Dosa Apa Donny van de Beek, Kai Havertz, dan Thiago?

Afif Farhan - Sepakbola
Selasa, 16 Feb 2021 22:15 WIB
MANCHESTER, ENGLAND - NOVEMBER 21: Donny Van De Beek of Manchester United looks on with the Nike Flight Hi-Vis match ball during the Premier League match between Manchester United and West Bromwich Albion at Old Trafford on November 21, 2020 in Manchester, England. Sporting stadiums around the UK remain under strict restrictions due to the Coronavirus Pandemic as Government social distancing laws prohibit fans inside venues resulting in games being played behind closed doors. (Photo by Alex Livesey/Getty Images)
Dosa Apa Donny van de Beek, Kai Havertz, dan Thiago? (Getty Images/Alex Livesey)
London -

Donny van de Beek, Kai Havertz, dan Thiago adalah pendatang baru di Liga Inggris. Di klub-klub sebelumnya menjanjikan, tapi mengapa sekarang malah meredup?

Donny van de Beek dibeli Manchester United dari Ajax Amsterdam seharga 39 juta euro atau setara Rp 661 miliar. Thiago Alcantara dibeli Liverpool dari Bayern Munich seharga 22 juta euro atau setara Rp 373 miliar. Kai Havertz lebih mahal harganya, dibeli Chelsea dari Bayer Leverkusen seharga 80 juta euro atau setara Rp 1,3 triliun.

Mereka bertiga bersinar terang bersama klubnya masing-masing di musim lalu. Donny van de Beek menjelma jadi jendral lapangan di lini tengah yang menjanjikan, Kai Havertz masuk jajaran pemain muda terbaik di Bundesliga, dan Thiago mencicipi titel juara Liga Champions.

Sayangnya musim ini kala ketiganya bermain di Liga Inggris, mereka masih meredup. Belum ada penampilan ciamik dan gol-gol atau assist yang dilahirkan, malah kebanyakan cuma menghiasi bangku cadangan.

Padahal sejatinya, mereka bertiga dinilai bertalenta. Seharusnya tidak butuh waktu lama bagi mereka, untuk bisa nyetel di liga yang baru.

Tapi harusnya kita ingat, kalau Donny van de Beek, Kai Havertz, dan Thiago Alcantara cuma manusia biasa.

Dilansir dari Mirror, para pundit sepakbola di Inggris percaya kalau Donny van de Beek, Kai Havertz, dan Thiago Alcantara punya masalah yang sama. Terutama adalah kurangnya sesi pramusim.

Akibat pandemi virus Corona, kompetisi memang sudah jumpalitan di akhir musim lalu. Sempat ditangguhkan, lalu langsung tancap gas untuk menyambung ke musim 2020/2021.

Tidak ada sesi pramusim seperti yang sudah-sudah. Jadilah, mereka bertiga tidak punya banyak waktu untuk beradaptasi dengan gaya permainan Liga Inggris.

Jangankan itu, beradaptasi sama permainan tim sendiri juga masih susah. Waktunya tidak banyak, tapi lonceng sudah dibunyikan untuk bermain.

"Saya cuma punya waktu lima dan enam hari, lalu memainkan pertandingan pertama," kata Kai Havertz di bulan Oktober lalu.

LONDON, ENGLAND - DECEMBER 08:  Kai Havertz of Chelsea during the UEFA Champions League Group E stage match between Chelsea FC and FC Krasnodar at Stamford Bridge on December 08, 2020 in London, England. A limited number of fans (2000) are welcomed back to stadiums to watch elite football across England. This was following easing of restrictions on spectators in tiers one and two areas only. (Photo by Catherine Ivill/Getty Images)Kai Havertz Foto: Getty Images/Catherine Ivill

Kai Havertz seolah dipaksakan untuk bermain. Harganya yang tinggi, membuatnya dibebani ekspektasi tinggi sebagai pemain Chelsea.

Hal buruk terjadi, Havertz mandek di lapangan. Sempat bikin gol, lalu tiba-tiba 'menghilang'. Sehingga di masa Thomas Tuchel, Havertz diberi waktu sendiri untuk bisa menenangkan mentalnya.

Donny van de Beek juga setali tiga uang. Sempat bikin gol di pertandingan pertamanya, setelahnya lebih banyak dibangkucadangkan. Tak ayal, van de Beek belum mampu menggeser Bruno Fernandes dan Paul Pogba dari skuad utama.

Apalagi, Ole Gunnar Solskjaer seolah tidak mau berjudi. Maka Solskjaer tutup kuping, enggan menanggapi suara-suara fans Manchester United yang meminta van de Beek diberi waktu bermain lebih.

Kini sementara di klasemen Liga Inggris, buktinya Setan Merah mampu tuh bercokol di peringkat kedua. Maka para fans pun seolah memahami dan ngomong lirih dalam hati, 'yang sabar ya van de Beek'.

Manchester United's Donny van der Beek walks on the pitch during the English FA Cup 5th round soccer match between Manchester United and West Ham United at Old Trafford in Manchester, England, Tuesday, Feb. 9, 2021. (Martin Rickett/Pool via AP)Donny van de Beek (AP/Martin Rickett)

Thiago Alcantara usianya lebih matang dibanding Donny van de Beek (23 tahun) dan Kai Havertz (21) tahun. Thiago sudah berusia 29 tahun dan sudah lebih berpengalaman pernah mengarungi Liga Spanyol dan Bundesliga.

Tapi nyatanya, Thiago butuh waktu juga. Thiago yang biasa lama-lama menguasai bola dan bermain elegan, mau tak mau harus menerima kerasnya tekel dan ketatnya tekanan lawan di Liga Inggris.

Apalagi, Liverpool juga dihantam badai cedera sehingga punggawa di tengah yakni Jordan Henderson dan Fabinho sampai harus ditarik ke bekangang menjadi bek. Thiago pun dirasa terlalu dini untuk langsung sendirian menjadi otak permainan Liverpool.

LEICESTER, ENGLAND - FEBRUARY 13: Thiago Alcantara of Liverpool looks on during the Premier League match between Leicester City and Liverpool at The King Power Stadium on February 13, 2021 in Leicester, England. Sporting stadiums around the UK remain under strict restrictions due to the Coronavirus Pandemic as Government social distancing laws prohibit fans inside venues resulting in games being played behind closed doors. (Photo by Michael Regan/Getty Images)Thiago Alcantara (Getty Images/Michael Regan)

Lockdown di Inggris juga membuat Donny van de Beek, Kai Havertz, dan Thiago Alcantara belum terlalu mengenal kota-kota barunya mereka. Plus, belum bisa main ke rumah rekan-rekan setim untuk lebih saling mengenal dan dapat kisi-kisi.

Maka musim ini, bisa dibilang bukan musimnya mereka bertiga. Tinggal menanti, apakah musim depan sudah terlihat sinarnya atau kembali 'menyalahkan' waktu.

(aff/krs)