Newcastle United Dibeli Arab Saudi, Klopp Semprot Premier League!

Yanu Arifin - Sepakbola
Jumat, 15 Okt 2021 22:00 WIB
Liverpools manager Jurgen Klopp celebrates at the end of the English Premier League soccer match between Liverpool and Southampton at Anfield stadium in Liverpool, England, Saturday, May 8, 2021. (Phil Noble/Pool via AP)
Manajer Liverpool, Juergen Klopp. (Foto: Phil Noble/AP)
Liverpool -

Juergen Klopp menyoroti akuisisi Newcastle United oleh pihak Arab Saudi. Manajer Liverpool itu menyemprot Premier League karena seolah bungkam.

Newcastle United resmi ganti pemilik. Mike Ashley melepas 100 persen sahamnya ke konsorsium yang terdiri dari Public Investment Fund (PIF), Amanda Staveley, dan the Reuben Brothers.

Sorotan tertuju kepada PIF, yang mana merupakan lembaga penghimpun kekayaan negara Arab Saudi. PIF sendiri dikepalai Pangeran Mohammed bin Salman, putra mahkota Arab Saudi.

Nah, Pangeran Mohammed bin Salman sendiri sempat tersandung kasus pelanggaran Hak Asasi (HAM) berat. Ia diduga terlibat langsung pembunuhan jurnalis Washington Post, Jamal Khashoggi, pada 2018.

Pelanggaran HAM itu yang membuat proses akusisi Newcastle ditentang. Sebab, hal itu bertentangan dengan prinsip Premier League.

Banyak pihak, dari pengamat hingga organisasi seperti Amnesty International, mengecam pembelian Newcastle United. Hal itu yang disoroti Juergen Klopp. Manajer Liverpool itu menyayangkan Premier League seolah tak ambil sikap terkait masalah itu.

"Saya sedang menunggu beberapa pernyataan resmi tentang hal itu dari Richard Masters [CEO Premier League] atau seseorang. Kita semua tahu jelas ada beberapa kekhawatiran tentang masalah hak asasi manusia. Itu jelas. Kami semua berpikiran sama. Dan itu [hadirnya pernyataan] tidak terjadi," kata Klopp, dilansir Guardian.

"Apa artinya bagi sepakbola? Beberapa bulan yang lalu kami punya masalah untuk seluruh dunia sepakbola, dengan 12 klub mencoba membangun Liga Super. Benar begitu. Itu tidak terjadi, tetapi ini semacam menciptakan tim super jika Anda mau. Ini hampir sama, dijamin tempat di Liga Champions dalam beberapa tahun ke depan. Financial fair play yang ada saat ini, tidak ada yang tahu persis apakah masih ada atau tidak."

"Penggemar Newcastle akan menyukainya, tetapi bagi kami itu berarti ada kekuatan super baru di Newcastle. Kami tidak bisa menghindarinya. Uang tidak dapat membeli segalanya, tetapi seiring waktu mereka akan memiliki cukup uang untuk membuat beberapa keputusan yang salah, kemudian bikin keputusan benar, dan kemudian mereka akan berada di tempat yang mereka inginkan dalam jangka panjang. Semua orang tahu itu, dan jelas Liga Premier, Richard Masters, berpikir, Ya, mari kita coba."

"Sejauh yang saya tahu, itu klub ketiga yang dimiliki negara. Saya tidak yakin berapa banyak negara di luar sana yang memiliki kekuatan finansial dan minat melakukannya, tetapi beginilah adanya, dan inilah yang harus kami hadapi," ujarnya.

(yna/cas)