Masukkan kata pencarian minimal 3 karakter
Searching.. Please Wait
    Pandit

    Boca Juniors vs River Plate

    Derby Super Classico!

    - detikSport
    AFP/Juan Mabrotamata AFP/Juan Mabrotamata
    - -

    Tanggal 26 Juni 2011 tak akan pernah dilupakan semua pecinta sepakbola di Argentina. Hasil imbang 1-1 antara River Plate versus Belrgano secara tragis mengirim River Plate ke kasta bawah sepakbola Argentina. Momentum itu membuat Buenos Aires meledak oleh dua ekspresi yang sangat berseberangan.

    Di daerah utara terjadi kerusuhan, bentrokan antara ribuan suporter River Plate dengan polisi anti huru hara, berujung pada satu suporter tewas, 55 orang dan 35 petugas polisi mengalami luka serius sehingga harus dilarikan ke rumah sakit.

    Penggunaan mobil watercanon, peluru karet dan gas air mata ternyata gagal meredam amukan suporter yang mengamuk di dalam Stadion El-Monumental -- kandang River. Malahan titik bentrokan yang semula hanya di sekitar stadion meluas ke semua penjuru distrik Nunez dan Belgrano. Raungan ambulans dan mobil polisi bergantian terdengar di mana-mana. Asap hitam membumbung tinggi di beberapa pusat bisnis dan perbelanjaan akibat tong sampah, kendaraan, dan toko-toko yang dibakar serta dijarah suporter.

    Ringkikan pasukan polisi berkuda dan bunyi suara beberapa helikopter di atas langit Buenos Aires yang hilir mudik mencari perusuh, membuat daerah utara kota, yang dikenal sebagai tempat elite itu menjadi seolah seperti medan perang.

    Menteri Pertahanan Nilda Garre bahkan menyatakan ibukota Argentina dalam kondisi darurat. Sedikitnya 2.200 polisi dikerahkan untuk meredam amukan suporter. Mobilisasi polisi untuk mengatasi suporter ini merupakan yang terbesar dalam sejarah sepakbolaArgentina.

    Tak hanya kekerasan dan kerusuhan yang terjadi di wilayah utara itu. Banjir airmata pun terjadi di sana. Puluhan ribu penggemar River menangisi suatu tragedi yang menjadi noda hitam dalam sejarah klub yang pernah merengkuh 33 kali juara Primera Division itu. Dalam 110 tahun berdirinya klub, sejak 1901, baru kali itu River harus mengalami kenyataan pahit turun ke Divisi B.



    Sementara itu, jauh dari Distrik Nunez, 15 kilometer ke arah selatan Buenos Aires, tepatnya di Distrik La Boca, ribuan fans Boca Juniors turun ke jalan-jalan, berkonvoi, dan berbahagia merayakan apa yang terjadi di daerah utara. Ada yang berjalan kaki membawa tambur, terompet, bendera, payung dan atribut sepakbola dengan cotak biru-kuning. Ada pula yang membawa kendaraan sembari membunyikan klakson membuat bising tak terkira. Yel-yel "XXXXXXX" yang kerap digunakan untuk menghina River Plate, dinyanyikan serempak diringi tepuk tangan yang kompak.

    Replika peti mati berwarna coklat, yang di dalamnya terdapat boneka dengan berpakaian jersey kebesaran River Plate di arak keliling kota. Tak ketinggalan banner dengan tulisan "RIP 25 May 1901 - 26 June 2011" berada di barisan depan konvoi, sekaligus menegaskan bahwa seteru abadi mereka dalam derby super classico, River Plate, telah mati.

    **

    Bagi Gavin Gamilton, editor majalah World Soccer, super classico di Britania Raya, derby old firm perang agama Katolik vs Protestan, Glasgow Celtic vs Glasgow Rangers, tampak seperti pertandingan anak SMA jika dibandingkan dengan laga Boca vs River.

    Bagi agen travel, super classico ini berarti ladang pundi-pundi dolar. Tak sedikit wisatawan mancanegara yang sengaja datang ke Buenos Aires hanya untuk sekadar menonton langsung pertandingan ini. Bagi politikus, super classico adalah ajang kampanye mempopulerkan namanya dengan sok tahu mengomentari tim Boca atau River.

    Namun bagi 3/4 populasi masyarakat Argentina, derby super classico adalah lebih penting dari segalanya. Tak jarang aktivitas di tengah masyarakat terganggu saat derby berlangsung, akibat semua orang fokus menyaksikan pertandingan melalui televisi maupun radio.



    River Plate dan Boca Juniors memang merupakan tim satu kota yang berasal dari Buenos Aires. Namun, tim kota metropolitan terbesar kedua di Amerika Selatan itu sebenarnya bukan cuma dua itu. Ada 5 tim besar lain seperti Argetinos Juniors, All Boys, Velez Sarsfield, Huracan dan San Lorenzo. Hanya saja gaung persaingan River-Boca lebih dikenal orang.

    Ada tiga alasan utama kenapa derby ini pantas disebut super classico yang levelnya satu tingkat di atas derby classico Barcelona vs Real Madrid di Spanyol. Super classico adalah derby yang berkaitan dengan sosial ekonomi, estetika dan sejarah antara kedua tim dan lingkungan yang mereka wakili.

    Pertama adalah jumlah pendukung kedua tim ini sangatlah fantastis. Di awal dijelaskan, derby super classico akan menyedot perhatian 3/4 populasi penduduk negara Argentina. Berdasarkan hasil survey, hampir lebih dari 31,5 juta jiwa dari 42 juta jiwa penduduk Argentina adalah penggemar setia River Plate dan Boca Juniors. Rinciannya, 40,4 % penduduk bersimpati kepada Boca dan 32,6 % persen River Plate. Baru sisanya terpecah ke klub-klub lain.

    Wajar saja jika markas Boca di La Bombonera dan River di El Monumental selalu penuh ketika dua tim ini melakukan pertandingan. Orang dari semua penjuru negara berdatangan berkumpul di stadion. Saat laga musim panas 19 Januari 2013 lalu -- untuk menyebut contoh terakhir --, yang digelar di tempat netral, tepatnya Mar De Plata, 5 Jam dari Buenos Aires, antrean tiket kedua pendukung kedua tim mencapai 1,5 kilometer!



    Kedua, Boca dan River adalah dua klub besar yang mendominasi kejuaraan nasional selama lebih dari 70 tahun. Hampir setengah jumlah total piala kompetisi domestik milik kedua tim ini. River menjadi juara 36 kali, Boca 30 kali. Sedikit bedanya, Boca boleh lebih berbangga karena mampu menyabet 16 gelar internasional, sedangkan River cuma 4 kali.

    Ketiga, meskipun kedua tim memiliki basis pendukung dari berbagai kelas masyarakat, namun kebanyakan rivalitas Boca dan River adalah persaingan antara kelas pekerja masyarakat kelas bawah melawan kelas menengah atas yang didominasi orang terdidik dan kaya. Data mencatat ,35 % orang kaya di Argentina adalah fanatik River Plate, sementara 47 % pendukung Boca Juniors adalah orang miskin.

    Persaingan ini bisa terlihat dari dua distrik kedua tim ini berasal. Nunez adalah kawasan elit dengan bangunan megah, apartemen mewah, universitas dan pusat bisnis yang bertebaran di mana-mana. Banyak kalangan seniman, musisi dan ilmuwan berasal dari wilayah ini. Karena itulah River Plate dijuluki sebagai Los Millonarios, Sang Milyuner.

    Sementara itu La Boca adalah distrik kota pelabuhan yang masyarakatnya merupakan pekerja kelas bawah. La Boca merupakan kawasan miskin di Buenos Aires. Bagi yang pernah melihat kawasan padat di Amerika Selatan dengan cat rumah yang berwarna-warni kontras satu sama lain, itu adalah distrik La Boca.

    Mayoritas penduduk La Boca adalah keturunan imigran Italia. Berdirinya klub Boca Juniors pun tak lepas dari keberadaan 5 imigran asal Genoa yang mendirikan itu klub di tahun 1905. Julukan klub sebagai Los Xeneizes (The Genoese) tak lepas dari sejarah ini. Bahasa sehari-hari yang dipakai di sana adalah bahasa Italia, kontras dengan pendukung River Plate yang menggunakan bahasa resmi negara yaitu Spanyol.

    Kedua klub sebenarnya memiliki asal-usul yang sama berasal dari distrik miskin La Boca, namun River akhirnya memilih untuk pindah ke distrik yang lebih makmur ke Nunez di utara kota pada tahun 1923.

    Menjadi kebiasaan jika kedua pendukung selalu saling berkunjung saat derby digelar. Untuk bertandang ke kandang lawan, kedua pendukung selalu berkonvoi bersama-sama dari distrik mereka ke kandang lawan, untuk mencegah terjadinya korban. Dan hal ini selalu menarik wisatawan. Iring-iringan puluhan bus yang membawa supporter duduk di atas kap, dengan bendera dan atribut lengkap, serta kendaraan truk terbuka yang membawa penabuh drum dan peniup terompet, membuat karnaval ini menjadi perhatian warga ibukota.

    Tak hanya itu, aroma bumbu kekerasan tak lupa menjadi ciri khas dari super classico ini. Setiap derby digelar ada saja suporter atau polisi yang masuk rumah sakit. Kekerasan terparah akibat derby ini terjadi pada tahun 23 Juni 1968, saat 71 penggemar Boca tewas dan 150 orang lainnya luka-luka akibat kerusuhan di atas tribun yang terjadi di sektor 12 El Monumental. Orang akan lebih mengenal tragedi itu dengan sebutan "Puerta 12".



    Penggemar Boca biasa meledek River Plate dengan sebutan Gallinas -- Si Ayam -- menyindir pendukung River yang didominasi kelas atas yang sangat penakut. Hinaan sang rival ini ditanggapi serius oleh pihak klub, sampai-sampai di tahun 1986 Pemilik klub Hugo Santilli menambahkan elemen singa dalam logo River. Sementara itu, sebagai balasannya, fans River menjuluki Boca sebagai Los Puercos -- Si Babi --, guna menyindir La Bombonera (stadion Boca) yang terletak di daerah miskin, kumuh dan bau.

    Setelah 17 bulan River Plate terdegradasi ke Divisi Primera B, 28 Oktober 2012 sebuah balon babi besar berpakaian kebesaran Boca (biru kuning) terbang rendah di atas stadion El Monumental, pertanda derby superclassico telah kembali. Dalam laga yang berakhir dengan skor imbang 2-2 itu, kekerasan kembali terjadi: 21 orang dilarikan ke rumah sakit.

    Sepakbola adalah agama kedua penduduk Argentina, dan menjadi pendukung Boca Juniors dan River Plate berarti pula meneruskan garis darah dan kebiasaan keluarga. Sering dijumpai sekeluarga mulai dari nenek hingga cucu bersama-sama datang dan mendukung tim kesayangannya di stadion. Tak sedikit putusnya hubungan keluarga bahkan perceraian antara pasangan suami istri terjadi jika ada salah satu yang memberontak dan pindah mendukung tim lain. Hal itu mungkin dirasakan legenda hidup Boca Juniors, Diego Maradona. Ia syok dan kecewa melihat sang anak, Diego Sinagra, yang menjadi penggemar setia River Plate.

    Sepakbola dan derby super classico adalah sesuatu yang serius di Argentina. Konsekuensi besar akan didapat jika menjadikan dua hal itu sebagai bahan lawakan. Wajar saja kalau bintang River Plate tahun 80an, Ubaldo Matildo Fillol, mengatakan derby ini sebagai "sound of football", hal yang tak mungkin dipisahkan karena sudah menjadi darah daging dari hidup pecinta sepakbola di Argentina.

    "Mereka hidup untuk menjadi rival. Jika derby ini hilang, mereka akan merasa kehilangan pertandingan penting," katanya.

    Hal serupa dikatakan Larry De Clay, komedian ternama di Argentina yang merupakan fans berat Boca Juniors. "Jika tak ada derby super classico, maka tak ada sepakbola di Argentina."

    Jadi, jika anda sangat menyukai atmosfir di stadion, menonton laga Boca Juniors vs River Plate sepertinya harus anda tonton, setidaknya sekali dalam seumur hidup.



    ===

    * Penulis: Aqwam Fiazmi Hanifan. Akun twitter: @aqfiazfan



    (Foto-Foto: AFP, Getty Images)



    (rin/nds)
    Kontak Informasi Detikcom
    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Media Partner: promosi[at]detik.com
    Iklan: sales[at]detik.com
    More About the Game