Moyes Kian Tersesat dalam Rumah Kaca Fergie
Pun dengan hasil pertandingan Minggu (19/1) yang di luar kebiasaan MU. Terakhir kalinya Chelsea bisa menang atas mereka dengan mencetak 3 gol, terjadi lebih dari tujuh tahun lalu, yaitu pada 29 April 2006. Kala Mourinho masih menjadi pelatih Chelsea pertama kalinya.
Rekor MU terhadap delapan tim yang berada di papan atas juga pasti dibaca dengan meringis oleh para fansnya: menang satu kali, imbang dua kali, dan kalah enam kali. Satu-satunya kemenangan MU dari tim 8 besar Liga Inggris saat ini hanya terjadi ketika MU bertemu Arsenal.
Ya, dengan Moyes sebagai arsitek, MU seakan bukan MU lagi. Aura tim yang tak pernah mau kalah dan berulang kali mengejar ketertinggalan pada musim lalu seolah menguap begitu saja. Kuasa dan kendali yang biasa dimiliki MU juga seakan diserahkan mentah-mentah pada para kompetitornya.
Penunjukan Moyes sebagai pelatih MU memang rekomendasi dari Sir Alex. Dengan alasan dari negara yang sama, serta dianggap sudah fasih dalam melakoni kerasnya laga Liga Inggris, Moyes pun kini meneruskan tampuk kepemimpinan "Setan Merah".
Dalam satu wawancaranya pada 2009, Fergie pernah mengatakan bahwa Moyes adalah salah satu manajer favoritnya di Liga Inggris. Kekaguman sejak lama ini kemudian berubah menjadi penunjukkan Moyes untuk mewarisi tahtanya di Theatre of Dream.
Namun, suksesor Fergie ini tak juga mendatangkan angin segar. Jika menilik peforma saat ini, rasa-rasanya, kita tak percaya bahwa pada musim lalu MU juara dengan selisih 11 poin dari peringkat kedua, Manchester City.
Jadi, sampai kapan kiranya manajemen MU sabar menunggu Moyes bangun dari tidur lelapnya? Lalu sebenarnya apa yang membedakan Moyes dan Fergie? Pengalaman? Sudah barang tentu. Namun bukankah Moyes juga sudah banyak makan asam garam dalam menangani tim di Britania Raya?
Mempertentangkan Fergie dengan Moyes dari prestasi dan pengalaman memang begitu gampang. Dua sisi tersebut memang terasa kontradiktif. Fergie telah mengibarkan panji-panji Manchester United di seantero Britania. Fergie juga yang telah menancapkan trisula Red Devils di Benua Biru.
Sedangkan Moyes? Meski berpengalaman mengasuh Everton, namun tim yang diasuhnya tetap menjadi semenjana walaupun sudah ditangani selama satu dekade. Moyes sendiri belum pernah mendapatkan satu piala pun bersama Everton.
Fans MU menganggap Fergie adalah yang terbaik, dan belum ada pelatih manapun yang setara untuk menggantikannya. Hal ini tentunya menjadikan Moyes menjadi nahkoda yang berdiri di balik bayang-bayang kegemilangan Fergie. Tapi, bukankah seorang nahkoda harusnya berdiri di balik kemudinya?
Lalu sebenarnya apa yang sebenarnya membedakan keduanya dalam membesut sebuah tim?
Membangun Tim dengan Nafas Politik
Fergie datang ke Manchester pada tahun 1986. Saat dunia terbagi menjadi dua kutub ideologi: liberal dan komunis. Setiap negara dan warganya pun berduyun-duyun untuk menepi ke salah satu kutub. Barang siapa yang apolitis sudah tentu dicap sebagai seorang yang kontra revolusioner. Realitas sosial ini pulalah yang sangat mempengaruhi Fergie dalam memandang situasi sosial. Tak terkecuali dengan sepakbola.Pada tataran ekonomi, dunia kala itu sedang dilanda virus krisis ekonomi di mana-mana. Pun dengan Inggris sebagai negara indstri. Deep ressesion telah meningkatkan angka penggangguran di Inggris. Banyak sendi-sendi perekonomian negeri itu lumpuh. Terlebih industri sepakbolanya.
Pada saat krisis keuangan dan krisis prestasi tersebutlah Fergie didapuk untuk menukangi MU. Jelas kala itu Fergie bukanlah manajer berpengalaman di tanah Inggris. Bahkan, sebagai pemain pun Fergie juga tak pernah mencicipi kerasnya Divisi Utama Liga Inggris.
Fergie memang tak berpengalaman, namun Fergie punya bekal pemahaman politik. Pernyataannya: "With politics, I'm interested in it, I follow it, I read political history and I have strong political view", cukup menggambarkan bagaimana ia mampu menganalisa permasalahan sosial kala itu.
Dengan bekal pandangan politiknya itu, di tengah-tengah krisis ekonomi ia bangun sebuah tim secara sosialis, yakni dengan memanfaatkan dan memaksimalkan sumber daya yang ada. Sebagai langkah awal jangka pajangnya, Fergie merubah kurikulum pembinaan akademi MU. Dengan cara itu, ia telah mencoba membangun suatu fondasi tim yang terintegritas dan dapat ia kontrol sepenuhnya.
Bagi Fergie, tim adalah segalanya. Ini berarti ia harus mampu memupuk kebersamaan di antara mereka, membuat para pemain harus tahan berada dalam satu ruangan, dan mendapatkan yang terbaik dari masing-masing individunya. Maka dari itu, etik pemain jadi yang paling utama di dalam ruang ganti Fergie.
"Ketika kamu (berbicara tentang pemain MU) pulang ke ibumu. Kamu harus memastikan bahwa ibumu bertemu dengan anak yang sama yang ia kirim padaku. Ketenaran dan tenar tak boleh mengubahmu, karena itu akan membuat ibumu kecewa," kata Fergie.
Ya, itulah Fergie. Ia memang bukan tactician sejati, namun seorang pemimpin ulung yang sangat piawai mengatur manusia. Dan bukankah politik adalah seni tentang mempengaruhi orang lain untuk mengikuti apa yang kita inginkan? Tak melulu dengan teriakan dan lemparan sepatu, tapi juga dengan tepukan di punggung jika si pemain sudah berbuat benar.
Dengan pengetahuan dan kekuasaan Fergielah, kini dunia bisa mengingat apa itu Class of '92. Modal besar itu terus bekerja, bahkan lebih dari apa yang diharapkan. Proyeksi awal untuk menggoyang dominasi Liverpool jelas sudah dilewati. Fergie sudah benar-benar membangun kerajaan berserta tahtanya dengan tangannya sendiri.

Kondisi tersebut menjadi awal status quo Fergie. Tidak heran jika Roy Keane pernah mengatakan bahwa kekuatan terbesar Fergie adalah kekuasaan dan kontrol. Dan, untuk Fergie yang telah membangun sebuah kerajaan di sepakbola modern, pastinya ia tak mau jika kejayaan yang sudah direngkuhnya goyah karena hal-hal remeh temeh.
Karenanya, tak jarang Fergie melakukan suatu bongkar pasang pemain yang kadang tak tertebak. Bahkan, Fergie tak segan untuk mendepak pemain yang sudah berjasa banyak untuk klub. Dan sebaliknya, Sir Alex juga tak segan untuk mempertahankan pemain walau sudah dianggap uzur dan performa di lapangannya semakin berkurang.
Semua ini ia lakukan hanya untuk mempertahankan status quo dan juga keharmonisan tim. Jika sang pemain dianggap dapat merusak tatanan yang telah dibangun, Fergie tentulah mendepak sang pemain. Sekali lagi, hal tersebut semata untuk mempertahankan status quo dan posisi tawar Fergie di MU.
Mengundang Moyes Masuk Kerajaan
Fergie-lah yang menunjuk Moyes sebagai suksesornya. Moyes pula yang telah diwarisi tahta kejayaan Fergie. Namun Moyes pulalah yang menjadi bingung berada di dalam kerajaan tersebut. Moyes seperti sedang tersesat di Taman Babilonia.
Moyes memang mendapat kontrak awal selama enam tahun. Sama halnya pada awal pemerintahan Fergie. Namun, ada yang berbeda. Jika Fergie diberi titah untuk membangun suatu tim, Moyes justru ditugaskan untuk melestarikan status quo. Akibatnya Moyes tak punya banyak kesempatan dan ruang gerak dalam tim.

Dampaknya sudah kita rasakan hari ini. Setengah musim sudah berlalu, namun Moyes tak kunjung menunjukkan peforma terbaiknya. Ia tak mampu, atau bahkan tak punya ruang untuk melakukan improvisasi.
Maklum saja, ia sudah masuk dalam rumah kaca Fergie. Semua tindak-tanduknya pastilah diawasi oleh sang pemangku tahta. Semua hal yang akan atau telah dilakukan oleh Moyes juga pasti akan dibanding-bandingkan dengan apa yang sudah dicapai Fergie.
Padahal, dari sisi taktik sebenarnya Moyes juga memainkan taktik yang tak jauh berbeda dengan pendahulunya dan dengan komposisi pemainnya yang sebagian besar masih sama. Terlebih lagi, Moyes pastilah sudah banyak berdiskusi dengan sang demisioner soal urusan taktik yang akan digunakan untuk mengarungi ketatnya kompetisi yang diikuti MU. Tapi mengapa kekuatan mental tim yang sangat baik musim lalu, kini begitu mudah diremehkan?
Sepakbola memang tak semata taktik dan komposisi pemain, tapi juga menyoal kedekatan sang juru taktik dengan sang anak didik. Hal itu tentu sudah diketahui Moyes.
Namun, tetap saja, keinginan Moyes untuk membangun keharmonisan layaknya di Godisson Park tak bisa diterapkan di Old Traffod. Moyes tak punya posisi tawar layaknya Fergie di mata para pemainnya. Jadi, maklum saja jika Fergie mampu berjaya dengan skuad sedemikian rupa, namun di tangan Moyes justru menjadi pesakitan.
Tentu ceritanya beda dengan Fergie. Dengan komposisi pemain semacam itu Fergie mampu membawa MU juara. Ya, karena Fergie begitu keras terhadap anak didiknya. Ia tak mau ambil pusing pada siapa saja yang dapat mengganggu status quo-nya.
Hal itulah yang kemudian disimpulkan Roy Keane tentang apa yang menjadi kekuatan terbesar Fergie dalam melatih: ruthless. Tanpa ampun, kejam. Sekali lagi tentang posisi tawar, power and control.
Hal ini sudah pasti mengusik Moyes. Dan sudah pasti sangat mengusik kedalaman hatinya. Situasi sedemikaian rupa tentunya akan menurunkan posisi tawar Moyes di mata anak buahnya. Padahal, seperti yang kita tahu, posisi tawar adalah senjata terampuh Fergie dalam memimpin anak asuhnya. Wajar saja, Moyes belum bisa memberikan sentuhan filosofis pada MU.
Banyak orang yang beranggapan bahwa ini adalah fase transisi. Banyak juga yang beranggapan, menurunnya prestasi MU akhir-akhir ini karena MU sedang dilanda badai cedera. Namun, sampai kapan para fans akan bersabar?
Menempatkan Sir Alex pada jajaran direksi klub memang bukan suatu yang buruk. Tapi bukankah hal tersebut juga sebagai legalitas Fergie untuk terus mengintervensi hingga ke remah-remah tim?
Moyes memang harus keluar dari rumah kaca Fergie. Manajemen MU harus memberi keleluasaan yang seluas-luasnya untuk Moyes berimprovisasi. Terus menghakimi Moyes pun hanya akan menjadikan sang allenatore tetap berada di bawah bayang-bayang Fergie. Dan jika semua elemen MU sudah tak sabar untuk keluar dari zona semenjana, maka membanding-bandingkan Moyes dengan Fergie memang harus segera dihentikan.
Toh, jika bukan Moyes yang menukangi, bisa jadi posisi MU juga tak akan sebaik hari ini.

====
* Akun twitter penulis: @SigtPrasetyo dari @panditfootball
(a2s/roz)













