnya sempat secara bergantian absen karena cedera pada musim ini. Ini tentunya sangat mengganggu Pioli dalam memainkan kekuatan terbaiknya.
Memburu Para Pengganti
Untuk memperdalam skuat, terutama untuk mengantisipasi badai cedera ini, Lazio rencananya merekrut Thomas Heurtaux, bek tengah Udinese. Ia disiapkan untuk mengisi posisinya De Vrij yang tidak mampu digantikan dengan baik oleh Gentiletti. Atau bisa juga jadi justru Mauricio yang akan digeser oleh Heurtaux atau pun bek lain (yang akhirnya datang ke Stadion Olimpico).
Tentu incaran Lazio tidak cuma bek asal Prancis itu saja. Pioli pun memiliki daftar alternatif lain seperti Andrea Ranocchia yang sedang kehilangan tempat di Inter. Masalahnya, dia baru menandatangani kontrak baru dengan Inter, sehingga baru bisa dilepas jika Lazio mampu membayar minimal 6 atau 7 juta euro. Ini angka yang cukup besar bagi Lazio yang lebih suka mendapatkannya dengan status pinjaman dengan klausul pembelian. Kendala lainnya adalah Ranocchia menuntut gaji yang cukup mahal.
Maka, agaknya Lazio lebih baik kembali menaruh perhatiannya kepada Ron Vlaar yang berstatus tanpa klub dan sedang mengikuti pelatihan bersama AZ Alkmaar. Vlaar jelas bisa didatangkan secara gratis. Setidaknya ia punya pengalaman yang cukup untuk memperkuat lini belakang skuat besutan Pioli.
Hasrat Lazio kepada Ozyakup pun sepertinya belum memudar. Kegagalan merekrut Ozyakup pada bursa transfer tak menyurutkan Lazio untuk terus memburunya. Apalagi mengingat mereka terancam kehilangan Biglia dan Candreva yang terus digoda klub-klub besar dari luar Italia. Tapi perlu diingat bahwa jika seandainya Biglia dan Candreva hengkang, maka Biancoceleste pun harus mempelajari kesalahan mereka ketika melepas Hernanes.
====
* Ditulis dan dianalisis oleh @RandyNteng. Tulisan lainnya dari penulis bisa ditemui di situs @panditfootball.
*Foto-foto: Getty Images.







