sepakbola
Follow detikSport Follow Linkedin
Sabtu, 24 Okt 2020 17:45 WIB

Kevin Diks: Pemain Berdarah Maluku yang Mau Bela Timnas Indonesia

Muhammad Robbani - detikSport
EMPOLI, ITALY - FEBRUARY 13: Kevin Diks of Empoli FC during training session on February 13, 2019 in Empoli, Italy.  (Photo by Gabriele Maltinti/Getty Images) Kevin Diks: Pemain Berdarah Maluku yang Mau Bela Timnas Indonesia (Getty Images/Gabriele Maltinti)

Kevin, PSSI mengatakan bahwa mereka telah mengontak anda melalui agen anda, apakah itu benar?

Ya benar, mereka sudah kontak agen saya 2-3 bulan lalu. Mereka mengatakan akan kembali mengontak dalam tempo satu pekan, tapi sampai sekarang belum dikontak lagi. Agak membingungkan. Saya masih menunggu. Agen saya sempat bertanya dan mereka (PSSI) mengatakan sedang sibuk. Sampai saat ini saya belum mendengar kabar dari mereka lagi setelah itu. Berita tentang saya sudah terlalu menyebar. Ya mereka yang pertama kali mengontak saya karena tertarik untuk menaturalisasi saya.

PSSI sudah membuat pernyataan bahwa mereka sudah tak mau menaturalisasi anda karena cuma mau menaturalisasi pemain muda. Bagaimana tanggapan anda soal hal itu?

Tentu itu yang mereka katakan. Tetapi, jika ada kesempatan silakan kontak saya. Saya tak tahu apa yang mereka pikirkan dan kenapa tak mengontak saya lagi. Saya mengerti jika mereka cuma mau menaturalisasi pemain muda, tapi sejujurnya saya juga masih muda, masih 24 tahun. Jika mau menaturalisasi saya masih muda, tapi saya mengerti tentang keinginan mereka menaturalisasi pemain muda.

Jika anda masih berkeinginan untuk memperkuat Timnas Indonesia, apa langkah yang akan anda lakukan untuk meyakinkan PSSI? Mungkin kah akan melakukan pendekatan ke mereka?

Sekarang saya masih cedera, masih fokus masalah cedera ini meski cuma cedera kecil. Saya masih punya keinginan karena Indonesia bisa saya bela, saya masih percaya masih ada kesempatan. Jika Indonesia mau mereka harus datang ke saya karena memang seharusnya begitu. Terserah mereka, bukan saya yang harus melakukan pendekatan.

EMPOLI, ITALY - FEBRUARY 13: Kevin Diks of Empoli FC during training session on February 13, 2019 in Empoli, Italy.  (Photo by Gabriele Maltinti/Getty Images)Kevin Diks (kanan) kala memperkuat Timnas Belanda U-21 (Getty Images/Gabriele Maltinti)

PSSI juga mengatakan bahwa anda sudah tak mungkin dinaturalisasi karena pernah membela Timnas Belanda U-21. Dalam Statuta FIFA terbaru disebutkan bahwa pemain yang sudah lebih dari 21 tahun saat membela Timnas lamanya, tak bisa membela asosiasi (Timnas) lain. Anda sudah mempelajari aturan terbaru ini?

Kami tahu aturan itu tentu saja, tapi saya juga melihat ada beberapa kasus serupa di seluruh dunia. Pemain (Belanda) keturunan Suriname juga ada yang bermasalah seperti itu. Tapi dalam kasus saya, saya cuma main kualifikasi (bersama Belanda U-21). Aneh kalau kondisi seperti itu tak bisa pindah negara, meski saya main sudah lebih dari 21 tahun, entah itu 22 atau 23 tahun, seharusnya itu tak dihitung (tetap dianggap 21 tahun).

Jadi seharusnya tetap bisa pindah negara. FIFA baru saja mengubah aturan itu karena ada banyak kasus seperti ini di banyak negara. Saya pun sudah dua tahun lebih tak main lagi (buat Belanda U-21). Saya tahu regulasi dua tahun lalu memungkinkan pemain masih bisa pindah negara meski sudah main untuk tim senior. Jadi saya masih punya kesempatan memperkuat Indonesia. Regulasinya memang sedikit sulit tapi jika PSSI benar-benar mau, mungkin bisa. regulasi sekarang memang sulit, tapi regulasi juga bisa berubah di lain waktu.

Munir El Haddadi adalah pemain dengan kasus paling serupa dengan anda. Ia tak bisa pindah ke Maroko karena pernah bermain di usia lebih dari 21 tahun ketika terakhir kali membela Timnas Spanyol U-21. Mengikuti berita ini juga?

Itu (Munir) kasus yang paling serupa dengan saya, dia pernah main buat tim utama spanyol. Bahkan dia sudah lebih dari 21 tahun saat main buat Spanyol U-21. Lihat dia, sekarang dia bisa main untuk Maroko.

Jika federasi (PSSI) benar-benar ingin menaturalisasi begitu banyak pemain (keturunan) yang tersedia seperti saya atau Sandy Walsh, saya pikir ini hanya masalah niat dan keinginan untuk mencoba. Indonesia banyak pemain punya keturunan yang mau main dan bangga untuk memperkuat Indonesia.

Bisa bahasa Indonesia?

Saya belum bisa bahasa Indonesia. Paling 'aku cinta kamu, selamat makan, selamat tidur'. Nenek dan kakek saya mengajarkan saya di kampung dulu. Saya juga tahu beberapa lagu Indonesia. Tapi saya tak mau menyanyikannya sekarang hahahaha.

Pernah ke Indonesia?

Pernah ke Indonesia dua kali, salah satunya ke tempat yang dekat dengan Ambon, yang terakhir saya ke Raja Ampat, saya juga pernah ke bali Pulau Gili, dan tentu saja Jakarta. Saya akan datang kembali saat situasi COVID-19 sudah membaik. Mungkin musim panas (pertengahan tahun) selanjutnya (2021).

EMPOLI, ITALY - FEBRUARY 13: Kevin Diks of Empoli FC during training session on February 13, 2019 in Empoli, Italy.  (Photo by Gabriele Maltinti/Getty Images)Kevin Diks (Getty Images/Gabriele Maltinti)

Melihat kasus Munir, sepertinya peluang anda sudah tertutup untuk bergabung ke Indonesia karena aturan terbaru FIFA. Bagaimana respons anda?

Saya pikir peluang saya pindah ke Indonesia belum tertutup. Mereka (FIFA) beberapa kali mengubah aturan, mungkin 3-4 atau 5 tahun lalu, pemain bisa pindah negara jika belum main untuk tim senior. Aturan ini diubah dan diubah lagi setiap saat. Coba lihat Munir, sekarang dia sudah bisa main buat Timnas Maroko. Bagi saya itu contoh yang paling serupa dengan saya, saya pikir itu masih mungkin jika mereka (PSSI) mau, bisa saja, harus berkorban waktu. Munir contoh kasus serupa.

PSSI pun sepertinya tak tertarik menaturalisasi pemain di atas 20 tahun. Sandy Walsh yang sampai sekarang belum terdengar infornya untuk dinaturalisasi?

Saya berkomunikasi dengan Sandy tiga hari lalu, dia bilang masih kontak dengan PSSI. Dia punya masalah yang sama. Kami bicara, bagi kami ini adalah mimpi (memperkuat Indonesia). Ini bukan soal ketertarikan (PSSI) tetapi prosesnya memang sulit, ini masalah sulit tapi mungkin juga masih bisa kalau melihat kasus Munir, saya masih bisa. Bukan Sandy atau saya yang yang harus melakukan pendekatan, tapi PSSI yang melakukan prosesnya. Bukan saya yang harus datang ke PSSI. Kami berdua tertarik. Kami menunggu apa yang akan terjadi.

Kamu masih punya kesempatan untuk dipanggil Belanda lagi di masa depan. Kenapa mau membela Indonesia?

Saya sudah bicara tentang ini di wawancara sebelumnya, saya terbuka untuk kedua negara (Belanda dan Indonesia). Jelas Belanda punya banyak pemain bintang. Tapi saya pikir saya masih punya potensi buat main buat Belanda lagi. Dua tahun lalu saya hampir main buat Belanda tapi cedera. Tapi ini (memperkuat Indonesia) soal kebanggaan, saya mau bawa Indonesia ke peta sepakbola dunia, dari saya atau Sandy Walsh yang bermain di Eropa. Saya rasa itu bukan sesuatu yang harus saya putuskan sekarang, karena sejak tiga bulan lalu tak ada kontak lagi (dengan PSSI) ke agen saya. Tapi saya sangat terbuka untuk berdiskusi (dengan PSSI) tapi rasanya dari secara regulasi FIFA, masih memungkinkan.

Sudah bicara dengan pemain keturunan lain yang mau main buat Indonesia?

Saya bicara ke Marc Klok. Melvin Platje juga, meski dia bukan Indonesia. tapi saya juga bicara dengan dia. Melvin bertanya, saya bilang masih menantikan PSSI. Wiljan Pluim juga bicara ke saya.

Saya pernah mengunjungi Marc Klok ketika datang ke Indonesia, saya bicara ke Marc Klok yang sebentar lagi akan menjadi WNI. Saya tertarik untuk memperkuat negara dari roots (asal) saya. Saya pikir dia (Marc Klok) bangga. Saya mau memperkuat roots saya yang datang dari nenek dan kakek saya. Bukan saya yang memutuskan, tapi PSSI.

Apa aktivitas terdekat bersama klub?

Dalam waktu dekat hari Minggu ini klub saya akan melawan Kopenhagen (FC Copenhagen), musim lalu kami main tiga kali dan menang tiga kali lawan mereka. Saya juga mencetak gol di sana di kandang mereka. Sekarang kondisi saya hampir fit 80 persen. Saya tak tahu apakah akan main, tapi saya yakin sudah semakin dekat untuk pulih dan mencapai level top saya lagi.

Fans Indonesia penasaran, kalau anda jadi WNI, masih akan main di Eropa atau main di Indonesia?

Ambisi saya tetap main di Eropa. Di masa depan kalau 30 tahun mungkin akan mulai berpikir main di Indonesia. Jika saya jadi WNI akan masih main di Eropa.

Halaman
1 2 Tampilkan Semua

(aff/aff)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detiksepakbola.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com