UEFA Terus Ancam Madrid, Barca, Juve, dan Milan

Randy Prasatya - Sepakbola
Sabtu, 24 Apr 2021 09:30 WIB
Real Madrids Toni Kroos, right, celebrates with teammates after scoring theirs side second goal during the Spanish La Liga soccer match between Real Madrid and FC Barcelona at the Alfredo di Stefano stadium in Madrid, Spain, Saturday, April 10, 2021. (AP Photo/Manu Fernandez)
UEFA mau hukum klub-klub yang belum menyatakan mundur dari European Super League. (Foto: AP/Manu Fernandez)
Jakarta -

Masih ada Real Madrid, Barcelona, Juventus, dan AC Milan yang belum menyatakan cabut dari proyek European Super League. UEFA pun terus menebar ancamannya.

Kontestan European Super League makin menipis seiring pernyataan tegas kontestan asal Inggris untuk mundur. Chelsea, Manchester United, Liverpool, Arsenal, Manchester City, dan Tottenham Hotspur tak jadi ambil bagian buntut dari protes fans dan intervensi pemerintah setempat.

Di Italia, ada Inter Milan yang sudah tegas menyatakan mundur dalam keterangan persnya. Atletico Madrid dari Spanyol juga tegas untuk mundur dalam pernyataan resmi klub.

Mundurnya delapan kontestan itu tak lepas dari ancaman FIFA dan UEFA, yang melarang klub dan pemain tampil di ajang naungannya. Ada pula desakan suporter dan federasi negara setempat.

Madrid, Barca, Juve, dan Milan menjadi klub yang sampai saat ini belum juga mau menyatakan mundur. Empat klub tersebut malah masih yakin bisa menjalani European Super League karena mereka yang sudah angkat kaki belum menyelesaikan syarat sah keluar.

Melihat hal ini, UEFA malah menekan Madrid, Barca, Juve, dan Milan. Klub-klub tersebut pada musim selanjutnya tidak boleh ikut Liga Champions jika tak menyatakan posisinya dengan tegas.

"Sangat jelas bahwa klub harus memutuskan apakah mereka Liga Super atau mereka adalah klub Eropa," kata Presiden UEFA, Aleksander Ceferin, kepada Associated Press.

"Jika mereka mengatakan kami adalah European Super League, maka mereka tidak bermain Liga Champions, itu sudah pasti. Jika mereka siap melakukan itu, mereka bisa bermain di kompetisi mereka sendiri," tegasnya.

UEFA tidak dalam posisi sepenuhnya benar. Federasi Sepakbola Eropa itu justru malah mengesahkan format bari Liga Champions, yang nyaris mirip European Super League, perbedaan mencoloknya dari jumlah peserta.

Nah, perubahan Liga Champions itu sempat dikritik oleh Ilkay Guendogan. Dia menilai bahwa itu sama buruknya dengan European Super League, artinya UEFA lebih baik berbenah lagi untuk format baru itu daripada sibuk menebar ancaman, yang hal itu juga sempat dikecam FIFPro.

"Dengan ramai-ramai Super League sejauh ini... Bisakah kita juga membahas soal format baru Liga Champions? Pertandingan jadi lebih banyak, tapi apakah mereka memikirkan kami sebagai pemain?," ujar Guendogan dalam cuitan di akun twitter-nya.

"Format baru Liga Champions sedikit lebih baik, tapi sama buruknya lah dibanding European Super League," sambungnya,

"Liga Champions sekarang sudah bagus dan itulah mengapa jadi kompetisi antarklub terpopuler di dunia saat ini, baik untuk pemain maupun fan."



Simak Video "Euforia Suporter Chelsea dan Man City Jelang Final Liga Champions"
[Gambas:Video 20detik]
(ran/bay)