Perangi Rasisme, Pemain Tutupi Mulut Saat Bicara Kena Sanksi?

Yanu Arifin - Sepakbola
Rabu, 14 Apr 2021 20:30 WIB
TURIN, ITALY - SEPTEMBER 28:  Paulo Dybala (R) of Juventus FC speaks to Cristiano Ronaldo (L) before the Serie A match between Juventus and SPAL at Allianz Stadium on September 29, 2019 in Turin, Italy.  (Photo by Marco Luzzani/Getty Images)
Paulo Dybala menutupi mulutnya saat bicara dengan Ronaldo. Kebiasaan pesepakbola menutupi mulut saat bicara diminta dihentikan. (Foto: Marco Luzzani/Getty Images)
Strasbourg -

Ada upaya memerangi rasisme sepakbola yang belakangan merebak. Ada usul jika pemain yang menutupi mulut saat berbicara harus disanksi.

Usul itu dilontarkan Clarence Seedorf, dalam pertemuan dengan anggota Dewan Eropa di Strasbourg, Prancis. Mantan pemain Belanda itu menyoroti kasus rasisme, yang banyak merebak dari kalangan pemain sendiri.

Beberapa waktu lalu, sempat mencuat kasus dugaan rasisme di Liga Europa. Bek Slavia Praha, Ondrej Kudela, dituding mengatai pemain Rangers, Glen Kamara, dengan kata tak pantas.

Dalam insiden itu, Kudela diklaim menutup mulutnya saat mengatai Kamara. Kudela sendiri akhirnya disanksi larangan bermain satu laga di kompetisi Eropa.

Seedorf menilai, kebiasaan pesepakbola menutupi mulutnya saat bicara harus dihentikan. Demi memerangi rasisme, setiap pesepakbola diminta transparan saat bicara di lapangan.

"Ada banyak pembicaraan, tetapi tidak cukup banyak yang diselesaikan. Kebutuhannya jelas dan sangat mendesak," kata Seedorf, yang pernah membela Ajax Amsterdam, Real Madrid, dan AC Milan itu, seperti dilansir AP.

"Dari sudut pandang pemain, saya telah melihat hal-hal dengan pemain berbicara dan menutupi mulut mereka selama pertandingan. Ada beberapa situasi rasis dalam beberapa minggu atau bulan terakhir, di mana para pemain di antara mereka sendiri yang melakukan ujaran kebencian."

"Hal-hal itu dapat dengan mudah diserang dengan menerapkan beberapa aturan. Bagi saya, harus ditinggalkan berbicara dengan cara seperti itu ketika mendekati lawan.. Ketika kita berbicara tentang olahraga, itu harus benar-benar transparan, jadi mengapa saya harus menutup mulut jika saya perlu berbicara dengan musuh saya?"

"Jika saya ingin bicara dengan pelatih atau rekan satu tim, semuanya baik-baik saja. Tetapi ketika saya mendekati wasit atau pemain lain, dalam olahraga apa pun, Anda tidak diizinkan untuk menutup mulut. Itu harus berbuah sanksi, sebuah kartu kuning," ujar pemenang empat kali Liga Champions itu.

(yna/krs)