PSSI Bantah Miskomunikasi dengan Polri soal Aturan di Kanjuruhan

ADVERTISEMENT

PSSI Bantah Miskomunikasi dengan Polri soal Aturan di Kanjuruhan

Mercy Raya - Sepakbola
Kamis, 06 Okt 2022 18:54 WIB
Iwan Budianto
Iwan Budianto (tengah) (Foto: (Muhammad Robbani/detikSport)
Jakarta -

PSSI membantah adanya miskomunikasi dengan kepolisian terkait Tragedi Kanjuruhan. Hal itu dipertegas Wakil Ketua Umum PSSI Iwan Budianto usai melakukan rapat dengan Menpora Zainudin Amali dan stakeholder terkait di Wisma Kemenpora, pada Kamis (6/10/2022).

"Enggak saya enggak menganggap itu miskomunikasi. Ini musibah. Kita sedang melakukan evaluasi sekarang, hari ini juga kita melakukan evaluasi," kata Iwan, yang didampingi Sekretaris Jenderal PSSI Yunus Nusi.

Seperti diketahui, pertemuan antara Kemenpora, PSSI, Polri, dan kementerian terkait, serta perwakilan stakeholder ialah membahas tentang aturan dan penyelerasan antara tiap-tiap elemen terkait pelaksanaan pertandingan. Hal ii dilakukan agar tak terjadi lagi kasus serupa di Stadion Kanjuruhan yang menelan 131 korban jiwa.

Tak sedikit yang meyakini, bahwa Tragedi Kanjuruhan pecah salah satu penyebabnya terjadi karena aparat keamanan menggunakan gas air mata dalam mengatasi kericuhan. Padahal jelas-jelas hal itu dilarang oleh FIFA dan tertuang FIFA Stadium Safety and Security Regulations, penggunaan gas air mata sebenarnya dilarang.

Pada pasal 19 b) tertulis, 'No firearms or "crowd control gas" shall be carried or used' atau bisa diartikan 'senjata api atau gas untuk mengontrol kerumunan dilarang dibawa serta digunakan.

Lantas kenapa baru sekarang sosialisasi kepada pihak-pihak terkait, khususnya kepada kepolisian dilakukan? Soal itu, Iwan memberikan penjelasannya.

"Apa yang diatur oleh FIFA itu kan susah kita laksanakan 100 persen di sini. Seperti contoh paling simple saja, stadion. Di Eropa itu semua klub itu mempunyai stadionnya masing-masing. Sementara di sini, itu tadi juga ditanyakan oleh Pak Menteri kepada 18 klub, 'ada tidak yang punya stadion sendiri? Ndak ada. Klub di sini meminjam," kata Iwan.

"Di sana yang namanya aparat keamanan Panpel itu adalah steward, itu pegawainya klub tersebut yang digaji setiap bulan dan tugasnya memang untuk mengamankan sebuah pertandingan. Tetapi di Indonesia karena keterbatasan kepemilikan tadi sekaligus keterbatasan untuk personelnya, maka panitia pelaksana pertandingan di 18 klub liga di Indonesia itu meminta bantuan, meminta perkuatan dari kepolisian."

"Nah, itu yang membedakan sehingga masing masing akhirnya mempunyai aturannya sendiri-sendiri dan itu menjadi hak masing-masing. Sekali lagi, kita bersedih dengan kejadian ini, tapi bersyukur dengan kejadian ini terbuka ruang untuk kita mengawinkan antara aturan tadi dengan aturan yang ada di Republik ini," ujarnya.

(mcy/aff)

ADVERTISEMENT