Soal Chicharito yang Tajam dan Manchester United yang Tumpul
Pendukung Manchester United sebagian merasa kesal ketika melihat torehan gol Javier Hernandez jauh lebih banyak dari torehan gol mereka saat ini. Benarkah 'Setan Merah' sudah salah melepas 'Si Kacang Polong Kecil' itu?
Tepat setelah United bermain imbang 0-0 dengan West Ham United di Old Trafford, Sabtu (5/12/2015), berbagai macam catatan statistik tersaji di media sosial. Utamanya menyoroti minimnya jumlah gol yang dihasilkan oleh tim besutan Louis van Gaal tersebut.
Tidak perlu analisis mendalam untuk menyatakan bahwa United sedang tumpul. Lihat saja faktanya, di antara tim-tim empat besar, United adalah tim dengan catatan gol paling sedikit (20 gol). Tiga tim lainnya, yakni Leicester City, Arsenal, dan Manchester City, masing-masing sudah menorehkan 32, 27, dan 30 gol.
Kalaupun perlu menambah tebal rasa bersalah pemain-pemain United, mari kita simak catatan United kala menghadapi West Ham. Ada 21 percobaan untuk mencetak gol (attempts) yang ditorehkan The Red Devils, tapi hanya 1 yang on target(!). Mereka yang menyaksikan laga tersebut boleh menyebut penyelesaian akhir pemain-pemain United buruk --atau sedang sial, kalau menurut bahasanya Van Gaal.
Pertanyaan lain pun muncul: apa yang menyebabkan para pemain United itu gagal menyelesaikan sejumlah kans bagus dengan baik? Jawabannya bisa jadi soal composure (ketenangan) di depan gawang hingga, menurut Bastian Schweinsteiger, kurangnya insting membunuh. Menurut Schweinsteiger, para pemain United harus lebih pede dan punya kemauan lebih besar untuk "membunuh" lawan.
Tentu, soal minimnya gol United ini jadi perdebatan menarik. Mereka sudah mengeluarkan uang banyak dalam dua musim terakhir, namun performa tim tak kunjung mencapai level maksimal. Kalaupun ada perubahan, itu adalah soal kokohnya lini belakang dan lini tengah yang diperbarui Van Gaal lewat sistem permainannya.
Tapi, memperbaiki lini pertahanan dan lini tengah tidak akan ada artinya jika tidak mencetak gol. Sebab, bukankah sebuah pertandingan hanya bisa dimenangi dengan gol?
Inilah yang kemudian membuat pendukung United di Old Trafford gemas dan berseru "Attack! Attack! Attack!" (Meskipun sesungguhnya seruan itu tak tepat, karena United sebenarnya bermain amat ofensif dan cair. Mungkin, alih-alih berseru "Attack! Attack! Attack!", pendukung United seharusnya berteriak "Goal! Goal! Goal!").
Ya, kalau melihat pertandingan melawan West Ham kemarin, memang lebih tepat untuk mengkritisi soal minimnya jumlah gol atau akurasi penyelesaian akhir United ketimbang soal gaya main.
Lalu, muncullah catatan statistik soal gol untuk mengolok-olok United dan Van Gaal. Catatan statistik itu, yang dilansir oleh Squawka, menyebutkan bahwa United hanya mampu mencetak 10 gol di semua ajang sejak awal Oktober. Sementara itu, Javier 'Chicharito' Hernandez --penyerang yang dilepas Van Gaal ke Bayer Leverkusen pada bursa transfer musim panas-- sudah mencetak 11 gol sejak awal Oktober.
Goals in all competitions since the start of October: Man United (10) Javier Hernandez (11) pic.twitter.com/PTYQyys2oC
— Squawka Football (@Squawka) December 5, 2015
Jika melihat catatan itu, bukankah Van Gaal melakukan sebuah kebodohan?
Well, salah satu yang perlu diperhatikan ketika membaca statistik adalah pemahaman konteks. Misalnya begini: sebuah tim menorehkan penguasaan bola hingga 80%, secara kasat mata mereka memang layak disebut mendominasi pertandingan. Namun, jika arah operan pemain-pemain tim tersebut hanya ke samping dan ke belakang, serta minim membuat operan langsung ke depan, bisa dibilang dominasi mereka steril.
Kita memang bakal tergoda, tergugah, dan terkecoh dengan angka 80% tersebut. Namun, begitu memahami bahwa mayoritas operan yang dihasilkan bukanlah operan berbahaya, bayangan luar biasanya penguasaan bola itu langsung hilang.
Demikian pula dengan statistik soal Chicharito. Jumlah golnya memang membuat jumlah gol United jadi terlihat konyol, tapi itu jika tidak memperhitungkan sejumlah faktor lainnya seperti sistem dan taktik pelatih serta gaya dan kultur bermain liga.
Ambil contoh Shinji Kagawa. Ia begitu luar biasa bersama Borussia Dortmund pada dua musim pertamanya di Eropa. Kemampuannya lantas membuat Sir Alex Ferguson, yang kala itu masih menangani United, memutuskan untuk menggaetnya. Lalu, kita semua tahu, dalam dua musim penuh pertamanya bersama United, Kagawa tampil relatif bagus, tapi tidak se-luar biasa di Dortmund.
Ada sejumlah faktor, tentunya, yang membuat Kagawa menurun. Pertama, Ferguson kerap memainkannya sebagai sayap kiri. Kedua, jika pun dimainkan sebagai "nomor 10" --yang merupakan posisi terbaiknya--, Kagawa tidak mendapatkan keleluasaan yang sama seperti di Jerman. Bek-bek Premier League cenderung tidak memberinya ruang dan bakal langsung menekelnya ketika mendapatkan kesempatan. Kagawa baru bisa memunculkan kemampuan terbaiknya di Premier League ketika menghadapi tim dengan banyak rongga di lini pertahanan --contoh, ketika menghadapi Norwich City, Maret 2013, di mana Kagawa menorehkan hat-trick.
Lewat cara pandang yang sama, demikianlah seharusnya menyikapi statistik Chicharito. Jika melihat tipe pemain depan atau penyerang yang dimiliki Van Gaal, ia membutuhkan seorang penyerang yang juga bisa bergerak cair ke sisi lapangan. Ini bisa dilihat dari Anthony Martial. Sementara, Chicharito, dengan arketipe seorang poacher, lebih sering menunggu di dalam kotak penalti untuk menjadi penyelesai.
Dari situ, bisa disimpulkan bahwa Chicharito tak masuk dalam sistem yang diinginkan Van Gaal. Alasan lain mengapa ia dilepas juga bisa dilihat dari catatan golnya. Pada musim pertamanya di United, musim 2010/2011, Chicharito menorehkan 13 gol di Premier League dan total 20 gol di semua ajang dari 27 kali tampil di Premier League atau 45 kali tampil di semua ajang. Setelahnya, ia tak pernah sesubur itu lagi. Torehan golnya menurun --terutama di Premier League.
Pada musim-musim berikutnya, Chicharito menorehkan 10 gol di Premier League (12 gol secara total di semua ajang) dari total 36 kali bermain, 10 gol di Premier League (18 gol secara total) dari total 36 kali tampil, dan 4 gol di Premier League (9 gol secara total) dari total 35 kali tampil. Pada musim 2014/2015, ia dipinjamkan ke Real Madrid, di mana ia hanya menorehkan 7 gol dalam 23 penampilan di La Liga atau 9 gol dalam 33 penampilan di semua ajang.
Penurunan jumlah gol bisa jadi satu faktor dilepasnya Chicharito ke Leverkusen. Di Leverkusen, ia memang tampil luar biasa, namun tak layak untuk dijadikan alasan United untuk menyesali kepergiannya.
Kita tahu, seperti yang sudah dibahas di atas, bahwa masalah United saat ini adalah akurasi penyelesaian akhir pemain-pemainnya. Jika demikian, mengembalikan Chicharito ke tim mereka saat ini bukanlah jawaban yang tepat. Sebab, meski masih bisa mencetak gol, Chicharito punya kelemahan sering buang-buang peluang.
Musim ini, Chicharito sudah mencetak 7 gol dalam 12 penampilan di Bundesliga. Pada 6 laga di antaranya, ia tampil selama 90 menit. Dalam 12 penampilan itu, ia menorehkan total 28 attempts --14 attempts on target, 14 attempts off target. Dengan torehan 14 attempts on target dan torehan 7 gol, akurasi tembakan Chicharito hanya mencapai angka 50%.
Squawka juga melansir catatan lain: conversion rate Chicharito hanya mencapai angka 25%. Artinya, nyaris 75% sisanya ia membuang percuma kesempatan untuk mencetak gol.

Alih-alih mempertanyakan mengapa Van Gaal melepas Chicharito, lebih tepat kalau mempertanyakan mengapa ia meminjamkan James Wilson ke Brighton & Hove Albion. Selain membuat stok penyerang United menipis, Wilson juga lebih cocok di dalam sistem. Selain punya kecepatan, Wilson juga bisa bermain cair dengan bergerak ke sayap --meski jumlah golnya selama memperkuat United juga masih minim.
====
*penulis adalah wartawan detikSport, beredar di dunia maya dengan akun @Rossifinza.







