Masukkan kata pencarian minimal 3 karakter
Searching.. Please Wait
    Book Review

    Sepakbola 2.0 (2016)

    Catatan Sepakbola dari Orang-orang 'Biasa'

    Narayana Mahendra Prastya - detikSport
    [Ilustrasi - detiksport] [Ilustrasi - detiksport]
    Jakarta -


    DATA BUKU
    Judul: Sepakbola 2.0
    Editor: Sirajudin Hasbi & Ferry Triadi Sasono
    Tebal: 174 halaman
    Penerbit: Fandom, Yogyakarta
    Tahun: 2016
    ISBN: 978-602-3091-58-4


    Wasit keempat, atau wasit cadangan. Itulah sampul dari buku ini. Wasit cadangan dalam sebuah pertandingan memang bukan sosok yang "populer". Minim sorotan. Terlebih lagi jika kita melihat sepakbola dari televisi, dalam 90 menit pertandingan, penonton mungkin hanya melihat si fourth official saat prosesi awal (jabat tangan antara kedua tim), pergantian pemain, dan informasi mengenai tambahan waktu di setiap babak. Jika ditotal, mungkin durasi waktu keseluruhan "penampilan" wasit keempat itu mungkin tidak sampai lima menit.

    Namun wasit cadangan tetap punya peran penting pada sebuah pertandingan. Wasit keempat harus memiliki fisik yang prima, selalu siap menggantikan wasit utama (andai cedera), harus jeli mengamati apa yang terjadi di pinggir lapangan, serta mengingatkan sekaligus menenangkan seandainya terjadi keributan di bench.

    Pemilihan wasit cadangan sebagai cover, bisa menggambarkan tentang para penulis buku ini. Dalam pengantar buku ini tertulis, bahwa latar belakang para penulis terdiri dari jurnalis, dosen, editor penerbitan, mahasiswa, hingga mereka yang pernah terlibat mengelola klub sepakbola Indonesia (hal. xii). Namun jika dihitung, maka mayoritas penulis buku ini adalah orang biasa. Mereka bukan pakar sepakbola yang sering diminta pandangannya/analisisnya oleh media, bukan juga profesional di bidang sepakbola.

    Isi Buku

    Ragam latar belakang penulis menghasilkan tema tulisan yang berbeda-beda. Maka dari itu buku ini bisa dibilang berisi "gado-gado" tulisan mengenai sepakbola. Editor buku membagi buku dalam dua bagian yakni "Sepak Bola sebagai Kultur yang Dirayakan" dan "Kala Sepak Bola Terlembaga" (penjelasan lengkap tentang pembagian bab ada di hal. xii dan xvii)

    Secara garis besar, buku ini didominasi tiga aspek pembahasan :(1) pengaruh kehadiran teknologi terhadap sepakbola, (2) perilaku suporter, (3) tata kelola sepakbola.

    Bagian pertama membahas tentang pemanfaatan, pengaruh, dan hal-hal yang berkaitan dengan teknologi digital terhadap para pelaku sepakbola. Kehadiran teknologi digital bisa mengancam media berita olahraga karena fans dapat langsung memperoleh informasi dari akun media sosia resmi klub atau pemain. Monopoli media berita olahraga sebagai institusi resmi, perlahan mulai tergeser. Namun kemudahan dari teknologi digital juga memberikan efek kurang baik bagi fans sepakbola. Fans sepakbola disebut "selalu lapar (akan informasi)" sehingga selalu menyatap secara tergesa-gesa.... menyerap informasi sepakbola seperti busa menyerap air, dan melakukannya dengan tergesa-gesa. Kita melahap informasi seperti orang yang selalu lapar. Kita selalu menyantap, lalu kehilangan daya lagi untuk mencerna dan memaknai, sehingga selalu tertidur dalam keadaan kekenyangan informasi..." (hal 11-12).

    Teknologi digital seperti website, media sosial, dan media berbasis internet lain tidak semata sebagai alat konsumsi informasi. Fans sepakbola dapat juga menggunakan piranti-piranti tersebut guna memproduksi informasi. Bahkan sebagai alat untuk mengkritik keadaan sepakbola. Contohnya, komunitas suporter Arsenal yang menamakan dirinya Black Scarf Movement (BSM) yang mengkritik mahalnya harga tiket yang setiap musim selalu naik dan umumnya mahal sekali. Dalam tiga tahun terakhir, BSM membuat situsweb www.blackscarsafc.co.uk untuk mengajak banyak suporter lain untuk sadar dan mau ikut serta dalam pergolakan mereka. Menariknya, ini bukan ajakan untuk boikot. Walau mengkritik, BSM tetap hadir langsung ke stadion menonton Arsenal, berapa pun harga tiket masuknya (hal. 42-43).

    Kehadiran internet dengan akses yang sangat luas dapat memberdayakan suporter. Sebagai contoh adalah suporter Solo, Pasoepati. Setiap "suku" di Pasoepati, bahkan setiap komunitas di tribun Stadion Manahan Solo, masing-masing memiliki akun media sosial. Media-media yang dikreasi komunitas pada akhirnya memberikan kesempatan bagi setiap komunitas untuk mengembangkan materi terkait Pasoepati. Pola komunikasi yang dibangun juga semakin cepat karena media sosial telah menjadi bagian dari kultur baru anak-anak muda (hal. 141).

    Bahkan dengan media berbasis internet, suporter dapat memberikan kontribusi bagi klub. Sekelompok pendukung PSS Sleman, menggagas media komunitas bernama Elja Radio (Elja, kependekan dari Elang Jawa, julukan PSS Sleman). Bermodalkan mixer portable, laptop, dan mikrofon, Elja Radio menyiarkan pertandingan PSS Sleman melalui streaming (hal. 126). Untuk operasional, Elja Radio menjual merchandise berupa album kompilasi lagu-lagu berkaitan dengan PSS Sleman dan kaos dengan tema PSS atau radio itu sendiri. Keuangan Elja Radio sudah mampu memberi sumbangan bagi PSS, dengan beriklan di adboard (papan iklan di pinggir lapangan) Stadion Maguwoharjo, kandang PSS Sleman (hal 128).

    Keunggulan internet memang kecepatan dan kemudahan akses. Keunggulan lain, yakni fasilitas penyimpanan data (storage) juga dimanfaatakan oleh suporter untuk melakukan pengarsipan data-data lama. Ini dilakukan oleh kelompok bernama Omah Bersama (OBA) yang merupakan pendukung PSIM Yogyakarta. Persoalan pengarsipan di sepakbola Indonesia, memang diakui masih lemah. Arsip tidak hanya sekadar mengenang romantika masa lalu, namun ternyata juga dapat menjadi materi tersendiri sebagai merchandise (hal. 119).



    Bagian kedua adalah perilaku suporter. Salah satu tulisan dalam buku ini mengkritik primordialisme di kalangan suporter di Indonesia. Sikap itu perlu segera disingkirkan, kalau tidak mau negeri ini kehilangan tuah karena tak ada lagi semangat bergandeng tangan antarinsan dengan perbedaan asal, agama, warna kulit, dan pembatas-pembatas lain (hal. 109).

    Efek negatif primordialisme adalah kerusuhan. Salah satu tulisan mengangkat tentang relasi antara suporter dua tim yang punya rivalitas kental: suporter PSIM Yogyakarta dan suporter Solo. Keduanya memilik kedekatan kultural sebagai eks kerajaan Mataram. Itu sebabnya pertemuan antara tim dair Yogyakarta dan Solo diberi tajuk "derby Mataram". Kerusuhan jamak terjadi ketika dua tim bertemu. Padahal selain memiliki kedekatan kultural, masyarakat kedua kota ini juga terlibat interaksi saling membutuhkan. Tinggal di Yogya dan bekerja di Solo, atau sebaliknya menjadi pilihan para pelaju. Jarak 70 km antar dua kota menjadi relatif dekat dengan adanya layanan kereta Prambanan Ekspres (Prameks).

    Di dalam Prameks, para pelaju bercakap-cakap dengan dialek Jawa Mataraman, menandai kedekatan budaya Solo dan Yogya. Keriuhan derby Mataram dengan mitos yang melatarbelakangi rivalitas bersentimen kekerasan, hilang ditelan deru rel kereta Prameks. Bagi para pelaju, Solo dan Yogya adalah dekat. Pertemuan kedua tim sudah terjadi sejak tahun 1930an dan ketika itu suasananya aman-aman saja. Itu sebabnya, suporter kedua tim hendaknya berani instrospeksi agar rivalitas hanya di atas lapangan hijau secara sportif, sebagaimana ketika kesebelasan dari Yogya dan Solo menjadi raksasa pada masa-nya (hal. 86).

    Suporter tidak hanya identik dengan rivalitas. Suporter juga merupakan sosok penting dalam olahraga. Kehadiran mereka penting bukan hanya dari segi ekonomi klub (untuk memperoleh uang dari tiket pertandingan atau penjualan merchandise resmi), namun mereka juga bisa bergerak ketika merasa dirugikan. Sebagai contoh suporter Liverpool yang menolak mendampingi tim-nya ke kandang Hull City karena harga tiket yang terlalu mahal, suporter AC Milan yang memboikot pertandingan karena menilai manajemen klub tidak transparan dalam keuangan, dan demonstrasi besar suporter Persebaya Surabaya karena klub kesayangan mereka selalu dirugikan PSSI. Gerakan-gerakan tersebut dimobilisasi melalui media sosial melalui tagar/hashtag tertentu. Berawal dari dunia maya, diwujudkan dalam dunia nyata, dan catatan penting adalah: semua itu berlangsung tanpa kekerasan (hal. 82).

    Bagian ketiga adalah tata kelola dalam sepakbola. Tata kelola di sini mencakup pihak-pihak yang terlibat baik secara langsung mau pun tidak langsung dalam sepakbola. Pihak-pihak tersebut dapat berupa klub, federasi, media olahraga, dan sebagainya. Profesionalisme klub sepakbola selalu didengung-dengungkan, dan diklaim oleh klub sepakbola Indonesia. Namun kenyataannya di lapangan, profesionalisme tersebut masih jauh dari harapan.

    Pengumuman nilai kontrak pemain yang tidak transparan, mengambil keuntungan dari kontrak pemain, sampai dengan adanya pemberian suap atau imbalan bagi media/wartawan yang meliput sepakbola, merupakan contoh profesionalisme yang tidak etis tersebut. Kritik juga dilayangkan kepada media. Idealnya, media memiliki fungsi kontrol sosial. Namun dalam prakteknya, media/wartawan yang meliput klub justru terlibat dalam kongkalikong untuk menyembunyikan kebusukan dalam sepakbola tersebut (hal. 145-160).



    Kritik

    Kata "2.0" dalam judul buku ini identik dengan teknologi digital. Jika hanya membaca judulnya, maka pembaca mungkin akan menganggap buku ini akan dipenuhi tulisan tentang bagaimana pemanfaatan, pengaruh, dan hal-hal lain seputar teknologi digital terhadap para pelaku sepakbola, seperti klub, federasi, suporter, dan media.

    Namun faktanya, dari 19 tulisan dalam buku ini, ternyata hanya satu yang menjadikan tema teknologi digital dan sepakbola sebagai fokus utama tulisan. Memang, tulisan-tulisan lain juga menyinggung hal tersebut, namun hal tersebut tidak menjadi pokok bahasan utama tulisan.

    Memang, pemilihan judul menjadi tantangan besar bagi editor, utamanya ketika buku terdiri dari kumpulan tulisan. Kumpulan tulisan berarti akan terdapat pemikiran, pemahaman, dan cara pandang yang berbeda-beda dari masing-masing penulis. Di sisi lain, judul buku juga harus dibuat semenarik mungkin, sehingga orang tertarik untuk membaca.

    Kritik lain berkaitan dengan teknis penulisan. Dalam tulisan yang ada, ada yang tidak mencantumkan sumber-sumber rujukan informasi seperti dari buku, jurnal, situs, media, atau sumber rujukan yang lain. Hal ini tentu berisiko menjadikan asumsi-asumsi, atau klaim-klaim yang ada di tulisan tersebut kurang kuat, karena tidak dilengkapi dengan sumber. Sebagai masukan untuk editor, mungkin sejak awal perlu menegaskan kepada para penulis tentang perlunya mencantumkan sumber rujukan.

    Apapun itu, kita patut menghargai upaya orang-orang biasa yang telah terlibat dalam penulisan dan penerbitan buku ini. Pasalnya, seperti judul di bagian kata pengantar: Demi Sepakbola Indonesia, Menulislah. "Memilih untuk memperbincangkannya dan menulis bukan berarti kemudian persepakbolaan Indonesia akan secara otomatis maju. Namun setidaknya ada ikhtiar pengumpulan, pemilahan, dan pencatatan bahan untuk pembelajaran menuju sesuatu yang lebih baik" (hal.vi).

    Ibarat wasit cadangan, orang-orang biasa ini memang sangat jarang atau bahkan tidak pernah "tampil” di "panggung" sepakbola nasional. Namun apa yang mereka tulis bisa jadi mengingatkan semua, tentang apa saja yang perlu diperhatikan, apa saja yang perlu dibenahi, pelajaran penting apa yang perlu dipahami, demi kebaikan sepakbola Indonesia.


    ======

    *) Dosen Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya, Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta



    Buku lain:
    Mencintai Sepakbola Indonesia meski Kusut
    Menceritakan Manusia Bernama Petar Segrt
    Ketika Sepakbola Dimainkan di Tengah Peperangan yang Tak Sudah
    Jadilah Komentator Bola yang ... Lucu!

    (a2s/roz)

    Kontak Informasi Detikcom
    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Media Partner: promosi[at]detik.com
    Iklan: sales[at]detik.com
    More About the Game
    book-review