Inggris yang Selalu Lelah dan Tertekan

Rifqi Ardita Widianto - Sepakbola
Senin, 21 Jun 2021 06:30 WIB
LONDON, ENGLAND - JUNE 18: Jack Grealish of England looks dejected with team mates John Stones, Phil Foden and Tyrone Mings following the UEFA Euro 2020 Championship Group D match between England and Scotland at Wembley Stadium on June 18, 2021 in London, England. (Photo by Matt Dunham - Pool/Getty Images)
Inggris dinilai tampil mengecewakan di dua pertandingan pertama Euro 2020. (Foto: Matt Dunham - Pool/Getty Images)
Jakarta -

Inggris dinilai tak cukup meyakinkan dari dua penampilan di Euro 2020 ini. Mantan pelatih Inggris Fabio Capello menyebut dua masalah klasik tim 'Tiga Singa'.

Inggris menang tipis 1-0 atas Kroasia pada laga pertama di Grup D Euro 2020. Tim besutan Gareth Southgate itu lantas ditahan imbang 0-0 oleh Skotlandia pada partai kedua.

Sejauh ini persaingan di Grup D masih terbuka untuk semua tim. Republik Ceko dan Inggris memimpin dengan empat poin, tapi Kroasia atau Skotlandia juga masih bisa lolos langsung berbekal satu poin sejauh ini.

Bukan soal kans lolos, Fabio Capello menilai Inggris lagi-lagi belum bisa tampil meyakinkan di turnamen besar. Padahal mereka datang dengan skuad yang bagus, kombinasi pemain muda dan berpengalaman.

Dipimpin Harry Kane, Inggris punya nama-nama beken lainnya seperti Jordan Henderson, Raheem Sterling, Jadon Sancho, Phil Foden, Harry Maguire, hingga Luke Shaw. Tapi masalah klasik masih menghantui.

Inggris selalu punya tantangan fisik, mengingat punya tim-tim besarnya menjalani empat kompetisi dalam satu musim. Seperti diketahui, Inggris punya tiga kompetisi untuk di kancah domestik saja (Liga Inggris, Piala FA, dan Piala Liga Inggris), plus Liga Champions dan Liga Europa untuk tim-tim papan atas.

Situasi ini diperparah dengan kondisi pandemi, yang membuat musim 2019/2020 molor sehingga jeda menuju musim 2020/2021 begitu pendek. Ini belum bicara soal ekspektasi dan tekanan besar dari publiknya, mengingat Inggris belum pernah juara turnamen besar sejak memenangi Piala Dunia 1966.

Capello menggunakan istilah 'menggendong monyet' yang artinya mengemban beban besar, untuk menggambarkan situasi Inggris.

"Inggris mengecewakan saya, jujur saya. Mereka memainkan 20 menit yang fantastis dan kehilangan arah. Saya sudah selalu bilang, kalau Inggris main di bulan September, Oktober, atau November, mereka bisa bertarung dengan siapapun," kata Fabio Capello kepada La Gazzetta dello Sport dikutip Football Italia.

"Mereka sudah mulai kesulitan di bulan April, lalu pada bulan Juni, mereka dalam masalah. Setelah dua musim di mana kita praktis bermain berturut-turut tanpa jeda karena pandemi, tim ini tidak dalam kondisi bugar."

"Lebih dari itu, mereka merasakan tekanan dan tanggung jawab karena bertahun-tahun tak memenangi trofi penting. Ketika mereka mencapai turnamen ini, mereka merasakan ada 'monyet' ini di punggung mereka," imbuh pelatih Inggris periode 2007-2012 ini.



Simak Video "Kerumunan Suporter Inggris Jelang Final Euro 2020"
[Gambas:Video 20detik]
(raw/bay)