Match Analysis
Liga Inggris: Arsenal 3-4 Liverpool
Hujan Gol sebagai Konsekuensi dari Pertahanan Buruk
Foto: Action Images via Reuters / Tony O'Brien
Jakarta - Tidak diragukan lagi, pertandingan big match "kepagian" antara Arsenal dan Liverpool yang berakhir dengan kemenangan 4-3 untuk Liverpool, adalah pertandingan paling menarik di pekan pertama Liga Primer Inggris (meskipun masih ada Chelsea melawan West Ham United dinihari nanti).
Merefleksikan hasil pertandingan ini kepada penampilan Arsenal maupun Liverpool adalah hal yang sama gilanya dengan gol demi gol serta peluang demi peluang pada pertandingan semalam. Kita tidak bisa melihat pola yang jelas dari hasil pertandingan ini, karena ada banyak faktor yang mencampuri, seperti badai cedera dari kedua kesebelasan.
Kedua kesebelasan harus bisa bertahan lebih baik, yang pasti kalimat itu adalah pelajaran pertama. Musim lalu Petr Cech menjadi penjaga gawang yang paling banyak mencetak clean sheet di Liga Primer, tapi hanya dalam satu pertandingan saja (di kandang sendiri pula), ia bisa kebobolan sampai empat gol.
Satu hal lainnya yang bisa kita lihat adalah bagaimana Liverpool terlihat sangat kuat dan sangat cepat dari cara mereka menyerang. Begitu juga Arsenal, terutama ketika mereka sempat tertinggal 4-1 di mana The Gunners bisa merespons dengan baik.
"Respons yang baik" tersebut memang tidak membuat hasil pertandingan menjadi 4-4. Tapi setidaknya, hal positifnya adalah mereka tidak sampai dipermalukan di kandang mereka sendiri.
Mudah untuk Menyalahkan Chambers dan Holding
Cederanya Per Mertesacker dan Gabriel Paulista serta Laurent Koscielny yang belum pulih membuat Calum Chambers dan Robert Holding harus berduet di depan Cech pada pertandingan semalam. Hal ini tentunya bukan berita bagus untuk Arsenal.
Meskipun demikian, mereka menjalani pertandingan babak pertama dengan positif, yaitu dengan menekan Liverpool sampai ke wilayah yang tinggi. Secara total, Arsenal berhasil mencetak 30 ball recovery pada babak pertama. Peluang Theo Walcott (dilanggar oleh Alberto Moreno yang menyebabkan penalti, namun penalti tersebut berhasil digagalkan) dan gol dari Walcott juga berawal dari skema ini yang berjalan dengan baik.
Namun entah kenapa di babak kedua mereka menurunkan pressing mereka, padahal skor saat itu 1-1. Hal ini justru membuat Juergen Klopp bisa memainkan 'gegenpressing'-nya lebih leluasa di babak kedua.
Secara umum Arsenal lebih menguasai pertandingan (51% penguasaan bola dan 80% operan akurat) tapi mereka kerepotan saat serangan terputus (Arsenal kehilangan penguasaan sebanyak 20 kali) akibat gegenpressing Liverpool tersebut.
Berkali-kali kita bisa melihat, saat transisi dari meyerang ke bertahan, Chambers dan Holding terlambat turun, Mohamed Elneny dan Francis Coquelin tidak cukup melindungi back four, sehingga berkali-kali lubang tercipta di lini belakang.
Dengan mudahnya kita pasti akan menyalahkan duet bek Arsenal ini. Tapi kita lupa kalau Liverpool memiliki Philippe Coutinho, Sadio Mane, dan Roberto Firmino. Jangankan Chambers-Holding, duet bek tengah manapun pasti akan kesulitan menghadapi kecepatan dan kemampuan ketiga pemain tersebut.
Mane dan Coutinho Jadi Kunci Serangan Liverpool
Sama seperti Arsenal, pertahanan Liverpool juga banyak dikritik semalam. Bukan hanya Moreno, tapi hampir seluruh pemain bertahan The Reds bermain buruk terutama pada babak pertama dan saat sudah unggul 4-1.
Liverpool kemudian memainkan babak kedua dengan lebih baik. Semua peluang yang berhasil mereka ciptakan, mereka maksimalkan dengan baik.
Lubang yang disebabkan oleh koordinasi yang belum sempurna dari Chambers, Holding, dan gelandang bertahan di atas mampu dimanfaatkan oleh Liverpool, baik lewat dribel (9 dribel Liverpool di sepertiga akhir; gol keempat Liverpool sangat mencerminkan hal ini) maupun operan (8 dari 13 peluang Liverpool adalah operan yang masuk ke kotak penalti; gol kedua dan ketiga Liverpool mencerminkannya).
Mane menjadi pemain yang paling berpengaruh dari dribel (4 dribel sukses dari 6 percobaan) dan operannya (93% operan sukses), sementara Coutinho berbahaya dengan 2 peluang dan 2 umpan silang yang berhasil ia ciptakan.
Arsene Wenger mencoba menutup lubang tersebut dengan memasukkan Granit Xhaka. Tapi ia bukan menjadi jawaban dan justru membuat masalah dengan 6 tekel gagal dari 6 total tekelnya, dan membuat 4 pelanggaran. Padahal gelandang asal Swiss ini hanya bermain selama 24 menit. Namun melihat kualitasnya, Xhaka bukan pemain yang buruk, ia hanya belum nyetel.
Arsenal Manfaatkan Bola Lambung
Pendekatan Liverpool yang sukses mengeksploitasi pertahanan Arsenal coba ditiru oleh Wenger terutama setelah Alex Oxlade-Chamberlain dan Santiago Cazorla dimasukkan.
Arsenal coba memecah kebuntuan juga dengan memanfaatkan bola lambung (6 umpan silang berhasil dari 20 percobaan dan 9 bola panjang berhasil di sepertiga akhir dari 16) yang terbukti bisa membuat Liverpool panik. Liverpool sendiri lemah dalam bola udara, di mana mereka hanya memenangkan 32% di antaranya.
Pendekatan Wenger setelah tertinggal 4-1 ini dinilai sangat jitu. Chamberlain mampu menggiring bola dan melepaskan tembakan yang sebenarnya bisa diantisipasi, namun malah bersarang di gawang Simon Mignolet.
Kemudian gol dari Chambers, hasil dari umpan tendangan bebas Cazorla juga menunjukkan bahwa pertahanan Liverpool semalam "sebelas-duabelas" dengan Arsenal.
Kesimpulan
Apa yang sudah kami sampaikan pada pratinjau, semuanya terjadi pada pertandingan semalam. [Baca selengkapnya: 'Gegenpressing' Bisa Untungkan The Reds atas The Gunners]
Bukan penyerang, Arsenal saat ini terlihat lebih butuh bek tengah. Arsene Wenger bisa dibilang salah karena dia sudah tahu Per Mertesacker cedera sejak berpekan-pekan yang lalu, tapi tidak mendatangkan siapa-siapa dengan cepat.
Sementara dari Liverpool, sekarang Liverpool memiliki penyerangan yang sangat menarik, terutama lewat Coutinho, Mane, danFirmino. Jika Daniel Sturridge sudah fit, maka serangan mereka akan berpotensi lebih berbahaya lagi.
Perhatian khusus Liverpool ada pada pertahanan mereka (bukan hanya Moreno di full-back kiri). Ragnar Klavan bermain cukup baik, tapi selain Klavan, Liverpool banyak melakukan kesalahan. Arsenal sejujurnya "masih lebih baik" karena bek-bek mereka memang kurang berpengalaman.
Kemudian kita bisa melihat taktik Klopp yang menarik, tapi kita tidak bisa menuntut 'gegenpressing' sepanjang 90 menit selama 38 pertandingan penuh di Liga Primer Inggris. Itu akan sangat melelahkan. "Beruntung" Liverpool tidak bermain di Eropa.
Pada intinnya kita tidak bisa melihat pertandingan ini saja (yang sejujurnya sangat menarik) untuk mengira-ngira penampilan Arsenal dan Liverpool sepanjang musim nanti. Tapi dari semua poin di atas, kesimpulan utama yang bisa kita ambil adalah: sepakbola itu kadang sesederhana kedua tim dengan pertahanan buruk; kita semua bisa terhibur.
(a2s/roz)
Merefleksikan hasil pertandingan ini kepada penampilan Arsenal maupun Liverpool adalah hal yang sama gilanya dengan gol demi gol serta peluang demi peluang pada pertandingan semalam. Kita tidak bisa melihat pola yang jelas dari hasil pertandingan ini, karena ada banyak faktor yang mencampuri, seperti badai cedera dari kedua kesebelasan.
![]() |
Kedua kesebelasan harus bisa bertahan lebih baik, yang pasti kalimat itu adalah pelajaran pertama. Musim lalu Petr Cech menjadi penjaga gawang yang paling banyak mencetak clean sheet di Liga Primer, tapi hanya dalam satu pertandingan saja (di kandang sendiri pula), ia bisa kebobolan sampai empat gol.
Satu hal lainnya yang bisa kita lihat adalah bagaimana Liverpool terlihat sangat kuat dan sangat cepat dari cara mereka menyerang. Begitu juga Arsenal, terutama ketika mereka sempat tertinggal 4-1 di mana The Gunners bisa merespons dengan baik.
"Respons yang baik" tersebut memang tidak membuat hasil pertandingan menjadi 4-4. Tapi setidaknya, hal positifnya adalah mereka tidak sampai dipermalukan di kandang mereka sendiri.
Mudah untuk Menyalahkan Chambers dan Holding
Cederanya Per Mertesacker dan Gabriel Paulista serta Laurent Koscielny yang belum pulih membuat Calum Chambers dan Robert Holding harus berduet di depan Cech pada pertandingan semalam. Hal ini tentunya bukan berita bagus untuk Arsenal.
Meskipun demikian, mereka menjalani pertandingan babak pertama dengan positif, yaitu dengan menekan Liverpool sampai ke wilayah yang tinggi. Secara total, Arsenal berhasil mencetak 30 ball recovery pada babak pertama. Peluang Theo Walcott (dilanggar oleh Alberto Moreno yang menyebabkan penalti, namun penalti tersebut berhasil digagalkan) dan gol dari Walcott juga berawal dari skema ini yang berjalan dengan baik.
Ball recovery yang dilakukan oleh Arsenal sepanjang babak pertama. Sumber: FourFourTwo Stats Zone |
Namun entah kenapa di babak kedua mereka menurunkan pressing mereka, padahal skor saat itu 1-1. Hal ini justru membuat Juergen Klopp bisa memainkan 'gegenpressing'-nya lebih leluasa di babak kedua.
Secara umum Arsenal lebih menguasai pertandingan (51% penguasaan bola dan 80% operan akurat) tapi mereka kerepotan saat serangan terputus (Arsenal kehilangan penguasaan sebanyak 20 kali) akibat gegenpressing Liverpool tersebut.
Berkali-kali kita bisa melihat, saat transisi dari meyerang ke bertahan, Chambers dan Holding terlambat turun, Mohamed Elneny dan Francis Coquelin tidak cukup melindungi back four, sehingga berkali-kali lubang tercipta di lini belakang.
Dengan mudahnya kita pasti akan menyalahkan duet bek Arsenal ini. Tapi kita lupa kalau Liverpool memiliki Philippe Coutinho, Sadio Mane, dan Roberto Firmino. Jangankan Chambers-Holding, duet bek tengah manapun pasti akan kesulitan menghadapi kecepatan dan kemampuan ketiga pemain tersebut.
Mane dan Coutinho Jadi Kunci Serangan Liverpool
Sama seperti Arsenal, pertahanan Liverpool juga banyak dikritik semalam. Bukan hanya Moreno, tapi hampir seluruh pemain bertahan The Reds bermain buruk terutama pada babak pertama dan saat sudah unggul 4-1.
Liverpool kemudian memainkan babak kedua dengan lebih baik. Semua peluang yang berhasil mereka ciptakan, mereka maksimalkan dengan baik.
Lubang yang disebabkan oleh koordinasi yang belum sempurna dari Chambers, Holding, dan gelandang bertahan di atas mampu dimanfaatkan oleh Liverpool, baik lewat dribel (9 dribel Liverpool di sepertiga akhir; gol keempat Liverpool sangat mencerminkan hal ini) maupun operan (8 dari 13 peluang Liverpool adalah operan yang masuk ke kotak penalti; gol kedua dan ketiga Liverpool mencerminkannya).
Grafis penyerangan Liverpool. Sumber: FourFourTwo Stats Zone |
Mane menjadi pemain yang paling berpengaruh dari dribel (4 dribel sukses dari 6 percobaan) dan operannya (93% operan sukses), sementara Coutinho berbahaya dengan 2 peluang dan 2 umpan silang yang berhasil ia ciptakan.
Arsene Wenger mencoba menutup lubang tersebut dengan memasukkan Granit Xhaka. Tapi ia bukan menjadi jawaban dan justru membuat masalah dengan 6 tekel gagal dari 6 total tekelnya, dan membuat 4 pelanggaran. Padahal gelandang asal Swiss ini hanya bermain selama 24 menit. Namun melihat kualitasnya, Xhaka bukan pemain yang buruk, ia hanya belum nyetel.
Arsenal Manfaatkan Bola Lambung
Pendekatan Liverpool yang sukses mengeksploitasi pertahanan Arsenal coba ditiru oleh Wenger terutama setelah Alex Oxlade-Chamberlain dan Santiago Cazorla dimasukkan.
Arsenal coba memecah kebuntuan juga dengan memanfaatkan bola lambung (6 umpan silang berhasil dari 20 percobaan dan 9 bola panjang berhasil di sepertiga akhir dari 16) yang terbukti bisa membuat Liverpool panik. Liverpool sendiri lemah dalam bola udara, di mana mereka hanya memenangkan 32% di antaranya.
Grafis umpan silang Liverpool (kiri) dan Arsenal (kanan). Sumber: Squawka |
Pendekatan Wenger setelah tertinggal 4-1 ini dinilai sangat jitu. Chamberlain mampu menggiring bola dan melepaskan tembakan yang sebenarnya bisa diantisipasi, namun malah bersarang di gawang Simon Mignolet.
Kemudian gol dari Chambers, hasil dari umpan tendangan bebas Cazorla juga menunjukkan bahwa pertahanan Liverpool semalam "sebelas-duabelas" dengan Arsenal.
Kesimpulan
Apa yang sudah kami sampaikan pada pratinjau, semuanya terjadi pada pertandingan semalam. [Baca selengkapnya: 'Gegenpressing' Bisa Untungkan The Reds atas The Gunners]
Bukan penyerang, Arsenal saat ini terlihat lebih butuh bek tengah. Arsene Wenger bisa dibilang salah karena dia sudah tahu Per Mertesacker cedera sejak berpekan-pekan yang lalu, tapi tidak mendatangkan siapa-siapa dengan cepat.
Sementara dari Liverpool, sekarang Liverpool memiliki penyerangan yang sangat menarik, terutama lewat Coutinho, Mane, danFirmino. Jika Daniel Sturridge sudah fit, maka serangan mereka akan berpotensi lebih berbahaya lagi.
Perhatian khusus Liverpool ada pada pertahanan mereka (bukan hanya Moreno di full-back kiri). Ragnar Klavan bermain cukup baik, tapi selain Klavan, Liverpool banyak melakukan kesalahan. Arsenal sejujurnya "masih lebih baik" karena bek-bek mereka memang kurang berpengalaman.
Kemudian kita bisa melihat taktik Klopp yang menarik, tapi kita tidak bisa menuntut 'gegenpressing' sepanjang 90 menit selama 38 pertandingan penuh di Liga Primer Inggris. Itu akan sangat melelahkan. "Beruntung" Liverpool tidak bermain di Eropa.
Pada intinnya kita tidak bisa melihat pertandingan ini saja (yang sejujurnya sangat menarik) untuk mengira-ngira penampilan Arsenal dan Liverpool sepanjang musim nanti. Tapi dari semua poin di atas, kesimpulan utama yang bisa kita ambil adalah: sepakbola itu kadang sesederhana kedua tim dengan pertahanan buruk; kita semua bisa terhibur.
(a2s/roz)




Ball recovery yang dilakukan oleh Arsenal sepanjang babak pertama. Sumber: FourFourTwo Stats Zone
Grafis penyerangan Liverpool. Sumber: FourFourTwo Stats Zone
Grafis umpan silang Liverpool (kiri) dan Arsenal (kanan). Sumber: Squawka




