Masukkan kata pencarian minimal 3 karakter
Searching.. Please Wait
    Pandit

    Ikhtiar Mematahkan Dominasi Bayern Munich

    Aqwam Fiazmi Hanifan - detikSport
    AFP/Thomas Niedermueller AFP/Thomas Niedermueller
    Jakarta -

    Dominasi mudah membangkitkan kebencian. Minimal perasaan iri, dengki atau sekadar tak senang.

    Banyak survey-survey yang menyatakan Bayern Munich memang klub paling di benci di Jerman. Wajar, pemenang memang rentan dibenci oleh mereka yang dikalahkan.

    Hegemoni dan kesombongan Bayern dalam urusan raihan gelar memang tak tertandingi. Siapa yang mau berlagak sombong di depan klub dengan raihan 23 kali juara Bundesliga, 16 kali juara DFB Pokal, 5 kali juara Liga Champions, 1 kali juara Piala UEFA dan Piala Winners, serta dua kali menjadi klub terbaik dunia lewat Piala Interkontinental.

    Di Jerman, tak ada yang sanggup menandingi Bayern. Di Jerman, Bayern jadi puncak tonggak kesombongan itu.

    Popularitas Bayern kian hari kian mentereng. Pendukungnya pun makin banyak dan menyebar ke seantero negeri. Dengan uang mereka dapat membeli segalanya. Hal inilah yang terkadang menambah kebencian para pembecinya semakin menjadi-jadi. Entah berapa banyak suporter klub-klub di Jerman yang sakit hati pemain idolanya dibajak pindah ke Bayern dengan iming-iming gaji tinggi.

    Budaya membajak pemain bintang untuk melemahkan klub rival dalam satu liga bukanlah hal yang haram dalam sepakbola profesional. Di Inggris, Spanyol, dan Italia itu hal yang lazim. Persaingan Real Madrid dan Barcelona membuat Liga Spanyol masih tak terlalu timpang, tetapi di Jerman? Dominasi kekuatan uang yang dimiliki Bayern terkadang merusak pasar.

    Cibiran selalu ditunjukan saat Bayern mengincar satu pemain, maka sudah pasti tertutup pintu bagi klub lainnya. Memang tak semua pemain di Jerman mata duitan. Marco Reus dan Leon Goretzka pernah menolak pinangan Bayern dan malah memilih Dortmund dan Schalke.

    Sikap Bayern yang membajak bintang seenaknya amat membekas di hati Fans Moenchengladbach yang tak akan pernah lupa saat Bayern membajak Lothar Matthaeus dan Stefan Effenberg dari sana. Kehilangan kedua pemain ini, Gladbach pun tampil melempem. Kesialan ini pernah dirasakan Leverkusen, Dortmund, FC Koln, dan 1860 Hoffenfeim.

    Salah satu kolomnis sepakbola dari Indonesia, Sindunatha, pernah menyebut dengan uang Bayern membuat banyak pemain menjadi Judas. Judas adalah pengkhianat. Dengan tiga puluh dinar ia "menjual" Yesus kepada pembenci Yesus. Judas mencium Yesus, ciuman sahabat yang berkhianat.

    Dari musim ke musim, sebutan Judas di Die Rotten silih berganti. Jika tahun lalu Judas itu diarahkan kepada Kiper Manuel Neuer oleh penggemar Schalke, kini Judas mengarah kepada Mario Goetze. Nasib Goetze mirip-mirip seperti Effenberg ditahun 1992 yang baru tumbuh menjadi harapan bagi Gladbach. Dengan sekali rogoh, Effenberg pun hijrah ke Bayern.

    Kini, siapa yang tak bisa mengelak ditawari gaji 7 juta euro per tahun? Pemuda berumur 21 Tahun semacam Goetze pasti tergiur. Dortmund pun sama. Lupakanlah rivalitas dan persaingan di Deutschland National Derby. Ini sepakbola modern, uang adalah segalanya termasuk 37 Juta euro yang ditebus Bayern untuk memboyong Goetze.

    Goetze sempat merayu dan meminta maaf pada para fans atas apa yang ia lakukan. Tapi para fans semakin menganggap sikap itu sebagai tanda bahwa dia memang pengkhianat,seperti ciuman Judas. Dalam injil, Judas gantung diri.

    Redaktur Eurosport, Michael Wollny, bahkan pernah menyebut bahwa selain merah dan putih, warna lain dari Bayern ialah hitam dan putih untuk menggambaran dualisme antara cinta atau benci. Tak ada ruang untuk netralitas.

    Tetapi toh mereka tak peduli meski mereka dibenci seantero republik, toh karena mereka memiliki uang dan prestasi. "Kebencian Anda adalah kebanggaan kami!" sebuah pernyataan penuh kebanggaan dari fans Bayern di tribun kepada pembenci-pembencinya.

    ****

     



    Selalu ada harapan Daud bisa mengalahkan Goliath. Sebagaimana Werder Bremen, Borussia Dortmund, Kaiserslautern, dan Gladbach yang pernah menjadi juara Bundesliga menjungkalkan dominasi Bayern dengan selisih poin amat tipis dalam dua dekade terakhir.

    Dua klub dari distrik Ruhr, Schalke dan Dormund, juga Leverkusen, siap menjawab pernyataan Jens Lehmann yang menyindir bahwa Bundesliga musim depan sebagai "Boredliga" [liga yang membosankan] karena kekuatan Die Rotten yang tak tertandingi.

    "Setiap kesebelasan kecil bisa menghancurkan Bayern," kata mantan pelatih Dormund Horst Koppel. "Tanpa uang banyak ternyata orang bisa jadi juara," timpal eks manajer Bremen, Willy Lemke.

    Orang harus ingat dalam satu dekade terakhir tim-tim kuda hitam selalu berada di puncak klasemen saat liga berakhir: Werder Bremen di musim 2003-2004, VfB Stuttgart pada 2007, VfL Wolsfburg pada 2009, dan terakhir Dortmund melakukannya di musim 2011.

    Jika menilik tiga musim sebelumnya, pesaing utama Die Roten hanyalah Die Borussen. Mereka memang kehilangan Goetze, tapi mencoba menambalnya dengan mendatangkan Henrikh Mhkitaryan dari Shaktar Donetsk. Godaan Bayern kepada Robert Lewandowski yang tak kunjung henti disiasati dengan kedatangan Pierre-Emerick Aubameyang pada posisi ujung tombak. Di lini belakang, center back Werder Bremen, Sokratis Papastathopoulos, diangkut ke Signal Iduna Park.

    Lain hal dengan Schalke. The Royal Blues lebih memilih pemain yang baru berkembang ketimbang pemain tenar yang punya nama. Mereka mendatangkan Leon Goretzka dan Christian Clemens sebagai buktinya. Di musim depan, Jens Keller nampaknya ingin lebih memakai jasa pemain-pemain jebolan akademi klub yang ternama di Jerman: Die Knappenschmiede yang mirip La Masia di Barca.

    Jebolan akademi seperti Julian Draxler, Max Meyer, dan Sead Kolasinac kini mulai masuk posisi inti. Untuk melengkapinya, Peter Herrmann, orang di belakang Jupp Heynckes di Bayern musim lalu, yang terkenal jeli melihat kemampuan pemain muda, bahkan dijadikan asisten pelatih Schalke.

    Sementara lain lagi Leverkusen. Di tiga musim terakhir, Leverkusen selalu menempati posisi papan atas klasemen akhir. Inferiroritas mereka di masa lalu bukan jaminan mereka akan lebih mengigit di musim ini. Kepergian Andre Schuerrle ke Chelsea diharap bisa ditutupi oleh Heung Min, si anak Korea Selatan yang diambil dari Hamburg SV.

    Sayang, ada sedikit kendala di belakang layar. Aktor dibalik kesuksesan pelatih Leverkusen, Sammy Hyypia, yaitu Sascha Lewandowski, mengalami konflik dengan petinggi klub dan memilih turun posisi dan fokus mengurusi akademi.

    Ketiga klub di atas seperti bersepakat dalam diam untuk untuk menghentikan dominasi Bayern di musim depan. Sebelum liga dimulai, perbincangan soal dominasi memang sempat membuat keeempat klub ini silih berdebat.

    Bermula saat Uli Hoeness menyeret Dormund sebagai klub lain yang patut dibenci karena bagian dari dominasi. "Saya takut Bundesliga itu seperti ‘Ketimpangan Spanyol', saat hanya dua tim menguasai liga yaitu Bayern dan Dortmund saja yang mampu untuk memenangkan gelar," ucap Hoeness.

    Juergen Klopp membalas pernyataan itu. "Saya lebih takut Bundesliga menyerupai ‘ketimpangan Skotlandia’ saat liga didominasi Celtic akibat Rangers yang degradasi. Itu lebih mengerikan ketimbang 'ketimpangan di Spanyol'. Jika Hoeness tak mau Bundesliga seperti di Spanyol, mungkin ia harus membuang beberapa pemain bagus daripada terus memperpanjang kontrak mereka," ucap Klopp seraya menyindir sikap Bayern yang terus merongrong kekuatan Dortmund dengan membajak pemain bintang macam Goetze dan terus menggoda Lewandowski.

    CEO Bayer Leverkusen Wolfgang Holzhauser pun angkat bicara. Secara galak ia memaki pengelola liga yang menurutnya harus bertanggung jawab atas dominasi Bayern. Holzhauser menawarkan solusi yaitu diberlakukannya sistem play-off. "Anda bisa memperkenalkan pertandingan semifinal dan final antara empat terbaik klub di papan atas klasemen," katanya. "Model ini akan menjadi menarik dalam baik secara olahraga maupun keuangan klub," timpalnya.

    Prediksi dominasi Bayern di musim ini memang banyak diperbincangkan orang. Tetapi kekalahan Bayern atas Dortmund di Piala Super Jerman 2-4 yang digelar 29 Juli lalu cukup mengalihkan isu itu.

    "How cool is that? We go as an underdog in the upcoming season," tulis fans Bayern di Twitter.

    Kekalahan dari Dortmund adalah kesempatan Bayern untuk merendah, merendah untuk meninggi. Mereka memposisikan diri mereka sebagai tim underdog yang tak memiliki kekuatan super tak terkalahkan seperti apa yang dibayangkan banyak orang.

    Ah, tetap saja itu hanya retorika belaka. Toh di awal musim ini, gonggongan kepada dominasi Muenchen tetap saja menyalak dengan keras. Masalahnya, terkadang, anjing yang mengonggong biasanya tidak sampai menggigit, bukan?

    ====

    *akun Twitter penulis: @aqfiazfan dari @panditfootball

    (roz/roz)
    Kontak Informasi Detikcom
    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Media Partner: promosi[at]detik.com
    Iklan: sales[at]detik.com
    More About the Game