Masukkan kata pencarian minimal 3 karakter
Searching.. Please Wait
    Pandit

    Sepasang Palu Simbol Sejarah West Ham United

    Randy Aprialdi S - detikSport
    Logo West Ham United di stadion lama mereka, Bolyen Ground (Foto: Steve Bardens/Getty Images) Logo West Ham United di stadion lama mereka, Bolyen Ground (Foto: Steve Bardens/Getty Images)
    Jakarta - Bagi masyarakat London Timur, West Ham United adalah segala-galanya. Padahal di kota tersebut banyak gemerlap kesebelasan raksasa seperti Arsenal, Chelsea, dan Tottenham Hotspur. Hal ini dikarenakan masyarakat London Timur tahu bahwa West Ham, yang sebelumnya merupakan klub bernama Thames Ironworks, dibangun di atas kerja keras tangan-tangan besi masyarakat setempat.

    Kerja keras para pandai besi itu diwakili oleh sebuah perusahaan kapal dan besi di dermaga Bow Creek yang merupakan hilir Sungai Thames di kawasan Leamouth Wharf di Kota Canning sisi timur. Perusahaan ini menjadi sumber pencaharian masyarakat London Timur di bagian teknik sipil, mesin kelautan, kapal derek, teknik elektro, dan kendaraan darat seperti mobil maupun motor.

    Di Kota Canning juga tedapat Hermit Road yang menjadi tempat latihan Old Castle Swifts FC. Kesebelasan itu juga merupakan kesebelasan profesional pertama dari Essex di Skotlandia. Namun Old Castle Swifts mengalami kebangkrutan pada 1895. Dan dari situlah muncul kejelian duet pemilik Thames Ironworks dan Shipbuilding bernama Arnold Hills serta Dave Taylor.

    Dua orang itu memanfaatkan Hermit Road, yang sepeninggal Old Castle Swift menjadi tempat latihan bagi Thames Ironworks FC yang mereka buat. Logonya menggunakan sepasang palu, yang digunakan dalam proses pembuatan kapal, secara menyilang. Sementara seragamnya menggunakan warna biru tua karena Arnold merupakan mantan mahasiswa dari Universitas Oxford.

    Berdirinya Thames Ironworks pun turut mengambil beberapa elemen lain dari Old Castle Swifts, seperti pemain dan ofisial klub. Salah satunya Robert Stevenson yang menjadi kapten pertama Thames Ironworks. Tentu saja sebagian besar elemen lainnya adalah para pekerja di Thames Ironworks dan Shipbuilding itu sendiri.

    "Ada pria di antara mereka yang belajar memberikan umpan dan untuk mendorong kulit (bola) ke gawang. Tidak memikirkan profesionalisme. Boleh saya katakan, pernah dipikirkan oleh para pendiri, mereka bermaksud menjalankan klub mereka dengan amatir dan sekolah pertama mereka memilih tim dari pria di dalam pekerjaannya," celoteh Syd King, mantan pemain dan manajer pertama West Ham United.

    Sementara itu, penggunaan Hermit Road cuma bertahan satu tahun karena ada penggusuran sehingga harus mengungsi ke Browning Road di kawasan East Ham untuk sementara. Kemudian Thames Ironworks pindah ke Stadion Memorial Grounds dengan biaya 20 ribu poundsterling pada waktu itu. Biayanya ditanggung sendiri oleh Arnold karena Taylor menggeluti profesi sampingannya sebagai wasit sepakbola.

    Thames Ironworks memainkan pertandingan pertamanya melawan Royal Ordnance pada 7 September 1895, yang berakhir 0-0. Sementara pertandingan kompetitif pertama Ironworks terjadi saat menghadapi Chatham Town pada 12 Oktober 1895 dalam babak kualifikasi Piala FA. Mereka kalah 0-5. Tapi Ironworks cukup jadi daya tarik karena sekitar 3.000 penonton menghadiri pertandingan tersebut.

    Tanggal 14 Desember menjadi awal persinggungan mereka dengan Millwall FC di dunia sepakbola, yang kemudian menjadi sejarah dari persaingan West Ham dengan Millwall sampai saat ini. Saat itu Millwall masih memakai "Athletic" di belakang namanya, bukan "FC". Millwall Athletic juga merupakan kesebelasan dari para pekerja besi di London yang bersaing dengan Thames Irons pada waktu itu. Dan pada 14 Desember itulah mereka bertanding dan Thames Ironworks kalah dengan skor 0-6 -- tebesar dalam sejarah mereka.

    Satu tahun berikutnya, Arnold membuat gebrakan dengan menjadi Presiden Liga London. Ia menunjuk Francis Payne untuk menyusun regulasi kompetisi. Walhasil bergulirlah Liga London 1986 yang bertahan sampai 1997. Thames Ironworks mengalahkan Crouch End Vampires FC dengan skor 3-0 pada laga perdananya di Liga London. Kemudian Thames Ironworks mengakhiri Liga London 1896/1897 di peringkat empat.

    Tapi akibat adanya penghapusan beberapa kesebelasan seperti 1st Scots Guards FC dan Welsh London pada akhir musim, Thames Ironworks mendapatkan dua kemenangan secara acak dan peringkatnya direvisi menjadi runner-up di Liga London 1896/1897. Barulah pada musim berikutnya Thames Ironworks menjuarai Liga London. Mereka meraih gelar juara dengan 12 kemenangan, tiga kali seri, dan satu kekalahan dari 16 pertandingan Liga London musim itu.

    Thames Ironworks juga mencetak 47 gol dan kebobolan 15 kali sehingga menjadi kesebelasan dengan serangan sekaligus pertahanan terbaik pada musim tersebut. Kemudian Thames Ironworks sukses bergabung dengan Liga Selatan Inggris dan memulainya di divisi dua. Keikutsertaan itu membuat pemain-pemain lain dari London tertarik bergabung dengan Thames Ironworks, termasuk Tommy Moore yang bergabung dari Millwall sebagai rival terbesarnya.

    Selain Moore, pemain lain seperti McEarchrane, Patrick Leonard dan David Llyod pun ikut direkrut. Mereka mampu membuat Thames Ironworks semakin kuat. Buktinya, musim perdana Divisi Dua Liga Selatan Inggris 1898/1899 berhasil dijuarai setelah tidak terkalahkan dalam 18 pertandingan terakhir.

    Tapi promosi ke Divisi Satu Liga Selatan Inggris menjadi perjalanan penuh lika-liku bagi Thames Ironworks. Debutnya pun langsung ditandai dengan kekalahan dari Reading dengan skor 0-1. Mereka tidak langsung menggebrak seperti yang dilakukan pada musim perdana di Divisi Dua Liga Selatan Inggris sehingga langsung juara dan promosi.

    Padahal Arnold sudah menggelontorkan dana transfer sebesar 1.000 poundsterling untuk merekerut Bill Joyce, Kenny McKay, Syd King, dan Tom Bradshaw yang langsung ditunjuk menjadi kapten. Pada saat itu Bradshaw adalah mantan pemain tim nasional Inggris ternama dan berpengalaman. Masalah pertama yang dihadapi Thames Ironworks adalah ditinggal Patrick Leonard dan Walter Tranter ke kesebelasan lain.

    Setelah itu, Payne yang merupakan sekretaris klub harus diskors Asosiasi Sepakbola Inggris (FA) karena memukul pemain Birmingham sehingga mengundurkan diri dari jabatannya. Dan yang paling berpengaruh kepada penampilan Thames Ironworks pada pertandingan Divisi Satu Liga Selatan Inggris selanjutnya adalah kekalahan 0-7 dari Tottenham Hotspur pada 4 November.

    Kekalahan itu membuat mental Thames Ironworks terpukul sehingga penampilannya memburuk sampai akhir musim. Pukulan berikutnya datang ketika salah satu pemainnya meninggal karena sakit, yaitu Tom Bradshaw. Padahal ia adalah satu-satunya pemain yang mencetak gol dalam kekalahan 1-2 dari Millwall pada pertandingan piala FA 1899/1900. Pertandingan yang menyedot 13.000 penonton itu juga sekaligus menjadi yang terakhir bagi Bradshaw.

    Thames Ironworks beruntung bisa terhindar dari degradasi karena memenangi tiga pertandingan terakhir Divisi Satu Liga Selatan Inggris 1899/1900. Jelang berakhirnya musim itu juga Arnold kesulitan mengelola keuangan klub karena bisnisnya terbagi dalam pengambilalihan perusahaan taknik lainnya. Hal itu membuat adanya sebagian penujualan saham Thames Ironworks.

    Dan Thames Ironworks resmi mengundurkan diri dari kompetisi setelah musim berakhir. Kekosongan Thames Ironworks itu kemudian direformasi menjadi West Ham dan resmi diluncurkan pada 5 Juli 1900. Maka dari itu hari ini, 5 Juli 2017, bertepatan dengan hari reformasi Thames Ironworks menjadi West Ham 117 tahun silam. Sampai pada akhirnya reformasi itu mencetak pemain-pemain seperti Bobby Moore, Frank Lampard, Glen Johnson, Joe Cole, Michael Carrick, Paul Ince, atau Rio Ferdinand yang menjadi pesepakbola top Inggris.


    ----

    Akun Twitter penulis @RandyNteng dari @panditfootball


    (krs/cas)
    Load Komentar ...
    Kontak Informasi Detikcom
    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Media Partner: promosi[at]detik.com
    Iklan: sales[at]detik.com
    More About the Game
    pandit