Tribun 12, Saksi Bisu Mencekam Tragedi Kanjuruhan

ADVERTISEMENT

Tribun 12, Saksi Bisu Mencekam Tragedi Kanjuruhan

Jemmi Purwodianto - Sepakbola
Senin, 03 Okt 2022 12:04 WIB
Suporter Arema FC memasuki lapangan setelah tim yang didukungnya kalah dari Persebaya dalam pertandingan sepak bola BRI Liga 1 di Stadion Kanjuruhan, Malang, Sabtu (1/10/2022). ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto/tom.
Foto: ANTARA FOTO/ARI BOWO SUCIPTO
Jakarta -

Tribun 12 jadi salah satu saksi bisu mencekam Tragedi Kanjuruhan setelah laga Arema FC vs Persebaya. Banyak suporter sesak nafas dan pingsan akibat dihujani gas air mata.

Arema FC kalah dari Persebaya Surabaya 2-3 dalam laga Derby Jawa Timur pada lanjutan Liga 1 di Stadion Kanjuruhan, Malang, Sabtu (1/10/2022). Suporter tuan rumah yang tak terima kekalahan tim kesayangannya mengamuk selepas laga.

Para suporter masuk ke lapangan, situasi selanjutnya tidak terkendalikan. Pihak kepolisian sampai akhirnya melepas gas air mata, kemudian para penonton berdesak-desakan keluar. Di situlah bencana Tragedi Kanjuruhan terjadi.

Banyak suporter yang meninggal dunia akibat sesak nafas dan terhimpit. Kepanikan melanda mereka yang berdesakkan untuk keluar dari stadion.

Aremania (sebutan untuk fans Arema FC) bernama Muhammad Reko Septiyan (19) asal Manyar, Gresik termasuk yang menjadi korban luka Tragedi Kanjuruhan. Tulang kaki kirinya patah karena terinjak-injak sehingga harus menjalani operasi di salah satu rumah sakit di Malang.

Faisol, ayah Reko menceritakan kepada detikJatim, soal pengakuan kawan-kawan anaknya yang turut terjebak di tribun 12 Stadion Kanjuruhan. Tempat di mana gas air mata menghujani mereka.

"Menurut cerita teman-teman anak saya, saat kerusuhan terjadi polisi menembakkan beberapa kali gas air mata. Salah satunya ke tribun 12, tempat anak saya menonton pertandingan," kata Faisol, Minggu (2/10/2022).

Setelah gas air mata itu ditembakkan, banyak penonton yang pingsan karena sesak napas. Pekatnya asap gas air mata membuat penonton lain panik dan berdesakan mencari jalan keluar. Belum lagi, banyak penonton yang pingsan.

"Padahal yang ada di tribun itu, kan, aman-aman saja harusnya. Yang ramai, kan, di lapangan. Tapi kok yang di tribun juga ditembak gas air mata? Banyak yang pingsan karena sesak napas itu," tambah Faisal.

Saat penonton berupaya berlari menuju ke pintu keluar untuk mengambil napas, mereka berdesakan hingga saling dorong. Ada yang terjatuh hingga terinjak dan tertindih. Belum lagi, pintu keluar itu ternyata dalam keadaan terkunci.

"Jadi pintu keluar itu dalam keadaan terkunci. Membuat orang-orang itu jatuh, terinjak-injak hingga tertindih penonton lain. Itu yang membuat banyak korban meninggal. Ada yang kepalanya berdarah karena desakan hingga terbentur," tutup Faisol.

Artikel ini telah tayang di detikJatim. Silakan baca selengkapnya di sini.

(aff/rin)

ADVERTISEMENT