Tentang Teknologi Sepakbola (Bagian 3-Habis)
Pemain dan Perlengkapannya: Si Penembak Lebih Penting dari Senjatanya
Menurut pameonya, seorang penembak akan lebih berbahaya ketimbang senjatanya. Bahwa senjata setajam apa pun akan tidak berguna di tangan orang yang tak mampu menggunakannya.
Di olahraga, atau sepakbola, senjata itu tentu adalah perlengkapan pemain. Dan perkembangan teknologi semakin membuat senjata itu terasah demi membantu kinerja, atau menutupi kelemahan yang lekat dengan sifat dasar manusia.
Namun, apa jadinya jika teknologi terlalu mencampuri urusan sepakbola? Pemain sepakbola modern terkadang memiliki kecanduan terhadap perlengkapan canggih. Sepatu super ringan yang mampu membantu menciptakan tendangan yang presisi, atau sarung tangan kiper dengan kemampuan tangkapan yang mumpuni, semakin diburu oleh para pemain yang meyakini bahwa peralatan itu vital untuk performanya.
Kemampuan masing-masing pemain memang masih menjadi kekuatan utama para pesepakbola. Tetapi, kenyataan bahwa peralatan canggih banyak membantu dalam peningkatan kemampuan, tidak bisa lagi dipungkiri.
Peralatan yang canggih tentu sudah melalui riset yang panjang. Baik sepatu atau sarung tangan dirancang untuk memenuhi kebutuhan pemain dan menutup celah kekurangan. Selain itu, tidak hanya peningkatan performa yang jadi tolok ukur, namun juga keamanan bagi penggunanya.
Terus dan Terus Memecahkan Rekor
Dalam olahraga yang margin untuk mendapatkan kemenangannya sangat tipis, seperti atletik, peran perlengkapan atlet terus mendapat perhatian khusus. Dalam Olimpiade Beijing 2008 misalnya, ada 108 rekor baru terpecahkan. Padahal, rata-rata rekor yang terpecahkan di penyelenggaraan sebelumnya hanya ada sekitar 22 kejadian tiap olimpiade.
Olimpiade Beijing memang banyak disebut sebagai most tech-forward summer Olympic Games, yaitu Olimpiade yang banyak menampilkan teknologi terbaru atlet. Bahkan, menurut penelitian, baju sprinter para pelari, bisa meningkatkan kecepatan dan menghemat waktu hingga 0,023 detik. Jangan terpaku pada kecilnya angka perbedaan, karena jika hanya berbeda seperseribu detik pun sudah pasti rekor baru akan tercipta.
Kondisi lebih ekstrem terjadi pada cabang olahraga renang. Dalam rentang waktu satu tahun saja, dari 2008 ke 2009, ada 103 rekor renang yang terpecahkan. Ini berkat kehadiran teknologi pakaian renang terbaru yang menyerupai anatomi kulit hiu. Jika menggunakan pakaian ini, perenang diklaim mampu melaju hingga 7% lebih cepat dibanding mengenakan pakaian dengan teknologi lama.
Jika dibedah satu persatu, masih banyak rekor-rekor lain yang tercipta berkat kehadiran teknologi. Namun, yang jelas kehadirannya sudah terbukti meningkatkan kemampuan para atlet. Lalu bagaimana dengan sepakbola? Apakah kehadiran teknologi perlengkapan ini juga ikut memberi dampak besar bagi para pemain?
Sepatu dan Perlengkapan Tambahan Lainnya
Berbicara tentang perlengkapan pemain, maka harus menyebut sepatu sebagai senjata utama di dunia sepakbola. Dibuat pertama kali sebagai perlindungan pada kaki, kini sepatu berubah menjadi salah satu penunjang peningkatan performa. Alas kaki ini memang salah satu yang mempunyai sejarah evolusi yang luar biasa besar dalam sepakbola.
Bahan utama sepatu dahulu terbuat dari kulit keras dengan tinggi badan sepatu hingga di atas mata kaki. Dan tentu saja bobotnya jauh lebih berat dari sekarang. Wajar memang, karena tujuan utamanya untuk memberikan perlindungan pada kaki pemain.
Namun, usai perang dunia kedua, ketika pertandingan sepak bola internasional mulai sering digulirkan, hal ini mulai berubah. Publik dunia, khususnya Eropa, mengamati bahwa para pemain Amerika Selatan terlihat lebih lincah dan berlari lebih cepat. Konon ini dikarenakan mereka memakai sepatu yang lebih ringan, lebih nyaman, dan pas untuk bermain sepakbola.
Saat itulah banyak produsen mulai tersadar dan akhirnya mengembangkan sepatu yang lebih cocok digunakan bermain bola. Kemudian muncul kakak adik Dassler bersaudara. Berpisah karena perselisihan, keduanya lalu membangun perusahaan masing-masing: Puma dan Adidas. Sebagaimana diketahui, dua perusahaan inilah yang mempunyai peranan penting dalam perkembangan sepatu sepakbola.
Seiring dengan banyaknya perbaharusan, sepatu ternyata juga berdampak pada performa pemain di lapangan. Terus menerus berkembang, teknologi perlengkapan pemain kini tidak hanya melulu soal sepatu semata. Tapi, sudah merambah dari mulai jersey hingga perintilan kecil seperti penggunaan tape.
Mewakili Setiap Individu dan Kepentingan Komersial
Dalam legenda peperangan, setiap jagoan selalu mempunyai senjata spesial masing-masing. Mungkin seperti itu jugalah kondisi arena laga sepakbola sekarang. Misalnya saja Ronaldo dan Neymar. Meski mempunyai brand sepatu yang sama, keduanya misalnya diwakili oleh tipe sepatu yang berbeda.
Ronaldo mewakili karakter sepatu Nike seri Mercurial, identik dengan kecepatan yang meledak-ledak. Sementara itu, Neymar sebagai "bocah baru" mendapat kepercayaan mewakili seri terbaru, Hypervenom.
Para produsen, yang merancang sepatu khusus untuk satu pemain, sebenarnya bukan lagi hal yang istimewa. Perbedaan karakter setiap individu inilah yang membuat para produsen menciptakan berbagai macam jenis sepatu dan karakter. Konsumen/pasar hanya tinggal memilih akan menjadi Ronaldo atau Messi?

Besarnya pengaruh karakter pemain terhadap image sepatu lalu memunculkan berbagai anggapan. Bahwa sepatu Nike (Ronaldo) dipakai untuk melakukan tendangan keras dan berlari kencang, sedangkan Adidas (Messi) dikhususkan bagi yang ingin jago dribbling dan bergerak lincah.
Untuk menangkap fenomena tersebut, maka munculah varian-varian dari tiap produsen sepatu. Bahwa tidak harus berganti merk untuk berganti gaya dari Messi ke Ronaldo, begitupun sebaliknya.
Kemudian, untuk dapat memasarkan berbagai varian sepatu itu, para produsen sepatu berlomba-lomba memburu tanda tangan para bintang lapangan hijau. Jika ingin menjual sepatu untuk para pen-dribble, maka Nike harus mendapatkan Lionel Messi lainnya bukan? Tapi, pemilihan pemain ini juga tidak melulu didasarkan pada kemampuan. Namun, juga pada karakter sang pemain yang sesuai dengan konsep pasar yang dirancang.
Sepatu terbaru Messi, yang diberi nama Adidas F50 speed of light, diklaim sebagai sepatu tercepat karena memiliki bobot yang sangat ringan. Namun, apakah semua pemain membutuhkan sepatu yang demikian? Tentu saja tidak.
Beberapa pemain membenci sepatu yang terlalu ringan, seperti pemain yang berposisi sebagai bek dan gelandang bertahan, atau khususnya pemain yang banyak melakukan tackle dan ‘tabrakan’. Sepatu yang terlalu ringan tidak akan memberikan mereka kekuatan tambahan, ketika ayunan kaki harus menebas bola.
Salah satu kisah ketidakcocokan pemain dengan sepatunya juga dialami oleh si bengal Mario Balotelli. Kala itu, Balotelli sendiri diminta oleh Nike untuk pindah sepatu, dari semula mengenakan seri CTR menjadi Hypervenom.
Alasan dari Nike cukup kuat. Seri CTR360 didesain untuk seorang midfielder, sementara Hypervenom dilahirkan untuk para striker. Begitu klaim mereka yang juga tertera di situs toko resmi yang memajang kedua sepatu tersebut. Maka, buat Nike, seri Hypervenom akan lebih pas jika digunakan untuk Balotelli. Apalagi jika dilihat dari sisi strategi pemasaran.
Namun, bukan berarti Balotelli dapat menerima permintaan Nike begitu saja. Bahkan, penolakan Balotelli ini sempat menimbulkan satu kejadian unik pada pertandingan Italia melawan Republik Ceko. Pada turun minum, Balotelli melepas sepatu Hypervenom terbarunya dan kembali memakai sepatu lama CTR360 miliknya.
Setelah kontraknya berakhir dengan Nike, ia pun enggan untuk menanda tangan yang baru. Meski diincar oleh berbagai brand, Balotelli akhirnya memilih Puma. Saat memamerkan sepatu terbarunya, ia berkata, "Puma mengerti aku, ambisiku, dan kepribadianku."
Tidak Lagi Menjadi Faktor Krusial
Sepakbola tentu berbeda dengan olahraga atletik, di mana perbedaan kecepatan dan waktu yang minim dapat menenentukan hasil sebuah pertandingan. Permainan sepakbola lebih dari sekedar beradu kecepatan karena banyak faktor lain yang mempengaruhi.
Dengan dasar itulah terlihat bagaimana satu senjata tidak lebih penting ketimbang penggunanya. Selain itu, mesti diakui bahwa sepatu dengan teknologi paling canggih pun sudah menyebar hingga ke berbagai pelosok dunia.
Harga sepatu jelas masih bisa terjangkau oleh hampir seluruh pemain profesional dunia. Ambil contoh pemain di Liga Indonesia saja. Saat ini sepakbola Indonesia sudah didominasi oleh sepatu-sepatu keluaran terbaru. Bahkan, banyak juga yang langsung mendapat dukungan apparel dari berbagai produk kenamaan dunia.

Itulah kenapa bahwa peran peralatan pemain dalam sepakbola modern sekarang tidak dapat dijadikan sebagai faktor pembeda yang krusial. Kalaupun ada sedikit perbedaan, mari kita ingat lagi bahwa sepakbola masih memiliki banyak faktor lain untuk menentukan kemenangan.
Taktik, strategi, mental, kemampuan individual, bahkan hingga faktor non-teknis lain dapat merubah hasil tanpa harus menilai peralatan apa yang dipakai oleh sang pemain. Rentang 2 x 45 menit adalah waktu yang sebenarnya panjang yang dapat dipengaruhi oleh apapun, bahkan keberuntungan.
Bandingkan lagi dengan atletik. Andai saja salah satu produk peralatan terbaik melakukan monopoli pada satu atlet saja, sudah dapat dibayangkan betapa susahnya atlet tersebut untuk dapat dikalahkan.
Dalam sepak bola, tidak peduli seberapa canggih peralatan yang digunakan pemain, selama masih mampu berlari dan menendang lebih baik, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Di atas lapangan hijau, memang tetap si penembaklah yang lebih penting dari pistolnya.
=====
*akun Twitter penulis: @mildandaru dari @panditfootball
Baca Juga
Tentang Teknologi Sepakbola (Bagian 1): Sportainment: Membawa Aura Stadion Lebih Dekat
Tentang Teknologi Sepakbola (Bagian 2): Menakar Pesepakbola Menggunakan Teknologi














