Masukkan kata pencarian minimal 3 karakter
Searching.. Please Wait
    Pandit

    Tentang Teknologi Sepakbola (Bagian 2)

    Menakar Pesepakbola Menggunakan Teknologi

    Ammar Mildandaru - detikSport
    FIFA via Getty Images/Stuart Franklin FIFA via Getty Images/Stuart Franklin
    Jakarta -

    Jadi, siapakah pemain terbaik dunia versi Anda? Cristiano Ronaldo, Lionel Messi, Franck Ribery, atau pemain lainnya? Lalu, mengapa Anda memilihnya?

    Tak dapat dipungkiri bahwa perbincangan mengenai pemain terbaik selalu mendapatkan tempat di sepakbola. Tak adanya ukuran yang jelas, dan proses pemilihan yang diserahkan pada penilaian subjektif para kapten timnas, pelatih, dan media, selalu menghadirkan perdebatan setelahnya.
     
    Misalnya saja Ronaldo yang tanpa gelar dan Ribery yang mendapatkan lima piala. Banyak pihak yang kemudian mempertanyakan mengapa bukan pemain Bayern Muenchen itu yang dianugrahi predikat pemain terbaik dunia.

    Alasan prestasi juga yang mengemuka dalam perdebatan tentang kepindahan Gareth Bale dari Spurs ke Real Madrid. Sang presiden, Florentino Perez, pernah berujar bahwa harga yang ditawarkan Spurs kelewat mahal. Alasan Perez adalah dengan membandingkan performa dan harga Madrid saat membeli Ronaldo dari United.

    Tentu ada dua kubu yang berargumen tentang pantas atau tidaknya harga Rp. 1,5 triliun untuk seorang Gareth Bale itu. Ada yang beranggapan bahwa prestasi Bale selama membela Spurs tidak semahal itu. Bahkan, jika membandingkannya dengan Ronaldo pun terlihat ketimpangan yang jauh.

    Ronaldo memiliki banyak prestasi gemilang baik secara individu maupun tim. Saat membela United, Ronaldo berperan besar pada rangkaian gelar yang dicapai United. Jika dihitung, ada sembilan piala yang berhasil dibawa Ronaldo ke Old Trafford. Belum lagi dengan berbagai pencapaian pribadinya, termasuk sebagai pemain terbaik dunia di 2008.

    Maka jika prestasi dianggap sebagai tolok ukur, sudah hampir dipastikan bahwa nilai Bale hanyalah seujung jari Ronaldo. Apalagi Bale tidak pernah sekalipun membawa gelar bagi Spurs. Pencapaian pribadinya hanya sampai pada dua penghargaan pemain terbaik Liga Inggris, yang jumlahnya sama dengan Ronaldo.

    Tapi apakah benar hanya dengan prestasi saja mengukur nilai satu pemain? Dari sini terlihat bahwa lagi-lagi muncul kebutuhan akan adanya suatu standar tertentu. Bahwa sekedar membandingkan prestasi saja, tidak mampu menjawab kehebatan satu pemain dibanding dengan yang lainnya.

    Menjembatani dengan Teknologi dan Matematika

    Lalu mengapa tidak ada pengukuran kualitas pemain berdasarkan pada performa di lapangan, dengan tidak peduli prestasi yang berhasil dicapai? Semua murni dari performanya selama bertanding, dengan menggunakan skala ukuran tertentu.

    Untuk mewujudkan hal ini tentu diperlukan pengumpulan data yang sangat besar, dengan rumus yang rumit. Karena, jika kita menyederhanakannya dengan hanya menghitung jumlah gol dan assist atau berapa kali seorang kiper kebobolan, bisa jadi tim-tim besar akan berisi pemain dengan rating yang kelewat tinggi.

    Logikanya begini: Jika ada seorang striker dengan kemampuan mumpuni, namun sama sekali tidak mendapatkan suplai bola karena bermain di tim kecil yang pemainnya semenjana, lalu bagaimana dia bisa mencetak gol atau sekedar mencetak tembakan ke gawang?

     


    Di sinilah peran teknologi dan matematika bekerja, yaitu sebagai pihak yang menentukan titik tengah segala kemungkinan untuk mengukur kemampuan pemain. Sementara itu, matematika sebagai rumus dasar penghitungan dan teknologi untuk mengolah data.

    Hasil pengukuran tersebut dapat digunakan untuk memberikan label performa bagi seorang pemain. Persis layaknya sebuah game sepakbola yang sering anda mainkan. Ada berbagai atribut kemampuan pada setiap pemain. Misalnya saja seberapa keras serta akurasi tendangan, kekuatan lompatan, stamina, kecepatan, dan sebagainya.

    Untuk mendapatkan data-data itu, satu chip canggih lalu ditanam pada sepatu hingga rompi khusus. Alat inilah yang kemudian mampu memberikan data akurat tentang kinerja dan penilaian pemain.

    Berapa jarak yang berhasil ditempuh seorang pemain, kecepatannya dalam berlari, hingga detak jantung dan arah berlari, hanyalah sebagian kecil dari data pemain yang dapat terkumpul berkat kehadiran teknologi. Dengan penghitungan yang tepat, maka mengukur kemampuan pemain menjadi lebih mudah.

    Smart Soccer League

    Meski pengukuran dan pengambilan data itu terdengar rumit, mesti diakui bahwa teknologi dan perhitungan data pemain berkembang pesat pada periode 5 tahun terakhir. Mulai dari provider data seperti Opta dan Prozone, hingga produk pengukuran performa milik Adidas yang diberi nama Micoach, mulai memasuki arena sepak bola dan mengubahnya.
     
    Misalnya saja apa yang terjadi di MLS (liga di Amerika Serikat). Di saat liga-liga Eropa melarang penggunaan alat pengukuran data pada pertandingan resmi, MLS sebagai penyelenggara melakukan satu langkah berani. Mereka menggandeng Adidas untuk menerapkan Micoach di setiap pertandingannya. Bahkan, penyelenggara liga memberi label khusus pada kompetisi musim ini, yaitu "Smart Soccer League" pertama di dunia.

    Data yang diambil tergolong lengkap, dengan meliputi detak jantung, kecepatan, akselerasi, jarak tempuh, posisi pergerakan, hingga mengukur kekuatan setiap pemain. Data-data ini lalu dapat diamati secara real time oleh staf pelatih melalui tablet di genggamannya. Keputusan pergantian taktik pelatih pun dapat dibantu dengan mudah.

    Penyajian data sebenarnya sudah jamak ditemukan, terutama untuk liga-liga eropa. Ada beberapa lembaga penyedia data dan statistik yang dapat diakses bebas oleh seluruh fans secara gratis. Tetapi tidak sedetail yang dilakukan di MLS.

    MLS memang bekerjasama khusus dengan Adidas untuk program Smart Soccer League ini. Maka, jika kebanyakan tim di liga lain harus membayar mahal untuk mencari data, tidak demikian dengan MLS. Tim-tim di sana mendapat akses terbuka untuk memperoleh data yang mereka butuhkan.

    Evaluasi terhadap tim juga otomatis terbantu. Kekurangan masing-masing individu dan kolektif dapat ditambal setelah membaca hasil evaluasi tersebut.

    Maka data yang diperoleh oleh sistem Smart Soccer League di MLS ini dapat dipakai sebagai ukuran pemain, hingga tim. Bahkan jika berpikir lebih liar lagi, bukankah kombinasi data-data ini dapat digunakan untuk menyusul tabel performa pemain? Dan, pada akhirnya, urusan pokok seperti gaji pemain atau besarnya alokasi transfer, dapat disesuaikan dengan tabel itu. Pemain akan dibayar sesuai dengan performanya.
     
    Melawan Intuisi Pelatih dan Pemandu Bakat

    Data sendiri tidak hanya dapat digunakan untuk mengukur pemain, namun juga bisa sebagai kebutuhan taktik.

    Contohnya saja Manchester City yang pernah meminta jasa sebuah provider data sepakbola untuk mencarikan pemain yang sesuai dengan kebutuhan taktikalnya. Saat itu jajaran pelatih menilai bahwa City lemah pada penguasaan bola di sepertiga akhir. Maka, pada musim transfer, City lalu meminta daftar pemain-pemain yang mampu mendistribusikan bola dengan baik saat berada di dekat area kotak penalti.

    Hasilnya dapat terlihat sekarang pada permainan City musim ini. Nampak jelas bagaimana pola permainan mereka saat menyerang. Bola mengalir lancar seperti tanpa halangan saat berada di area sepertiga lapangan akhir.

     



    Contoh kasus di atas dapat memberikan gambaran, bagaimana sebuah hasil pengukuran terhadap pemain dapat digunakan untuk melakukan rekrutan tim. Pemandu bakat tidak perlu lagi "blusukan" ke berbagai negara dan kompetisi, namun tinggal duduk manis dan biarkan teknologi bekerja.
    Seorang pelatih atau pemandu bakat memang memiliki anugrah berupa intuisi tajam saat mengukur seorang pemain. Tapi, jika dapat menyelaraskan intuisi yang dimiliki dengan data statistik, keputusan yang diambil juga akan lebih akurat.

    Bahkan, jika akurasi perhitungan akurat dan sesuai, intuisi tersebut perlahan dapat diminimalisir. Maka, jangan heran ketika ke depannya akan semakin banyak pelatih sepakbola yang tidak bisa memainkan bola sama sekali.

    Membayangkan permainan bola yang dipenuhi oleh sistem komputer dan chip yang melekat di badan pemain memang sedikit mengerikan. Karena yang muncul di pikiran adalah pertarungan sepakbola humanoid (manusia setengah robot).

    Tapi, dengan kondisi sepak bola yang semakin tidak rasional, dengan harga transfer pemain yang semakin tidak realistis, dan klub-klub dengan sejarah panjang bangkrut, siapa tahu justru dengan teknologilah sepak bola bisa diselamatkan.

    ====

    *akun Twitter penulis: @mildandaru dari @panditfootball

    Baca Juga
    Tentang Teknologi Sepakbola (Bagian 1): Sportainment: Membawa Aura Stadion Lebih Dekat

    (roz/roz)
    Kontak Informasi Detikcom
    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Media Partner: promosi[at]detik.com
    Iklan: sales[at]detik.com
    More About the Game