Valencia yang Mengandalkan Set Piece dan Umpan Silang
Membicarakan La Liga Spanyol sejatinya adalah membicarakan tentang liga terbaik di Eropa. Musim lalu saja FC Barcelona berhasil menjadi raja di Spanyol dan juga Eropa melalui Liga Champions UEFA. Sementara kompetisi kasta ke dua Eropa, yaitu Liga Europa UEFA, juga dirajai oleh kesebelasan asal Spanyol lainnya, Sevilla FC.
Tak sampai di situ, empat kesebelasan sudah menunggu di fase grup (babak 32 besar) Liga Champions. Mereka adalah Barcelona, Real Madrid CF, Atletico Madrid, dan Sevilla; dengan satu kesebelasan lagi mungkin saja bergabung menjadi kesebelasan ke-5 yang berlaga di pentas tertinggi Eropa tersebut, yaitu Valencia Club de Futbol.
Tadi pagi (20/08/2015) Valencia CF berhasil mengalahkan AS Monaco FC 3-1 di babak play-off Liga Champions, hanya tinggal selangkah lagi bagi mereka untuk menciptakan sesuatu yang jarang terjadi di Eropa: lima kesebelasan dari satu negara yang berlaga di babak final Liga Champions.
Hal di atas seharusnya sudah cukup membuat kita melupakan jauh-jauh angapan bahwa La Liga hanya didominasi oleh Barcelona dan Real Madrid.
Selain Atletico dan juga Sevilla, pastinya kita tidak bisa memandang sebelah mata begitu saja Valencia dari persaingan papan atas di Spanyol. Musim lalu, Valencia berada di peringkat empat klasemen akhir, jauh di bawah Barcelona (94 poin) dan Real Madrid (92), sedikit ketinggalan dari Atletico (78), tapi di atas Sevilla (72), serta jauh di atas Villareal CF (60) dan Athletic Bilbao (55).
Dari 38 pertandingan, Los Che mengumpulkan 77 poin hasil dari 22 kali menang dan 11 kali imbang. Mereka mencetak 70 gol, terbanyak ke tiga di liga, dan kebobolan 32 gol, yang juga paling sedikit ke tiga di liga.
Angka-angka di atas memang masih jauh di bawah superioritas Barcelona dan Real Madrid, tapi setidaknya dalam beberapa hal, Valencia sudah menunjukkan bahwa mereka adalah kesebelasan papan atas di Spanyol, bahkan dalam dua dekade terakhir.
Kesebelasan berjuluk Les Rates Penades, atau Si Kelelawar ini, pernah menjuarai La Liga atau Primera Division pada musim 2001/02 dan 2003/04. Satu hal yang menarik, mereka hanya pernah menjadi juara (artinya di atas Barcelona dan Madrid), tapi tidak pernah menjadi nomor dua (runner-up). Terakhir kali mereka menjadi runner-up di liga adalah pada 20 musim yang lalu.
Bisa dibilang sepakbola tidak pernah berlaku adil kepada Valencia dan juga sejujurnya kepada kesebelasan lainnya di La Liga. Namun, akan sangat membosankan jika mereka semua, termasuk Valencia, terus-menerus mengeluhkan superioritas Barcelona dan Madrid. Setiap musim adalah tantangan bagi setiap kesebelasan di La Liga. (Baca juga: Valencia Ingin Rapatkan Level dengan Madrid dan Barca)
Efek dari Peter Lim
Tahun lalu, Los Che mengalami pergantian kepemilikan di bawah Peter Lim yang mengambil lebih dari 70% saham kesebelasan. Kepemilikan Lim ini adalah sebuah berkah bagi kondisi finansial Valencia, tapi mereka sadar bahwa banyak PR yang harus mereka selesaikan, bukan hanya urusan finansial. (Baca juga: Mencermati Sepak Terjang Peter Lim dalam Industri Sepakbola)
Sepanjang musim lalu, banyak pemain debutan yang diturunkan oleh kesebelasan yang bermarkas di Mestalla ini. Skuat mereka musim lalu merupakan salah satu skuat termuda sepanjang sejarah kesebelasan berlogo kelelawar ini.
Finis di peringkat empat untuk lolos ke babak play-off Liga Champions adalah pencapaian yang bisa dibilang sukses untuk Valencia musim lalu. Namun, banyak hal yang harus dibenahi oleh manajer Nuno Espirito Santo sebelum musim yang baru bergulir akhir pekan nanti.
Pertama, mereka harus mengatasi Monaco agar lolos ke Liga Champions. Ini adalah wajib. Setidaknya mereka sudah mengantungi modal kemenangan 3-1 di kandang di leg pertama tadi pagi (20/08/2015). Jika mereka gagal lolos ke Liga Champions, ini merupakan pukulan yang sangat berat untuk Lim dan juga finansial kesebelasan. Seperti yang kita tahu, berlaga di Liga Champions akan sangat melelahkan, tapi sekaligus akan membuat kondisi finansial semakin segar.
Els Taronges juga tidak bisa ongkang-ongkang kaki di La Liga. Banyak kesebelasan yang berusaha semakin kuat di jendela transfer musim panas kali ini, termasuk Sevilla, Bilbao, Villareal, dan Real Sociedad, apalagi Atletico.
Penyerang yang Mandul
Musim 2014/15, Valencia hanya kalah sekali di kandang (0-1 melawan Barcelona), tapi mereka dinilai terlalu rentan jika bermain tandang. Tercatat dari 4 kekalahan dan 8 kali imbang di tandang, mereka hanya mampu mencetak 28 gol. Ini berbanding sangat jauh dari 42 gol yang mereka cetak di kandang.
Penyerang mereka juga masih bisa dibilang mandul. Dua penyerang yang mereka pinjam tidak mampu menunjukkan kualitas terbaik mereka. Álvaro Negredo hanya mampu mencetak 5 gol, sedangkan Rodrigo 3 gol.
Jika bukan karena 11 gol yang dicetak oleh Paco Alcacer, penyerang yang masih berusia 21 tahun, mungkin lini depan mereka sudah mendapat predikat lini depan paling mandul di La Liga.
Ketidakpuasan mereka terhadap para penyerang di musim lalu malah membuat kesebelasan mengambil langkah yang mengejutkan. Di jendela transfer ini, Valencia buru-buru mempermanenkan Negredo dari Manchester City dan Rodrigo dari SL Benfica, serta membeli penyerang berusia 19 tahun dari Celta de Vigo, Santi Mina, yang musim lalu mencetak 7 gol. (Baca juga: Lagi, Valencia Rekrut Pemain Muda)
Mina memang masih harus membuktikan dirinya di La Liga, tapi tak perlu terburu-buru karena ia masih muda. Seharusnya Valencia bisa merekrut penyerang yang sudah matang yang bisa langsung diandalkan, misalnya saja seperti Sevilla mendatangkan Ciro Immobile dari Borussia Dortmund, Sociedad mendatangkan Jonathas dari Delfino Pescara 1936 (musim lalu mencetak 14 gol bersama Elche CF), atau Atletico yang mendatangkan Luciano Vietto dan Jackson Martinez.
Negredo memang pernah mencetak 32 gol selama tiga tahun di UD Almería dan mencetak 70 gol selama empat tahun di Sevilla, tapi sejak pindah ke City, ia seolah bukanlah Negredo yang dahulu. Ini juga berlaku selama ia dipinjamkan ke Valencia musim lalu. Nuno pastinya berharap penyerang Spanyol berusia 29 tahunnya itu bisa mendapatkan pencerahan musim ini.
Mengandalkan Situasi Bola Mati dan Umpan Silang
Namun, sembari menunggu dan berharap penyerang-penyerang mereka kembali bersinar, Valencia masih bisa tetap mengandalkan kapten Daniel Parejo yang musim lalu mencetak 11 gol dan 5 assist. (Baca juga: Ban Kapten di Lengan Parejo)
Begitupun dengan duo sayap mereka, Pablo Piatti dan Sofiane Feghouli, yang sepanjang musim lalu berhasil mencetak total 13 gol dan 12 assist. Ditambah, musim ini mereka kedatangan pemain sayap Belgia yang cepat dan masih berusia 19 tahun, Zakaria Bakkali, dari PSV Eindhoven.
Keran gol Los Che biasanya akan mengucur kencang dari situasi bola mati dengan 20 gol di musim lalu, tertinggi ke dua di La Liga di bawah Atletico (30 gol melalui set piece). Mereka juga gemar mencetak peluang melalui umpan silang (crossing).
Musim lalu mereka mencetak rata-rata 22 umpan silang per pertandingan, dengan rata-rata 18,1 menang duel udara. Bahkan pada pertandingan play-off Liga Champions melawan Monaco tadi pagi (20/08/2015), tiga gol yang mereka cetak melalui Rodrigo, Parejo, dan Feghouli, semuanya berawal dari umpan silang.
Dua cara ini, situasi bola mati dan umpan silang, seolah merupakan cara jitu bagi kesebelasan selain Barcelona dan Madrid untuk berjaya di La Liga, cara yang sama yang juga dilakukan oleh Atletico. Sebagai perbandingan, jika musim lalu kita melihat gol yang dicetak melalui situasi open play, Valencia (36 gol dari open play) masih sangat jauh di bawah Barcelona (80) dan Madrid (77). Pun Atletico yang hanya mencetak 29 gol dari open play.
Konsistensi Susunan Sebelas Pemain Utama
Selain bola mati dan umpan silang, sepanjang musim lalu juga Valencia terkenal memiliki susunan sebelas pemain yang paling konsisten di La Liga.
Los Che biasa bermain dengan 4-3-3 dan 4-2-3-1. Selain mengandalkan Piatti, Feghouli, dan Parejo, mereka juga hampir selalu memainkan Javi Fuego dan Andre Gomes di lini tengah.
Konsistensi mereka ditunjukkan terutama dengan agresivitas di lini tengah yang membuat mereka sangat sering merebut bola di tengah lapangan melalui rata-rata 18 intersep setiap pertandingan dan 22,7 tekel setiap pertandingan (tertinggi ke dua di liga).
Keterlibatan Enzo Perez juga sangat patut dinantikan mengingat ia yang baru bergabung pada Januari 2015 tetapi sudah digadang-gadangkan sebagai gelandang paling menjanjikan untuk Valencia.
Tidak banyaknya pemain yang didatangkan oleh Valencia akan membuat kita bisa mengetahui perkiraan susunan sebelas pemain mereka di musim yang baru ini.
Skuat Valencia CF dengan menggunakan formasi 4-3-3
Lini Belakang yang Masih Rentan
Jika melihat gambar di atas, rasanya kita akan sadar tentang kekurangan Valencia. Lini depan mereka memang sudah mencukupi secara kuantitas, meskipun masih membutuhkan pembuktian, tapi di lini belakang lah masalah utama mereka di musim ini.
Pertama, di awal musim ini Valencia akan kehilangan penjaga gawang andalan mereka, Diego Alves, yang masih menderita cedera ACL. Untung saja mereka berhasil membeli Mathew Ryan, penjaga gawang asal Australia, dari Club Brugge KV. (Baca juga: Ujian Panjang Diego Alves)
Melihat dari hasil pra-musim juga, mereka kebobolan 10 kali dari 9 pertandingan, termasuk kalah 4-1 melawan FC Bayern Munich dan kalah 3-1 dari AS Roma, serta mencetak 11 gol. Sangat tipis. (Baca juga: Cemerlang di Liga Belgia dan Piala Asia, Kiper Australia Ini Gabung Valencia)
Ketergantungan mereka kepada Nicolas Otamendi yang bermain dalam 35 pertandingan dan mencetak 6 gol di La Liga musim lalu harus mulai dikurangi, apalagi bek tengah Argentina tersebut dikabarkan akan hengkang.
Musim lalu Otamendi merajai duel udara Valencia dengan 3,5 per pertandingan, angka ini adalah sumbangan terbanyak dari 18,1 menang duel udara per pertandingan yang dicetak oleh Valencia. Kenyataannya juga, musim lalu Valencia menjadi kesebelasan pada peringkat ke-3 yang paling sedikit kalah duel bola udara. (Baca juga: Nicolas Otamendi, Terbaik Valencia di Musim Lalu)
Tanpa Otamendi, duel bola udara di lini belakang Los Che akan sangat memprihatinkan. Buktinya saja pada pertandingan melawan Monaco tadi pagi (20/08/2015), mereka kebobolan melalui serangan lawan yang dibangun lewat umpan silang.
Partner Otamendi di jantung pertahanan, Shkodran Mustafi, harus cepat-cepat mencari partner baru. Musim lalu, dua bek tengah lainnya milik Valencia, Ruben Vezo dan Lucas Orban, jarang dimainkan. Vezo hanya bermain sebanyak 6 kali, sementara Orban 4.
Jika Otamendi benar-benar pergi, dan kami yakin ia akan pergi, maka masih ada waktu bagi Nuno untuk mencari seorang bek tengah yang baru sampai jendela transfer ditutup awal September nanti.
Selain bek tengah, Valencia juga sepertinya harus mencari bek kiri pelapis untuk Jose Luis Gaya. Musim lalu hanya Orban, seorang bek tengah, yang menjadi pelapis Gaya.
Pada prinsipnya, skuat Valencia mungkin sudah cukup kuat, tapi mereka masih jauh dari ideal, apalagi jika kita membandingkan mereka dengan Barcelona, Real Madrid, Atletico, dan Sevilla. Satu hal yang jelas, persaingan zona Liga Champions (bukan gelar juara) di La Liga musim ini pastinya akan semakin menarik.
====
* Dianalisis oleh @dexglenniza dari @panditfootball.








