Masukkan kata pencarian minimal 3 karakter
Searching.. Please Wait
    Detik Insider

    Indonesia Vs Israel 1957: Kala Skuad Garuda Tersandung Politik

    Bayu Baskoro - detikSport
    Foto skuad Timnas Indonesia saat menjamu Yugoslavia di Jakarta tahun 1953. (Foto: dok. De Nieuwsgier) Foto skuad Timnas Indonesia saat menjamu Yugoslavia di Jakarta tahun 1953. (Foto: dok. De Nieuwsgier)
    Jakarta -

    Timnas Indonesia bertemu Israel di kualifikasi Piala Dunia 1958. Sikap politik negara, serta keras kepalanya Israel, membuat Garuda mengubur mimpi ke Swedia.

    Indonesia dan Israel tidak memiliki hubungan diplomatik sejak awal pendirian kedua negara. Indonesia menganggap Israel menjajah wilayah Palestina dan itu bertentangan dengan sikap anti-kolonialisme RI.

    Pandangan politik Indonesia yang menenteng Israel menyerempet hingga urusan olahraga, yakni di ranah sepakbola. Kualifikasi Piala Dunia 1958 zona Asia/Afrika menjadi arena pertarungannya.

    Indonesia yang tergabung di Sub-Grup 1 bersama Republik Rakyat China dan Taiwan lolos ke babak selanjutnya. Di fase tersebut Timnas asuhan pelatih Toni Pogacnik hanya bertemu RRC, lantaran Taiwan memutuskan mundur.

    Indonesia menghadapi China tiga kali di bulan Mei-Juni 1957. Timnas menang 2-0 di Jakarta, tumbang 3-4 di Beijing, serta imbang 0-0 dalam laga yang berlangsung di Myanmar. Maulwi Saelan dkk lolos berkat jumlah produktivitas gol.

    Pada putaran kedua kualifikasi, Indonesia tergabung dengan Sudan, Mesir dan Israel. Di fase ini lah, langkah Skuad Garuda terganjal akibat sikap politik negara.

    Indonesia Tolak Israel demi Perjuangan Merebut Papua Barat

    Indonesia, yang kala itu di bawah pemerintahan Presiden Soekarno dan Kabinet Djuanda, menolak kehadiran skuad asuhan Moshe Varon itu di Indonesia. Israel sebelumnya meminta leg pertama digelar di Tel Aviv pada 31 Juli dan leg kedua di Jakarta pada 18 Agustus, tapi permintaan itu tidak dilayani.

    Algemeen Indisch dagblad: de Preangerbode melaporkan, alasan politik menjadi dasar pemerintah Indonesia menolak kehadiran Israel di Jakarta. RI menganggap laga melawan Israel dapat menyebabkan hilangnya dukungan 14 negara arab dalam perjuangan Indonesia merebut kembali Papua Barat di Sidang Umum PBB 1957.

    Pemerintah Indonesia saat itu memang membutuhkan dukungan internasional demi bisa merebut wilayah Papua Barat dari Belanda. Oleh karena itu, Indonesia menunjukkan sikap solidaritas bersama negara-negara Arab menentang pendudukan Israel di Palestina.

    Sementara itu, PSSI turut menolak permintaan Israel untuk memainkan laga di Tel Aviv. Federasi sepakbola nasional itu keberatan lantaran jadwal waktu yang diminta bertabrakan dengan digelarnya kongres PSSI di Padang pada akhir Juli 1957.

    Tidak hanya itu, PSSI juga tidak ingin pertandingan digelar di Tel Aviv lantaran Timnas Indonesia tidak mendapat jaminan perlindungan di sana. PSSI pun mengajukan supaya kedua pertandingan diselenggarakan di tempat netral.

    Lobi-lobi PSSI

    Berbeda dengan sikap pemerintah yang menolak pertandingan kontra Israel, PSSI berharap Timnas dapat terus mengikuti laga di kualifikasi Piala Dunia 1958. Dalam rapat kongres di Padang, PSSI mengajukan resolusi terkait duel kedua kesebelasan.

    Dalam resolusi tersebut, PSSI meminta pemerintah meninjau kembali penolakan terhadap laga menghadapi Israel. PSSI menilai penolakan tersebut justru akan memunculkan ketidakpuasan masyarakat kepada pemerintah, yang mana dinilai jauh lebih berbahaya ketimbang hilangnya dukungan dari 14 negara-negara Arab.

    Resolusi selanjutnya yang dikeluarkan PSSI yakni upaya agar pertandingan kontra Israel dapat diselenggarakan, serta membawa permasalahan ini ke dalam kongres FIFA di Stockholm. PSSI juga memberikan mandat kepada kepemimpinan federasi untuk mengambil langkah yang dibutuhkan, apabila pemerintah bersikeras menolak pertemuan menghadapi Israel.

    Ketua Umum PSSI di era 1950-an, R. Maladi, pada malam resepsi PSSI di Balai Prajurit Diponoegoro, 29 November 1951.Ketua Umum PSSI di era 1950-an, R. Maladi (berdiri), pada malam resepsi PSSI di Balai Prajurit Diponegoro, 29 November 1951. (Foto: Arsip Nasional Republik Indonesia)

    Resolusi tersebut diberikan oleh tiga perwakilan PSSI, termasuk ketua umum R. Maladi, kepada Menteri Luar Negeri RI, Dr. Subandrio, pada bulan Agustus 1957. PSSI juga berkirim surat kepada FIFA dan federasi sepakbola Israel (IFA) supaya laga kedua tim bisa digelar di tempat netral.

    Pemerintah Indonesia tetap keukeuh dengan sikap politiknya menolak pertandingan kedua kesebelasan di Tel Aviv dan Jakarta. Keputusan pemerintah ini mendapat dukungan dari Presiden Messir, Gamal Abdul Nasser, yang mengirimkan pesan khusus kepada RI agar Indonesia tidak memainkan laga kontra Israel, lantaran hal itu bisa dianggap sebagai sikap tidak simpati Indonesia kepada negara-negara Arab yang menentang Israel.

    Di sisi lain, FIFA tidak keberatan dengan permintaan PSSI untuk menggelar dua laga di tempat netral, asalkan pihak Israel bersedia dengan itu. IFA mengirimkan surat balasan kepada PSSI dan menyampaikan sikap kukuh mereka untuk menggelar leg pertama di Tel Aviv, namun tak keberatan apabila leg kedua digelar di tempat netral.

    Sikap Israel yang bersikukuh ingin menggelar pertandingan di Tel Aviv membuat PSSI memutuskan melobi langsung FIFA di Swiss. Tiga wakil dikirim ke Eropa, termasuk wakil ketua PSSI Kosasih Purwanegara, pada awal September 1957.

    Mr. Kosasih Purwanegara memberikan selamat pada salah satu pemain sepak bola dari Tim Indonesia sebelum pertandingan dimulai di Lapangan BVC.Wakil Ketua PSSI era 1950-an, Kosasih Purwanegara, menyalami pemain Indonesia. (Foto: Arsip Nasional Republik Indonesia)

    Sebelum menyambangi markas FIFA di Swiss, PSSI bertemu salah satu perwakilan FIFA, Karel Johannes Julianus Lotsy, di Santpoort, Belanda. Perwakilan PSSI menyampaikan permasalahan dalam laga kontra Israel, plus tidak diberikannya izin dari pemerintah untuk bermain di Tel Aviv.

    Lotsy mengatakan kepada perwakilan PSSI bahwa masalah mereka telah dibahas dalam rapat penyelenggaraan Piala Dunia FIFA di Stockholm dua minggu sebelumnya. FIFA tetap bertahan dengan jadwal yang telah diproyeksikan, serta tak keberatan apabila salah satu atau kedua pertandingan digelar di tempat netral dengan persetujuan Indonesia dan Israel.

    Lotsy juga menyampaikan kepada Kosasih untuk memikirkan masalah keuangan apabila pertandingan digelar di tempat netral. Dia menyarankan PSSI untuk menghubungi lagi pihak Israel dan Dewan FIFA.

    Indonesia juga diharapkan untuk membiarkan Israel menunjuk lokasi netral, dengan semua biaya akomodasi ditanggung PSSI. Hal ini bertujuan supaya Israel melunak dan bersedia menjalankan kedua laga sesuai kesepakatan dua pihak berdasarkan izin FIFA.

    Seusai bertemu Lotsy, perwakilan PSSI melanjutkan perjalanan ke Den Haag untuk bertemu Duta Besar Israel di Belanda, Hannan Cidor. PSSI berharap Cidor dapat menyampaikan keinginan mereka kepada Israel supaya dua pertandingan digelar di tempat netral, berdasarkan masukan yang telah diberikan Lotsy.

    Proposal PSSI untuk Laga Indonesia vs Israel

    Rombongan PSSI kemudian berangkat ke Swiss untuk bertemu dengan ketua komite penyelenggaraan Piala Dunia 1958, Ernst Thommen (kelak jadi Ketua FIFA di tahun 1961). PSSI mengajukan tiga poin proposal kepada FIFA terkait penyelenggaraan laga Indonesia vs Israel:

    1. Untuk mengadakan dua pertandingan di Hong Kong, Singapura, Roma, Beograd, atau negara netral lainnya yang dapat diterima Israel. Laga pertama digelar pada hari Minggu 6 Oktober, sementara leg kedua pada Rabu 9 Oktober. Apabila laga ketiga diperlukan, PSSI menyarankan untuk digelar pada 13 Oktober.

    2. PSSI bersedia membayar biaya tim nasional Israel sebagaimana dimaksud dalam pasal 29 peraturan FIFA apabila hasil dari semua pertandingan, setelah dikurangi biaya yang diperlukan, tidak cukup untuk menutupi biaya yang dikeluarkan pihak Israel. Setelah dikurangi biaya untuk tim Indonesia dan Israel serta biaya lain yang diperlukan, keuntungan dibagi rata kedua pihak.

    3. Perihal wasit pertandingan, PSSI mengajukan juru adil yang berasal dari Italia, sementara hakim garis bisa dipilih dari hakim garis lokal yang diakui FIFA.

    Proposal itu tertuang dalam surat PSSI yang ditandatangani Kosasih Purwanegara atas nama Direksi PSSI kepada FIFA di Zurich, Swiss. PSSI juga meminta mediasi FIFA untuk meneruskan proposal tersebut ke federasi sepakbola Israel.

    Baca juga: Swedia, 1958

    Israel Keras Kepala, Indonesia Gugur di Fase Kualifikasi

    FIFA menetapkan batas waktu pada 20 September 1957 agar Indonesia dan Israel mencapai kesepakatan untuk melanjutkan pertandingan kualifikasi. Pihak PSSI meminta komite eksekutif Piala Dunia FIFA untuk mencari jalan keluar lain untuk melanjutkan pertandingan, apabila proposal PSSI ditolak Israel.

    Pihak IFA menyampaikan balasan proposal PSSI dan bersikukuh dengan sikap sebelumnya. Timnas Israel ingin supaya pertandingan kandang mereka digelar di Tel Aviv, sementara untuk leg kedua di tempat netral.

    Sikap koppig (keras kepala) Israel itu menjadi jalan buntu buat PSSI. Indonesia dan Israel tidak mencapai kesepakatan sesuai tenggat waktu dari FIFA. Komite eksekutif FIFA memutuskan mencoret Indonesia dari kualifikasi Piala Dunia dan dianggap mengundurkan diri, lantaran tak menyelenggarakan laga kontra Israel dengan alasan politik.

    Surat kabar Java-Bode : Nieuws, Handels- en Advertentieblad voor Nederlandsch-Indie melaporkan, PSSI melalui ketua umumnya, R. Maladi, belum menerima pesan resmi dari FIFA hingga awal November soal pembatalan laga Indonesia vs Israel di babak kualifikasi zona Asia/Afrika.

    Keputusan resmi FIFA baru diberitakan di media massa pada 12 November 1957. Pertandingan Indonesia vs Israel tidak akan digelar dan Israel berhak ke fase berikutnya. Indonesia juga didenda sebesar 5.000 franc karena melanggar Pasal 6 Peraturan FIFA, terkait hukuman kepada negara yang mengundurkan diri ketika sudah memainkan pertandingan kualifikasi Piala Dunia.

    Gugurnya Indonesia di babak kualifikasi membuat Israel melaju ke putaran akhir zona Asia/Afrika tanpa melakoni pertandingan sejak fase pertama. Di partai puncak, Yehoshua Glazer dkk bertemu wakil Afrika, Sudan.

    Sudan menolak bermain di putaran akhir kualifikasi akibat boikot Liga Arab kepada Israel. Alhasil, Israel menjadi pemenang zona Asia/Afrika dan lolos ke Piala Dunia 1958 tanpa pernah menginjak lapangan.

    Israel Kubur Mimpi ke Swedia

    Lolosnya Israel tanpa menjalani pertandingan satu pun bertabrakan dengan aturan FIFA, yang mensyaratkan tim yang lolos ke Piala Dunia minimal mengikuti satu pertandingan kualifikasi. Komite Piala Dunia FIFA menolak kelolosan Israel dengan cara seperti itu.

    Pada akhirnya, FIFA memutuskan Israel harus bertanding memperebutkan tiket ke Piala Dunia 1958 di Swedia dengan menghadapi tim yang tak lolos Zona Eropa, tapi memiliki nilai tertinggi di fase kualifikasi. Jatah tersebut jatuh kepada Timnas Wales.

    Duel Israel vs Wales digelar dua leg pada 15 Januari 1958 di Tel Aviv, serta 5 Februari 1958 di Cardiff. Wales sukses memenangkan dua pertandingan itu dengan skor identik 2-0, sehingga berhak atas satu tempat di babak 16 besar Piala Dunia 1958.

    Sampai saat ini, Wales menjadi satu-satunya tim nasional yang lolos ke putaran Piala Dunia setelah tersingkir di fase kualifikasi normal. Ada pun Israel baru bisa mencicipi Piala Dunia 12 tahun berselang, yakni pada Piala Dunia 1970 di Meksiko.

    Pada 1974 Israel memutuskan hengkang dari Federasi Sepakbola Asia (AFC) akibat permasalahan politik. Israel kemudian bergabung ke UEFA pada 1994 dan melakoni kualifikasi Piala Dunia di zona Eropa, yang mana mereka belum lagi mampu mengulangi pencapaian lolos ke Piala Dunia.

    Sementara itu untuk Timnas Indonesia, Piala Dunia bagaikan mimpi yang belum kesampaian sampai saat ini. Skuad Garuda bahkan sudah dipastikan tak lolos ke Piala Dunia 2022, lantaran mendekam di Grup G Kualifikasi Zona Asia.

    ------------

    Sumber Referensi:

    Surat Kabar Sezaman
    'Voetbalwedstrijd Indonesie - Israel', Java-Bode : Nieuws, Handels- en Advertentieblad voor Nederlandsch-Indie 27 Juni 1957.

    'Voetbalwedstrijd Indonesië - Israël Diplomatieke moeilijkheden?', Indische courant voor Nederland 1 Juli 1957.

    'Geen doorgang wedstrijd PSSI-Israel?', Algemeen Indisch dagblad : de Preangerbode 29 Juli 1957.

    'Niet op Indonesische bodem: Voetbal tegen Israel kan kwestie- W. Irian beinvloeden', Algemeen Indisch dagblad : de Preangerbode 29 Juli 1957.

    'Congresbesluiten PSSI: Resolutie om Indonesie-Israel door te laten gaan', Algemeen Indisch dagblad : de Preangerbode 1 Agustus 1957.

    'Indonesie-Israel: PSSI dient resolutie in', Algemeen Indisch dagblad : de Preangerbode 7 Agustus 1957.

    'Indonesië-Israël Resolutie PSSI aan regering', Java-Bode : Nieuws, Handels- en Advertentieblad voor Nederlandsch-Indie 7 Agustus 1957.

    'President Nasser tegen Indonesië-Israël', Het nieuwsblad voor Sumatra 10 Agustus 1957.

    'PSSI overhandigt resolutie', Indische courant voor Nederland 21 Agustus 1957.

    'Israel weigert ini neutraal land te spelen', Het nieuwsblad voor Sumatra 27 Agustus 1957.

    'Israel handhaaft standpunt van thuiswedstrijd, Delegatie PSSI bij Lotsy', Algemeen Indisch dagblad : de Preangerbode 7 September 1957.

    'PSSI delegatie in Europa: Israelische voetbalbond blijft op haar standpunt staan', Java-Bode : Nieuws, Handels- en Advertentieblad voor Nederlandsch-Indie 7 September 1957.

    'Indonesië - Israël PSSI bereid alle geldelijke verliezen te vergoeden', Java-Bode : Nieuws, Handels- en Advertentieblad voor Nederlandsch-Indie 9 September 1957.

    'Voetbal en Politiek: Indonesische voorstellen via FIFA aan Israel', Algemeen Indisch Dagblad: de Preangerbode 10 September 1957.

    'Wereldkampioenschap voetbal: Israel moet kwalificatie wedstrijd spelen tegen Europese ploeg', Java-Bode : Nieuws, Handels- en Advertentieblad voor Nederlandsch-Indie 4 November 1957.

    'FIFA eist boete, Druk internationaal programma voor PSSI', Java-Bode : Nieuws, Handels- en Advertentieblad voor Nederlandsch-Indie 12 November 1957.

    Buku
    Couch, Terry. 2002. The World Cup: The Complete History. London: Aurum Press.

    (bay/krs)
    Kontak Informasi Detikcom
    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Media Partner: promosi[at]detik.com
    Iklan: sales[at]detik.com
    More About the Game