Raffi Ahmad-Nagita Slavina Jadi Ikon PON Papua karena Alasan Ini

Mercy Raya - Sport
Sabtu, 05 Jun 2021 14:00 WIB
Penampakan Megahnya Istora Papua
Penampakan Megahnya Istora Papua venue PON Papua. (Foto: Dok. PT PP (Persero) Tbk)
Jakarta -

Kontroversi Raffi Ahmad dan Nagita Slavina jadi ikon PON Papua direspons Panitia Besar Pekan Olahraga Nasional (PB PON), yang membeberkan alasan penunjukan keduanya.

Menurut Ketua II PB PON Roi Letlora, salah satu alasan memilih Raffi Ahmad dan Nagita Slavina sebagai ikon PON Papua adalah karena mereka memiliki jumlah follower yang banyak. Roi sendiri mengaku sudah mengetahui bahwa penunjukan Raffi-Nagita menjadi sorotan. Tapi pihak PB PON disebutnya punya pertimbangan di balik pemilihan itu, apalagi Raffi Ahmad-Nagita disebutnya jadi ikon. Sedangkan predikat duta diemban Boaz Solossa.

"Sebenarnya kami pilih Raffi dan Nagita itu untuk tujuan sosialisasi. Sementara yang menjadi duta PON itu ialah Boaz Solossa. Kami menunjuk Boaz karena dia merupakan representasi Papua sebagai tuan rumah," kata Roi kepada detikSport, Sabtu (5/6/2021).

Pemilihan Boaz, sebut Roi, juga melalui tahapan seleksi. Tapi akhirnya Boaz terpilih karena dinilai sebagai putra daerah yang memiliki prestasi bagus dan kehidupan sosial yang baik.

"Sedangkan Raffi, tadinya hanya Raffi saja. Tapi kemudian dipaketkan dengan Nagita Slavina. Itu pun dengan tahapan seleksi juga. Kami mencari yang memiliki follower banyak dan punya kapasitas untuk kami pakai sebagai influencer yang bertugas menyosialisasikan PON dalam waktu singkat ini," dia menjelaskan.

Penunjukan Raffi Ahmad dan Nagita Slavina menjadi ikon PON Papua antara lain menjadi perhatian publik usai unggahan komika Arie Kriting yang mengkritisi hal tersebut. Menurutnya, akan lebih baik jika peran itu disandang sosok Papua. Roi pun merespons.

"Cuma mas Arie itu melihat dari sisi kultural apropriasi, harus ada kearifan lokal orang Papua di situ, yang sebenarnya sudah ada pada Boaz," tuturnya menjelaskan.

[Selanjutnya: Raffi-Nagita dipilih karena follower]

Menurut Roi, penunjukan Raffi dan Nagita sebagai ikon diharapkan bisa memuluskan sosialisasi dan publikasi PON Papua ke pelosok negeri secara lebih masif. Ini dikarenakan mereka adalah figur publik yang punya basis massa besar.

"Sosialisasi PON itu kan harus seluruh Indonesia bukan hanya Papua. Tapi teman-teman kita di Papua sampai saat ini, dari data yang kami lihat, belum ada influencer papan atas yang berasal dari Papua. Sementara kami butuh sosialisasi cepat. Jadi jujur saja kita melihat siapa yang paling banyak follower-nya. Tapi kalau mau melihat duta ya satu orang itu, Boaz," ujarnya.

"Tapi mas Arie tak salah bicara begitu karena dia melihat dari sisi bagaimana keterlibatan orang asli Papua. Sedangkan saya dari sisi bagaimana memasarkan dan sosialisasi PON karena saya yakin sampai detik ini pasti ada orang yang tidak tahu PON itu di Papua," ujarnya.

"Jadi kalau saya mau berdebat dengan mas Arie enggak akan selesai karena perspektifnya berbeda. Saya melihat dari strategi marketing, dia melihat dari sosial budaya, tak bakal ketemu."

Lebih jauh, Roi menegaskan, jika selama ini ia tetap melibatkan putra-putri daerah baik bidang volunter hingga keterlibatan UMKM lokal.

"Volunter semua prioritas orang asli Papua, pengamanan pun kami libatkan pemuda-pemuda yang ada, berikutnya untuk suvenir atau merchandise itu wajib yang dibuat oleh UMKM orang Papua," sebut Roi.

"Jadi memang harus melihatnya secara luas. Mas Arie melihat dari sisi keterlibatan. Sementara kami untuk bagaimana kami melakukan sosialisasi. Kita bisa saja pakai sebanyak-banyaknya influencer tapi apa bisa secepat itu?".

Roi juga tak menutup pintu jika ada yang mau menjadi influencer untuk menyuarakan tentang PON Papua. Ia akan sangat berterima kasih, termasuk Arie yang dinilainya secara tak langsung membuat PON Papua kian dikenal.

"Kepada mas Arie saja juga berterima kasih karena dengan adanya kejadian ini, PON itu jadi ramai. Secara enggak langsung ikut tersosialisasi, bahkan lebih ramai dari sebelumnya," ujarnya.

"Jadi siapapun boleh jadi influencer, kami tak masalah. Cuma yang kami cari tujuannya apa, goal settingnya apa. Apakah bisa semumpuni influencer papan atas? Kalau mau keterlibatan sebanyak-banyaknya kami terima dan itu sudah kami lakukan saat peresmian stadion Lukas Enembe tahun lalu. Kami coba pakai influencer Papua untuk pakai sosialiasi itu di media, tapi tak nendang juga."

(mcy/krs)