Masukkan kata pencarian minimal 3 karakter
Searching.. Please Wait
    Pandit

    Eredivisie, Liga Calon Bintang yang 'Tak Terlihat'

    Novan Herfiyana - detikSport
    Jakarta - Apalah artinya musim libur kompetisi tanpa berita transfer. Hebohnya klub-klub dalam memperebutkan pemain, tentu jadi berita yang kerap ditunggu para penikmat sepakbola. Meski kadang "panas" atau bertele-tele, toh kabar tentang klub yang mencaplok pemain klub lain tetap seru untuk diikuti.

    Misalnya saja Liverpool dan Arsenal. Setelah sibuk memperebutkan Nuri Sahin di musim kompetisi lalu, keduanya melanjutkan rivalitas perebutan pemain ini dalam sosok Luis Suarez. Media mana yang tak sibuk memberitakan perihal pemain asal Uruguay ini dalam beberapa minggu ke belakang?

    Di balik ingar bingar semaraknya bursa transfer ini, tampak lima kompetisi elite Eropa yang masih bertahan di jajaran lima besar aktivitas perpindahan pemain: Premier League (Inggris), Primera Division (Spanyol), Serie A (Italia), Bundesliga 1 (Jerman), dan Ligue 1 (Prancis).

    Mesti diakui, lalulintas pesepakbola di antara kelima liga inilah yang sering menghiasai halaman depan surat kabar dan berbagai situs bola. Perpindahan pemain mulai dari Edinson Cavani, Falcao, Gonzalo Higuain, Mario Gotze, atau Jesus Navas pun kerap jadi topik hangat di kalangan para pecinta sepak bola.

    Lalu bagaimana kabar dari negeri Belanda?

    Boleh dikatakan Eredivisie jadi anomali jika dibandingkan dengan liga besar lainnya. Untuk membuktikannya, marilah kita tengok transfermarkt. Menurut data, di musim baru ini, dari total seluruh pemain di Eredivisie hanya 33.8% yang bukan berkewarganegaraan Belanda. Artinya, jumlah pemain asing di Belanda hanya sepertiga dari total pesepakbola yang merumput di negeri kincir angin tersebut.

    Angka ini berada di bawah kelima liga top Eropa. Premier League diisi oleh 66.6% pemain asing, sementara Serie A 54%, Liga Jerman 45,4%, Liga Prancis 43,8%, dan Liga Spanyol 38,4%.

    Ada yang menyebutkan bahwa salah satu faktor berkurangnya pemain yang merumput di Belanda ini disebabkan oleh semakin rendahnya daya tawar Eredivisie. Memang, liga yang dulu rutin menempati enam besar kompetisi di percaturan dunia pada 1990-2000-an tersebut kini posisinya makin menurun dalam peta persaingan klub-klub Eropa.

    Di antara panasnya rivalitas antara Barcelona, Bayern Muenchen, Manchester United, atau Chelsea, nama Ajax Amsterdam --sebagai ikon Eridivisie-- mesti diakui jarang terdengar lagi. Bahkan, salahkah bila dikatakan Ajax Amsterdam tak lagi berada dalam level yang sama dengan Barcelona atau Bayern Muenchen?

    Ya, kompetisi yang dikenal sebagai De Grote Drie (The Big Three) karena sering menempatkan Ajax Amsterdam, PSV Eindhoven, dan Feyenoord sebagai jawara itu dianggap sepi. Dampaknya, pemain-pemain berkategori bintang pun enggan bermain di negeri Belanda.

    Belanda Pernah Berjaya

    Pernah mantan pemain timnas Belanda, Patrick Kluivert, berujar bagaimana kekuatan uang sangat menentukan dalam dunia sepakbola. Faktanya, klub-klub seperti Chelsea, Bayern Muenchen, Barcelona, dan Real Madrid bisa berprestasi karena uang. Dengan uang, mereka bisa mendapatkan para pemain sesuai keinginannya. Sesuka-suka mereka, asal deal.

    Namun, jauh sebelum uang menentukan hasil di lapangan hijau, sepakbola Belanda sendiri, termasuk Patrick Kluivert-nya, pernah merasakan kejayaan ketika meraih juara Piala/Liga Champions bersama Ajax Amsterdam pada 1995. Saat itu, gol tunggal Kluivert berhasil mengantarkan Ajax menjadi jawara setelah mengalahkan AC Milan 1-0.

    Berikutnya, giliran Piala Toyota 1995. Kesempurnaan pasukan yang masa itu diarsiteki Louis Van Gaal pun tercapai ketika di Piala Super Eropa 1996 menggulingkan Real Zaragoza (juara Piala Winners 1995) dengan agregat gol 5-1.

    Terakhir, sisa-sisa masa keemasan Ajax terjadi pada 1996 ketika di final Piala Champions harus mengakui keunggulan Juventus. Itu pun "hanya" kalah 2-4 via adu penalti setelah kedua tim berbagi 1-1.

    Selain Ajax, hanya ada dua klub lain yang pernah mencicipi gelar kompetisi Eropa, yaitu PSV Eindhoven dan Feyenoord. Namun itu terjadi lebih dari 20 tahun lalu. Feyenoord melakukannya pada 1970, sementara PSV pada 1988.

    Usai masa keemasan Ajax, beberapa pemainnya pun hengkang ke negeri lain. Ajax dan beberapa klub lain di Belanda juga seakan sulit untuk mengulangi kejayaannya kembali.

    Berbicara tentang transfer mahal pemain bintang, pemain Belanda sendiri sebenarnya pernah melakukannya. Sebutlah Johann Cruyff yang mendapat bayaran termahal pada 1973 ketika Barcelona merekrutnya dari Ajax. Lebih dari satu dekade kemudian (1984), Ruud Gullit pernah mengalaminya ketika pemain berambut gimbal itu hijrah dari PSV Eindhoven ke AC Milan. Namun, sejak itu tidak ada lagi pemain asli Belanda yang menjadi pemain termahal di dunia pada jamannya.

    Arena Calon Bintang

    Dilihat dari arus lalu-lintas transfer atau posisi Eredivisie dibanding liga lainnya, liga Belanda lebih pas dikatakan sebagai arena calon bintang. Ini karena Eredivisie memang seakan jadi liga penggodokan para calon pemain kelas dunia yang akan bermain di liga lain.

    Contohnya, adalah trio Belanda Ruud Gullit, Frank Rijkaard, dan Marco van Basten. Sebelum membawa AC Milan juara Eropa, ketiganya memang sempat ditempa lewat Eredivisie. Di PSV Eindhoven ada pula Romario Faria dan Ronaldo. Kelak, kedua pemain Brasil ini dikenal sebagai yang terbaik di dunia.

    Era "bedol desa" ala Ajax Amsterdam yang menyebarkan pemain Liga Belanda ke Eropa pun semakin mempertegas paradigma ini. Misalnya Luis Suarez yang memperdengarkan indahnya bunyi Liga Belanda di pentas internasional ketika pemain Uruguay itu pindah ke Liverpool.

    Tak hanya Ajax, klub Belanda lainnya juga mulai jadi eksportir pemain. Kedua pemain Vitesse Arnhem, Marco van Ginkel dan Wilfried Bony, kini direkrut klub Premier League. Marco van Ginkel beralih ke Chelsea, sedangkan Bony dipinang Swansea City.

    Bahkan, tim yang permainannya terkenal sangat “Inggris” Stoke City pun tak mau ketinggalan. Musim ini mereka sudah memasukkan dua pemain PSV Eindhoven (Mark Hughes dan Erik Pieters) ke dalam keranjang-nya.

    Satu hal yang mesti diingat dari transfer pemain-pemain di atas adalah banyak di antara mereka yang belum membuktikan keahliannya di level tertinggi. Mereka dibeli dengan label calon bintang yang berpotensi jadi pemain papan atas.

    Menjelang tutup transfer musim ini, ada beberapa pemain Liga Belanda lain yang berpotensi untuk meninggalkan Eredivisie. Ada sederetan nama seperti Adam Maher, Bruno Martins Indi, Christian Eriksen, Daryl Janmaat, Jordy Clasie, Siem De Jong, dan Stefan De Vrij.

    Terlihat di Liga yang "tak Terlihat"

    Di tengah Eredivisie yang "tak terlihat" dan ditinggalkan oleh pemain kelas atas dunia, masih ada pesepakbola handal yang justru ingin main di Belanda. Tujuannya untuk menonjol di tengah kompetisi pemain yang semakin ketat.

    Bojan Krkic misalnya. Justru sudah sejak lama mantan anak didik Guardiola ini ingin bermain di Liga Belanda. Menurut pengakuan pemain kelahiran Lanyola, Spanyol, 28 Agustus 1990 itu, dirinya merasa menyesal bermain di AS Roma dan AC Milan. Daripada bermain di kedua klub Serie A yang penuh persaingan, Bojan Krkic akhirnya memilih berlabuh di Ajax.

    Apalagi yang dituju jika bukan ingin dilirik timnas Spanyol. Jika sekadar jadi cadangan di Primera Division, tentu ia akan "tak terlihat", bukan?

    Begitupun dengan Alfred Finnbogason. Pemain kelahiran Reykjavik, Islandia, 1 Februari 1989 itu merasa senang bermain di SC Heerenveen. Beruntung Marco van Basten, pelatih SC Heerenveen, ingin mempertahankannya dari perburuan klub-klub Eropa, semacam Glasgow Celtic (Skotlandia).

    Regenerasi Timnas Belanda

    Adalah suatu hal yang tak terduga ketika timnas Belanda berhasil melaju ke babak final Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan. Meskipun saat itu dikalahkan Spanyol di partai puncak, itulah performa terbaik Belanda setelah sekian lama menghilang. Belanda memang memiliki kekayaan pemain untuk menjadi juara di berbagai event meskipun dewi fortuna belum menghampirinya.

    Kini, di tengah persaingan antarliga di dunia, khususnya Eropa, apakah Liga Belanda akan dimaksimalkan sebagai arena persemaian bibit pemain berbakat? Jangan-jangan berkurangnya jumlah pemain asing itu justru melatarbelakangi klub-klub di Belanda untuk merekrut dan memajukan pemain mudanya?

    Memang tak lagi bersaing dengan liga papan atas lainnya, namun saya kira Eredivisie yang mengambil posisi lain dibanding EPL atau La Liga tak ada salahnya. Jika liga lain jadi liga tempat berlabuhnya pemain bintang, biarkanlah Liga Belanda jadi produsennya. Jadi liga yang memberikan kesempatan pada pemain-pemain muda yang ingin terlihat. Toh harus ada yang melakukannya, bukan?


    ===

    * Foto-foto: Getty Images
    * Akun twitter penulis: @novanherfiyana dari @panditfootball

    (a2s/din)
    Kontak Informasi Detikcom
    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Media Partner: promosi[at]detik.com
    Iklan: sales[at]detik.com
    More About the Game