Buah Simalakama untuk Thailand dan Indonesia
Sejak kapan politik sangat akrab dengan sepakbola? Sejak sepakbola itu lahir. Sebab pada hakikatnya politik memang lekat dengan sepakbola. Sepakbola adalah representasi perlawanan suatu bangsa.
Namun, sepakbola juga merupakan alat politik. Kendaraan poltik yang sangat efektif untuk mendulang simpati, dan bahkan lebih efektif daripada partai politik itu sendiri. Sebagaimana sepakbola bisa memanfaatkan politik untuk berkembang, politik tentu (lebih) bisa memanfaatkan sepakbola.
**
Hari ini, Indonesia akan menghadapi Thailand di final SEA Games XXVII, memperebutkkan medali emas. Mungkin akan berlangsung selama 90 menit, atau mungkin juga 120 menit. Dan mungkin akan sedikit lebih lama, jika terjadi babak adu penalti.
Adu taktik sudah pasti akan tersaji. Terlebih Indonesia yang kalah telak saat fase grup, pasti mempunyai hasrat yang lebih untuk meraih emas, setelah sekian lama paceklik memenangkan final, terakhir pada tahun 1991. Pun dengan Thailand, yang dua edisi sebelumnya selalu bisa dilampaui oleh Malaysia.
Semua rakyat, baik Thailand ataupun Indonesia, pasti menginginkan lagu kebangsaanya dinyanyikan di Nay Pyi Thaw.
Namun pertarungan nanti malam, tidak bisa dipandang sebagai pertarungan sepakbola semata. Pertarungan tersebut juga menjadi pertaruhan politik para politisi kedua negara. Hasil malam nanti akan menjadi tesis awal para politisi, demi mencapai raihan-raihan strategis mereka.
Shinawatra Jaminan Prestasi Thailand?
Thailand dan Indonesia mempunyai masyarakat yang sangat gila bola. Indonesia dan Thailand juga mempunyai politisi yang mengandalkan sepakbola untuk mengumpulkan pundi-pundi suaranya di parlemen.
Di Thailand, konflik Kaos Merah dan Kaos Kuning kembali mencuat belakangan ini, meski sebenarnya pertarungan kedua kelompok tersebut tak pernah surut. Hari ini Thailand dipimpin oleh Perdana Mentri Yingluck Shinawatra, adik dari pesohor negri Gajah Putih Takshin Shinawatra. Yingluck meneruskan hirarki yang sudah dibangun oleh kakaknya yang dipaksa lengser keprabron, karena telilit kasus korupsi dan pencucian uang.
Thaksin adalah seorang politisi yang begitu menaruh perhatian terhadap sepakbola. Dan semua orang tahu, Thaksin pernah mengakuisisi Manchester City, walaupun tidak lama.
Langkah itu dianggap politis oleh kelompok anti-Thaksin (Kaos Kuning). Mereka mengganggap bahwa pembelian City tersebut adalah praktik money laundrying. Sebabnya jelas. Kelompok Kaos Kuning menganggap bahwa pundi-pundi uang tersebut adalah hasil korupsi selama Thaksin memerintah Thailand dua periode.
Namun, bagi kelompok yang pro-Thaksin, langkah itu disambut hangat. Ibaratnya, Manchester City adalah sebuah kalkulasi strategis untuk lebih mengenalkan Thailand ke dunia internasional. Kebijakan tersebut tentunya akan menambah daya tawar politik Thailand dalam pergaulan internasional.
Bagi pendukung Thaksin yang mayoritas masyarakat pedesaan dan sangat gemar dengan sepakbola, pembelian itu dianggap sangat populis. Kebijakan yang benar-benar meningkatkan popularitas sang Perdana Menteri.
Tapi, meroketnya popularitas itu semakin meningkatkan kritik Kaos Kuning terhadap pemerintahan Thaksin. Akhirnya Thaksin pun digulingkan, dan diganti oleh Surayud Chulanont pada Oktober 2006.
Selama diperintah oleh kelompok non-Thaksin ini prestasi Thailand dalam dunia sepakbola sedikit menurun. Setelah menang di Sea Games 2007, Thailand tak pernah mendapatkan medali emas lagi. Pada tahun 2009 dan 2011, raihan itu pindah ke negri jiran Malaysia.
Padahal, SEA Games adalah lahan bermain “milik” Thailand. Sebelum Malaysia jadi juara pada 2009, emas selalu dibawa pulang ke Bangkok pada delapan edisi SEA Games berturut-turut sebelumnya.
Ya, pasca Shinawatra tak lagi memimpin Thailand, negeri berbahasa Thai tak lagi berjaya di tataran Asia Tenggara. Menjuarai Sea Games saja tidak, apalagi AFF. Thailand begitu sepi akan prestasi.
Tahun ini dianggap menjadi titik balik bagi sepakbola dan juga politik Thailand. Hari ini adalah Thailand yang dipimpin keluarga Shinawatra yang begitu getol berurusan dengan bola. Dengan memenangkan cabang olahraga sepakbola, tentunya dahaga prestasi masyarakat Thailand dapat dilepaskan.
Dengan medali emas pula, tentu posisi tawar Yingluck untuk menjaga stabilitas politik Thailand akan semakin kuat. Belakangan ini, pemerintahan Yingluck memang terus coba digoyahkan oleh kelompok Kaos Kuning yang menentang kebijakan Yingluck. Terutama kebijakan pemberian remisi untuk sang kakak yang sedang menjadi tahan politik.
Final nanti tentu jadi buah simalakama bagi masyarakat Thailand. Jika menang, emas itu akan jadi simbol prestasi dan juga penasbihan Shinawatra sebagai juru selamat sepakbola Thailand. Namun dengan kemenangan, hierarki kekuasaan Shinawatra akan semakin langgeng. Suatu hal yang tidak diinginkan oleh kelompok Kaos Kuning.
Lalu, Thailand akan memilih yang mana?
Sepakbola dan Situasi Politik Indonesia Yang Kian Pelik.
Adakah kata yang lebih tepat dalam menggambarkan situasi persepakbolaan tanah air selain ironis?
Di tengah situasi yang carut-marut, bangsa ini terus menaruh harapan besar pada cabang sepakbola. Rasa-rasanya jika sepakbola meraih emas, bangsa ini akan merayakan selayaknya Indonesia menjadi juara umum Sea Games. Padahal, jika melirik klasemen, negara terbesar di Asia Tenggara ini masih berada di urutan ke-4.
Sama halnya dengan Thailand, bangsa kita juga tak penah melunturkan gen cintanya pada sepakbola. Baik di desa maupun di sudut-sudut kota, sepakbola tetap menjadi primadona. Namun besarnya kecintaan tersebut berbanding terbalik dengan prestasi timnas muda kita.
Pasca 1991, medali emas tak pernah lagi singgah ke rumah para atlet sepakbola kita. Menjadi finalis di tahun 1997 dan 2011 pun hanya menghasilkan medali perak. Padahal, kedua final tersebut dihelat di depan mata puluhan ribu pendukung sendiri di kota Jakarta, Ibukota Indonesia.
Kegemilangan di Sea Games 1991 terus menjadi dongeng di tengah masyarakat kita. Selebihnya sepakbola kita terus porak-poranda. Tanpa gelar, minim prestasi, namun dukungan tak pernah surut. Rakyat Indonesia tetap sabar menanti Indonesia kembali menjadi macan Asia Tenggara ataupun Asia. Syukur-syukur nantinya bisa masuk final Piala Dunia.
Dukungan dari masyarakat Indonesia inilah yang coba dimanfaatkan oleh para politisi untuk duduk di kursi nyaman pemerintahan. Tak pelak, fanatisme ini digunakan sebagai lumbung suara bagi para politisi.
Dalam hal ini, bolehlah kita setidaknya iri dengan Thailand. Jika Shinawatra mampu menghadirkan gelar juara untuk menarik simpati masyarakatnya, di Indonesia justru sepakbola kian carut marut akibat terlalu dipolitisir.
Dengan kentalnya aroma politik di Indonesia, justru sepakbola kita tak lagi menunjukkan peningkatan. Jangankan gelar juara, bahkan pemain timnas kita pun sering tersesat ketika berada di kotak penalti lawan. Terlena dengan sepakbola kutak-kutik, bingung akan berbuat apa, dan berujung dengan kekalahan.
Terlebih tahun depan, Indonesia akan menyelengarakan pemilu akbar. Tentu kita semua telah mulai melihat banyak calon pemimpin yang mendompleng suara lewat sepakbola. Para pemimpin itu terlihat kian peduli terhadap sepakbola bangsa kita. Meski kepedulian itu juga sebatas kepedulian menjelang pemilu.
Seperti musuhnya di final nanti, laga melawan Thailand juga jadi buah simalakama bagi Indonesia. Menang atau kalah, kita harus siap menerima sepakbola akan semakin dipolitisir.
Lalu, politisi mana yang akan merangkul sepakbola dengan erat? Benarkah para politisi merangkul sepakbola? Atau hanya ingin merangkul untuk menikam persepakbolaan Indonesia tanpa terlihat? Yang pasti, gegap gempita sepakbola Indonesia jangan sampai terkutub oleh Kaos Merah atau Kaos Kuning versi Indonesia.
====
*akun Twitter penulis: @SigtPrasetyo













