Masukkan kata pencarian minimal 3 karakter
Searching.. Please Wait
    Pandit

    Mendompleng Mandela

    Aqwam Fiazmi Hanifan - detikSport
    Getty Images/Michelly Rall Getty Images/Michelly Rall
    Jakarta -

    Mendengar FIFA mengagungkan Nelson Mandela layaknya mendengar penyair cabul yang berkhotbah tentang kemuliaan wanita. Sebuah omong kosong yang terasa basi.

    Dalam teori, sepakbola dan cita-cita Mandela yang memperjuangkan nilai-nilai keadilan dan persamaan hak atas semua manusia semestinya berjalan seiring. Sepakbola memang (terlihat) membuka ruang cita-cita sosok "Madiba" tersebut jadi kenyataan.

    Tak heran jika FIFA lalu mengkultuskan sosok Mandela. Bahkan Sepp Blater sendiri menyebut Mandela sebagai sahabat dekatnya. Atau, lihat bagaimana FIFA yang selalu mengidentikkan diri mereka sendiri sebagai Mandela-nya dunia olahraga. Dengan jargon-jargon seperti anti-rasialisme dan anti-politik. FIFA mempopulerkan diri sebagai penjaga kesucian sepakbola.

    Salah satu peran sepakbola yang dipromosikan adalah "to change lives for the better".

    Sayang, falsafah dan perjuangan Mandela hanya dijadikan seremonial di atas lapangan hijau dan di depan corong kamera media. Di balik sorot media itu, malah kebijakan-kebijakan FIFA yang bahkan bertolak belakang dengan jiwa Mandela.

    Kedekatan FIFA dan Para Diktator

    Pernyataan bahwa FIFA mempromosikan nilai-nilai kemanusiaan, sebagaimana Mandela semasa hidupnya, sebenarnya memang patut dipertanyakan. Jika memang "iya", mengapa FIFA seolah membiarkan sepakbola menjadi ajang untuk memulihkan nama para diktator di mata dunia internasional? Tengoklah Piala Dunia 1978 di Argentina. Dilema politik yang berkecamuk di dalam negeri mencuatkan pro-kontra pemilihan Argentina sebagai tuan rumah.

    Kala itu, kudeta junta militer terhadap kepemimpinan demokratis Presiden Isabel Martina de Peron, menyebabkan banyak pelanggaran HAM terjadi di Argentina. Represi militer berujung pada penculikan, penyiksaan, dan pembunuhan bagi para lawan-lawan politik sang penguasa. Kurang lebih 30.000 orang aktivis dinyatakan tewas di tangan Jenderal Jorge Rafael Videla.

    Rezim sadar betul Piala Dunia bisa dijadikan ajang mencitra. Karenanya, tingkat pembasmian lawan politik meningkat menjelang Piala Dunia digelar. Rezim tentunya tak ingin suara-suara minor terdengar nyaring di tengah dunia yang sedang memperhatikan mereka.

    Seruan penggiat HAM untuk memberikan hukuman kepada Argentina dengan memindahkan lokasi Piala Dunia tak pernah digubris oleh FIFA. Padahal organisasi sepakbola tertinggi sejagat raya itu sadar bahwa gelaran Piala Dunia 1978 dijadikan sebagai alat politik.

    Di benua hitam Afrika, cerita yang sama berulang di tanah Nigeria. Kekejaman diktator Sani Abacha membuat entah berapa puluh ribu nyawa tewas di tangannya, saat ia memimpin di tahun 1993-1998.

    Dulu, Nigeria termasuk negara-negara tercela dalam urusan soal HAM. Namun Abacha bisa menggunakan keharuman prestasi sepakbola Nigeria untuk menutupi busuknya dosa-dosa pembantaian.

    Protes dilayangkan Amnesti Internasional. Mereka mencoba mencegah Nigeria ikut Piala Dunia 1998. Kedekatan para penggawa timnas macam Nwankwo Kanu, Tijani Babangida, dan Sunday Oliseh, dengan diktator Abacha menjadi alasannya. "Mereka lolos ke Piala Dunia di atas kubangan darah," demikian teriak para aktivis.

    Dunia bereaksi terhadap Nigeria. Visa kedatangan mereka ke Eropa dipersulit akibat bagian dari protes. Namun, seperti biasanya, FIFA hanya diam tak bertindak.

    Dalam kasus kudeta militer Mesir baru-baru ini, FIFA pun mendiamkan sikap federasi sepakbola mesir Pro-Jenderal As-Sisi yang melarang bertanding seumur hidup para pemain yang menentang rezim. Padahal, para pemain itu hanya menuntut keadilan akan temannya sesama pesepakbola yang tewas saat demonstrasi. FIFA enggan mengomentari hal tersebut.

    Cerita-cerita di atas hanyalah bagian kecil kaitan antara FIFA, sepakbola, dan para tirani bertangan besi. Dengan alasan sikap anti-politiknya, FIFA enggan terlibat dalam kasus-kasus pelanggaran kemanusiaan. Lewat sepakbola, FIFA bahkan terkadang membantu diktator mencuci tangan.

    Tak tanggung-tanggung, hal ini diakui FIFA sendiri dalam buku 100 years The FIFA Centenary Books. Pada halaman 287 tertulis "FIFA took no action againts politician who viewed football as an aid to power, as did the dictatorship in Brazil, Argentina, Uruguan, Chile and more".

    "Anti-Rasialisme" FIFA

    Udo Merkel dalam buku Racism & Xenophobia in European Football mengatakan rasisme dalam sepakbola bersifat universal. Terjadi di antara dan dalam kelompok etnis. Misalnya saja penghinaan orang Italia utara terhadap Italia selatan, atau hinaan publik Inggris terhadap para imigran, entah itu menyangkut warna kulit, negara nenek moyang atau apapun itu.

    Rasisme harus dibuang jauh-jauh. "Kick out racism out of football" demikian jargon FIFA. Maka tak heran jika di media massa kita sering melihat FIFA begitu galaknya saat memberikan hukuman kepada para pelaku tindakan rasialis.

    Namun, sebenarnya banyak juga kritik untuk FIFA yang terkadang diskriminatif dalam soal kebijakan hukuman anti-rasialis. Dalam kasus konflik Arab-Israel misalnya. FIFA cenderung lebih dekat pada pro-Israel ketimbang membela hak-hak pesepakbola Palestina. Jadi sebuah fakta bahwa FIFA bergerak amat cepat ketika sentimen berbau anti-semit dan anti-zionisme terjadi.

     


    Di lain sisi, banyak kasus pelanggaran HAM Israel terhadap pemain-pemain Palestina yang kasusnya menguap begitu saja tanpa adanya tindakan dari FIFA. Banyak kasus yang bisa dijadikan contoh: Yel-yel rasialis fans klub Israel terhadap pemain arab, pengeboman stadion secara sengaja oleh militer yang menewaskan delapan orang, pembatasan pergerakan pesepakbola untuk keluar-masuk membela timnas, penangkapan ilegal pemain timnas Mahmud Sarzak yang dijebloskan tanpa alasan jelas, dan masih banyak lagi.

    Dalam hal pengabaian kasus-kasus di atas, bukankah FIFA sendiri justru melakukan rasialisme? Meski datangnya tak dalam bentuk verbal melainkan lewat kebijakan politik.

    Kasus di atas mengingatkan saya pada dekade 1950-60-an, saat FIFA menerapkan standar ganda soal hukuman rasialisme. Perlakukan manis yang diterima Israel saat ini sama seperti yang diterima Amerika di tahun 1960. FIFA memiliki banyak kepentingan dengan Amerika. Tak seperti dengan Afrika Selatan yang tanpa ampun FIFA bertindak tegas kepadanya.

    Ya, pada suatu waktu, FIFA memang pernah bertindak tegas dengan cepat. FIFA, yang jarang memakai kekuasaan politiknya untuk menekan kebijakan sebuah negara, dengan cepatnya menghukum Afsel karena kasus Apharteid. Tahun 1961, FIFA bahkan mengeluarkan FASA (federasi sepakbola Afsel) dari keanggotaan.

    Baru beberapa bulan berjalan, FIFA mencabut kebijakan itu karena mereka sadar dipolitisir. "FIFA must not interfere be with internal affairs of any country. FIFA cannot be used as a weapon to force a government to change its internal sports policy," ujar eks Presiden FIFA Sir Stanley Rous.

    Anehnya ibarat menelan ludah sendiri, mereka kembali menendang FASA dari keanggotan FIFA di tahun 1964. Setelah Nelson Mandela menghirup udara bebas, dan tiang-tiang sistem politik Apartheid mulai rapuh, barulah FASA kembali dterima tahun 1992.

    Mengkultuskan Mandela

    Delapan belas tahun terpenjara di Pulau Robben, Mandela mulai dekat dengan sepakbola. Kendati tak ikut bermain sepakbola, Mandela begitu gemar menonton rekan-rekannya sesama tapol mengolah bola. Di Afrika Selatan sepakbola adalah olahraga kaum papa, jurang pemisah antara si putih dan si hitam.

    Dalam soal asimilasi politik dan olahraga, Mandela adalah sesosok politikus yang paham olahraga bisa dijadikan sebagai alat perlawanan, rekonsiliasi, dan pencitraan. "Eksperimen" pertamanya menggunakan olahraga lewat rugbi mendapatkan kesuksesan.

    Adalah Sepp Blatter yang menyeret Mandela ke alam sepakbola lebih dalam lagi. Lewat program-program amal di pertengahan dekade 90-an, Blatter mendompleng Mandela yang sedang kesohor. Karena itu pula ia terpilih sebagai Presiden FIFA di tahun 1998.

    Lewat Blatter, Mandela dijadikan satu tubuh dengan FIFA. Apa yang dilakukan Mandela, itulah yang dicitrakan FIFA: adil, yang anti-rasialis, menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusian. Saat FIFA dikritik, maka mereka berharap publik meniru politik pengampunan yang dilakukan Mandela, untuk "melupakan dosa-dosa di masa lalu".

    Sebagai pejuang yang bertahun-tahun menghadapi represi lawan-lawan politiknya, Mandela pasti paham kebusukan Blatter dan FIFA dalam soal pelanggaran HAM dan keadilan sosial yang kini jadi rahasia umum. Namun, lantas kenapa Mandela seakan rela dan pasrah namanya dikultuskan habis-habisan oleh FIFA?

    Sebagai seorang politikus dengan jam terbang tinggi, ia tahu ada simbiosis mutualisme antara hubungan ini. Sebagaimana sepakbola dan FIFA yang mendompleng namanya, Mandela pun bisa menggunakan sepakbola untuk mencapai cita-citanya.

    Salah satunya adalah menunjukkan kesetaraan kulit hitam dan putih lewat piala dunia 2010. Bangsa Afrika yang dianggap bodoh dan terbelakang diberi kesempatan untuk menunjukkan kemampuannya dengan membangun stadion canggih dan menyelenggarakan Piala dunia.

    Mandela mungkin bangga, pemikiran-pemikirannya bisa terealisasikan lewat sepakbola. Strateginya dalam Piala Dunia pun boleh dianggap sukses. Mata dunia terbuka bahwa betapa pintarnya bangsa kulit hitam. Masalahnya, adalah ketika FIFA berlaku sebagai FIFA, dan kini berlebihan mencatut nama Mandela sebagai ikon pencitraan. Di alam kuburnya Mandela mungkin akan menggerutu:

    "Ah, sialan nih FIFA!"

    ====

    *akun Twitter penulis: @aqfiazfan dari @panditfootball
    *Foto-foto: Getty Images

    (roz/krs)
    Kontak Informasi Detikcom
    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Media Partner: promosi[at]detik.com
    Iklan: sales[at]detik.com
    More About the Game