Meramal Efek Mercato Januari di Serie A
Pasar pemain bulan Januari telah ditutup. Para pelatih klub-klub Serie A harus kembali fokus kepada timnya masing-masing sembari melupakan angan-angan untuk memainkan pesepakbola incaran yang gagal didatangkan.
Dibandingkan dengan musim-musim sebelumnya, tak ada kehebohan dalam mercato Januari kali ini. Tak ada perpindahan dana-dana bombastis melingkupi transfer pemain. Semuanya begitu mudah terprediksi.
Lantas setelah mercato ditutup, efek positif apakah yang akan didapat klub-klub papan atas Serie A yang aktif memanfaatkan bursa tranfer?
Juventus dan Utak-Atik Lini Depan
Kebersamaan Antonio Conte bersama Juventus sudah hampir menginjak tiga tahun. Dua cawan scudetto telah ia berikan kepada The Old Lady.
Kunci dari kesuksesan Conte ini adalah starting eleven yang solid. Coba saja lihat starting line-up Juve dalam dua musim terakhir. Pemain yang tampil pun dapat dikatakan yang itu-itu saja: Gianluigi Buffon, Leonardo Bonucci, Andrea Barzagli, Giorgio Chiellini, Andrea Pirlo, Arturo Vidal, Stephan Lichtsteiner, Mirko Vucinic, dan Claudio Marchisio.
Conte sendiri amat berusaha untuk menjadikan timnya solid, terutama pada lini belakang dan tengah. Maka tak heran jika ia jarang merombak total dua lini itu. Karena itu, dalam dua musim terakhir, Juve amat jarang aktif terlibat pada bursa transfer untuk mencari pemain tengah dan belakang.
Ini berbeda dengan posisi depan. Penyerang-penyerang kenamaan datang dan pergi. Mulai dari Marco Boriello, Alessandro Matri, Nicolas Anelka, Nicklas Bendtner hingga Luca Toni pernah mengenakan seragam hitam-putih khas Juventus. Ini karena kunci utama serangan Juve bukan terletak pada sosok striker, melainkan peran pemain-pemain tengah di belakangnya.
Namun bukan berarti Conte tidak akan memperkuat lini itu, jika diberikan kesempatan. Terbukti Conte mendatangkan Osvaldo pada winter transfer kali ini. Seorang striker jelas dibutuhkan untuk menggantikan peran Carloz Tevez andaikan dia harus absen akibat cedera maupun hukuman kartu. Apalagi Tevez memiliki peran yang unik.
Sudah jadi pola, bahwa ketika Vucinic/Fernando Llorente berduet dengan Tevez, maka Tevez akan memainkan peran false nine dengan posisi yang mundur ke tengah. Bersama dengan para gelandang lainnya, Tevez juga akan memanfaatkan striker di depannya sebagai pemantul bola untuk menusuk ke dalam kotak penalti.
Pemilihan Osvaldo sebagai cadangan Tevez adalah sesuatu yang tepat. Selain karena stok penyerang Juve adalah tipikal penyerang murni, sewaktu di Southampton dan AS Roma pun Osvaldo lebih sering dimainkan sebagai attacking midfielder ketimbang penyerang murni.
Dengan skuat yang mumpuni baik di belakang, tengah, maupun depan, juga mengingat keunggulan poin yang teramat jauh dengan kompetitornya, Juventus diprediksi akan bisa mempertahankan gelar scudetto mereka.
Menilik Rudi Garcia yang Coba-Coba
Jika berkaca pada prestasi AS Roma musim lalu, tak ada yang bisa memprediksi bahwa Serigala Ibukota itu akan jadi pesaing berat Juventus mengejar tampuk kursi scudetto. Namun pada awal musim, Roma mampu menang 10 kali berturut-turut dengan mencetak 24 gol dan hanya kemasukan 1 gol.
Salah satu faktor penting dari kinerja mengagumkan ini adalah kembalinya Francesco Totti sebagai false nine dan Gervinho yang pulang ke habitatnya di sayap kiri. Namun setelah Totti dan Gervinho cedera, semuanya berubah. Roma sulit sekali meraih kemenangan, meski Garcia tak tinggal diam dan melakukan percobaan dengan mengubah-ngubah pola.
Setelah Totti dan Gervinho kembali pulih, Garcia sadar betul bahwa taktik yang ia terapkan pada awal musim rentan terbaca lawan. Karena itu terkadang Garcia mulai melupakan taktik 4-3-3 dan beralih ke 4-2-3-1. Perubahan inilah yang mendorong Roma melakukan aktivitas pada mercato Januari.
Roma membuang Nicolas Burdisso ke Genoa, dan mendatangkan Rafael Toloi dari Sao Paulo sebagai ganti. Di lini tengah, setelah melepas Marquinho ke Verona (pinjam dengan opsi permanen di akhir musim) dan Michael Bradley yang pulang kembali ke Amerika Serikat, Roma kedatangan Radja Nainggolan. Pada lini tengah dan depan, Roma meminang Michael Bastos serta menceraikan Borriello ke West Ham United.
Roma betul-betul memanfaatkan mercato untuk memenuhi kebutuhan taktik Garcia. Contohnya adalah kehadiran Nainggolan. Pemain ini sering diplot untuk menggantikan Miralem Pjanic pada formasi 4-3-3. Tetapi beberapa kali Garcia juga terlihat ingin coba-coba melakukan perubahan. Misalnya dengan memasang Nainggolan dan Pjanic secara bersamaan.
Meski bisa dipasang sebagai defensive midfielder, kedua pemain ini sebenarnya lebih dominan dalam menyerang ketimbang bertahan. Karena itu lahirlah formasi 4-2-3-1 sebagai alternatif. Dengan pola baru itu, Garcia menempatkan poros ganda Nainggolan dan Kevin Strootman di belakang Pjanic yang berperan sebagai playmaker.
Perubahan ini memang mengorbankan De Rossi. Tetapi, dari segi permainan, skema serangan Roma berubah drastis. Jika semula lebih sering menunggu untuk melakukan serangan balik, kini Serigala Ibukota menyerang total dari berbagai lini.
Hasilnya? Pada empat laga terakhir, Roma belum terkalahkan. Termasuk saat membekuk Juventus di perempatfinal Coppa Italia. Jika performa ini konsisten, tentu Roma akan tetap membuat Juventus waspada hingga akhir musim.
Seedorf dan Beban Dosa Allegri
Kritik pada pola pohon natal (4-3-2-1) Massimo Allgeri tentu ada benarnya. Pada awal musim lalu, dengan pola itu, AC Milan terseok-seok. Tapi kemudian Allegri menggantinya dengan 4-3-3 dan membuat Milan bermain melebar. Karena perubahan inilah posisi Milan pada tangga klasemen membaik dan pada akhir musim mampu bertengger pada peringkat tiga.
Jika kegagalan formasi pohon natal itu diulangi lagi, hanya Allegri yang tahu alasannya. Tapi yang jelas Allegri terlihat ingin mengoptimalkan peran Mario Balotelli dan Ricardo Kaka.
Sebelum Balotteli datang, Allegri mentok pada formasi 4-3-3 dengan memakai Kevin-Prince Boateng-Giampaolo Pazzini-Robinho/Stephan El Sharaawy. Formasi ini pun tetap dipertahankannya setelah kedatangan Balotelli. Tetapi setelah Kaka kembali, Boateng pergi, performa M'Baye Niang turun, dan El Shaarawy cedera, semuanya berubah. Allegri tak punya opsi lain selain 4-2-3-1, karena stok barisan penyerang semakin tipis dengan hanya menyisakan Kaka, Robinho, dan Valter Birsa.
Allegri berusaha menambal skuatnya dengan mendatangkan pemain attacking midfielder Keisuke Honda dan Adel Taarabt. Sayang, sebelum eksperimen pemain baru ini dilakukan, Allegri keburu dipecat.
Adalah seorang Clerence Seedorf yang diminta melanjutkan eksperimen Allegri ini. Namun, ia tak segan melakukan perubahan, di antaranya dengan mengubah Milan ke pola 4-2-3-1. Seedorf pun memainkan Keisuke Honda, Kaka, Robinho secara bersamaan di belakang Balotelli.
Hasilnya memang belum memuaskan. Tapi kedatangan Honda dan Taarabt mungkin akan mengangkat posisi Milan di papan tengah, meski hanya sedikit.
Keropos Lini tengah yang Mesti Ditambal Hernanes
Mendapatkan Hernanes adalah sebuah keberuntungan bagi Inter. Ia dianggap pemain yang bisa berfungsi sebagai trequartista dan regista handal. Apalagi jika dikaitkan dengan masalah di lini depan Inter.
Berbeda dengan Juventus yang kelebihan stok penyerang murni, Inter malah sebaliknya. Wajar saja jika Walter Mazzarri memainkan Rodrigo Palacio (seorang AM) sebagai striker. Tetapi, jika Tevez mempunya partner striker murni, Palacio malah dipasangkan dengan seorang gelandang, yaitu Fredy Guarin atau Ricky Alvarez.
Masalah yang sering muncul adalah kurangnya aliran suplai bola-bola panjang dari belakang. Inter tak memiliki pemain yang bertipikal deep lying midfielder seperti Andrea Pirlo di Juventus, atau Riccardo Montolivo di AC Milan. Beruntung Hernanes merupakan pemain yang bisa menempati posisi itu.
Di Lazio Hernanes sering diplot sebagai trequartista di belakang Miroslav Klose. Sementara di timnas Brazil, ia diplot sebagai regista, berduet sebagai poros ganda bersama Paulinho atau Fernandinho.
Selain karena suplai bolanya, kelebihan dari seorang Hernanes terletak pada shooting jarak jauh yang bisa diandalkan. Hernanes memiliki rataan 3 tembakan tepat sasaran/laga --sebuah angka yang cukup tinggi untuk seorang gelandang.
Kehadiran Hernanes setidaknya akan mampu membuat Inter mengalami perubahan. Tetapi, tentu saja semua kembali bagaimana Mazzarri memanfaatkannya.
Kejar-Kejaran Napoli dan Fiorentina
Jarak poin yang terlalu jauh dengan sang pemuncak Juventus tak membuat nyali Napoli ciut untuk terus tampil menggebu-gebu pada sisa kompetisi.
Andaikan menyalip Juventus terlalu sulit, mungkin mereka bisa mengulang prestasi seperti musim lalu, yaitu menjadi runner-up. Namun, jika menyalip Roma masih terlampau sukar juga, target sang presiden Aurelio De Laurentiis jelas: jangan tersalip Fiorentina pada perebutan kursi jatah Liga Champions.
Mengingat Fiorentina yang terus menancap gas sekencang-kencangnya, sang presiden rela mengeluarkan dana 12 juta euro tambahan untuk menggaet tiga pemain, yaitu Jorginho, Henrique, dan Fauzi Gholam.
Dibandingkan dengan klub-klub kaya lainnya yang melakukan mercato dalam bentuk meminjam atau free transfer, pengeluaran Napoli pada bursa Januari merupakan yang paling besar di Italia.

Tapi di belakang Napoli, ada Fiorentina yang terus mengejar. Tak ada yang menyangka bahwa Vincenzo Montella bisa membawa Fiorentina sejauh ini: bertengger pada posisi empat dan siap menyalip Napoli yang berselisih empat angka. Untuk meneruskan performanya ini, Montella pun mendatangkan Allesandro Matri, Modibo Diakite, Antonio Rosati, dan Anderson.
Datangnya pemain-pemain ini betul-betul dimanfaatkan oleh Montella. Ia berani mengubah pola dari semula 4-3-3 menjadi 3-5-1-1 semenjak Matri hadir. Pada laga akhir pekan lalu, ia malah menggunakan 4-2-3-1 demi bisa memasukan eks-gelandang Manchester United, Anderson. Oleh Montella, Anderson yang biasanya bermain di tengah ini dipasang sebagai pemain sayap.
Ujicoba yang dilakukan Montella memang tak memberikan hasil memuaskan dengan hanya satu kali seri dan satu kali kalah. Tapi setidaknya Montella sudah menunjukan keberaniannya untuk mengambil risiko. Dan bayaran dari keputusan-keputusan Montella itu, sebagaimana pelatih lainnya, hanya akan bisa kita lihat pada akhir musim. Mari kita tunggu.
====
*akun Twitter penulis: @aqfiazfan dari @panditfootball














