sepakbola
Follow detikSport Follow Linkedin
Selasa, 28 Jul 2020 11:40 WIB

Akuisisi Newcastle United Belum Kelar, Malah Ada Masalah Baru

Adhi Prasetya - detikSport
NEWCASTLE UPON TYNE, ENGLAND - JULY 26: Newcastle United players celebrate their teams first goal during the Premier League match between Newcastle United and Liverpool FC at St. James Park on July 26, 2020 in Newcastle upon Tyne, England. Football Stadiums around Europe remain empty due to the Coronavirus Pandemic as Government social distancing laws prohibit fans inside venues resulting in all fixtures being played behind closed doors. (Photo by Jan Kruger/Getty Images ) Proses pembelian Newcastle masih belum tuntas. Foto: Getty Images/Jan Kruger
Newcastle upon Tyne -

Proses akuisisi Newcastle United oleh konsorsium Arab Saudi masih belum selesai. Rupanya, muncul masalah baru.

Sudah sekitar empat bulan berlalu sejak proses ambil alih dimulai. PCP Capital Partners pimpinan Amanda Staveley lewat sokongan Public Investment Fund (PIF) Arab Saudi mengajukan penawaran sebesar 300 juta Pound kepada pemilik lama, Mike Ashley.

Sejauh ini, proses akuisisi terhambat di sesi uji kelayakan pemilik oleh Premier League. Tuduhan pelanggaran hak siar dan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) kepada pemerintah Arab Saudi menjadi sebab utamanya.

Belakangan, ada masalah baru lainnya. Diberitakan BBC, Selasa (28/7/2020), proses takeover ini mengalami penundaan karena belum adanya kejelasan siapa yang akan menjadi pengambil keputusan dalam klub, seandainya proses akuisisi direstui.

Proses pengajuan pembelian dilakukan oleh PCP Capital Partners, namun PIF akan mengambil 80 persen saham, mengingat mereka menjadi penyokong dana. Premier League perlu tahu sejak awal, siapa sebenarnya bos baru Newcastle United nantinya.

Premier League juga masih mencari koneksi yang jelas antara pemerintah Arab Saudi dengan PIF, yang dipimpin oleh Pangeran Mohammed bin Salman. Sebab, kabarnya putra mahkota Arab Saudi itu tak terlibat langsung dalam keberjalanan organisasi sehari-hari.

Andai tak terlibat langsung, maka tudingan terkait pelanggaran hak siar dan pelanggaran HAM yang dilakukan pemerintah Arab Saudi bisa dicoret dari daftar masalah yang menghambat proses akuisisi.

Seperti diketahui, siaran Premier League di Timur Tengah dimonopoli oleh beIN Sports kepunyaan Qatar. Namun laporan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) menyebut siaran acara olahraga di Arab Saudi telah diserobot secara ilegal oleh BeoutQ dan dibantu oleh pemerintah.

Lalu kasus dipenjarakannya sejumlah aktivis HAM oleh pemerintah Arab Saudi serta kasus terbunuhnya wartawan Jamal Khashoggi di kedubes Arab Saudi di Turki pada 2018 lalu juga membuat proses jual beli Newcastle makin rumit.

Andai konsorsium Arab Saudi batal membeli, Newcastle mungkin tak kesulitan mencari pengganti. Sebab, miliarder asal Amerika Serikat, Henry Mauriss, dikabarkan siap menikung dengan harga lebih mahal, yakni 350 juta Pound.

Manajer Newcastle United, Steve Bruce, mendesak agar proses ini bisa segera diselesaikan. Apalagi, musim baru Liga Inggris akan dimulai 12 September, kurang dari 2 bulan lagi.

"Klub butuh kejelasan, kami semua juga butuh, jadi mari berharap dalam beberapa hari atau minggu ke depan kami bisa memperolehnya," kata Bruce seusai laga melawan Liverpool, Minggu (26/7).

"Kalaupun batal, kami juga perlu tahu jadi segalanya bisa kembali normal," jelasnya.



Simak Video "Tottenham Diimbangi Newcastle 1-1"
[Gambas:Video 20detik]
(adp/krs)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detiksepakbola.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com