Masukkan kata pencarian minimal 3 karakter
Searching.. Please Wait
    Pandit

    Catatan dari Jepang

    Membangun Peradaban di Stadion

    - detikSport
    Getty Images/Masashi Hara Getty Images/Masashi Hara
    Chiba -

    Salah satu agenda wajib yang sudah saya rencanakan sebelum berangkat ke Jepang adalah menyaksikan pertandingan sepakbola langsung di stadion. Apapun yang terjadi saya harus mendapatkan pengalaman ini sebelum kembali ke Indonesia.

    Salah satu tim yang bermarkas tidak jauh dari lokasi saya tinggal adalah JEF United. Klub J2 atau kompetisi kasta kedua dalam persepakbolaan Jepang.

    Saya belum pernah mendengar tentang klub ini sebelumnya. Di Indonesia tidak banyak informasi yang muncul di media soal J-League, apalagi J2. Begitu pula dengan JEF United. Saya baru mendengar nama klub ini setelah saya hadir Jepang.

    Sebenarnya, ada satu klub lain yang juga bermarkas di kota saya tinggal yaitu Kashiwa Reysol. Meski sedikit lebih jauh, namun klub ini lebih familiar di kepala saya karena berkompetisi di J-league.

    Namun setiap kali bertanya kepada penduduk lokal soal klub sepakbola apa yang ada di kota ini, nama pertama yang muncul dari mulut mereka adalah JEF United. Mereka bahkan baru menyebut nama Kashiwa Reysol setelah saya bertanya apakah Kashiwa Reysol juga berada di kota ini. Dari sini saya mulai tertarik untuk menyaksikan langsung pertandingan klub yang melekat di otak para penduduk lokal ini.

    Saya kemudian mencari informasi soal kapan klub ini akan melangsungkan pertandingan kandangnya. Dan ternyata, mereka menyediakan koran gratis di hampir semua stasiun yang ada di kota ini. Koran ini berisi tentang informasi dasar dari klub seperti jadwal pertandingan, kondisi pemain, serta berita-berita terbaru soal klub. Koran ini hanya empat halaman namun saya bisa mendapatkan semua informasi yang saya butuhkan untuk menyaksikan pertandingan.


    Koran berisi informasi soal JEF United yang tersedia di hampir semua stasiun kereta

    Pertandingan dilangsungkan pada hari sabtu (15/11) pukul 16.00. JEF United akan menjamu tim peringkat bawah, Kataller Toyama. Saya langsung membeli tiket dua hari sebelumnya karena membeli di tiket di hari sebelum pertandingan akan mendapatkan diskon. Saya juga mendapatkan informasi bahwa saya bisa mendapatkan diskon 50% dengan menunjukan kartu mahasiswa saya. Tawaran yang tentu sangat menggiurkan bagi saya.

    Alasan mereka memberikan potongan harga untuk pembelian di hari sebelum pertandingan adalah untuk menghindari antrian panjang pembelian tiket saat hari pertandingan. Mereka juga ingin memberikan sedikit penghargaan kepada suporter yang mau meluangkan waktu di hari kerjanya untuk membeli tiket.

    Sedangkan diskon yang diberikan kepada para pelajar adalah salah satu cara mereka untuk berinvestasi. Anak-anak-muda ini memiliki potensi besar untuk menjadi pendukung setia mereka di masa depan. Karena itulah mereka memberikan perlakuan yang istimewa.

    Satu promosi yang juga mereka lakukan adalah dengan memberikan tiket gratis kepada anak-anak di bawah usia 15 tahun. Menurut logika mereka, anak-anak di bawah usia 15 tahun pasti akan ditemani orang dewasa untuk menonton. Maka akan ada dua keuntungan yang mereka raih, menyiapkan suporter loyal di masa depan, dan mendapat suporter baru yang sudah matang.

    Tiket sebenarnya bisa saya dapatkan dengan membeli di mini market dimanapun di kota ini. Namun saya memutuskan untuk membelinya langsung di toko penjualan merchandise resmi yang berada tidak jauh dari stadion. Saya hanya ingin melihat lebih dulu seperti apa fasilitas yang dimiliki klub kasta kedua negri ini.

    Dan saya dibuat sedikit tercengang dengan apa yang klub ini miliki. Stadion yang sangat megah untuk sebuah klub divisi 2 menurut saya. Lapangan latihan yang sangat terawat dan toko penjualan produk-produk resmi yang juga dikelola dengan sangat baik.


    Stadion (kiri atas), tempat latihan (kanan atas), dan kantor serta toko merchandise resmi (bawah) JEF United

    Pada hari pertandingan saya berangkat dari tempat tinggal 1 jam sebelum kickoff. Saya naik kereta dari stasiun dekat tempat saya tinggal untuk menuju stadion. Tidak terlalu jauh jarak yang harus saya tempuh, hanya berselang 4 stasiun atau sekitar 20 menit saya sudah sampai di stasiun terdekat dengan stadion. Dari situ, saya hanya tinggal berjalan sekitar 10 menit untuk sampai ke stadion.

    Stasiun dan jalan menuju stadion memang jauh lebih ramai ketimbang saat saya datang kesini untuk membeli tiket. Kondisi yang tidak berbeda dengan kondisi hari pertandingan di sekitar GBK saat hari pertandingan tim nasional bermain.

    Namun, ada beberapa hal yang membuat saya heran dengan keramaian yang saya temui di sekitar stadion. Yang pertama, sebelum memasuki komplek stadion, saya tidak banyak melihat orang yang membawa spanduk ataupun menggunakan atribut klub. Yang kedua komposisi orang-orang yang ada disini dilihat dari segi umur benar-benar merata. Dari mulai balita yang masih digendong oleh ayah/ibunya hingga kakek dan nenek yang mungkin sudah berusia di atas 75 tahun.


    Kondisi jalan menuju stadion Fukuda Denshi Arena, JEF United

    Masuk ke area komplek stadion saya langsung disuguhkan dengan suara gemuruh dari dalam. Nyanyian dan yel-yel para suporter yang sudah lebih dulu datang terdengar hingga keluar. Kondisi yang tidak berbeda dengan stadion-stadion di Indonesia saat pertandingan.

    Orang-orang yang tadi berjalan bersama saya dari stasiun pun mulai mengeluarkan atribut mereka. Bendera dan berbagai macam atribut lainnya ternyata sebelumnya mereka simpan di dalam tas masing-masing. Atribut-atribut tersebut baru mulai dikeluarkan menjelang masuk komplek stadion.

    Masuk ke stadion, sesuai dugaan saya sebelumnya, stadion ini memang sangat megah untuk sebuah tim divisi 2. Mungkin tidak kurang dari 25 ribu penonton mampu ditampung oleh stadion ini.

    Saat membeli tiket, saya hanya membeli kelas yang sesuai dengan kantong saya. Saya tidak tahu jika ternyata kelas tersebut membuat saya berada satu tempat dengan para pendukung fanatik klub ini.Namun ternyata, saya cukup beruntung dengan memilih tibun ini karena dari sini saya bisa melihat semua fenomena yang ada di stadion. Saya bisa berada di dalam kerumunan suporter yang tidak henti bernyanyi sepanjang pertandingan.

    Namun juga saya bisa menemui ayah dan ibu beserta anak-anaknya yang menggelar tikar dan membuka bekal makanan layaknya sedang piknik di pantai. Pertandingan sepakbola memang menjadi salah satu pilihan hiburan di Jepang. Karena itu memang tidak aneh jika saya melihat komposisi suporter yang hadir dari berbagai kelompok umur. Harga tiket yang bagi masyarakat Jepang cukup terjangkau membuat pertandingan sepakbola menjadi salah satu pilihan untuk menghabiskan waktu bersama keluarga.

    Maaf di sini saya tidak bisa mengambil banyak gambar kegiatan para penonton karena takut mengganggu privasi mereka. Bagi masyarakat Jepang, mengambil gambar seseorang dari jarak dekat tanpa izin akan membuat privasi terganggu. Karena itu, saya hanya mencoba mengabadikan beberapa momment dari jarak yang menurut saya tidak mengganggu mereka.


    Stadion sebagai tempat rekreasi

    Memasuki waktu jeda babak pertama pertandingan masih imbang tanpa gol.Sebagian besar orang beranjak dari kursinya. Saya pun penasaran kemana mereka pergi pada waktu ini. Saya coba mengikuti arus dan ternyata pihak klub pun menyediakan jajanan di dalam stadion. Waktu sudah menunjukan pukul 5 ketika itu, tentu saja perut sudah mulai berbunyi. Makanan-makanan ringan pengganjal perut pun disediakan di beberapa kios di dalam stadion.

    Antrean panjang terlihat pada setiap kios yang ada termasuk satu kios yang menjual merchandise resmi klub tersebut. Saya coba menelusuri lorong stadion dan melihat apa saja yang mereka jual. Namun ternyata saya justru menemukan satu hal sederhana yang tidak kalah menarik.

    Saya menemukan satu stand televisi yang menayangkan jalannya pertandingan. Antrian panjang di tempat penjualanan makanan serta toilet mungkin akan membuat beberapa orang melewatkan momen penting pertandingan. Karena itulah mereka menyediakan televisi agar setiap orang bisa tetap menyaksikan pertandingan meski sedang mengantri membeli makanan.


    Fasilitas lain di dalam stadion

    Kembali ke tribun saya langsung dikejutkan oleh gol yang dicetak oleh tim tamu. Semua penonton sontak terdiam mengingat mereka hanya melawan Kataller Toyama, tim yang menduduki peringkat paling terakhir. Ditambah lagi pertandingan ini sangat penting bagi JEF United karena sedang dalam perebutan tiket playoff untuk promosi ke J-league. Kehilangan 3 poin akan membuat mereka terlempar ke peringkat 7. Dengan satu pertandingan tersisa akan membuat mereka sulit untuk bisa meraih tiket playoff.

    Namun akhirnya para suporter kembali bersorak ketika JEF United berhasil membalikan keadaan sebelum pertandingan usai. Dua gol mereka cetak dalam kurun waktu sepuluh menit membuat mereka kokoh di posisi keempat sementara.

    Menjelang akhir pertandingan, beberapa orang petugas pertandingan langsung bergerak dengan membawa kantong plastik sampah. Negri ini memang sangat peduli dengan lingkungannya. Mereka tidak suka dengan segala macam yang merusak lingkungan.

    Masih ingat dengan kisah suporter Jepang yang memungut sampah di stadion pasca pertandingan Piala Dunia Brasil lalu? Ya, itu pula yang mereka lakukan di rumah sendiri. Semua sampah dikumpulkan kepada petugas untuk menjaga kebersihan di dalam stadion.

    Pertandingan usai, penonton bubar namun pelayanan yang diberikan klub kepada para suporter tidak berhenti sampai disitu. Panitia penyelenggara mengirimkan banyak stafnya di sepanjang jalan untuk membantu semua suporter kembali ke rumah dengan selamat. Ada yang membantu mengarahkan jalan, anda yang membantu menyebrang jalan, bahkan ada juga yang tidak henti-henti membungkuk sambil mengucapkan terima kasih telah hadir menyaksikan pertandingan.

    Para suporter pun kembali memperlihatkan pemandangan yang sama dengan saat sebelum pertandingan. Segala macam atribut dimasukan, bendera serta spanduk dilipat. Jalanan memang menjadi macet karena ada 10 ribu orang yang keluar stadion, namu tidak ada konvoi atau arak-arakan yang membuat jalanan semakin kacau. Semua berjalan dengan tenang menuju rumah masing-masing.

    Bagi masyarakat Jepang, mengganggu kepentingan orang lain adalah satu hal yang paling tidak boleh dilakukan. Mungkin ini juga yang menjadi alasan mereka tidak menggunakan atribut klub sejak dalam perjalanan. Bergerombol dengan satu atribut yang sama mungkin akan membuat orang lain terganggu.

    Bagi mereka, sepakbola adalah sebuah hiburan. Hiburan menghabiskan waktu bersama keluarga, hiburan untuk bisa mengisi hari tua, serta hiburan untuk bisa membangun mimpi masa depan. Permainan terindah ini benar-benar dibuat semakin indah dengan perilaku beradab yang dilakukan masarakat Jepang. Dan ternyata, perilaku beradab tidak membunuh keseruan sebuah pertandingan sepakbola.

    ====

    *ditulis oleh @aabimanyuu dari @panditfootball. Penulis mengikuti program Twincle (Twin College Envoy Program) tentang sport management di Chiba University, Chiba.



    (roz/a2s)
    Kontak Informasi Detikcom
    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Media Partner: promosi[at]detik.com
    Iklan: sales[at]detik.com
    More About the Game
    pandit