Masukkan kata pencarian minimal 3 karakter
Searching.. Please Wait
    Detik Insider

    Musim Panas yang Amat 'Panas' untuk Messi

    Andi Abdullah Sururi - detikSport
    Foto: Adam Hunger-USA TODAY Sports via Reuters Foto: Adam Hunger-USA TODAY Sports via Reuters
    Jakarta - Musim panas biasanya dimanfaatkan para pesepakbola untuk berlibur. Namun bagi Lionel Messi, musim panas tahun ini terasa amat "panas".

    Setelah mengakhiri kompetisi musim 2015/2016 bersama FC Barcelona, Messi tidak bisa langsung beristirahat. Sebab, ia harus memenuhi panggilan negara untuk memperkuat timnas Argentina di Copa America Centenario di Amerika Serikat.

    Messi pun cukup "menguras keringat" karena timnya bertahan lama dan harus melakoni enam pertandingan sampai final. Tentu saja, kebaikan menembus final adalah kesempatan menjadi juara. Sampai di situ, Messi masih termotivasi sangat tinggi, sebab dia belum pernah memberikan gelar apapun untuk Argentina.

    Sial buat dia, skuat yang dia kapteni malah tumbang di laga puncak, dari Chile, lewat adu penalti. Tambahan sial buat Messi, sebagai algojo pertama dia malah gagal mencetak gol.

    Di situ Messi merasa sedih. Barangkali lebih tepatnya adalah dia merasakan beban yang teramat berat di pundaknya. Segala ekspektasi Argentina tak mampu ia wujudkan -- walaupun sesungguhnya itu bukanlah kewajiban Messi seorang diri. Sang pemain terbaik dunia lima kali itu kemudian menyatakan pensiun dari timnas -– dalam usia 29 tahun.

    Baca: Berat Beban Messi

    Tidak, tidak. Messi tidak boleh menyerah secepat itu. Satu negara lalu pasang badan. Setibanya rombongan Albiceleste dari Copa, spanduk "Jangan Pergi, Messi", dibentangkan suporter di bandara. Presiden Argentina Mauricio Macri memuja setinggi langit dan memintanya tidak berhenti. Wali kota Buenos Aires, Horacio Rodriguez, langsung membuatkan patung Messi di pusat ibukota.

    Patung Messi di Buenos Aires. (Foto: REUTERS/Marcos Brindicci)


    "Dewa" sepakbola bernama Diego Maradona pun tersentak. Ia mungkin kaget pernah memberi ultimatum yang "sangar" sebelum final Copa, dengan mengatakan, "juaralah, atau jangan pulang sekalian!". Demi mendengar keputusasaan Messi, Maradona pun memberinya semangat lagi.

    "Messi harus bertahan di tim nasional. Dia akan ke Rusia (Piala Dunia 2018) dalam bentuknya sebagai juara dunia," tukas Maradona.

    Bahkan seorang Cristiano Ronaldo pun belum rela jika "seteru abadinya" itu lekas angkat kaki dari level internasional.

    "Sedih sekali melihat Messi menangis. Saya harap dia kembali untuk negaranya, karena dia membutuhkan itu," ucap Ronaldo.

    Syahdan, dengan semesta yang mendukung dia, Messi kabarnya mulai mempertimbangkan kemungkinan menarik pernyataannya pensiun. Kalau perlu dia akan mulai lagi per November mendatang, melanjutkan babak kualifikasi Piala Dunia 2018.

    Satu urusan (sepertinya) selesai, lalu datang urusan lainnya. Hari ini, Rabu 6 Juli 2016, pengadilan di Barcelona memutuskan Messi bersalah dalam kasus dugaan penggelapan pajak sejak 2013. Bersama bapak yang merangkap manajer keuangannya, sang megabintang divonis hukuman penjara 21 bulan, plus denda puluhan miliar rupiah.

    Lionel dan Jorge Horacio Messi dalam pengadilan 2 Juni 2016 di Barcelona. (Foto: REUTERS/Alberto Estevez/Pool)


    Bagusnya, Messi kemungkinan besar takkan dikurung di balik jeruji besi. Sebab, dalam hukum di Spanyol, hukuman kurungan kurang dari dua tahun bisa dikompensasi berupa hukuman percobaan, dengan catatan belum pernah mempunyai catatan kriminal. Messi dan bapaknya juga tetap diberi kesempatan jika ingin mengajukan banding.

    Baca: Messi Dinyatakan Bersalah Atas Penggelapan Pajak

    Apapun, menjadi "tervonis" dalam sebuah kasus hukum adalah sebuah "bencana" untuk seseorang dengan reputasi dunia seperti Messi. Walaupun, boleh jadi efeknya cuma "temporer". Kurang bengal apa seorang Maradona, misalnya? Bedanya, celakanya ... Maradona pernah menjadikan Argentina juara dunia. Messi ya belum. Mungkin saja ukurannya hanya selalu itu -- walaupun seorang Johan Cruyff pun tak pernah membawa Belanda jadi juara, namun dia tetap pergi dalam keharuman nama yang abadi.

    Hanya saja, musim panas ini telanjur "panas" buat Messi.



    (a2s/roz)
    Kontak Informasi Detikcom
    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Media Partner: promosi[at]detik.com
    Iklan: sales[at]detik.com
    More About the Game