Gabung European Super League Tak Menjamin Finansial Klub Akan Aman

Adhi Prasetya - Sepakbola
Rabu, 21 Apr 2021 06:30 WIB
LEEDS, ENGLAND - APRIL 19: Fans hold up a banner in protest against the European Super League outside the stadium prior to the Premier League match between Leeds United and Liverpool at Elland Road on April 19, 2021 in Leeds, England. Sporting stadiums around the UK remain under strict restrictions due to the Coronavirus Pandemic as Government social distancing laws prohibit fans inside venues resulting in games being played behind closed doors.  (Photo by Clive Brunskill/Getty Images)
Salah satu bentuk protes soal European Super League. Foto: Getty Images/Clive Brunskill
Jakarta -

European Super League diyakini akan memperbaiki finansial klub-klub besar Eropa yang terimbas oleh pandemi COVID-19. Namun CEO Bayern Munich Karl-Heinz Rummenigge tak sependapat dengan itu.

Kondisi finansial klub-klub besar Eropa memang terkena imbas pandemi COVID-19. Pengeluaran yang tetap besar, namun tak diimbangi dengan pemasukan yang setimpal membuat keuangan mereka morat-marit.

Barcelona terpaksa memangkas gaji pemainnya besar-besaran. Inter Milan dilaporkan sempat menunggak gaji pemain. Kontrak Sergio Ramos di Real Madrid tak kunjung diperpanjang karena El Real tak siap menaikkan gajinya.

Contoh-contoh di atas menjelaskan para raksasa Eropa tengah kesulitan. Model bisnis yang mereka jalankan terancam menjadi bumerang. Oleh sebab itu, sumber dana baru harus ditemukan, dan European Super League tampak menjadi jalan keluar.

JPMorgan sudah siap mendanai kompetisi elite ini. Tak tanggung-tanggung, jumlah sebesar 4 miliar Dolar (sekitar Rp 60 triliun) rencananya akan dikucurkan. Itu belum termasuk pendapatan hak siar dan dari sponsor lainnya.

Juara European Super League pun kabarnya akan mendapat hadiah sebesar 7 triliun. Tak heran bila klub-klub besar mau ikut serta. Mereka merasa pendapatan dari Liga Champions dan kompetisi domestik tak lagi cukup untuk menyelamatkan keuangan klub.

Tak cuma itu, nantinya mereka akan bisa membangun skuad yang lebih kuat dan stabil, sehingga bisa kembali meraih prestasi dan ujung-ujungnya pemasukan akan bertambah lebih besar.

Hal ini tak sejalan dengan pemikiran Rummenigge. Buatnya, aliran uang yang masuk tak serta-merta akan menyelamatkan klub. Jika model bisnis yang dijalankan tetap boros seperti dulu, maka uang yang didapat tak akan pernah cukup.

MUNICH, GERMANY - OCTOBER 21: Karl-Heinz Rummenigge, CEO of FC Bayern M√ľnchen looks on prior to the UEFA Champions League Group A stage match between FC Bayern Muenchen and Atletico Madrid at Allianz Arena on October 21, 2020 in Munich, Germany. (Photo by Alexander Hassenstein/Getty Images)CEO Bayern, Karl-Heinz Rummenigge. Foto: Getty Images/Alexander Hassenstein

"Saya dengar rumor kalau mereka (peserta European Super League) punya masalah finansial. Potensi pendapatannya tampak sangat besar, namun tak akan menyelesaikan masalah keuangan dalam jangka panjang," kata Rummenigge kepada Il Corriere della Sera.

"Kamu tak bisa terus mengeksploitasi pendapatan untuk menyeimbangkan besarnya pengeluaran," jelas eks pemain Timnas Jerman itu.

Kini, kelanjutan nasib European Super League menjadi tanda tanya. Klub-klub Inggris telah sepakat menarik diri dari keikutsertaan pada Rabu (21/4) pagi WIB, dan tak tertutup kemungkinan disusul oleh tim-tim dari Spanyol dan Italia.

(adp/nds)