Piala Dunia Qatar (Bagian 4)
Bagaimana Bermain Sepakbola di Cuaca Seperti 'Neraka'
Sepakbola katanya adalah permainan universal yang bisa menyatukan dunia. Tentu ini berarti sepakbola memang telah dimainkan di seluruh penjuru dunia. Dan sebagai kompetisi terakbar, bukankah sewajarnya Piala Dunia juga diselenggarakan di berbagai tempat dengan berbagai cuaca? Yang Eropa merasakan panasnya Amerika Selatan, dan yang Amerika Selatan mencicipi angin Afrika.
Lalu bagaimana dengan Qatar? Dengan suhu berkisar 50 derajat celcius, masih cocok kah Qatar menjadi tuan rumah Piala Dunia? Adakah cara-cara yang dapat dilakukan untuk mengakalinya?
Piala Dunia 2022 di dataran Arab itu memang masih satu dekade lagi. Tapi masalah cuaca telah menjadi topik panas di kalangan para penggemar sepakbola dan FIFA.
Bertemu Iklim Gurun
Di musim panas, iklim di Qatar dapat digambarkan sebagai subtropis kering, atau iklim gurun yang panas. Iklim ini menyebabkan adanya perbedaan besar antara suhu maksimal dan minimal, terutama di daerah daratan tak berpantai. Perbedaan besar ini juga berlaku untuk kelembaban udara yang bisa sangat bervariasi, bergantung pada suhu.
Satu perdebatan yang terus berlangsung hingga saat ini adalah tentang waktu penyelenggaraannya di bulan Juni. Memang pada musim panas (Juni sampai September), Qatar akan sangat panas dengan curah hujan rendah. Suhu maksimal harian dapat mencapai 50° C, yang artinya: very very hot!
Penyelenggaraan Piala Dunia di Qatar dinilai "berisiko tinggi" karena faktor iklim dan cuaca tersebut. Bahkan sempat ada wacana untuk memindahkan Piala Dunia 2022 ke musim dingin.
Jika melihat kembali ke Piala Asia 2011 di Qatar, turnamen tersebut dijalankan di bulan Januari (musim dingin) ketika suhu lebih bersahabat, yaitu sekitar 27° C. Sementara itu, 50° C memang dinilai terlampau panas. Bahkan untuk negara-negara Teluk sekalipun.
Hindari Dehidrasi!
Hal utama yang mesti diingat ketika berolahraga di tempat panas adalah bisa menyebabkan kondisi lembab. Apalagi bagi yang tidak terbiasa. Tubuh akan senantiasa berada di bawah tekanan yang besar. Selain terus-menerus mengeluarkan keringat, sirkulasi otot yang bekerja juga menghasilkan panas, disusul oleh kebutuhan aliran darah ke permukaan kulit untuk mengangkut panas dari tubuh ke luar. Akibatnya, suhu tubuh naik drastis.
Dalam keadaan latihan dan pertandingan, panas yang dihasilkan bahkan bisa mencapai 20 kali lipat dari panas yang dihasilkan pada saat beristirahat. Karena itu, pesepakbola harus mampu menjaga regulasi panas tersebut, sehingga bisa mempertahankan performa mereka. Hal ini berkaitan erat dengan dehidrasi yang bisa meningkatkan risiko penyakit pada cuaca panas, seperti kram panas, kelelahan, dan serangan panas.
Aktivitas pada suhu 320-40° C saja sudah beriesiko untuk membuat tubuh mengalami kram panas. Apalagi aktivitas pada 50° C, tubuh akan sulit untuk menyesuaikan diri hingga dapat menyebabkan kehilangan kesadaran seseorang.
Beberapa faktor lain, selain temperatur dan kelembaban, yang mempengaruhi panas tubuh antara lain adalah pakaian dan kondisi pesepakbola. Salah satu indikator pesepakbola yang mengalami dehidrasi adalah penurunan produksi keringat, serta urin yang pekat. Pesepakbola disarankan untuk selalu menjaga intake cairan tubuh dengan cara minum air sebelum mereka merasa kehausan.
Selama penyelenggaraan Piala Dunia 2022 di Qatar nanti, pesepakbola akan mengalami hal-hal yang disebutkan di atas. Sangat berat, tentunya.
Bagaimana Menghadapi Panas
Pesepakbola yang akan berlaga di Qatar 2022 nanti harus melakukan penyesuaian iklim dengan cara aklimatisasi panas. Persiapan ini jadi strategi yang sangat penting dan harus dilakukan secara matang. Beberapa hal yang harus diperhatikan adalah frekuensi latihan, durasi latihan, intensitas latihan, dan kondisi lingkungan itu sendiri.
Pelatih harus mempertimbangkan aklimatisasi selama sebulan lebih di Qatar agar tubuh pesepakbola bisa menyesuaikan dengan lingkungannya. Durasi latihan disarankan selama 60-90 menit, dengan latihan di pagi dan sore hari. Intensitas latihan juga perlu diperhatikan agar pesepakbola tidak melakukan latihan berat.
Musuh utama cuaca panas adalah dehidrasi. Aklimatisasi tentu akan meningkatkan performa dalam cuaca panas, tetapi juga meningkatkan kebutuhan cairan karena peningkatan produksi keringat. Akibatnya, dehidrasi dan aklimatisasi akan saling berbentrokan.
Terdapat beberapa cara untuk menghindari dehidrasi tubuh. Minuman dengan tingkat karbohidrat tidak lebih 8% masih dapat ditoleransi, sebagai pertimbangan energi yang dibutuhkan oleh tubuh dari karbohidrat. Namun, Konsumsi karbohidrat berlebih juga sangat tidak disarankan.
Minuman berelektrolit juga cukup dianjurkan. Ini karena keringat yang keluar dari tubuh juga akan membawa elektrolit-elektroit dari dalam tubuh.
Kesalahan yang sering terjadi adalah minum dalam jumlah yang banyak saat dehidrasi. Konsumsi minum berlebih justru akan membuat cairan yang masuk tertahan di lambung. Padahal, air seharusnya segera disebar ke seluruh tubuh. Konsumsi air yang baik adalah dengan meminum sedikit demi sedikit namun berkelanjutan.
Dalam keadaan ini, memantau kondisi cairan pada tubuh atlet menjadi sangat penting. Tidak perlu menunggu sampai merasa haus untuk memasukan cairan ke dalam tubuh. Pantau cairan yang keluar melalui urin dan keringat. Ketika jumlah urin dan keringat mulai menurun, hal ini berarti alarm tanda peringatan sudah berbunyi.
Mengakali Panas di Gurun
Jika tetap menyelenggarakan Piala Dunia selama musim panas, cuaca di Qatar memang menjadi perhatian utama. Namun, panitia penyelenggara menilai panas tidak akan menjadi masalah.
Mereka meng-klaim bahwa masing-masing stadion akan memanfaatkan energi dari sinar matahari untuk menghasilkan listrik. Energi listrik ini kemudian akan digunakan untuk mendinginkan stadion, baik untuk pesepakbola maupun penonton. Ketika sedang tidak ada pertandingan, instalasi panel surya di stadion akan mengekspor energi ke jaringan listrik di sekitar kawasan.
Metode ini secara teoritis mampu mengurangi suhu dari 50° C menjadi 27° C. Panitia penyelenggara juga mengusulkan untuk menggunakan teknologi pendinginan pada tribun penonton, lapangan pertandingan, lapangan latihan, serta jalur-jalur yang menghubungkan stadion dengan fasilitas umum, seperti transportasi.
Patut diingat, bahwa mendinginkan stadion saja tidak cukup. Pemain harus tetap berada di "cuaca normal" baik saat latihan, istirahat, atau saat dalam moda transportasi.
Bagaimana dengan Memindahkan Piala Dunia ke Musim Dingin?
Salah satu anggota komite eksekutif FIFA, Franz Beckenbauer, mengatakan bahwa Qatar mungkin diizinkan untuk menjadi tuan rumah Piala Dunia 2022 di musim dingin. Ia juga berpendapat bahwa jika dilaksanakan di musim dingin, Qatar akan lebih menghemat pengeluaran yang mereka habiskan untuk pendinginan stadion.
Pada Bulan Januari dan Februari Qatar memang dapat memiliki suhu harian sekitar 27° C. Kemudian Presiden FIFA Sepp Blatter juga setuju bahwa saran ini adalah saran yang masuk akal. Selain itu Michel Platini sebagai presiden UEFA juga menunjukkan sikap bahwa ia siap untuk mengatur ulang jadwal kompetisi-kompetisi klub Eropa, jika nantinya Piala Dunia akan digelar pada musim dingin.
Tapi ini tentu jadi tugas yang sangat berat, karena menyangkut kepentingan, klub, penonton, dan pemengang hak siar televisi. Memajukan jadwal kompetisi, tentu berarti akan melalui proses negosiasi yang panjang.
Namun, jika tetap akan dilaksanakan di musim panas, iklim Qatar akan sangat mempengaruhi performa pesepakbola di atas lapangan. Waktu pemulihan (recovery) akan lebih panjang, sementara di atas lapangan akan terjadi lebih banyak kesalahan yang terjadi akibat dari penurunan performa tersebut. Selain itu, melakukan aklimatisasi secara total dengan iklim di Qatar adalah hampir mustahil.
Jikapun bisa, mesti dilakukan dalam waktu yang lama, sebagaimana telah disebutkan sebelumnya. Namun, aklimatisasi satu bulan secara teknis belum tentu bisa dilakukan, karena berbenturan dengan jadwal berakhirnya kompetisi. Ini berarti mengulangi masalah yang sama dengan memindahkan kompetisi ke musim dingin.
Dengan pertimbangan-pertimbangan di atas, saya pikir tim-tim Eropa, di atas kertas, hampir pasti akan mengalami kesulitan. Besar kemungkinan bahw Piala Dunia 2022 di Qatar adalah saat bagi tim-tim Amerika Latin, Asia dan Afrika untuk berjaya. Setidaknya, sebelum mereka menaklukkan lawan-lawan mereka, mereka punya keuntungan dalam memenangkan pertarungan melawan cuaca panas.
===
* Akun twitter penulis: @dexglenniza dari @panditfootball
Baca artikel sebelumnya:
Piala Dunia Qatar (Bagian 1): Menggunakan Spanyol demi Pencitraan dan Diplomasi Publik
Piala Dunia Qatar (Bagian 2): Politisasi Terbesar dalam Sejarak Sepakbola
Piala Dunia Qatar (Bagian 3): Membidik Kemustahilan Lewat Uang dan Piala Dunia













